BELITUNG – Di tengah arus globalisasi yang kian deras, upaya pendokumentasian dan pelestarian bahasa daerah menjadi sebuah keniscayaan. Sebuah penelitian mendalam yang dilakukan oleh tim dari Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional pada tahun 2002 berhasil mengupas tuntas salah satu aspek paling dinamis dalam Bahasa Melayu Belitung: sistem reduplikasi atau kata ulang. Hasil penelitian yang tertuang dalam buku Sistem Reduplikasi Bahasa Melayu Belitung ini tidak hanya menjadi arsip berharga, tetapi juga membuka mata akan kompleksitas dan keindahan bahasa yang digunakan masyarakat di “Negeri Laskar Pelangi” tersebut.
Tim peneliti yang terdiri dari Siti Salamah Arifin, Tarmizi Abubakar, dan Zahra Alwi, melakukan observasi lapangan dengan melibatkan penutur asli di Belitung. Mereka mendokumentasikan secara komprehensif bagaimana masyarakat setempat membentuk, memaknai, dan menggunakan kata ulang dalam percakapan sehari-hari. Hasilnya, ditemukan keragaman bentuk dan fungsi reduplikasi yang ternyata jauh lebih kaya dibandingkan sekadar menyatakan jumlah jamak.
Bukan Sekadar “Banyak”
Bagi awam, kata ulang seperti “rumah-rumah” atau “anak-anak” hanya dipahami sebagai penanda jumlah lebih dari satu. Namun, penelitian ini membuktikan bahwa dalam Bahasa Melayu Belitung, reduplikasi menjelma menjadi alat morfologis yang sangat produktif dengan spektrum makna yang luas.
Kepala Pusat Bahasa saat itu, Dr. Dendy Sugono, dalam kata pengantarnya menyatakan bahwa penelitian semacam ini krusial di era desentralisasi untuk mendorong masyarakat lokal dari objek menjadi subjek pembangunan, termasuk dalam bidang kebahasaan. “Penerbitan ini diharapkan dapat memperkaya bacaan tentang penelitian di Indonesia agar kehidupan keilmuan lebih semarak,” tulisnya.
Ciri dan Bentuk yang Beragam
Penelitian ini memaparkan dua ciri utama reduplikasi. Pertama, Ciri Gramatis, yaitu pengulangan yang produktif dan mengikuti kaidah, seperti batu-batu, sapi-sapi, atau besurak-surak (berteriak-teriak). Kedua, Ciri Semantis, di mana makna hasil reduplikasi berbeda total dari kata dasarnya atau bahkan tidak memiliki bentuk dasar yang mandiri.
Contoh unik dari ciri semantis ini adalah kata utag-utag (otak-otak) yang bukan berarti “banyak otak”, melainkan nama makanan khas. Begitu pula kude-kude yang bermakna “kuda-kuda” (penyangga), bukan kumpulan hewan kuda. Sementara itu, kata seperti kuraq-kuraq (kura-kura) dan kupu-kupu dianggap sebagai reduplikasi fonologis karena tidak memiliki kata dasar kuraq atau kupu yang bermakna mandiri.
Dari segi bentuk, tim peneliti mendata adanya Reduplikasi Penuh (Dwilingga) seperti gede-gede (besar-besar), Reduplikasi Sebagian (Dwiwasana) seperti ngetok-ngetok (mengetuk-ngetuk), hingga Reduplikasi Variasi Fonem (Dwilingga Salin Swara) yang unik seperti ulak-alik (bolak-balik) dan gerak-gerik.
Fungsi dan Makna: Dinamis dan Kontekstual
Temuan paling menarik adalah fleksibilitas fungsi reduplikasi. Proses pengulangan kata dalam bahasa ini mampu mengubah kelas kata secara signifikan. Sebuah kata benda (nomina) bisa berubah menjadi kata kerja (verba) hanya dengan pengulangan dan imbuhan. Misalnya, kata rumput (nomina) menjadi rumput-rumputek yang berarti “menyiangi rumput” (verba). Atau kata sifat pait (pahit) menjadi pemait-pemait (pemahit-mahit) yang berarti orang yang memiliki sifat pemarah/pahit.
Makna yang dihasilkan pun tidak tunggal. Reduplikasi verbal seperti ngusok-ngusok (mengusap-usap) mengandung makna intensitas atau dilakukan berulang-ulang. Reduplikasi dengan imbuhan be-an seperti kejar-kejaran menunjukkan makna resiprokal (saling). Sementara itu, bentuk kemira-miraan (kemerah-merahan) atau kebapak-bapakan (keayah-ayahan) mengandung makna “menyerupai” atau “memiliki sifat seperti”.
Onomatope yang Khas: Trilingga
Bahasa Melayu Belitung juga kaya akan tiruan bunyi (onomatope) yang direduplikasi secara unik, bahkan hingga tiga kali (Trilingga). Contohnya adalah bunyi tang-ting-tung, dag-dig-dug, atau ngak-ngek-ngok. Jenis reduplikasi ini semakin mempertegas kekayaan fonologis dan ekspresivitas bahasa lokal.
Relevansi Kekinian
Di tengah dominasi bahasa Indonesia dan bahasa asing di ruang publik, penelitian yang dilakukan lebih dari dua dekade lalu ini justru terasa semakin relevan. Ia menjadi pengingat bahwa di balik kesederhanaan tutur masyarakat Belitung, tersimpan sistem tata bahasa yang kompleks dan logis. Dokumentasi ini menjadi fondasi penting bagi generasi muda Belitung dan para pegiat bahasa untuk mengembangkan konten kreatif berbasis bahasa daerah, baik dalam bentuk sastra, konten digital, hingga materi pendidikan muatan lokal.
Dengan terungkapnya sistem reduplikasi ini, Bahasa Melayu Belitung membuktikan bahwa ia bukan sekadar dialek, melainkan sebuah bahasa dengan identitas dan gramatika yang utuh, menunggu untuk terus digali dan dilestarikan oleh anak negeri. (Red)

