Pantun Melayu Belitung, Bukan Sekadar Gombal, Tapi Google dan GPS Sosial Zaman Dulu

Pantun Melayu Belitung, Bukan Sekadar Gombal, Tapi Google dan GPS Sosial Zaman Dulu

BELITUNG, ANOQ NEWS – Di balik pesona batu granit dan pantai eksotisnya, Pulau Belitung menyimpan kekayaan literasi lisan yang nyaris terlupakan. Sebuah dokumen penelitian lawas berjudul “Sastra Lisan Bahasa Melayu Belitung” yang dihimpun oleh tim peneliti Universitas Sriwijaya pada 1987 silam mengungkap fakta mencengangkan: Masyarakat Melayu Belitung tidak hanya piawai berkelakar, tetapi juga memiliki ‘mesin pencari’ sosial berbentuk pantun.

Laporan setebal ratusan halaman yang diterbitkan Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa pada 1992 itu mendokumentasikan bagaimana tradisi lisan—mulai dari mantra sakral hingga dongeng pengantar tidur—menjadi fondasi kehidupan sosial. Namun, yang paling menarik perhatian adalah peran vital pantun sebagai alat komunikasi yang jauh melampaui urusan asmara semata.

Dari Pelipur Lara hingga ‘Kode Etik’ Mencari Kerang

Berbeda dengan anggapan generasi milenial yang kerap mengasosiasikan pantun hanya sebagai basa-basi pembuka acara atau gombalan receh, bagi masyarakat Belitung tempo dulu, pantun adalah medium serbaguna. Laporan tersebut mencatat setidaknya empat fungsi krusial pantun yang kini mungkin sudah berkarat dimakan zaman.

Pertama, dalam dunia permainan anak-anak, pantun menjadi ‘nyawa’ permainan tradisional. Pada permainan “Pok-pok Gerinang” misalnya, anak-anak Belitung mendendangkan:

“Pok-pok gerinang, Gerinang babi lalu, Lalu pasar panjang, Cidok aiq gunong lancar, Cakkung mana die…”

Syair tersebut bukan sekadar hiburan kosong, melainkan bagian dari taktik untuk menyembunyikan batu di tangan teman. Begitu pula dalam permainan “Sapu-sapu Rengit” atau “Coq-coq Kendong”, pantun menjadi penentu siapa yang kalah dan harus menekuk kaki atau menerima hukuman ringan. Ini membuktikan bahwa literasi ritmik sudah ditanamkan sejak usia dini melalui cara yang menyenangkan.

Kedua, dalam konteks yang lebih magis, pantun muncul dalam ritual Campak Laut. Berbeda dengan Campak Darat yang murni hiburan, Campak Laut yang dibawakan oleh Suku Sawang memiliki muatan spiritual. Saat menari diiringi biola dan gendang, muda-mudi saling berbalas pantun. Namun, di balik senyum dan goyangan tubuh, tersimpan pengharapan akan keselamatan dan hasil laut yang melimpah.

Lembaran Cinta yang Hilang di Era Swipe Right

Meski begitu, fungsi pantun sebagai ‘bahasa ibu dari pergaulan’ tetap menjadi catatan paling romantis dari manuskrip ini. Di era ketika belum ada pesan singkat atau aplikasi kencan, pemuda-pemudi Belitung menggunakan pantun untuk mengungkapkan getar hati dan penolakan secara halus.

Dalam laporan Zainal Arifin Aliana dkk. tersebut, ditemukan penggalan pantun yang menggambarkan keputusasaan cinta yang terpendam:

“Jangan sukaq main pelita,
Pelite itu besumbu kain.
Jangan sukaq bemain cinte,
Kaluq tidak berani kawin.”

(Jangan suka main pelita / Pelita itu bersumbu kain / Jangan suka bermain cinta / Kalau tidak berani kawin).

Syair itu bukan sekadar peringatan moral, melainkan sebuah tuntutan ketegasan di masa ketika hubungan tanpa kepastian dianggap sebagai permainan yang sia-sia.

Fenomena ‘Kemat’: Ketika Pantun Menjadi Pelet

Menariknya, penelitian ini juga menguak sisi gelap dari kepiawaian bersastra. Dalam dokumentasi tersebut, terdapat jenis puisi rakyat bernama Kemat—sebuah mantra yang didesain untuk membuat orang lain jatuh cinta atau tergila-gila. Biasanya digunakan oleh para gadis, Kemat dibacakan pada sirih atau makanan dengan keyakinan dapat menaklukkan hati sang pujaan.

Salah satu penggalan Kemat yang tercatat berbunyi:

“Tendung tunduq rampai Fatima, Sungguh engkau ndaq denganku…”
(Tedung tunduk rampai Fatima, Sungguh engkau tidak denganku…)

Keberadaan Kemat ini menegaskan bahwa bagi masyarakat Melayu Belitung, kata-kata memiliki power layaknya doa. Pantun dan mantra bukan hanya susunan diksi indah, melainkan energi yang diyakini mampu menggerakkan realitas.

Warisan yang Tergerus Zaman

Sayangnya, tim peneliti dalam laporan tersebut sudah mencatat ‘lampu kuning’ sejak 1987. Disebutkan bahwa generasi muda Belitung kala itu sudah mulai enggan mewarisi tradisi ini. Kini, 37 tahun setelah penelitian itu dirilis, di tengah gempuran konten pendek digital, nyaris mustahil menemukan pemuda yang mampu membalas pantun secara spontan di tepian Sungai Kembiri.

“Pantun itu dulu adalah pencarian jati diri dan GPS sosial kami. Sekarang, jangankan berpantun, mendengar lagu Melayu lama saja sudah asing,” ujar salah satu informan silam yang dikutip dalam laporan tersebut.

Laporan “Sastra Lisan Bahasa Melayu Belitung” ini menjadi pengingat sekaligus ‘surat wasiat’ budaya. Bahwa di balik frasa ‘Pulau Laskar Pelangi’, tersimpan harmoni sastra tutur yang fungsinya lebih kompleks dari sekadar seni—ia adalah alat pendidikan, media diplomasi sosial, hingga senjata pemikat hati yang halal. (Red)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *