Jejak Belitung di Hikayat Raja Pasai, Bukti Historis Ekspansi Majapahit di Nusantara

Jejak Belitung di Hikayat Raja Pasai, Bukti Historis Ekspansi Majapahit di Nusantara

BELITUNG, ANOQNEWS – Sebuah manuskrip kuno berjudul Hikayat Raja-Raja Pasai mengungkap fakta mengejutkan tentang posisi strategis Pulau Belitung di masa lampau. Jauh sebelum dikenal sebagai destinasi wisata kelas dunia dengan pantai granitnya yang ikonik, nama “Bēlitong” atau yang kita kenal kini sebagai Belitung, telah tercatat dalam literatur Melayu klasik sebagai salah satu wilayah penting di bawah pengaruh kemaharajaan Majapahit. Temuan filologis ini menegaskan bahwa Belitung bukanlah sekadar pulau kecil di selat, melainkan simpul kuasa dalam konstelasi politik Nusantara abad pertengahan.

Manuskrip yang Melampaui Zaman

Hikayat Raja-Raja Pasai merupakan naskah bersejarah yang diyakini ditulis pada abad ke-14 atau ke-15 Masehi. Naskah ini mencatat periodisasi Kerajaan Samudera Pasai sebagai kerajaan Islam pertama di Nusantara, sekaligus konflik dan ekspansi kekuasaan dengan Kerajaan Majapahit dari Jawa. Pada bagian akhir naskah, tepatnya setelah mengisahkan penaklukan Pasai oleh armada Majapahit pimpinan panglima seperti Gajah Mada dan Sina Pati Anglaga, tercantum daftar panjang “negeri yang takluk” (negeri yang taalok).

Di antara puluhan nama wilayah yang terbentang dari Semenanjung Malaya hingga Kepulauan Maluku, nama Bēlitong muncul secara eksplisit dalam urutan ke-11 daftar wilayah jajahan Majapahit pasca-kemenangan atas Pasai.

Koordinat Strategis di Jalur Perdagangan

Dalam hikayat tersebut, posisi Belitung disebutkan berdekatan dengan wilayah-wilayah maritim strategis lainnya seperti Bangka, Lingga, Riau, dan Bintan. Hal ini menunjukkan bahwa pada masa Majapahit, jalur pelayaran di Selat Karimata dan Laut Cina Selatan sangat diperhitungkan.

Berikut kutipan yang diterjemahkan dan diadaptasi dari naskah halaman 54-55:

“…Maka sekalian negeri itu pun habislah takluk kepada zaman itu, takluklah ia ke Majapahit… Negeri Timbalan, Siantan, Jemaja, Bunguran, Serasan, Suabi, Pulau Laut, Tioman, Pulau Tinggi, Pemanggilan Kerimata, Belitong, Bangka, Lingga, Riau, Bintan…”

Penegasan Hegemoni Maritim

Daftar panjang ini menjadi legitimasi Hikayat Raja Pasai terhadap klaim supremasi Majapahit di bawah Mahapatih Gajah Mada. Pencatatan Belitung dalam daftar ini mengindikasikan bahwa pulau penghasil timah dan lada ini sangat diperhitungkan secara ekonomi dan militer. Penguasaan atas Belitung berarti mengamankan jalur masuk menuju Selat Malaka dari arah timur.

Menurut pengamat sejarah dan filolog, penyebutan nama “Belitong” ini sangat krusial karena membuktikan eksistensi dan toponimi pulau tersebut telah ajek selama lebih dari enam abad. “Ini adalah bukti autentik bahwa entitas politik dan masyarakat di Belitung sudah terstruktur dan dikenal dalam jaringan perdagangan serta diplomasi regional sejak era klasik,” ujar salah satu sumber redaksi yang mendalami naskah kuno.

Konteks Penaklukan Pasai dan Dampaknya

Hikayat tersebut mengisahkan secara dramatis kejatuhan Pasai ke tangan Majapahit akibat konflik internal istana yang dipicu oleh intrik dan hasrat kekuasaan. Setelah Sultan Ahmad dari Pasai melarikan diri ke pedalaman, armada Majapahit yang perkasa dengan mudah melibas pertahanan pesisir. Ekspedisi lanjutan yang dipimpin oleh para pejabat tinggi Majapahit kemudian “menyapu bersih” wilayah-wilayah pesisir Sumatera dan pulau-pulau sekitarnya, menjadikan mereka sebagai vassal atau daerah bawahan yang wajib membayar upeti.

Kejatuhan Pasai membuka “kotak pandora” ekspansi Majapahit ke barat, menjadikan pulau-pulau penghasil rempah dan mineral seperti Belitung dan Bangka sebagai bagian dari “Sabuk Maritim” Nusantara.

Bukan Sekadar Cerita Lama

Bagi warga Belitung dan pemerhati sejarah nasional, kutipan dalam Hikayat Raja Pasai ini bukan hanya artefak literer. Ini adalah identitas kultural yang menghubungkan Belitung dengan narasi besar Indonesia sebelum era kolonial. Saat Belitung kini bersolek dengan pariwisata modern dan Geopark nasional, akar sejarahnya menunjukkan bahwa pulau ini pernah menjadi saksi bisu pertarungan kuasa raksasa Nusantara, Pasai dan Majapahit.

Fakta ini sekaligus menjadi pengingat bahwa identitas “Melayu” di pesisir timur Sumatera memiliki kedalaman sejarah yang tak terputus, dari era Samudera Pasai, Majapahit, hingga Kesultanan Palembang dan masa kini. (Red)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *