BELITUNG, ANOQNEWS — Di balik sebuah nama tempat, seringkali tersimpan kisah pilu yang menjadi bagian dari ingatan kolektif masyarakat. Salah satunya adalah “Padang Buang Anak” di Pulau Belitung, yang konon lahir dari peristiwa memilukan pada abad ke-13 silam.
Musim Kemarau Panjang Melanda
Berdasarkan naskah kuno “Sastra Lisan Bahasa Melayu Belitung” yang diterbitkan Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa pada tahun 1992, wilayah Belitung pernah mengalami musim kemarau panjang yang luar biasa. Fenomena yang dikenal masyarakat setempat sebagai “Barat Ijau” ini menyebabkan kekurangan air minum di mana-mana. Sungai-sungai mengering, sumber mata air menjadi langka, dan seluruh penduduk kesulitan memenuhi kebutuhan air sehari-hari.
Derita Seorang Ibu
Di tengah kepungan dahaga, hiduplah seorang ibu bernama Dambe. Ia harus membawa serta anaknya yang masih kecil—baru bisa merangkak—dalam setiap perjalanan mencari air. Dengan hanya bermodal sebuah gerebok (tempurung kelapa yang dikosongkan), Dambe menyusuri kaki Gunung Tajam.
Letih dan haus menyiksa. Dambe pun memutuskan beristirahat di atas sebuah batu besar.
Keputusan Fatal
Saat duduk termenung, seekor kura-kura melintas di hadapannya. Dambe pun berpikir: lebih baik mengikuti binatang melata itu, karena pasti kura-kura tersebut menuju ke tempat yang berair.
Tanpa berpikir panjang, ia segera beranjak. Anaknya ditinggalkan di atas batu, dipagari dengan kayu dan batu dengan harapan sang buah hati tidak akan kemana-mana hingga ia kembali.
Air Ditemukan, Anak Hilang
Perkiraan Dambe tidak meleset. Setelah mengikuti kura-kura itu, ia sampai di sebuah lembah yang dialiri air jernih dari celah batu. Dengan segera ia mengisi gereboknya dan minum sepuas-puasnya.
Namun, kebahagiaan berubah menjadi duka saat ia kembali ke tempat anaknya ditinggalkan. Hampir tenggelam matahari, Dambe baru tiba di lokasi. Alangkah kecewanya ia mendapati anaknya telah tiada. Yang tersisa hanya bekas tapak kaki binatang buas besar dan tetesan darah di sekitar batu.
Jejak yang Tak Berujung
Dambe sempat mengikuti jejak binatang buas itu yang menuju ke arah Gunung Tajam. Namun, pencariannya tidak membuahkan hasil. Dengan air mata berlinang, ia pulang ke ladangnya dengan tangan hampa.
Konon, sejak peristiwa tragis itulah, tempat tersebut dinamakan “Padang Buang Anak” hingga sekarang.
Makna di Balik Kisah
Cerita rakyat ini bukan sekadar dongeng pengantar tidur. Lebih dari itu, kisah Dambe menyiratkan pesan mendalam tentang musibah kemarau yang pernah melanda Belitung, serta pengorbanan dan keputusan sulit yang harus diambil seseorang dalam situasi darurat. Nama “Padang Buang Anak” menjadi penanda sejarah—sekaligus peringatan akan pentingnya kearifan dalam menghadapi bencana kekeringan.
(Sumber: Sastra Lisan Bahasa Melayu Belitung, Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, 1992)

