Menelusuri Jejak Kerajaan di Belitung Timur: Dari Majapahit hingga Konflik Berdarah

Menelusuri Jejak Kerajaan di Belitung Timur: Dari Majapahit hingga Konflik Berdarah

BELITUNG TIMUR – Di balik gemerlapnya timah yang menjadi komoditas utama Kabupaten Belitung Timur, tersimpan sejarah panjang tentang kejayaan kerajaan-kerajaan Nusantara yang pernah menguasai wilayah ini. Berdasarkan arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) yang dirilis dalam buku “Citra Kabupaten Belitung Timur Dalam Arsip” (2017), Pulau Belitung ternyata telah menjadi bagian penting dari peta politik kerajaan besar di Indonesia sejak abad ke-7.

Sejak Abad ke-7: Di Bawah Cengkeraman Sriwijaya

Sejarah mencatat, Pulau Belitung yang dalam literatur Belanda disebut Billiton ini telah dikenal sejak abad ke-7. Bersama dengan Pulau Bangka, wilayah ini berada di bawah kekuasaan Kerajaan Sriwijaya, pusat perdagangan dan maritim terbesar di Nusantara kala itu.

Memasuki abad ke-14, kekuasaan bergeser. Dalam Kitab Negarakertagama karangan Mpu Prapanca yang bertanggal 1365, nama Pulau Belitung dilukiskan dalam syair untuk Raja Hayam Wuruk. Hal ini menegaskan bahwa pada periode tersebut, Belitung menjadi wilayah taklukan Kerajaan Majapahit yang perkasa.

Asal-Usul Nama Belitung: Antara Legenda dan Prasasti

Terdapat beberapa versi menarik mengenai penamaan “Belitung” yang terungkap dari arsip. Berdasarkan cerita rakyat yang berkembang, masyarakat meyakini Pulau Belitung berasal dari sebagian Pulau Bali yang terbelah dan terhanyut akibat suatu sebab, kemudian tersangkut di posisinya saat ini. Nama Bali-Potong lambat laun berubah menjadi Balitong hingga akhirnya menjadi Belitung.

“Pada saat itu penduduk Belitung diperkirakan beragama Hindu, sebagaimana agama yang dianut oleh penduduk Pulau Bali,” demikian tertulis dalam arsip ANRI.

Versi lain yang lebih akademis menyebutkan bahwa nama Belitung berasal dari nama seorang raja di Medang, dari wangsa Sanjaya Jawa Timur, bernama Rake Watakura Dyah Balitung. Nama ini terukir dalam prasasti Jawa kuno berangka tahun 899, menandakan bahwa Belitung pernah menjadi wilayah kekuasaan kerajaan di Jawa Timur tersebut.

Catatan Kuno dari Tiongkok: Armada Terdampar dan Koloni Pertama

Sejarawan bangsa Tiongkok, Fei Hsin, dalam laporannya tahun 1436 mencatat peristiwa penting. Pada tahun 1293, armada Tiongkok yang dipimpin Jenderal Kau Hsing dan Shi Pi mengalami angin ribut dan terdampar di Pulau Belitung yang mereka sebut Kaulan atau Kolan.

Di tempat itu, mereka menemukan banyak sumber daya untuk membuat kapal. Armada tersebut berhasil membangun 100 perahu baru sebagai pengganti kapal yang hancur akibat badai. Mereka melanjutkan perjalanan dengan meninggalkan 100 serdadu yang sakit di tempat tersebut.

“Inilah yang menjadi koloni Tionghoa pertama di Pulau Belitung,” tulis Fei Hsin dalam catatannya, seraya menambahkan bahwa wilayah ini memiliki tanah subur dengan hawa agak panas, dan kampung-kampung tersebar di tepi sungai.

Berdirinya Kerajaan Badau dan Kedatangan Penyebar Islam

Memasuki abad ke-16, di Belitung berdiri Kerajaan Badau dengan pusat kekuasaan di daerah Pelulusan. Wilayah kekuasaannya membentang luas mencakup Badau, Ibul, Bange, Bentaian, Simpang Tiga, hingga Buding, Manggar, dan Gantung di sebelah timur Belitung.

Kerajaan ini didirikan oleh Datuk Mayang Gresik yang datang sekitar tahun 1520. Sosok ini diperkirakan juga menjadi penyebar agama Islam pertama di Belitung.

Pada awal abad ke-17, datanglah seorang bangsawan Jawa bernama Kiai Ge Gedeh Yakob atau Ki Gede Yakob, bergelar Kiai Masud. Ia merupakan keturunan Bupati Mataram dari Susuhunan Mangkurat dan masih keponakan Ki Gede Pemanahan, Bupati Mataram.

Ki Gede Yakob tiba di Belitung melalui Teluk Balok, kemudian menikahi puteri penguasa Belitung, Datuk Mayang Gresik, dan mendirikan Kerajaan Balok dengan gelar Depati Cakraningrat. Ia pun turut menyebarkan agama Islam, meskipun masyarakat saat itu masih kuat menganut animisme dan praktik perdukunan.

Konflik Berdarah dan Syahidnya Penyebar Islam

Agama Islam baru tersebar luas di masyarakat Belitung melalui perjuangan Syeh Abubakar Abdullah yang berasal dari Pasai (Aceh) sekitar tahun 1700. Namun, perjuangannya berakhir tragis.

Kesalahpahaman dengan penguasa Kerajaan Balok saat itu, Kiai Agus (K.A.) Bastam bergelar Cakraningrat IV (berkuasa 1700-1740 M), yang merasa terancam dengan kehadiran sang syeh, berujung pada pembunuhan. Pada tahun 1705, Syeh Abubakar Abdullah dibunuh oleh Cakraningrat IV.

Para pengikutnya kemudian memberi gelar Datuk Gunung Tajam kepada sang syeh, karena letak makamnya di puncak Gunung Tajam. Hingga kini, makam tersebut menjadi salah satu situs bersejarah yang masih dikunjungi.

Di Bawah Perlindungan Kesultanan Palembang

Pada masa pemerintahan Kiai Agus Gending bergelar Sultan Cakraningrat III (1696-1700), Kerajaan Balok serta Pulau Bangka berada di bawah perlindungan Kesultanan Palembang di bawah kekuasaan Sultan Abdurrahman (1662-1706). K.A. Gending diwajibkan membayar upeti kepada Sultan Palembang.

Sosok K.A. Gending juga dikenal sebagai penata sistem pemerintahan yang sistematis. Ia menguatkan empat wilayah Ngabehi yang berada di bawahnya, yakni Ngabehi Badau, Ngabehi Sijuk, Ngabehi Belantu, dan Ngabehi Buding. Ngabehi merupakan pembagian kekuasaan setingkat kecamatan.

Pembagian kekuasaan ini tidak terlepas dari perhatian Kesultanan Palembang yang mulai melirik Belitung karena indikasi keberadaan timah yang melimpah di pulau tersebut. Sebuah awal dari babak baru pertambangan yang kelak akan mengubah wajah Belitung secara dramatis. (Red)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *