BELITUNG, 8 Mei 2026 – Di balik gemerlap pantai dan batu granitnya yang ikonis, Pulau Belitung menyimpan babak penting dalam sejarah Nusantara. Sebuah lembaran lama berjudul “Enambelas Tjeritera pada Menjatakan Hikajat Tanah Hindia” (1894) karya G.J.P. Biegman mengungkap fakta krusial: Belitung, atau yang kala itu dikenal sebagai Bangkahoeloe, pernah menjadi panggung utama drama perebutan hegemoni antara dua kekuatan raksasa Eropa, Inggris dan Belanda, di awal abad ke-19.
Pusat Perlawanan dan Pangkalan Strategis
Dokumen itu mencatat, di bawah komando Thomas Stamford Raffles—yang saat itu menjabat Letnan Gubernur di Jawa—Inggris menjadikan Bangkahulu (Belitung) sebagai basis penting. Dari sinilah, Raffles melancarkan manuver politik dan militernya. Catatan Biegman secara lugas menyatakan, setelah menyerahkan kembali Hindia Belanda pada 1816, Raffles tidak benar-benar angkat kaki. Ia justru bertolak ke Bangkahulu dan terus mengganggu stabilitas pemerintahan kolonial Belanda yang baru kembali berkuasa.
“Toean Raffles telah didjadikan oleh Kompani Inggeris Luitenant Gouverneur di Bangkahoeloe… Maka Toean Raffles menaroeh dendam kapada orang Belanda, sebab itoe diganggoenja Gouvernement Belanda dimana-mana sadja,” tulis Biegman dalam Fasal XIV, halaman 90.
Raffles dan Sultan yang Terusik
Karakter utama dalam fragmen sejarah ini adalah Sir Thomas Stamford Raffles. Ambisinya yang besar tak hanya berhenti di Jawa. Dari Belitung, ia mengintervensi urusan internal kerajaan-kerajaan di Sumatera. Dokumen ini menyebut secara spesifik bagaimana ia “mengasut” Sultan Mahmud Badaruddin dari Palembang untuk melepaskan diri dari kekuasaan Belanda, yang berujung pada peristiwa berdarah pembantaian garnisun Belanda di Palembang.
Tak hanya itu, campur tangan Raffles juga merambah ke tanah Pasundan dan Yogyakarta dengan menurunkan dan mengangkat sultan sesuai kepentingannya. Pola ini menunjukkan bahwa stabilitas politik kerajaan-kerajaan lokal sangat rentan terhadap intrik penguasa Eropa yang bertetangga di Belitung.
Gejolak Pasca-Napoleon (1812-1824)
Kurun waktu yang menjadi sorotan adalah periode kritis pasca kekalahan Napoleon di Eropa. Tepatnya antara tahun 1812, saat Inggris mulai bercokol kuat di Bangkahulu, hingga puncaknya pada tahun 1824. Momen ini menjadi titik balik ketika persaingan dua imperium mencapai titik didih dan harus diselesaikan di meja perundingan.
Titik Strategis di Jalur Rempah
Belitung, yang dalam literatur kolonial disebut Biliton atau Bangkahoeloe, bukanlah sekadar pulau timah. Posisinya di Selat Karimata sangat vital. Ia adalah mata rantai yang menghubungkan Malaka, pusat kekuasaan Inggris, dengan Jawa, pusat administrasi Belanda. Menjadikannya pangkalan militer dan pusat intelijen adalah langkah taktis yang brilian, menjadikan pulau ini hotspot geopolitik dua abad silam.
Ambisi yang Berujung Lahirnya Singapura
Motif Raffles menduduki dan mempertahankan pengaruh dari Belitung sangat jelas: dendam dan ambisi untuk membangun imperium Inggris di Asia Tenggara. Akan tetapi, persaingan ini harus berakhir. Biegman mencatat puncak dari ketegangan ini, yang diselesaikan melalui Traktat London pada 1824.
Hasil perjanjian ini sangat monumental. “Saloeroeh djadjahan Inggeris di poelau Pertja, jaitoe Bangkahoeloe dan poelau Belitoeng diserahkan kapada Gouvernement Belanda, tetapi Malaka dan djadjahan Belanda di Hindoestan mendjadi milik Kompani Inggeris,” (Fasal XIV, halaman 91).
Dengan kata lain, Belitung resmi “ditukar” oleh Inggris dengan Malaka dan koloni Belanda di India. Pertukaran ini menjadi fondasi pembagian wilayah kekuasaan di Selat Malaka yang bertahan hingga era modern: Inggris fokus ke Semenanjung Malaya, dan Belanda menguasai penuh Sumatera.
Sebuah Pertukaran Kolosal
Prosesnya adalah negosiasi tingkat tinggi yang rapi dan dingin. Untuk meredakan konflik berkepanjangan, London dan Den Haag memutuskan untuk “membersihkan” peta koloni mereka. Semua pos Inggris di Sumatera yang dianggap mengganggu monopoli Belanda harus dilepas. Sebagai kompensasinya, Belanda merelakan seluruh koloninya di India dan tak lagi mencampuri urusan Inggris di Malaka. Pertukaran ini bukan hanya soal teritori, tetapi juga legitimasi penuh atas rute perdagangan rempah yang kala itu bagaikan emas hitam.
Kisah ini membuktikan bahwa Belitung bukan sekadar bagian dari Hindia Belanda. Ia adalah bidak catur penting dalam permainan kekuasaan global. Pertukaran kolosal pada 1824 menutup lembaran sejarah Belitung sebagai panggung intrik, sekaligus membuka jalan bagi modernisasi di bawah administrasi Belanda yang kemudian fokus pada eksploitasi sumber daya alamnya. (Red)
Sumber:
Biegman, G. J. P. (1894). Enambelas Tjeritera pada Menjatakan Hikajat Tanah Hindia. Batawi: Pertjitakan Goebernemen. (Fasal XIV, hlm. 90-91).

