Belitung Pusat Besi Abad ke-17, Warisan Logam Nusantara yang Terlupakan

Belitung Pusat Besi Abad ke-17, Warisan Logam Nusantara yang Terlupakan

BELITUNG, 11 Juni 2026Pernahkah Anda membayangkan bahwa pulau kecil bernama Belitung, yang kini terkenal dengan keindahan pantai dan batu granitnya, pernah menjadi salah satu pusat industri logam terpenting di Asia Tenggara?

Pada abad ke-17, ketika kapal-kapal dagang Eropa masih berjuang mengarungi ombak Nusantara untuk mencari rempah, Belitung telah menjelma menjadi “kawasan industri” yang produknya diburu hingga ke berbagai pelosok kepulauan.


Jejak Logam di Timur Nusantara

Dalam buku monumental Anthony Reid, Asia Tenggara dalam Kurun Niaga 1450-1680 Jilid I: Tanah di Bawah Angin, tersembunyi sebuah fakta menarik tentang peradaban teknologi Nusantara yang jarang tersorot.

Belitung, bersama dengan Bangka di sebelah baratnya, disebut Reid sebagai salah satu pengekspor utama besi dan peralatan logam pada masa itu.

“Besi Beliton mungkin digali dari Gunung Selumar, bijih besi bermagnet yang mengandung timah, tembaga, dan timah putih,” tulis Reid merujuk pada catatan van Bemmelen tahun 1949.

Bahkan lebih jauh lagi, catatan pelaut dan pedagang masa itu menyebutkan bahwa peralatan besi dari Belitung memiliki reputasi tersendiri di kalangan saudagar Nusantara.


Komoditas yang Diburu hingga ke Ujung Timur

Speelman, seorang pejabat VOC pada tahun 1670, mencatat dengan rinci bahwa Beliton (Belitung) menghasilkan “lebih banyak parang tapi lebih sedikit kampak” dibandingkan dengan Karimata, pusat pengecoran besi lainnya yang lebih terkenal di Borneo bagian barat.

Artinya, Belitung telah mengkhususkan diri dalam produksi parang—senjata dan alat yang sangat vital bagi masyarakat agraris dan maritim Nusantara.

Kapal-kapal dagang dari berbagai penjuru nusantara berlabuh di pulau ini. Mereka tak hanya mencari timah yang terkenal, tetapi juga peralatan besi yang telah ditempa dengan teknik turun-temurun.


Teknologi yang Terlupakan

Yang menarik, industri besi di Belitung berkembang dengan teknologi yang sepenuhnya lokal—bukan impor dari Eropa atau Cina.

Para pandai besi Nusantara menggunakan metode yang disebut “puputan Melayu”, sebuah sistem piston vertikal dari bambu yang digerakkan naik-turun untuk meniup api peleburan. Teknologi yang sama ditemukan di seluruh kepulauan, dari Sumatera hingga Sulawesi, dari Birma hingga Filipina.

Namun, kejayaan ini tak bertahan lama.

Masuknya besi murah dari Cina dan Eropa pada akhir abad ke-17 secara perlahan mematikan industri lokal. Para penambang dan pelebur besi di Belitung—seperti juga di Karimata—akhirnya gulung tikar.


Warisan yang Tersisa

Hingga awal abad ke-19, catatan kolonial menyebutkan bahwa tradisi peleburan bijih besi lokal hanya bisa bertahan di daerah-daerah yang sulit dijangkau—dataran tinggi Sumatera, pedalaman Borneo, dan wilayah terpencil Sulawesi.

Belitung, yang telah bersentuhan lebih dulu dengan perdagangan internasional, justru kehilangan warisan teknologinya lebih awal.


Kisah Belitung abad ke-17 mengajarkan kita bahwa Nusantara bukan sekadar konsumen teknologi asing. Di masa lalu, pulau-pulau kecil ini adalah pusat inovasi yang produknya diburu hingga ke berbagai penjuru.

Kisah ini juga menjadi pengingat bahwa globalisasi bukanlah fenomena baru. Pada abad ke-17 saja, arus perdagangan dunia telah mampu mengubah—dan bahkan mematikan—industri lokal yang tak mampu bersaing.

Kini, ketika kita berjalan di pantai Belitung yang indah, mungkin kita tak pernah menyadari bahwa di bawah tanahnya tersimpan lebih dari sekadar timah dan granit. Tersimpan pula cerita tentang kegigihan, keterampilan, dan daya saing Nusantara di panggung perdagangan global—meski hanya sesaat.


Sumber: Reid, Anthony. (2014). Asia Tenggara dalam Kurun Niaga 1450-1680 Jilid I: Tanah di Bawah Angin (Alih bahasa Mochtar Pabotinggi). Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia. (Hlm. 123-127, 168)


Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *