Ilhamsyah Resmi Daftar Calon Kades Aik Ketekok, Usung Visi Desa Terpadu dan Green Village

Ilhamsyah Resmi Daftar Calon Kades Aik Ketekok, Usung Visi Desa Terpadu dan Green Village

BELITUNG, 12 Juni 2026 — Langit di atas Kantor Desa Aik Ketekok sedikit berarak siang itu. Tepat pukul 14.30 WIB, seorang pria berpostur tegap melangkah masuk ke halaman kantor desa. Tangannya menggenggam erat sebuah map merah berisi tumpukan berkas. Sorot matanya tenang, namun menyimpan bara. Dialah Ilhamsyah Hasanuddin Putra, A.Md, yang siang itu resmi mendaftarkan diri sebagai Bakal Calon Kepala Desa Aik Ketekok untuk periode 2026–2034.

Bagi sebagian warga, nama Ilhamsyah bukan sekadar baris dalam KTP. Pria kelahiran Tanjungpandan, 24 Maret 1983 ini adalah bagian dari memori panjang birokrasi desa. Ia bukan pendatang baru yang tiba-tiba muncul menawarkan janji manis di panggung politik desa. Rekam jejaknya adalah peta yang lengkap: dari Kepala Seksi Pemerintahan, Kaur Umum, hingga duduk sebagai anggota Badan Permusyawaratan Desa (BPD).


“Saya Tahu Persis di Mana Lukanya”

Begitu berkasnya dinyatakan lengkap oleh panitia, Ilham sapaan akrabnya—tak buru-buru pulang. Ia menyapa warga yang sedari tadi menunggunya. Kepada media, ia buka suara dengan nada yang tak meninggi, tetapi penuh penekanan pada kalimat-kalimat penting.

“Saya bukan orang baru di sini. Saya tidak perlu belajar lagi soal laci meja pemerintahan desa. Saya pernah menjadi Kasi Pemerintahan, lalu Kaur Umum, dan anggota BPD. Saya tahu persis di mana letak kebocoran anggaran, di mana pelayanan publik tersendat, dan mengapa hingga hari ini warga masih mengeluhkan infrastruktur yang itu-itu saja,” ujarnya, sembari menatap satu per satu warga yang mulai berkerumun.

Baginya, ini bukan sekadar kontestasi politik. Ini adalah misi pribadi yang lahir dari rasa cinta dan kelelahan melihat desa tempatnya lahir dan besar berjalan di tempat. Ia bahkan menyitir pengalamannya sebagai Ketua Eagle Shooting Club BABEL. Terdengar paradoks, namun ia melihat benang merahnya: disiplin tinggi, fokus pada target, dan kerja tim yang solid.

“Menembak itu bukan soal peluru, tapi soal mental. Begitu juga mengelola desa. Kita harus tepat sasaran dalam setiap kebijakan. Tidak bisa asal bunyi,” tambahnya dengan senyum tipis.


Desa Terpadu, Ekonomi Tumbuh, Rakyat Sejahtera

Dalam dokumen visi yang ia serahkan ke panitia, Ilham mengusung jargon yang cukup ambisius: “DESA TERPADU, EKONOMI TUMBUH, RAKYAT SEJAHTERA.”

Kepada Anoq News, ia membeberkan konsep integrated village yang ia mimpikan. Sebuah desa yang tak lagi terkotak-kotak antara administrasi, pelayanan publik, dan partisipasi warga.

“Bayangkan, suatu hari nanti warga Aik Ketekok bisa mengakses surat-surat administrasi dari rumah. Melaporkan jalan rusak, mengurus KTP, bahkan melihat langsung laporan keuangan desa hanya lewat satu aplikasi. Itulah yang saya sebut desa terpadu. Itulah e-governance yang sebenarnya. Bukan sekadar punya website lalu lupa password,” tegasnya, disambut anggukan beberapa pemuda yang hadir.

Visi ini ia turunkan ke dalam program bernama Green Village. Program ini dirancang sebagai ekosistem lingkungan hidup yang meliputi pengelolaan sampah terpadu, penghijauan massal, hingga perkebunan terpadu berbasis masyarakat. Baginya, isu lingkungan bukanlah sekadar jargon ‘Go Green’ yang usang, melainkan kebutuhan mendesak.

“Saya lahir dan besar di sini. Saya masih ingat betapa jernihnya parit-parit kecil di belakang rumah saat kecil. Sekarang banyak yang jadi tempat sampah. Ini bukan salah siapa-siapa, tapi ini tanggung jawab kita bersama. Saatnya aksi, bukan sekadar musyawarah tanpa keputusan,” tuturnya.


Dari UMKM yang Berjalan Sendiri hingga Masa Depan Pemuda

Sorot matanya benar-benar menyala ketika berbicara tentang BUMDes dan UMKM. Dengan gestur tangan yang ekspresif, ia menggambarkan kondisi pelaku UMKM yang saat ini ‘berjalan sendiri-sendiri bagai ayam kehilangan induk’.

“Aik Ketekok ini punya potensi luar biasa. Kerajinan budaya, kuliner khas, wisata alam. Tapi selama ini berjalan sendiri-sendiri. BUMDes tidak hadir sebagai pendamping. Ke depan, kita akan bangun platform digital untuk pemasaran, dan pelatihan vokasional agar produk kita naik kelas,” ujarnya.

Bagian paling menyentuh adalah ketika Ilham menyinggung masa depan generasi muda desa. Dalam misi keenamnya, ia menargetkan pelatihan vokasional dan soft skills bagi pelajar kurang mampu serta pemuda pengangguran. Ia tidak hanya berbicara retorika. Ia mengaku sudah menjalin komunikasi intens dengan beberapa industri kecil di Pulau Belitung untuk membuka ruang magang dan penyerapan tenaga kerja.

“Anak-anak muda kita tidak butuh dikasihani, mereka butuh dilatih dan diberi kepercayaan. Saya sudah mulai bicara dengan beberapa pelaku usaha. Begitu saya terpilih, program magang ini harus berjalan di tahun pertama. Tidak boleh ada lagi pemuda kita yang menganggur karena tidak punya keterampilan,” janjinya.

Di akhir perbincangan, Ilham menitipkan pesan tentang pentingnya harmoni desa. Ia menyebut bahwa tanpa sinergi antara Pemerintah Desa, BPD, dan organisasi masyarakat, maka jangankan maju, desa akan terus bertengkar dengan dirinya sendiri.

“Desa itu seperti tubuh. Kalau tangannya ingin bergerak ke kanan, tapi kakinya ingin ke kiri, ya jatuh. Musyawarah partisipatif adalah kuncinya. Bukan musyawarah yang hanya mengundang orang-orang tertentu, tapi benar-benar mendengar suara warga di ujung gang,” pungkasnya sebelum beranjak meninggalkan kantor desa.

Kini, peta politik Aik Ketekok resmi memiliki wajah baru. Sebuah wajah yang membawa map merah tebal berisi solusi, luka lama birokrasi yang ia pahami, dan mimpi besar tentang Aik Ketekok yang terpadu, sejahtera, dan hijau. Kontestasi desa bukan lagi sekadar ajang adu popularitas, melainkan pertaruhan rekam jejak dan gagasan. Warga pun kini menunggu: mampukah Ilham mewujudkan desa terpadu dalam delapan tahun ke depan? (Red)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *