Tradisi Ceng Beng di Pangkalpinang, Harmoni Lintas Suku dalam Ziarah Leluhur

Tradisi Ceng Beng di Pangkalpinang, Harmoni Lintas Suku dalam Ziarah Leluhur

PANGKALPINANG – Setiap tanggal 5 April menurut kalender Masehi, suasana berbeda terasa di Kota Pangkalpinang, Kepulauan Bangka Belitung. Warga keturunan Tionghoa berbondong-bondong menuju perkuburan Sentosa untuk melaksanakan ritual Ceng Beng, tradisi sembahyang kubur yang telah diwariskan turun-temurun sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.

Ritual yang berlangsung sejak dini hari hingga terbit fajar ini bukan sekadar ziarah biasa. Dalam buku “Hubungan Antar Suku Bangsa di Kota Pangkalpinang” karya Dra. Evawarni, M.Ag. yang diterbitkan Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Tanjungpinang pada 2009, dijelaskan bahwa Ceng Beng menjadi momen penting bagi masyarakat Tionghoa untuk menjalin hubungan spiritual dengan nenek moyang.

Makna di Balik Ritual Tahunan

Masyarakat Tionghoa di Pangkalpinang meyakini bahwa roh orang yang telah meninggal tetap hidup dan dapat memberikan bantuan, dukungan, serta bimbingan kepada keturunannya. Keyakinan inilah yang mendorong mereka untuk sangat menghormati leluhur melalui ritual Ceng Beng.

Sebelum hari puncak tiba, keluarga biasanya telah membersihkan area makam atau “pendem” sekitar sepuluh hari sebelumnya. Pada tanggal 5 April, suasana perkuburan Sentosa berubah semarak dengan lampion dan alunan musik yang mengiringi prosesi sembahyang.

Sesaji dan Simbol Penghormatan

Para peziarah menyediakan berbagai sesaji yang diletakkan di makam leluhur. Buah-buahan, ayam atau babi, arak, aneka kue, hingga uang kertas menjadi bagian dari ritual. Uang kertas kemudian dibakar bersama “garu” sebagai simbol pengiriman rezeki kepada leluhur di alam lain.

Evawarni mencatat dalam penelitiannya bahwa Ceng Beng merupakan salah satu dari sekian banyak tradisi Tionghoa yang masih setia dijalankan masyarakat Pangkalpinang, selain Perayaan Tahun Baru Imlek, Cap Go Meh, Pe Cun, hingga Pot Ngin Bun.

Kerukunan Lintas Suku di Tengah Perbedaan

Yang menarik, tradisi ini berlangsung damai di tengah masyarakat Pangkalpinang yang majemuk. Kota yang merupakan ibu kota Provinsi Kepulauan Bangka Belitung ini dihuni oleh beragam suku bangsa seperti Melayu, Cina, Bugis, Jawa, Batak, Minang, dan lainnya.

Berdasarkan data tahun 2005, penduduk Pangkalpinang mencapai 146.161 jiwa dengan komposisi pemeluk agama Islam 73,7 persen, Konghucu 7,5 persen, Budha 9,01 persen, serta Kristen dan Katolik sekitar 9,6 persen.

Meskipun berbeda keyakinan, hubungan antar suku bangsa berjalan harmonis. Dalam berbagai kegiatan keagamaan, warga dari latar belakang berbeda saling menghormati. Saat perayaan Imlek misalnya, masyarakat non-Tionghoa turut mengucapkan selamat dan mengunjungi sanak saudara. Sebaliknya, umat Tionghoa juga kerap mengantar makanan atau parcel saat Idul Fitri dan Natal.

Pangkalpinang sebagai Kota Toleransi

Penelitian Evawarni mengungkapkan bahwa sejak dulu hingga saat ini, Pangkalpinang tidak pernah mengalami konflik fisik antar suku bangsa. Yang justru terjadi adalah kawin campur antar etnis yang semakin mempererat persaudaraan.

Faktor penunjang kerukunan ini antara lain pemahaman masyarakat terhadap budaya suku lain, kelancaran komunikasi antarbudaya, serta peran pemimpin informal yang aktif membina kedamaian warga.

“Perbedaan budaya tidak menjadi halangan untuk menjalin hubungan. Yang penting saling memahami, beradaptasi, dan bertoleransi,” demikian kesimpulan dalam buku setebal 108 halaman tersebut.

Tradisi Ceng Beng pun menjadi bukti nyata bahwa keberagaman dapat hidup berdampingan dengan damai di Bumi Serumpun Sebalai, julukan Bangka Belitung yang mencerminkan persatuan. (Red)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *