Jejak Pelaut Nusantara, Kisah Lima Opu Daeng yang Mengubah Peta Kekuasaan Tanah Melayu

Jejak Pelaut Nusantara, Kisah Lima Opu Daeng yang Mengubah Peta Kekuasaan Tanah Melayu


1 April 2026 — Sebuah kajian sejarah mengungkap perjalanan epik lima bersaudara asal Sulawesi yang berlayar ribuan kilometer, melewati gugusan kepulauan, terlibat dalam pertempuran dahsyat, hingga akhirnya bertahta di beberapa kerajaan besar Tanah Melayu. Kisah ini terdokumentasi dalam naskah kuno berjudul Kitab Silsilah serta Hikayat dan Kisah Asal Raja-Raja Sebelah Mempawah dan Pontianak dan Matan dan Sambas dan Riau dan Selangor yang kini tersimpan di Balai Pelestarian Nilai Budaya Kalimantan Barat.

Dari Luwu Menyebar ke Seberang
Lima Opu Daeng bersaudara—Opu Daeng Perani, Opu Daeng Manambon, Opu Daeng Marewah, Opu Daeng Cela’, dan Opu Daeng Kemasi—merupakan keturunan ke-33 dari Raja Luwu, Siti Malangkei. Mereka adalah putra Opu Daeng Rilaka, yang memilih merantau meninggalkan tanah kelahiran di Sulawesi Selatan.

Naskah setebal 160 halaman yang disalin pada 1866 Masehi ini menggambarkan bagaimana kelima bersaudara itu memulai pengembaraan dengan modal tekad dan semangat mencari kejayaan. Perjalanan mereka tidak sekadar berpindah tempat, melainkan mengemban tradisi Bugis yang dikenal dengan panggadereng—norma yang mengatur sikap dan perilaku seseorang terhadap sesama dan pranata sosial.

“Barang di mana-mana dapat susah kita berlima bersaudara berkumpul dan memberitahu berkirim surat. Kita bersama-sama bertolong-tolongan barang suatunya tiada bercerai,” demikian bunyi ikrar yang mereka buat, menunjukkan kedalaman ikatan persaudaraan yang abadi.

Tiga Pilar Perjalanan: Diplomasi, Perang, dan Perkawinan
Sepanjang pelayaran mereka, tiga strategi utama dijalankan: diplomasi, peperangan, dan perkawinan politik. Modal awal kehidupan mereka diperoleh dari kemenangan spektakuler dalam adu ayam melawan Raja Culan di Kamboja. Dengan mengandalkan Taji Kerami—senjata racun warisan dari Kerajaan Topamana—mereka berhasil memenangkan taruhan yang melimpahkan harta benda dan perahu sebagai bekal pelayaran selanjutnya.

Naskah ini mencatat jalur pelayaran yang membentang luas: Kerajaan Luwu menuju Topamana, Bone, Makassar, Betawi, Siantan, Malaka, Kamboja, dan kembali ke Siantan. Dari sana mereka singgah di Langkat, Matan, Banjar, hingga akhirnya mencapai Riau, Selangor, Lingga, Siak, Kedah, Sambas, dan berakhir di Mempawah.

Setiap persinggahan bukan tanpa tujuan. Kehadiran mereka kerap kali merupakan respons atas undangan raja-raja Melayu yang membutuhkan bantuan meredam konflik perebutan kekuasaan.

Beradu Kekuatan dengan Raja Kecir
Salah satu babak paling dramatis dalam perjalanan Opu bersaudara adalah pertarungan melawan Raja Kecir dari Negeri Siak. Tokoh yang digambarkan licik dan penuh dendam ini menjadi musuh bebuyutan yang terus mengganggu stabilitas Kerajaan Riau-Johor.

Konflik berlangsung dalam beberapa gelombang. Pada 1721 Masehi atau 1134 Hijriah, Opu bersaudara berhasil mengusir Raja Kecir dari Lingga dan Riau. Namun, pertempuran menentukan terjadi di Kedah, di mana Opu Daeng Perani gugur setelah ditembak meriam dari rumah persembunyian Raja Kecir saat melintasi sungai.

Kematian sang kakak sulung tidak mematahkan semangat adik-adiknya. Justru sebaliknya, mereka mengamuk membakar rumah-rumah yang menjadi persembunyian pasukan Siak, membalaskan dendam dengan pembalasan yang membabi buta.

Perjanjian Bersejarah di Riau
Salah satu pencapaian terbesar Opu bersaudara adalah keberhasilan mengembalikan takhta Kerajaan Riau-Johor kepada Sultan Sulaiman. Sebagai imbalan, mereka mengikat perjanjian bersejarah: Sultan Sulaiman beserta keturunannya menjadi Yang Dipertuan Besar, sementara salah satu Opu menjadi Yang Dipertuan Muda.

Metafora yang digunakan dalam naskah cukup unik: “Mereka ibaratkan bahwa Yang Dipertuan Besar itu layaknya seperti seorang perempuan sedangkan Yang Dipertuan Muda menjadi laki-laki. Yang Dipertuan Besar hanya menurut apa yang disampaikan oleh Yang Dipertuan Muda.”

Kesepakatan ini berlaku hingga anak cucu keturunan mereka. Strategi politik ini kemudian diperkuat dengan perkawinan lintas kerajaan. Opu Daeng Cela’ dinikahkan dengan adik Sultan Sulaiman, Tengku Puan. Opu Daeng Perani dipersunting oleh Tengku Tengah. Sementara Daeng Manampu’, Tan Kecir, dan Tan Iyanah masing-masing dijodohkan dengan kerabat kerajaan.

Jejak di Tanah Borneo
Di Kalimantan Barat, pengaruh Opu bersaudara juga terasa kuat. Opu Daeng Manambon menikahi Puteri Kesumba, putri Sultan Muhammad Zainuddin dari Kerajaan Matan. Dari pernikahan ini lahir sepuluh anak yang kemudian tersebar menjadi penguasa di berbagai wilayah.

Salah satu keturunannya, Gusti Jamiril, menjadi raja di Mempawah dengan gelar Adi Jaya Kesuma Jaya. Utin Candramidi menikah dengan Sultan Syarif Abdurrahman, pendiri Kesultanan Pontianak. Sementara Utin Daraman menjadi permaisuri Raja Landak.

Adik bungsu, Opu Daeng Kemasi, mendapat jatah berbeda. Sultan Adil dari Sambas mengundang kelima Opu bersaudara bukan untuk berperang, melainkan untuk menjalin tali persaudaraan melalui perkawinan. Opu Daeng Kemasi kemudian dinikahkan dengan Raden Tengah, adik Sultan Sambas, dan diberi gelar Pangeran Mangkubumi.

Hubungan kekeluargaan ini membentuk simpul-simpul yang mengikat kerajaan-kerajaan di Nusantara. Sultan Zainuddin (Matan) adalah menantu Panembahan Singkewok (Mempawah). Opu Daeng Manambon (Mempawah) adalah menantu Sultan Matan sekaligus mertua Sultan Pontianak dan Raja Landak.

Warisan yang Tak Luntur
Naskah yang ditulis dengan aksara Arab berbahasa Melayu ini tidak hanya merekam sejarah politik, tetapi juga menggambarkan karakter kuat para tokohnya. Lima Opu bersaudara digambarkan sebagai sosok pelaut tangguh dengan kerja keras tak kenal lelah, cerdas dalam strategi, taat ajaran agama, dan memiliki jiwa kepemimpinan yang bijaksana.

Di sisi lain, Raja Kecir menjadi antitesis dengan karakter iri, dengki, dan suka berkhianat. Ia terus berusaha menghancurkan Riau hingga akhir hayatnya, bahkan menyuruh anak-anaknya melanjutkan serangan setelah ia wafat.

Kitab yang kini berusia 108 tahun ini memberikan gambaran bahwa persatuan Nusantara telah terbentuk sejak masa lalu melalui diplomasi, peperangan, dan perkawinan antar kerajaan. Politik merajut simpul-simpul kebangsaan yang mereka jalin ratusan tahun lalu masih dapat dirasakan hingga kini.

Di Riau, Kedah, Selangor, Mempawah, dan Sambas, keturunan para Opu masih eksis mempertahankan status sosial dan melestarikan budaya Bugis. Perpaduan budaya Bugis dan Melayu yang terintegrasi melalui perjalanan panjang ini menjadi bukti bahwa pelayaran Opu bersaudara bukan sekadar perpindahan fisik, melainkan proses akulturasi yang membentuk identitas baru di Tanah Melayu.

“Disadari atau tidak,” demikian kesimpulan dalam kajian ini, “pelayaran yang dilakukan oleh Opu bersaudara berhasil merintis simpul-simpul yang mengikat budaya antara Sulawesi, Kalimantan Barat, Riau, Kedah, Selangor, Johor, dan lain-lain dalam sebuah ikatan rumpun Melayu.”

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *