Misteri Wesi Blitung, Besi Sakti dari Belitung yang Melegenda di Majapahit

Misteri Wesi Blitung, Besi Sakti dari Belitung yang Melegenda di Majapahit

Artefak Mistis dari Majapahit: “Wesi Blitung” yang Disebut Mampu Netralkan Rasa Pahit Sirih


BELITUNG, 14 Juni 2026 – Sebuah laporan arkeologi terbitan Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen tahun 1907 menyimpan catatan menarik tentang benda misterius yang disebut “wesl koening” atau besi kuning—yang oleh masyarakat Jawa kuno diyakini berasal dari daerah Belitung.

Dalam dokumen berjudul Rapporten van de Commissie in Nederlandsch-Indië voor Oudheidkundig onderzoek op Java en Madoera terbitan 1909, seorang peneliti bernama J. Knebel mencatat keberadaan logam istimewa yang konon memiliki khasiat supranatural.

Apa Itu “Wesi Blitung”?

Menurut catatan Knebel, “wesl koening” (besi kuning) disebut-sebut dalam legenda setempat sebagai material pembuat senjata ampuh. Yang lebih menarik, besi ini disebut berasal dari Pulau Belitung.

“Verder, dat nu nog algemeen onder de Javanen geloofd wordt, dat het likken aan dit ijzer den brandend-bijtenden smaak van de sirih-kalk, bij het sirih-kauwen, wegneemt,” tulis Knebel dalam laporannya.

Artinya: Hingga awal abad ke-20, masyarakat Jawa masih meyakini bahwa menjilat logam ini dapat menghilangkan rasa perih dari kapur sirih saat mengunyah sirih.

Kaitan dengan Tokoh Mitologis

Catatan tersebut juga mengaitkan “wesl koening” dengan tokoh Sarpa-kanaka dari kisah Rama Tambak. Dalam lakon wayang itu, senjata dari besi Belitung menjadi satu-satunya benda yang mampu melukai tokoh tersebut—yang jika terluka dapat menyebabkan kematian.

Penjelasan ini disampaikan langsung oleh Raden Adipati Ariä Krämädjäjä Adinagäri, Bupati Mådjäkertå (Mojokerto) saat itu, kepada tim peneliti.

Perspektif Modern

Dari sudut pandang metalurgi, “besi kuning” kemungkinan merujuk pada perunggu kuningan atau logam campuran dengan kadar tembaga tinggi—yang memang memiliki sifat antimikroba. Namun keyakinan masyarakat saat itu jelas melampaui penjelasan ilmiah.

Laporan ini menjadi saksi bagaimana artefak dari Belitung—sebuah pulau timur yang kaya akan bijih timah—telah memasuki sistem kepercayaan dan ritual masyarakat Jawa Klasik, khususnya di era Majapahit akhir.

Bukan Sekadar Benda Biasa

Dalam laporan terperinci Knebel, “wesi blitung” disebut bersama berbagai artefak penting lainnya dari kawasan Majapahit: arca Siwa, Ganesha, Nandi, lingga, yoni, hingga peninggalan beraksara Jawa Kuno.

Namun yang membuat besi ini istimewa adalah statusnya yang melampaui fungsi fisik—menjadi medium penghubung antara manusia dan kekuatan gaib, sekaligus penawar sakit dalam tradisi lisan Nusantara.

Kini, lebih dari seabad sejak laporan itu ditulis, “wesi blitung” masih menyisakan misteri. Apakah ia benar berasal dari Belitung? Dan sejauh mana perannya dalam sistem kepercayaan masa lalu? Dokumen ini setidaknya membuka pintu bagi peneliti untuk menggali lebih dalam warisan budaya maritim Nusantara.



Sumber: Rapporten van de Commissie in Nederlandsch-Indië voor Oudheidkundig onderzoek op Java en Madoera, 1907. Albrecht & Co./M. Nijhoff, Batavia/’s-Gravenhage, 1909.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *