Patih Balitong Panglima Setia di Balik Berdirinya Kesultanan Banjar, Kisah Heroik Abad ke-16

Patih Balitong Panglima Setia di Balik Berdirinya Kesultanan Banjar, Kisah Heroik Abad ke-16

BELITUNG – Dalam pusaran sejarah perebutan kekuasaan antara Kerajaan Daha dan Kesultanan Banjar pada awal abad ke-16, nama Patih Balitong muncul sebagai salah satu panglima perang paling setia di sisi Pangeran Samudra. Ia bukan sekadar pendamping, tetapi juga bagian dari struktur pemerintahan yang turut menentukan arah baru kerajaan Islam pertama di Kalimantan Selatan.

Naskah kuno “Hikayat Banjar dan Kotaringin” (koleksi Perpustakaan Nasional RI dengan kode ML.48) secara jelas mencatat peran Patih Balitong bersama tiga patih lainnya — Patih Masih, Patih Balit, Patih Kuin, dan Patih Mohor — dalam memenangkan peperangan melawan Pangeran Tomonggong, penguasa Daha kala itu.

Perang Perebutan Kekuasaan di Awal 1520-an

Meskipun naskah tradisional ini tidak mencantumkan tahun Masehi secara eksplisit, para sejarawan memperkirakan peristiwa besar tersebut terjadi sekitar tahun 1520–1526 M. Perkiraan ini merujuk pada catatan bahwa Sultan Suriansyah (gelar Pangeran Samudra setelah masuk Islam) wafat sekitar tahun 1550 M dan proses Islamisasi serta pendirian Kesultanan Banjar berlangsung pada pertengahan dekade 1520-an.

Dalam pertempuran sengit yang berlangsung hingga 40 hari di Hujung Pulau Malaka, pasukan gabungan pimpinan Patih Masih dan Patih Balitong berhasil memukul mundur pasukan Daha. Korban berjatuhan di kedua sisi, namun strategi dan soliditas para patih menjadi kunci kemenangan.

Peran Strategis: Dari Medan Perang ke Sistem Hukum

Patih Balitong tidak hanya aktif di medan laga. Naskah menyebutkan bahwa ia turut serta dalam musyawarah menentukan langkah politik, termasuk merebut bandar Muara Bahan — pusat ekonomi strategis saat itu.

“Pada rasa kola suka segala dagang itu karena tiada jauh ia berdagang,” demikian penggalan naskah yang menggambarkan keyakinan para patih.

Setelah Pangeran Samudra dinobatkan sebagai raja bergelar Sultan Suriansyah, struktur pemerintahan dibentuk. Patih Balitong bersama Patih Batil, Patih Kuin, dan Patih Mohor diangkat sebagai jaksa kerajaan — pemegang otoritas hukum dan peradilan.

Momen Bersejarah: Masuk Islam Bersama Raja

Salah satu babak paling krusial adalah ketika Sultan Demak (Kerajaan Demak di Jawa) bersedia mengirimkan bantuan perang dengan syarat: Pangeran Samudra dan seluruh pengikutnya harus masuk Islam.

Naskah mencatat dengan lugas:

“Pangeran Samudra itu mau Islam dan Patih Masih, Patih Batil, Patih Balitong, Patih Kuin sama hendak masuk Islam itu mufakat.”

Keputusan kolektif ini menjadi fondasi berdirinya Kesultanan Banjar yang bercorak Islam, sekaligus menandai awal penyebaran agama Islam secara massal di wilayah Banjar.

Warisan yang Tetap Hidup

Nama Patih Balitong mungkin tidak sepopuler Patih Masih. Namun, naskah “Hikayat Banjar dan Kotaringin” yang disusun sekitar abad ke-19 (1800–1850-an) membuktikan bahwa para panglima seperti Balitong adalah pilar tak tergantikan dalam narasi besar berdirinya Banjar.

Hingga kini, naskah tersebut menjadi rujukan penting bagi sejarawan, budayawan, dan masyarakat yang ingin menelusuri akar kepahlawanan lokal di Kalimantan Selatan.


  • Peristiwa Patih Balitong & perang Banjar–Daha: sekitar 1520–1526 M
  • Penulisan naskah “Hikayat Banjar dan Kotaringin”: sekitar abad ke-19 (1800–1850 M)

(Red)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *