BELITUNG, ANOQNEWS – Arsip surat kabar De Avondpost terbitan Den Haag tanggal 9 Januari 1938 mengungkap wacana ambisius Pemerintah Hindia Belanda kala itu: menghubungkan Batavia (kini Jakarta) dengan Pulau Belitung (Billiton) melalui jalur udara, lalu memperpanjang rute tersebut hingga ke Singapura.
Rencana ini, sebagaimana dikutip dari harian Java Bode, berawal dari usulan untuk membangun sebuah lapangan terbang di Pulau Belitung. Proyek tersebut mendapat dukungan penuh dari perusahaan tambang timah terkemuka kala itu, Billitonmaatschappij, yang berkepentingan untuk memperlancar akses transportasi menuju pulau penghasil timah tersebut.
Rute Tidak Hanya Jakarta-Belitung, tetapi Juga ke Singapura
Menurut pemberitaan tersebut, sambungan penerbangan tidak hanya berhenti di Belitung. “Er wordt niet gedacht aan een verbinding alleen van Batavia met Billiton; het ligt in de bedoeling haar door te trekken naar Singapore,” demikian tulis De Avondpost, , yang berarti bahwa rencana awal bukanlah sekadar koneksi langsung Batavia-Belitung, melainkan akan diteruskan hingga ke Singapura.
Namun, sebelum keputusan final diambil, otoritas kolonial masih melakukan kajian mendalam. Salah satu opsi yang dipertimbangkan adalah membuat rute yang lebih panjang, yakni dari Batavia menuju Belitung, lalu berbelok ke arah timur dan menyusuri pesisir Kalimantan Barat (West-Borneo) sebelum akhirnya tiba di Singapura.
Hambatan di Kalimantan Barat: Pontianak hingga Singkawang
Studi awal menunjukkan bahwa kawasan sekitar Pontianak tidak memiliki medan yang cocok untuk pembangunan landasan pacu. Satu-satunya lokasi yang dinilai potensial berada di dekat Singkawang – namun jaraknya mencapai 135 kilometer dari Pontianak, sebuah angka yang dinilai cukup jauh untuk ukuran logistik penerbangan masa itu.
Pencarian lokasi alternatif pun terus dilakukan. Tim survei disebut akan menyisir daerah sekitar Mempawah, yang berjarak sekitar sepertiga dari jarak Singkawang dari Pontianak. Namun, redaksi Java Bode menyampaikan nada pesimistis: “Wij vreezen, dat men daar, wat den bodem betreft, niet veel beter condities zal vinden dan bij Pontianak” — artinya, kondisi tanah di Mempawah dikhawatirkan tidak jauh lebih baik dibandingkan dengan Pontianak.
Meski demikian, satu hal yang dipastikan: apa pun hasil survei di Kalimantan, jalur penerbangan Batavia-Belitung akan tetap diteruskan ke Singapura. “Hoe dan ook, een eventueele verbinding Batavia—Billiton zal in elk geval doorloopen naar Singapore,” tegas pemberitaan tersebut.
Kolonisasi di Sulawesi: Dana Rp4 Juta dari Karet
Selain isu transportasi udara, berita yang sama juga mengangkat rencana kolonisasi di Pulau Celebes (kini Sulawesi). Sebuah komisi terkait baru saja mengusulkan alokasi dana signifikan dari rubberfondsen dana hasil ekspor karet untuk program pemukiman penduduk di Sulawesi.
Total kebutuhan dana untuk proyek kolonisasi di pulau tersebut diperkirakan mencapai 8 juta gulden. Sementara itu, dari sisa dana karet yang masih tersedia, yakni sekitar 12,5 juta gulden, telah diajukan permintaan sebesar 4 juta gulden (setara dengan sekitar Rp4 miliar jika dikonversikan dengan nilai emas masa itu) khusus untuk mendanai kolonisasi di Sulawesi.
Langkah ini menunjukkan bahwa selain fokus pada pembangunan infrastruktur udara, pemerintah kolonial juga tengah menggarap program pemindahan penduduk — yang dalam narasi sejarah kemudian dikenal sebagai bagian dari politik etis maupun kepentingan ekonomi perkebunan.
Refleksi Sejarah untuk Indonesia Masa Kini
Rencana penerbangan Batavia-Belitung-Singapura yang digagas pada 1938 akhirnya terhenti seiring pecahnya Perang Dunia II dan invasi Jepang ke Hindia Belanda pada 1942. Namun, wacana tersebut menjadi bukti awal pentingnya konektivitas udara antar pulau di Nusantara. (Red)
Sumber Arsip: De Avondpost, 9 Januari 1938, edisi Dag, ‘s-Gravenhage. PPN 431582173.

