BELITUNG TIMUR, – Dua kabar penting mewarnai perjalanan Geopark Belitong menuju pengakuan dunia. Di tingkat tapak, Veriyadi, S.T., M.Sc., Ph.D., MAusIMM, ahli geologi dan penggiat Geopark, memaparkan secara mendalam potensi Garumedang Tektites Geosite sebagai destinasi astrobleme kelas dunia. Di saat yang sama, Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung resmi memberlakukan penyegaran struktur Badan Pengelola Geopark Belitong melalui Keputusan Gubernur Nomor 100.3.3.1/385/BAPPEDA/2025. Kombinasi antara kekuatan narasi sains dan tata kelola yang solid ini diyakini menjadi fondasi kokoh untuk mengerek nama Belitong ke kancah Unesco Global Geopark (UGGp).
Satam: Fragmen Langit yang Jatuh ke Lembah Purba
Di Dusun Garumedang, Desa Sukamandi, Kecamatan Damar, Belitung Timur, tersimpan kisah kosmik yang nyaris tak terdengar. Kawasan yang kini dikenal sebagai Garumedang Tektites Geosite itu menyimpan Billitonite atau yang oleh masyarakat lokal disebut “Satam”, sebuah batu angkasa saksi bisu hantaman meteor dahsyat 800 ribu tahun silam.
“Apa yang kami miliki di Garumedang bukan sekadar batu hitam biasa. Ini adalah tektites langka yang hanya ditemukan dalam jumlah signifikan di Belitong. Dari sisi sains, ini adalah rekaman benturan meteor yang mengubah sejarah geologi regional,” ujar Veriyadi dalam keterangan tertulisnya, Jumat (10/4).
Penamaan Garumedang Tektites Geosite bukan tanpa alasan. Mengacu panduan ketat Prof. Dr. José Brilha-pakar geokonservasi yang metodenya diakui International Union of Geological Sciences (IUGS)—sebuah geosite harus merepresentasikan ikon geologi utamanya. Sebagaimana Denver memiliki Denver Dinosaurs, Garumedang memilih identitas terkuatnya: Tektites.
Nama Satam sendiri berasal dari bahasa Cina Kek “sa” (pasir) dan “tam” (empedu), merujuk pada bentuknya yang sering ditemukan pekerja tambang timah aluvial abad ke-19. Laporan Van Dijk tahun 1879 menyebutnya intan hitam, sebelum penelitian intensif era 1960-an mengungkap kandungan kimiawi uniknya yang menempatkannya sebagai sub-tipe khusus Australasian Tektites Strewn Field.
Dokumen yang dihimpun menjelaskan bahwa Satam terbentuk dari lontaran material bumi yang meleleh (molten) akibat tubrukan meteor raksasa berenergi 100 juta ton. Material ini membeku di angkasa dan jatuh kembali, sebagian mengalami ablasi saat melesat menembus atmosfer. Uniknya, di Belitong, Satam dan timah sama-sama terendapkan di lembah-lembah purba Kenozoikum sebuah proses geologi yang terjadi saat es Paparan Sunda mencair 20.000 tahun lalu.
“Metode ARGUS VI yang sangat presisi menunjukkan usia Australasian Tektites adalah 788,1 ribu tahun. Ini bukti ilmiah bahwa Satam adalah bagian dari strewn field termuda dan terluas di planet ini,” tegas Veriyadi.
Edukasi dan Konservasi yang Membumi
Kekuatan narasi sains ini diterjemahkan pemuda Desa Sukamandi menjadi paket wisata edukasi imersif. Pengunjung tidak hanya melihat batu di etalase, tetapi diajak menapaki GeoWalking Trail menyusuri hutan alluvial, menyusuri sungai bekas tambang dengan Geo-Sampan dalam tajuk Billitonite Trail, hingga melihat demonstrasi pendulangan timah (tin dressing).
Kekuatan narasi ini kini didukung oleh kehadiran platform informasi resmi garumedangtektitesgeosite.com yang mulai beroperasi pada Maret 2025. Situs ini menjadi etalase digital Garumedang Tektites Geosite (GTG) yang memperkenalkan kawasan ini sebagai “The Story of Black Diamond”—sebuah destinasi edukasi warisan geologi dunia yang menyoroti peristiwa asteroid 800 ribu tahun silam. GTG mengklaim sebagai satu-satunya geosite di kawasan Asia yang mengangkat tema astrobleme atau dampak peristiwa meteorit secara utuh.
Melalui laman tersebut, calon pengunjung dapat menjelajahi pusat-pusat pengetahuan interaktif yang tersebar di kawasan. Mulai dari Visitor Centre yang merupakan replika rumah Raja Depati Cakraningrat IX abad ke-19 sebagai pusat informasi warisan geologi Belitong, Geo Tower dan area perkemahan dengan panorama lembah purba, hingga Geo Sampan & Lake yang menawarkan sensasi menyusuri jalur transportasi perintis NV Billiton (1851) di lembah purba kaya timah dan satam. Tidak ketinggalan Cenozoic Area yang dilengkapi Hall Pameran, Patung Satam, serta Rumah Makan Fau Sa Kak dan Kafe Lo Kiaw yang dirancang dengan ikon ikan endemik Linggang.
“Dengan hadirnya situs ini, kami ingin memudahkan wisatawan memahami bahwa kunjungan ke GTG bukan sekadar jalan-jalan, melainkan sebuah perjalanan menelusuri evolusi bumi dan kehidupan di Paparan Sunda,” tulis pengelola dalam deskripsi resminya. Situs tersebut juga menyediakan fitur pembelian tiket secara daring, menandai kesiapan GTG menyambut gelombang wisatawan minat khusus pascapandemi.
Veriyadi juga membandingkan posisi Garumedang dengan dua destinasi astrobleme dunia. Jika Geopark Ries di Jerman mengandalkan tur kawah raksasa dan Hoba Meteorite di Namibia memamerkan monumen meteorit terbesar, Garumedang menawarkan sensasi berbeda: menelusuri lembah purba tempat “bercak langit” itu bersemayam.
“Kita tidak punya kawah besar yang terlihat mata telanjang. Kekuatan kita ada di ejecta, pada butiran Satam yang tersebar dan menyatu dengan budaya tambang masyarakat Belitong. Ini narasi yang unik,” tambahnya.
Penyegaran Badan Pengelola: Sinergi Baru untuk Lompatan Besar
Di tingkat kebijakan, Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung tak tinggal diam. Melalui Keputusan Gubernur Nomor 100.3.3.1/385/BAPPEDA/2025 yang ditetapkan 2 September 2025, susunan personalia Badan Pengelola Geopark Belitong periode 2022-2026 resmi dirombak. Perubahan ini atas saran Bupati Belitung dan Bupati Belitung Timur yang menilai susunan lama sudah tidak sesuai dengan dinamika lapangan.
“Keputusan ini diambil untuk mengoptimalkan pelaksanaan tugas dan fungsi Badan Pengelola. Kami membutuhkan sinergi yang lebih solid antara pemerintah provinsi, kabupaten, akademisi, serta komunitas lokal,” demikian pertimbangan dalam SK tersebut.
Struktur baru menempatkan Sekretaris Daerah Kabupaten Belitung sebagai Ketua Umum, didampingi Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Belitung sebagai Sekretaris. Dewan Penasehat tetap dipercayakan kepada Komite Nasional Geopark Indonesia (KNGI) untuk memastikan standar nasional terpenuhi. Yang menarik, jajaran Tenaga Ahli Geologi diperkuat dengan melibatkan akademisi/pakar geologi nasional serta fungsional penyelidik bumi dari Dinas ESDM Provinsi.
Kehadiran para ahli ini sejalan dengan semangat pengembangan Garumedang Tektites Geosite yang sangat bergantung pada validitas kajian ilmiah. Resident Geologist seperti Rudy Chandra, S.T. dan Synthia Faramitha, S.T. diharapkan mampu menjaga kualitas asesmen warisan geologi sesuai standar Brilha Method yang diakui IUGS.
Berikut susunan kunci Badan Pengelola Geopark Belitong hasil perubahan:
- Penanggung Jawab: Gubernur Kep. Babel, Bupati Belitung, Bupati Belitung Timur
- Dewan Penasehat: Komite Nasional Geopark Indonesia (KNGI)
- Pembina: Sekda Prov. Kep. Babel, Wakil Bupati Belitung, Wakil Bupati Belitung Timur
- Ketua Umum: Sekretaris Daerah Kab. Belitung
- Sekretaris: Kepala Dinas Pariwisata Kab. Belitung
- Wakil Sekretaris: Sekretaris Bappelitbangda Prov. Kep. Babel
- Koordinator Wilayah: Kepala Bappeda Kab. Belitung dan Kab. Belitung Timur
- Tenaga Ahli Geologi: Kepala Dinas ESDM, Akademisi/Pakar Geologi Nasional, Kabid Kegeologian, Fungsional Penyelidik Bumi
- Resident Geologist: Rudy Chandra, S.T. dan Synthia Faramitha, S.T.
- Pengelola Geosite: Ketua Komunitas dan seluruh anggota di masing-masing kawasan
Konsolidasi Menuju Panggung Dunia
Dengan legalitas baru dan narasi ilmiah yang semakin kokoh, Geopark Belitong kini memasuki babak krusial. Garumedang Tektites Geosite tak lagi sekadar kampung tambang, melainkan ruang kelas geologi terbuka bertaraf internasional. Dukungan penuh dari pemerintah provinsi dan kabupaten menjadi modal penting untuk membawa cerita benturan meteor purba dan harmoni budaya tambang Belitong naik ke panggung warisan geologi dunia.
“Kami ingin setiap pengunjung pulang dengan satu pemahaman: bahwa bumi Belitong tidak hanya kaya timah, tetapi juga menyimpan fragmen sejarah tata surya yang tak ternilai,” pungkas Veriyadi.
Bagi para pemburu wisata minat khusus dan pecinta geologi, Garumedang Tektites Geosite kini membuka pintu petualangan menelusuri jejak langit yang jatuh ke bumi. Informasi lebih lengkap dan pemesanan tiket dapat diakses melalui situs resmi garumedangtektitesgeosite.com. Sebuah destinasi yang membuktikan bahwa bahkan dari benturan dahsyat, bisa lahir keindahan dan pengetahuan abadi—kini dengan dukungan penuh tata kelola yang profesional dan berwawasan global. (Red)

