Tiga Rekomendasi Utama UNESCO untuk Geopark Belitong Pasca Kartu Kuning

Tiga Rekomendasi Utama UNESCO untuk Geopark Belitong Pasca Kartu Kuning

BELITUNG – Dewan Geopark Global UNESCO atau UNESCO Global Geoparks Council secara bulat memberikan kartu kuning kepada Belitong UNESCO Global Geopark (UGGp) dalam sidang ke-9 yang berlangsung di Cao Bằng, Vietnam, pada 8-9 September 2024. Keputusan ini diambil setelah dewan menilai kawasan warisan bumi di Pulau Belitung, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, itu belum memenuhi tiga kriteria penting dalam Pedoman Operasional UNESCO Global Geopark.

Ketiga kriteria yang dimaksud adalah kriteria (ii), (vi), dan (vii) dari bagian 3 pedoman tersebut. Kartu kuning merupakan peringatan resmi yang mewajibkan pengelola geopark melakukan perbaikan signifikan dalam jangka waktu tertentu. Jika tidak dipenuhi, status UNESCO Global Geopark dapat dicabut.

Sistem Sertifikasi Tektit Dinilai Kontraproduktif

Dalam diskusi tertutup yang dirangkum dalam dokumen resmi konferensi, dewan membahas usulan sistem sertifikasi mineral untuk tektit—batu alam khas Belitung yang dikenal masyarakat setempat sebagai satam. Namun, dewan sepakat bahwa langkah tersebut tidak akan berguna dan justru kontraproduktif.

Yang lebih mengkhawatirkan, dewan menemukan praktik penjualan material geologi bernilai ilmiah tinggi ini masih berlangsung. Padahal, billitonite (nama ilmiah tektit) memiliki peran historis dan kultural yang mendalam dalam budaya masyarakat Pulau Belitung. UNESCO secara tegas merekomendasikan agar UGGp mengambil tindakan nyata untuk melindungi tektit dari perdagangan internasional.

Laporan Misi Dianggap Tak Cerminkan Kekuatan Geopark

Sejumlah anggota dewan menyoroti kualitas laporan misi evaluasi yang dinilai tidak mencerminkan secara memadai aspek-aspek kuat dari Belitong UGGp. Meski demikian, kekurangan yang teridentifikasi cukup serius sehingga diperlukan intervensi.

Salah satu temuan kritis menyangkut konservasi penyu laut. Wilayah pesisir geopark ini sebenarnya ideal sebagai tempat bertelur dan bersarang penyu. Namun, praktik pelepasan tukik (bayi penyu) ke laut justru dilakukan oleh operator wisata tanpa pengawasan profesional dan ilmiah yang ketat. UNESCO menegaskan bahwa kegiatan semacam itu harus segera dihentikan dan dialihkan di bawah bimbingan ilmuwan serta tenaga ahli.

Empat Rekomendasi Utama untuk Perbaikan

Dewan mengeluarkan sejumlah rekomendasi yang terbagi dalam empat klaster utama:

Pertama, komunikasi dan pencerahan. Pengelola geopark diminta terus memperkenalkan bahasa kedua, terutama bahasa Inggris, pada papan informasi di situs-situs penting seperti museum maritim dan lokasi wisata unggulan. Papan interpretasi yang ada juga harus direvisi agar lebih pendek, menarik, dan mudah dipahami, dengan informasi tambahan yang dapat diakses secara daring melalui kode QR. Situs web resmi UGGp pun wajib diperbarui secara berkala.

Kedua, menghubungkan jenis warisan. Belitong UGGp perlu memperkuat hubungan antara geologi, warisan geologi, dan nilai-nilai warisan lainnya—baik keanekaragaman hayati maupun warisan budaya, termasuk yang tidak berwujud. Langkah ini penting untuk meningkatkan kesadaran, pendidikan, dan promosi.

Ketiga, jejaring. Dewan mendorong pengelola agar memastikan jejaring internasional yang lebih menyeluruh dan aktif dengan sesama UGGp, serta berpartisipasi dalam berbagai acara dan konferensi APGN (Jejaring Geopark Asia Pasifik) dan GGN (Jejaring Geopark Global).

Keempat, pengurangan risiko bencana dan pembangunan berkelanjutan. Isu-isu seperti mitigasi bencana alam, adaptasi terhadap perubahan iklim, dan pemanfaatan berkelanjutan sumber daya alam—khususnya air di pulau-pulau kecil—harus diintegrasikan ke dalam kegiatan dan penawaran pendidikan UGGp.

Saran Spesifik: Laut, Perubahan Iklim, dan Daya Dukung Wisata

Lebih lanjut, dewan memberikan sejumlah saran teknis. Sebagian signifikan dari wilayah Belitong UGGp berada di laut, sementara bagian lainnya mencakup pulau-pulau kecil yang secara historis menyaksikan proses transgresi-regresi (perubahan garis pantai akibat naik-turunnya permukaan laut) dan saat ini tengah mengalami dampak perubahan iklim, kenaikan permukaan laut, serta risiko bencana kelautan lainnya.

UNESCO merekomendasikan agar aspek-aspek ini dipadukan dengan studi sistematis dan lebih mendalam tentang geologi laut, geomorfologi, oseanografi, keanekaragaman hayati laut (seperti penyu), serta warisan budaya termasuk pengetahuan lokal. Langkah tersebut dinilai akan meningkatkan nilai warisan UGGp secara keseluruhan.

Dari sisi pengembangan situs, dewan melihat kegiatan UGGp masih terpusat di bagian barat laut Kabupaten Belitung. UNESCO mendorong pemerataan pengembangan ke seluruh wilayah geopark.

Satu lagi sorotan penting: kawasan pesisir yang menjadi tempat bersarang penyu harus diidentifikasi dan dilindungi dengan jelas. Area bersarang tidak boleh terganggu aktivitas wisata. Selain itu, pengelola diminta mempertimbangkan penetapan daya dukung lingkungan serta batasan jumlah pengunjung untuk situs-situs populer, terutama yang berada di pulau-pulau kecil.

Catatan Akhir dari Cao Bằng

Dewan Geopark Global UNESCO tidak mencatat adanya konflik kepentingan dalam proses evaluasi Belitong UGGp. Keputusan kartu kuning diambil secara bulat sebagai bentuk peringatan dini agar pengelola geopark segera membenahi berbagai kekurangan yang teridentifikasi.

Kartu kuning ini menjadi ujian penting bagi pengelolaan Belitong UNESCO Global Geopark, yang selama ini dikenal sebagai destinasi wisata berbasis geowisata dengan keunikan batu satam dan ekosistem pesisirnya. Status sebagai warisan bumi UNESCO membawa tanggung jawab besar untuk menjaga keseimbangan antara konservasi, edukasi, dan pembangunan berkelanjutan.

Publik kini menanti langkah konkret pemerintah daerah, pengelola geopark, serta masyarakat setempat dalam merespons rekomendasi dan saran dari badan PBB tersebut. Kegagalan memenuhi target perbaikan dapat berimplikasi pada pencabutan status yang telah mengharumkan nama Belitung di kancah internasional (Red)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *