Hikayat Parang Puting Cerita Melayu Klasik

Hikayat Parang Puting Cerita Melayu Klasik

BELITUNG, 09 Mei 2026 – Sebuah naskah kuno Melayu berjudul Hikayat Parang Puting yang didokumentasikan oleh sarjana R.O. Winstedt, D.Litt., mengungkap kisah fantastik penuh intrik, sihir, dan pertempuran epik antara dewa, naga, serta manusia biasa. Naskah modern yang ditulis di Singapura pada tahun 1920 Masehi ini, kini menjadi koleksi Komite Pengajian Melayu di Kuala Lumpur.

Yang menarik, sepanjang 139 halaman catatan tersebut tidak ditemukan satu pun rujukan kepada Allah atau ajaran Islam. Sebaliknya, Betara Brahma digambarkan sebagai Tuhan Yang Maha Tinggi, sementara dunia diperintah oleh dewata mulia raya para dewa agung.

Putri Hamil Akibat Sihir Belalang

Kisah bermula dari negeri kayangan yang dipimpin Putera Dewa Laksana Dewa. Istrinya, Chahaya Khairan, melahirkan seorang putri cantik bernama Putri Langkam Chahaya.

Suatu hari, ketika sang putri sedang memetik bunga di taman kesenangan, seorang dewa bernama Mambang Indra Segara terpikat oleh kecantikannya. Ia pun memantra seekor belalang dan menyuruhnya hinggap di tubuh putri tersebut, membangkitkan rasa cinta dalam benak sang putri.

Setelah tujuh hari menunggu, Mambang Indra Segara merapal mantra pada sekuntum bunga frangipanni dan melemparkannya ke dada putri ketika ia tengah memetik bunga bersama dayang-dayangnya. Akibatnya, Putri Langkam Chahaya mengandung.

Amarah sang ayah tak terelakkan. Dewa Laksana Dewa mengutuk putrinya, mengubah wujudnya menjadi perempuan manusia biasa yang buruk rupa, lalu mencampakkannya ke dunia fana.

Bayi Lahir di Hutan, Naga Jadi Teman

Putri yang terusir itu melahirkan seorang anak laki-laki di tengah hutan. Mereka tinggal di gubuk reot. Sang ibu bekerja menumbuk padi untuk upah, sementara anaknya bermain di kolong rumah.

Pada suatu hari, seorang asing menawarkan untuk menjual seekor anak ular dengan harga setengah tempurung kelapa berisi beras. Anak itu membelinya tanpa ragu. Ular tersebut menjadi mainannya siang dan malam. Kemudian, ia juga membeli seekor anak elang dan seekor tikus putih.

Seiring waktu, sang ular tumbuh menjadi naga yang memiliki tanduk dan cakar. Anak laki-laki itu berkeliling mengendarai punggung naga, sementara elang muda terbang di atas kepalanya dan tikus putih mengikuti dari belakang. Pemandangan ajaib ini membuat heboh seluruh negeri.

Cincin Sakti dan Pisau Ajaib

Ketika sang naga tumbuh terlalu besar hingga tidak bisa mandi di sungai tanpa menyebabkan banjir bandang, ia memutuskan lari ke danau tempat tinggal kakeknya. Anak laki-laki itu mengejar dan berhasil menyusul.

Kakek sang naga, seekor makhluk mengerikan, memberikan sebuah cincin ajaib dari mulutnya. Dalam sekejap, cincin itu dapat menyediakan makanan bagi seribu orang. Sang naga besar berpesan agar anak itu memanggilnya jika sewaktu-waktu membutuhkan pertolongan.

Namun, nenek sang naga marah karena cincin sakti itu diberikan kepada manusia. Ia mengirim naga prajurit untuk menukarnya dengan tongkat ajaib. Dalam perselisihan itu, anak laki-laki tersebut justru berhasil merebut tongkat ajaib itu.

Tidak berhenti di situ, ia kemudian menemukan sebilah pisau (parang putting) tanpa pemilik yang mampu menebang pohon sendiri. Dari seorang tua di gubuk, ia mendapatkan pisau sakti itu sebagai ganti tongkat ajaibnya. Pisau tersebut dapat membesarkan dirinya sendiri, menuruti segala perintah, dan melawan musuh.

Perebutan Putri dan Pertempuran Melawan Naga

Raja negeri itu, Indra Mahadewa, tidak memiliki keturunan. Setelah bertapa di sebuah pulau, seorang naga menghadang perahu raja dan meminta janji: jika raja mendapat anak perempuan, ia akan menjadi istri naga; jika laki-laki, ia akan menjadi sahabat naga.

Raja pun dikaruniai Putri Mengindra, Hari Pertama Bulan. Ketika sang naga raja menagih janji, raja memberikan masa tenggang tiga bulan dan menawarkan tangan putrinya kepada siapa pun yang mampu mengalahkan naga tersebut.

Sang putri diletakkan di atas rakit di dalam peti besi, sementara para pangeran pesaing mengikuti dengan rakit mereka masing-masing ke muara tempat naga menunggu.

Di sinilah peran anak laki-laki dari hutan—yang kini dikenal sebagai pemilik cincin sakti dan pisau ajaib—menjadi penentu. Ia naik ke rakit putri dan berjanji akan melindunginya. Dengan sihir cincinnya ia menyediakan makanan, dengan pisaunya ia memenggal naga-naga yang mendekat, dan dengan elangnya ia memanggil seluruh kawanan elang untuk mematuk mata naga.

Pertempuran Puncak: Di Dalam Perut Naga

Pertempuran mencapai klimaks ketika naga raja mengirim naga raksasa yang menelan seluruh rakit berikut awak dan penumpangnya—termasuk sang putri dan pemuda itu.

Di dalam perut naga, pemuda itu tetap hidup berkat cincin ajaibnya yang terus menyediakan makanan dan lampu. Elang mudanya terbang memberitahu tikus putih, yang kemudian mencari bantuan Mambang Indra Segara—ayah kandung pemuda tersebut, yang ternyata adalah dewa yang dulu menghamili putri kayangan.

Terjadilah pertempuran dahsyat. Dari dalam perut naga, pemuda itu memerintahkan pisaunya untuk memotong jantung naga yang menelan mereka, lalu membelah tubuh naga tersebut untuk membebaskan rombongan.

Akhir Bahagia: Putri Memilih Pemuda Miskin

Setelah selamat, ayah sang pemuda Mambang Indra Segara—menciptakan kota dan istana dengan batu sakti. Mereka mengadakan silambara, sebuah upacara di mana sang putri duduk di tengah padang dan memilih suami dengan melemparkan rangkaian bunga emas kepada pangeran pilihannya.

Semua pangeran, termasuk para bangsawan, bahkan orang lumpuh dan buta, berjalan melewati putri. Namun, sang putri tidak melemparkan bunga emas itu. Hingga akhirnya, pemuda miskin pemilik pisau parang putting itu berjalan dengan pisau di tangannya, elang terbang di atas kepala, dan tikus putih mengikuti di belakang.

Sang putri pun melemparkan rangkaian bunga emas kepadanya.

Sembilan puluh sembilan pangeran yang kalah berusaha menggagalkan pernikahan, tetapi pemuda itu menggunakan batu sakti pemberian ayahnya untuk menciptakan istana megah. Pertempuran kembali pecah. Naga tua, Ratna Gempita, sahabat masa kecilnya, datang membantu menangkap para pangeran pemberontak.

Pada akhirnya, pemuda itu memerintah Kerajaan Indra Mahadewa dengan bahagia bersama sang putri. Ibunya yang semula berwujud manusia buruk rupa, dipulihkan kembali menjadi bidadari oleh Betara Brahma yang turun dari kayangan pada malam bulan purnama dengan percikan bunga emas dan air hujan pelangi. (Red)

Sumber: Journal of the Straits Branch, Royal Asiatic Society, No. 85, 1922

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *