BELITUNG, ANOQNEWS – Sebuah naskah kuno berjudul Hikayat Negeri Johor yang baru saja didigitalisasi dan ditransliterasi oleh Pusat Bahasa Kementerian Pendidikan Nasional (2010), menguak lembaran penting sejarah politik dan migrasi di kawasan barat Nusantara pada abad ke-17 hingga ke-19. Meski judulnya merujuk pada Kesultanan Johor-Riau, kandungan manuskrip ini ternyata menyimpan benang merah yang relevan untuk menelusuri sejarah awal terbentuknya komunitas dan struktur kekuasaan di Pulau Belitung.
Naskah setebal 66 halaman yang ditulis dalam aksara Arab-Melayu ini mencatat secara kronologis konflik internal, peperangan melawan Jambi dan Belanda (VOC), hingga peran sentral para perantau Bugis di bawah pimpinan Kelana Jaya Putra, Daeng Perani, dan Daeng Kamboja.
Koneksi dengan Belitung: Arus Balik Migrasi Maritim
“Meskipun nama Belitung atau Biliton tidak disebut secara eksplisit dalam Hikayat Negeri Johor, naskah ini adalah missing link untuk memahami konteks regional yang membentuk Belitung,”
Dalam naskah dijelaskan, terjadi friksi dan pergeseran kekuasaan di Riau dan Selangor. Pada periode yang sama, jalur pelayaran dari Johor-Riau menuju Bangka dan Belitung merupakan rute dagang timah yang vital. Para bangsawan Bugis yang tercatat mondar-mandir dari Lingga ke Indragiri dan Siantan dalam hikayat ini, kemungkinan besar menggunakan Pulau Belitung sebagai pos persinggahan strategis sebelum mencapai Palembang atau pesisir timur Sumatera.
Halaman 61 hingga 64 naskah mencatat pergerakan Pangeran Sutawijaya ke Mempawah (Kalimantan Barat). Rute ini memperkuat teori bahwa para pelaut Bugis-Melayu dari Riau adalah aktor utama yang kelak membuka dan menata pemerintahan di Belitung di bawah naungan Kesultanan Palembang.
Data Perjanjian dan Perdagangan Timah
Salah satu fragmen paling bernilai dalam naskah ini (hlm. 5) adalah penyebutan “Sumpah Setia” yang dikirimkan Pagaruyung kepada raja-raja di Riau. Ini menegaskan adanya hierarki politik yang diakui hingga ke ranah Minangkabau. Selain itu, pada halaman 31 disebutkan adanya “perjanjian perdagangan timah antara Riau dan Kompeni”.
Konteks perjanjian timah inilah yang sangat erat kaitannya dengan Belitung. Saat timah Riau dan Selangor menjadi rebutan Belanda dan Bugis, eksplorasi timah di Belitung mulai digalakkan oleh Sultan Palembang. Para pelaut Bugis yang terdesak atau lelah dengan konflik di Selat Malaka, seperti yang digambarkan dalam Hikayat Negeri Johor, mencari “tanah baru” yang lebih damai untuk berdagang dan menetap, salah satunya di pesisir Belitung.
Implikasi Budaya: Adat yang Dibawa Lintas Selat
Naskah ini juga membahas secara mendalam soal “adat Marhum Mangkat di Sungai Baharu” dan “adat Marhum Mangkat di Kota” (hlm. 33). Perdebatan adat antara Sultan Melayu dengan elit Bugis ini, setelah mengalami modifikasi, akhirnya terbawa dalam diaspora mereka. Tak heran jika hukum adat dan struktur pemerintahan tradisional di Belitung memiliki kemiripan leksikon dan filosofi dengan tradisi Bugis-Riau, seperti penggunaan gelar “Keraeng” atau struktur “Batin” (yang juga disebut dalam hikayat ini).
Dengan digitalisasi naskah ini, para sejarawan dan budayawan di Belitung kini memiliki pijakan sumber primer untuk melacak asal-usul leluhur mereka. Hikayat Negeri Johor membuktikan bahwa Belitung bukanlah pulau yang terisolasi, melainkan bagian tak terpisahkan dari pusaran politik dan ekonomi dunia Melayu di abad ke-17 dan 18. (Red)

