Sejarah Benteng Tanjong Gunong (Benteng Kuhn)

Sejarah Benteng Tanjong Gunong (Benteng Kuhn)

TANJUNGPANDAN, 7 Juni 2026 – Di tepi muara Sungai Cerucuk, sebuah bukit sunyi menyimpan memori panjang tentang persekutuan, kecurangan, dan perjuangan mempertahankan wilayah. Kini masyarakat lebih mengenalnya sebagai Benteng Kuhn. Padahal, sejarah mencatat nama sebenarnya: Benteng Tanjong Gunong.


Awal Mula yang Keliru: Ketika Motte Termakan Muslihat

Tahun 1820-an menjadi babak penting bagi Pulau Belitung. Seorang Kapten bernama Motte, atas bujukan seorang Depati (kepala pemerintahan lokal), membangun benteng berbentuk persegi di Tanjong Simba. Lebarnya 160 kaki—sekitar 48 meter. Lokasinya hanya berjarak beberapa kaki dari pesisir sungai.

Masalahnya? Lokasi itu sungai tak lebar, dikelilingi hutan belantara, dan sama sekali tak strategis untuk pertahanan.

Sevenhoven—pengamat yang mendokumentasikan peristiwa ini—mengungkapkan kecurigaan yang kini terbukti: Depati sengaja mempengaruhi Motte. Sang kapten tak sadar telah menjadi korban siasat. Dari posisi yang mudah dipantau, Depati bisa dengan leluasa mengawasi setiap gerak-gerik komandan Belanda.

Ketika Motte tersadar, semuanya telah terlambat.


Pindah ke Tanjong Gunong: Keputusan yang Tertunda

Penerus Motte, Asisten-Residen J.W. Bierschel, akhirnya merelokasi benteng. Dari Tanjong Simba ke Tanjong Gunong—sebuah bukit di muara Sungai Cerucuk.

Pemerintah Hindia-Belanda mengesahkan keputusan ini melalui besluit Nomor 19 tanggal 24 November 1824. Anggaran yang digelontorkan: 20.000 Gulden.

Namun, ide pemindahan ini sejatinya telah diusulkan Sevenhoven setahun sebelumnya, pada 1823. Sayangnya, usulannya tak segera direspons.

Pembangunan benteng baru berlangsung di masa kepemimpinan Bierschel. Pada 1825, benteng mulai difungsikan.


Mengapa Tanjong Gunong Lebih Strategis?

Sevenhoven menggambarkan Tanjong Gunong sebagai bukit dengan posisi istimewa:

  • Sungai tenang, aman untuk melabuhkan kapal
  • Pemandangan luas ke arah laut dan daratan
  • Tinggi bukit awal: 65–100 kaki (19,5–30 meter)

Sayangnya, setelah pembangunan, ketinggian bukit tergerus menjadi hanya 50 kaki (18 meter). Alam harus berkorban demi pertahanan.

Saat itu, bukit masih dipenuhi semak belukar dan pepohonan rimba. Sunyi. Angker. Tapi strategis.


Dari Bukit Menjadi Ibu Kota: Peran Depati Rahad

Nama Tanjong Gunong tak hanya melekat sebagai benteng. Pada 1 Juli 1838, Pemerintah Hindia-Belanda secara resmi mengakui Depati Rahad sebagai Kepala Belitung.

Konsekuensinya? Pada 11 Oktober 1838, instruksi pemerintah Nomor 9 menetapkan Tanjong Gunong sebagai tempat kediaman sang Depati.

Stapel (1938:83) mengutip isi poin ke-11 instruksi tersebut:

“Ia (Depati Rahad) wajib menjaga tempat tinggal tetapnya di Tandjong Goenoeng (Tanjong Gunong) dan menjaga benteng yang ada di sana, tempat detasemen militer berada, dalam keadaan baik.”

Dari sinilah cikal bakal pusat Kota Tanjungpandan modern bermula.


Siapa Sebenarnya Kuhn?

Masyarakat sekarang lebih akrab menyebut Benteng Kuhn. Nama itu diambil dari Komandan Militer pertama yang menempati benteng: Kapten Kuhn.

Namun, dalam dokumen sejarah asli, tak pernah ada istilah “Benteng Kuhn”. Catatan resmi hanya menyebut Benteng Tanjong Gunong—atau dalam ejaan lokal: Benting.

Jadi, penamaan Benteng Kuhn tak lebih dari kebiasaan lisan yang mengakar. Secara historis, kurang tepat. Secara emosional, mungkin dimaklumi.


Menghilangnya Jejak Benteng

Pada 1851, bangunan benteng ini sudah mulai rusak. Dindingnya terbuat dari kayu berbentuk palisade—tonggak runcing yang ditancap ke tanah. Sedangkan bastion (pojok tempat meriam) terbuat dari batu.

Kini? Seluruh bangunan itu sudah tak tersisa. Kemungkinan besar lenyap pada pertengahan abad ke-20, atau di era kemerdekaan.

Yang tersisa hanyalah bukit dan mungkin pondasi bastion.

Tahun 1971 menjadi catatan menarik. Bupati Belitung saat itu, Hanandjoeddin, sempat berkantor sementara di Mess Dian—yang berada di Bukit Tanjong Gunong. Sebab, gedung Kantor Bupati Belitung (sekarang menjadi Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Belitung) sedang direnovasi. Jejak Mess Dian itu masih bisa dilihat hingga sekarang.


Bukan Bangunan, Tapi Struktur Cagar Budaya

Karena bangunan fisik benteng telah hilang, status Benteng Tanjong Gunong kini lebih tepat disebut struktur cagar budaya, bukan bangunan cagar budaya.

Warisan yang tersisa: bentuk bukit yang pernah dipangkas, pondasi yang mungkin masih tertimbun tanah, dan cerita tentang tipu daya, perpindahan, serta perubahan wajah sebuah kota.


Refleksi: Sejarah yang Tak Boleh Terkubur

Setiap kali angin bertiup di Bukit Tanjong Gunong, mungkin ia masih membisikkan nama Motte yang tertipu, Sevenhoven yang gigih mengusulkan, dan Depati Rahad yang cerdik memanfaatkan situasi.

Benteng ini bukan sekadar benteng. Ia adalah catatan tentang bagaimana kekuasaan, strategi, dan kepentingan berkelahi di tanah Belitung.

Sayangnya, tanpa perlindungan serius, yang tersisa kelak hanya nama di peta dan cerita lisan yang mulai pudar.

Kita tak bisa membangun masa depan jika lupa dari mana kita berjalan. Benteng Tanjong Gunong adalah salah satu tanda jalan itu.



Sumber:

Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI)

Wahyu Kurniawan,

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *