BELITUNG, ANOQNEWS -Di tengah gemerlap pariwisata dan deru mesin tambang modern, terselip sebuah manuskrip tua yang menjadi saksi bisu masa keemasan Pulau Belitung lebih dari seabad silam. Sebuah naskah terbitan Balai Pustaka tahun 1920, bertajuk “Sja’ir Poelau Belitoeng”,kembali mencuat sebagai arsip berharga yang mendokumentasikan denyut nadi sosial, ekonomi, dan budaya negeri Laskar Pelangi di era kolonial.
Tokoh utama di balik naskah ini adalah H. Soetan Ibrahim, seorang guru di Tanjungpandan. Di tengah keterbatasan akses informasi era 1920-an, ia menjelma sebagai “content creator” zamannya. Ia bukanlah pejabat tinggi, melainkan seorang pendidik yang jeli melihat perubahan sosial di sekitarnya. Ia menulis syair ini pada tahun 1336 Hijriah, bertepatan dengan 1918 Masehi sebuah era puncak eksploitasi timah oleh perusahaan raksasa Billiton Maatschappij.
Ditulis dalam bentuk syair Melayu klasik oleh H. Soetan Ibrahim, seorang guru di Tanjong Pandan, naskah ini bukan sekadar untaian rima dan irama. Lebih dari itu, ia adalah laporan jurnalistik bergaya puitis yang mengulas tuntas potensi Belitung (Billiton) dari hulu ke hilir. Ibrahim, yang mengaku sebagai pendatang dari Sumatera, berhasil memotret lanskap daerah ini dengan ketajaman observasi seorang jurnalis modern.
Apa yang Membuat Belitung Begitu Istimewa di Masa Itu?.
1. Sang Primadona: Timah Putih dan Getah Inilah jantung perekonomian Belitung kala itu. Syair ini menggambarkan dengan sangat terang bagaimana Maatschappij (perusahaan tambang) menjadi urat nadi kehidupan.
“Timah ditambang soeatoe ‘maatschappij’ / segala maksoednja telah menjampai / Ke-Eropah, ke-Djepang serta ke-Sanghai / Timah dikirim tiada ternilai.”
Deskripsi ini menegaskan posisi Belitung sebagai pemain global dalam rantai pasok timah dunia. Tak hanya timah, penulis juga mencatat geliat sektor agrikultur, di mana getah dan pembukaan lahan oleh kaum tani mulai marak.
2. Wajah Multikultural dan Keamanan Negeri
Berbeda dengan narasi daerah lain yang mungkin kala itu rawan konflik, H. Soetan Ibrahim melukiskan Belitung sebagai negeri yang aman dan damai. Sebuah fakta yang cukup mengejutkan untuk ukuran wilayah pertambangan yang biasanya keras.
“Poelau Belitoeng aman sekali / Baik dipasar berdjoewal beli / Tipoew dan samoen tidak sekali / Kaja miskin ataupoen koeli.”
Ia bahkan secara spesifik menyebut etnis Sekak (Suku Sekak) dan Orang Laut. Dengan gaya deskriptif yang khas, ia menggambarkan komunitas yang hidup harmonis di atas perahu, berkulit hitam berkilat, serta menjunjung tinggi kejujuran dalam utang-piutang. Meski disebut belum memeluk agama formal dan mengikuti tradisi “Lanoen”, ritme kehidupan mereka dilukiskan dengan nada riang:
“Tong! tong! boenji goengnja / Didalam perahoe njata boenjinja / Laki-laki perempoean sangat riangnja / Berkawin konon kata dianja.”
3. Infrastruktur Modern di Tanah Jauh
Dengan detail yang mengagumkan, sang guru mencatat tata kota Tanjong Pandan yang sudah tertata rapi. Ia menyebut adanya Kantor Sjahbandar, Sekolah H.I.S. (Hollandsch-Inlandsche School) yang berpagar kawat, Hoofdkantoor, hingga penjara (Gevangenis) dan ‘s Landkas (tempat penyimpanan uang negara).
Tak ketinggalan, pusat hiburan seperti Panggung Bangsawan dan Cinema Bioscoop juga disebut, menunjukkan bahwa masyarakat Belitung kala itu sudah akrab dengan gaya hidup modern, lengkap dengan dansa dan permainan tennis.
4. Potret Ekonomi: Dari Pasar Ikan hingga Ongkos Hidup
Berita ini juga bernilai ekonomi tinggi. Soetan Ibrahim mencatat fluktuasi harga pangan dengan sangat spesifik. Di Tanjong Pandan, ikan dijual dengan harga miring:
“Di-Tandjoeng Pandan harga ikan / Seroepiah tjoekoep oentoek sepekan.”
Namun kontras dengan daerah Manggar, yang digambarkan sebagai kota dengan biaya hidup selangit:
“Manggar tersebut soeatoe negeri / Makanan mahal tiada terperi… Sembilan poeloeh sen daging sekati.”
Ia bahkan menyindir bahwa gaji kecil di Manggar akan membuat badan yang gemuk menjadi “kerdil”.
5. Kejayaan yang Meredup: Kisah dari Dendang
Bagian paling menyentuh dalam sja’ir ini adalah kisah Distrik Dendang. Sang penulis melukiskan sebuah kota yang dulunya ramai bak “bandingan djarang” berkat tambang timah. Namun, saat sumber daya alam itu habis, kota tersebut berubah menjadi kota hantu:
“Tetapi sekarang apa dikata / Timah habis semata-mata / Maatschappij roegi beriboe joeta… Segala parit kering belaka / Seboetir timah djangan disangka.”
Ini adalah pengingat abadi tentang efek “Boom and Bust” dari industri ekstraktif—sebuah isu yang masih sangat relevan dengan diskursus ekonomi global hingga hari ini.
Penutup: Warisan Abadi Sang Guru
Di penghujung syair, H. Soetan Ibrahim mengingatkan pentingnya pendidikan sebagai penerang. Ia memuji kemajuan sekolah Melayu yang meluluskan murid hingga ke Normaal School dan Betawi (Jakarta), sebuah pesan visioner tentang mobilitas sosial melalui ilmu pengetahuan.
Meski ditulis dengan ejaan van Ophuijsen yang kental, semangat yang dibawa dalam “Sja’ir Poelau Belitoeng” terasa begitu modern: sebuah etnografi perkotaan, laporan ekonomi, dan kritik sosial yang dibungkus dalam keindahan sastra Melayu.
Naskah ini adalah bukti bahwa jauh sebelum hashtag #WonderfulIndonesia ramai diperbincangkan, para pendahulu kita telah menulis “travel blog” mereka dalam bait-bait syair yang mendalam dan penuh makna.
Tentu, berikut adalah teks Sja’ir Poelau Belitoeng (Billiton) yang disalin sesuai dengan ejaan dan tata letak asli dari dokumen yang Anda berikan (halaman 15 hingga 39).
SJA’IR POELAU BELITOENG (BILLITON).
.
Berikut adalah Sja’ir Poelau Belitoeng (Billiton) yang telah saya rapikan dari kesalahan OCR, potongan teks, dan ejaan yang rusak. Saya usahakan tetap mempertahankan gaya bahasa dan ejaan lama (Van Ophuijsen) sesuai aslinya, namun dengan perbaikan pada bagian yang jelas-jelas rusak agar dapat dibaca dengan baik.
SJA’IR POELAU BELITOENG (BILLITON).
Awaloe’lkalam kesah tjeritera,
Boelan Rabi’oe’lächir dalam kira-kira;
Tahoen 1336 njata tertera,
1918 tahoen Nasara.
Poelau Belitoeng jang ditjeriterakan,
Keadaan isinja jang dikesahkan;
Djaoeh dekat disama ratakan,
Didesa dipoelau serta dipekan.
H. Soetan Ibrahim dagang bernama,
Diam disini beloemlah lama;
Beloem bertanah berhoetan hoema,
Kadar setahoen toedjoeh poernama.
Kampoeng halaman Soematera negeri,
Mengadjar di-Belitoeng pekerdjaan diri;
Banjaklah moerid sehari-hari,
Serta sahabat kanan dan kiri.
Sahabat kenalan mana jang soeka,
Menolong hamba didalam doeka;
Atau memoetoeskan malap-taka,
Dipohonkan rahmat tiada berhingga.
Allahoe Rabbi Malikoel Mannan,
Pinta hambamoe hendak diperkenan;
Berilah rahmat kiri dan kanan,
Kepada pembatja moeda toeroenan.
Allah dan Rabbi dipoedji njata,
Moeliakan pembatja semata-mata;
Sedikit djangan diberi leta,
Ialah Toehan ‘alam semesta.
Setelah memoedji Toehan jang gana,
Ditoelis sja’ir soeatoe rentjana;
Poelau Belitoeng empoenja ma’na,
Timah dan getah banjak disana.
Timah ditambang soeatoe „Maatschappij”,
Segala maksoednja telah menjampai;
Ke-Eropah, ke-Djepang serta ke-Sanghai,
Timah dikirim tiada ternilai.
Timah poetih konon namanja,
Terbenam dipasir tempat dianja;
Didalam tanah asal moelanja,
Digali orang dengan sosesahnja.
Dikeloearkan timah njalalah pesti,
Dibawa kapal berjoeta kati;
Goebernemén mengitoeng dengan teliti,
Soepaja sempoerna peritoengan kapi.
Laba diambil oléh Pemerintah,
Keoentoengan negeri, radja bertitah;
Maatschappij ta’ boleh lagi membantah,
Sebagai di „Onderneming” bertanam getah.
Goebernemén menerima keterangan itoe,
Toean Asistén Residén pemeriksa tentoe;
Wakil-radja diam disitoe,
Serta Sekertaris dikantor batoe.
Residén, Sekertaris senantiasa,
Kesana sini datang memeriksa;
Biar dikampoeng dihoetan desa,
Semoea diatoer hingga sentosa.
Boekan timah sadja dimadjoekan,
Getah ditanam dikerdjakan;
Keoentoengan ra’jat dipikirkan,
Berkeboen berladang diperintahkan.
Pada masa sekarang ini,
Banjak bilangan si kaoem tani;
Bertanam getah mangga koeini,
Teranglah hoetan disana sini.
Disini sana kajoe ditebang,
Tinggi dan rendah bersama toembang;
Tanah jang tinggi mendjadi loembang,
Seperti keboen ditanah abang.
Barang kemana kita melihat,
Mata memandang sangatlah sehat;
Negeri aman, tidaklah djahat,
Tidak seperti dihoeloe Lahat.
Poelau Belitoeng aman sekali,
Baik dipasar berdjoeal beli;
Tipoe dan samoen tidak sekali,
Kaja miskin ataupoen koeli.
Kaja miskin loeroes belaka,
Tiada pentjoeri akan meréka;
Biar meminta sampai ke-Bangka,
Harta orang ia ta’ soeka.
Orang Sekak ataupoen laoet,
Tiada soeka bersangkoot paoet;
Oetang dibajar hingganja loepoet,
Biar sebesar beras lemoekoet.
Orang laoet diseboet orang,
Tinggal diperahoe diatas karang;
Beranak isteri disitoelah terang,
Diam didarat njatalah djarang.
Hitam koelitnja boekan seperti,
Laksana dawat didalam peti;
Toea moeda, boedak dan bini,
Kilat ta’ hilang haram sekali.
Sifatnja Sekak tanah Belitoeng,
Tiada pandai doedoek menghitoeng;
Wang setali didalam kantoeng,
Kawan diberi roegi dan oentoeng.
Agama ta’ ada pada dianja,
Islam kafir sama ditoeroetnja;
Lanoen konon asal moelanja,
Batin bernama penghoeloenja.
Tetapi sekarang soedahlah aman,
Goebernemén Belanda mengoebah zaman;
Orang Sekak doedoek berteman,
Diatas perahoe kampoeng halaman.
Tong! Tong! boenji goengnja,
Didalam perahoe njata boenjinja;
Laki-laki perempoean sangat riangnja,
Berkawin konon kata dianja.
Berkawin itoe begitoe sadja,
Perawan dan laki-laki moeda-remadja;
Bersja’ir berpantoen hingganja sendja,
Doedoek bertjakap ‘ibarat radja.
Faham sesoeai apanja lagi,
Kedoea pengantin laloelah pergi;
Iboe dan bapa izin membagi,
Biarpoen kembali hingga ke petang.
Pengantin perempoean berbadjoe pandjang,
Doedoek bersanding bersama boedjang;
Didalam perahoe beratap kadjang,
Tidoer dilantai tidak berandjang.
Habis rentjana tentang itoe,
Kesah dialih keroemah batoe;
Didalam pekan tempatnja tentoe,
Orang berkedai satoe persatoe.
Pekan ramai di-Tandjoeng Pandan,
Segala djalan soedah didandan;
Roemah diatoer berpadan-padan,
Lebih sebagoes kotanja Medan.
Dioedjoeng pekan sebelah sana,
Pasar ikan dikampoeng Tjina;
Laki-laki perempoean moeda teroena,
Sama membeli tidaklah léna.
Berdjenis ikan didjoeal orang,
Ikan dilaoet diatas karang;
Sehari-hari tiadalah koerang,
Sepangin, belanak dan joe parang.
Harganja moerah tidak berbanding,
Dengan di-Manggar atau di-Boeding;
Tidak seperti di-Batoe Dinding,
Ikan semahal harga giling.
Di-Tandjoeng Pandan harga ikan,
Seroepiah tjoekoep oentoek sepekan;
Hanja sajoer mahalnja boekan,
Kol sesoekoe orang tawarkan.
Sebelah kehilir soeatoe tempat,
Pangkalan kelaot tempat melompat;
Perahoe dan tongkang soeka merapat,
Kantor Sjahbandar nama didapat.
Sebelah kanan kantor Sjahbandar,
Seboeah kantor halamannja boendar;
Kantor Agén kapal beredar,
Demikian diseboet nachoda bidar.
Tiada djaoeh kesebelah hoeloe,
Keroemah itoe orang selaloe;
Membeli madat bertaloe-taloe,
Tjina, Melajoe ataupoen Soeloe.
Dimoeka roemah madat terseboet,
Roemah gadai babanja riboet;
Teriak dan seroe berkaboet-kaboet,
Menaksir barang biar seramboet.
Sekolah H. I. S. disebelah kanannja,
Menghadap kelaoet arah moekanja;
Berpagar kawat sekelilingnja,
Pohon kajoe-kajoean menedoehnja.
Balik chabar kesimpang empat,
Dari pasar ikan haloean tetap;
Sampai keroemah tempat berapat,
Roemah bola model ketoepat.
Roemah bola bentoeknja manis,
Segala perkakas soedah dipernis;
Bersenang insinjoer serta masinis,
Menari, berdansa, bermain „tennis”.
„Hoofdkantoor” nama roemah dikiri,
Tempat pegawai sepandjang hari;
Menghitoeng timah gadji diberi,
Selama Maatschappij masih terdiri.
Tidak djaoeh dari sitoe,
Seboeah roemah berlantai batoe;
Opas berbaris dimoeka pintoe,
Menteri didalam isap tjeroetoe.
„Hoofdwacht” diseboet orang disini,
Orang berkelahi hidoep dan fani;
Kesitoe dibawa lontjéng berboenji,
Begitoe dilakoekan sampainja kini.
Seboeah roemah benar ditepi,
Panggoeng bangsawan boeatannja rapi;
Keliling panggoeng dipasang api,
Tiadalah pernah dapat bahja api.
Djika malam kiranja soedah,
Laki-laki perempoean kesitoe pindah;
Doedoek di „loge” menghilangkan goendah,
Atau dibelakang toendoek tengadah.
Begitoe kesoekaan orang keliroe,
Masoe kedalam terboeroe-boeroe;
Wang habis moekapoen biroe,
Bagai diemboes hantoe pemboeroe.
Boeat menonton adalah wang,
Biar menggadai mendjoeal barang;
Tetapi „belasting” tidak ditoewang,
Penagih datang menoetoep lawang.
Pikiran itoe njalalah sesat,
Seperti doekoe disangka langsat;
Maloe tidak dikata bangsat,
Asal menonton bersa’at-sa’at.
Tidak djaoeh dari panggoeng lama,
Panggoeng baroe poela bernama;
Bagoesnja itoe tidaklah sama,
Di-Djawa, di-Amboen atau di-Bima.
Negeri terchabar memboeat dia,
Siapa bermain membajar bia;
Biar Tjina, Keling, Peria,
Ataupoen Djepang doerée dia.
„Kunst voor allen” merk dimoela,
„Cinema Bioscoop” tambahan belaka;
„Café Biljart” (*) baharoe diboeka,
Tempat menghilangkan hati jang doeka.
(*) Tempat main bola sodok.
Sebelah dimoeka panggoeng jang indah,
Roemah pompa jang lama soedah;
Roemah kopi serta djoeadah,
Boleh poeas selera dan loedah.
Dari panggoeng arah kebarat,
Berdjoempa kantor pengoeroes soerat;
Roemahnja molek tiada berkarat,
Haram ta’oebah bagai „Landraad”.
Antara semenit dari postkantoor,
„Gevangenis” roepanja bagoes teratoer;
Mandoer dan opas doedoek bertoetoeer,
Ada setengah sedang bertjatoer.
Perdjoeirit berdjalan hilir dan hoeloe,
Senapang berisi bertatoe-taloe;
Mendjaga orang siapa jang laloe,
Boeroek dan baik tampak selaloe.
Sebelah kiri „Gevangenis” itoe,
Roemah ketjil berdinding batoe;
„’s Landskas” nama jang tentoe,
Berjoeta-joeta wang disitoe.
Wang perak, emas, tembaga,
Banjaknja tiada boleh didoega;
Seperti air dalam telaga,
Perbendaharaan selaloe didjaga.
Kantor „Boschwezen” sebelah hadapan,
Ketjil molek semoea bertampan;
Izin kajoe ataupoen papan,
Diminta disana poekoel delapan.
Memotong kajoe tiada bersoerat,
Akan mendapat hoekoeman berat;
Doewa poeloeh, kata „Magistraat”,
Wadjib dibajar berlarat-larat.
„Gewestelijk Bureau” dimoeka ini,
Kantor Sekertaris serta kerani;
Pengoeroes ra’jat sana dan sini,
Bersama Residén dalam „kolonie”.
Kantor Landraad disebelah nja,
Bagoes tidak lagi bandingan nja;
Eropah benar bangoen model nja,
„Opzichter” pilihan jang memboeat nja.
Senang Hoofddjaksa tiada terperi,
Melihat kantor baharoe terdiri;
Waktoe memeriksa hoekoem diberi,
Tiada chawatir pesakitan lari.
Dimoeka kiri kantor B. O. W.,
Ketjil roepanja sebagai koeé;
Memberi perintah djika bergawé,
Sebagai di-Atjeh dipoelau Wé.
Dioedjoeng itoe mesdjid terdiri,
Tempat sembahjang setiap hari;
Makanan datang orang memberi,
Ramainja seperti orang kendoeri.
Sembahjang orang setiap waktoe,
Menjembah Allah Toehan jang satoe;
Pahala achirat ditjari tentoe,
Didalam doenia dikerdjakan itoe.
Allah dan Rasoel diingat selaloe,
Biar bertjerai toelang dan boeloe;
Atau dihantam bertaloe-taloe,
Berbekas rotan badan dipaloe.
Kesitoe Moeslimin datang beroelang,
Setiap masa tiadalah walang;
Pahala mesdjid soedah terbilang,
Apa dimaksoed tiada mengalang.
Diseberang mesdjid soedah tertentoe,
Sekolah Melajoe namanja itoe;
Lima goeroenja bertambah satoe,
Seorang mengadjar lima poeloeh moerid.
Doewa ratoes sepoeloeh banjak moeridnja,
Doewa poeloeh perempoean njata adanja;
Disegala kelas tentoe tempatnja,
Laki-laki perempoean sama madjoenja.
Pada tahoen jang baroe silam,
Toedjoeh mendapat ‘ilmoe jang dalam;
Segala pengadjaran tiadalah kelam,
Biar dibawa seloeroeh ‘alam.
Inspéktoer datang mengoedji nja,
Semoea madjoe pengadjaran nja;
Lima ke-Normaal akan tempat nja,
Doewa cursus patoet kiranja.
Oentoeng benar Belitoeng negeri,
Iboe dan bapa semoea memberi;
Ke-Betawi anak tidaklah ngeri,
Laoetan Djawa hendak dilajari.
Begitoe pendapat orang sekarang,
Bertjerai dengan anak rasanja girang;
Asal anak mentjahari terang,
Biar mendjedjak tanah seberang.
Berlain benar kaoem dahoeloe,
Tidak pedoeli sakit dan ngiloe;
Biar di-Kroe tanah Bengkoeloe,
Dilarang anak djika berlakoe.
Djangan begitoe kita sekarang,
Soeroehlah anak mentjahari terang;
Keboekit, kegoenoeng atau keseberang,
‘Ilmoe didada djanganlah koerang.
Dihentikan kesah di-Tandjoeng Pandan,
Kelain haloean kesah didandan;
Ke-Tikoes njata arahnja badan,
Melihat lombong tjara di-Soedan.
Lombong diseboet orang disini,
Tempat mengambil timah jang seni;
Mesin bekerdja tiada berboenji,
Menggorék tanah bergoeni-goeni.
Besar ketjil mesin beredar,
Seperti laoet berpendar-pendar;
Pasir digali mendjadi bandar,
Timah diambil pipih dan boendar.
Timah dimasak serta ditoewang,
Diboeat persegi seperti tiang;
Senantiasa dileboer malam dan siang,
Padat soenggoeh tiada berliang.
Timah diangkat si koeli Tjina,
Beriboe berlaksa tiadalah léna;
Dimoeat kekapal disana sini,
Djadi perniagaan negeri ini.
Ditambang itoe ramainja tentoe,
Belanda, Tjina banjak disitoe;
Menggali loebang memetjah batoe,
Bekerdja keras satoe persatoe.
Tjina Hongkong boekan seperti,
Banjaknja itoe beriboe keti;
Setiap kapal datanglah pesti,
„Billiton Maatschappij” jang didapati.
Dari Tikoes adalah djalan,
Djalan raja tempat djoealan;
Berbagai barang bekal-bekalan,
Ada di-Sidjoek désa handalan.
Sidjoek konon soeatoe negeri,
Lima pal dari Tikoes soedah terperi;
Kotanja bersih berhari-hari,
Tempat kepelsiran anak negeri.
Sidjoek letaknja ditepi laoet,
Disana tenggiri boléh mengaoet;
Kalau moesim orang kelaoet,
Perahoe tidak lagi dipaoet.
Setiap djam perahoe beroelang,
Membawa tenggiri tiada berselang;
Banjaknja itoe boekan kepalang,
Poetih sebagai boenga meloer kembang.
Ikan dibawa kesana sini,
Laloe didjoeal bergoeni-goeni;
Sampai ke-Djohor tanah Petani,
Atau ke-Mengkasar didekat Boni.
Dari Sidjoek berdjalanlah kita,
Sampai ke-Boeding soeatoe kota;
Doewa poeloeh empat pal bilangan njata,
Disana banjak lombong melata.
Banjaknja lombong boekan seperti,
Mengambil timah beriboe kati;
Sebagai di-Tikoes njatalah pesti,
Djadi perniagaan berganti-ganti.
Kota Boeding nama soeatoe,
Roemahnja tinggi bertangga batoe;
Segala matjam ada disitoe,
Boléh diambil satoe persatoe.
Kepala distrik radja dinegeri,
Memerintah ra’jat disana sini;
Menteri polisi bantoean kompeni,
Serta opas gagah berani.
Dari Boeding djalan diteroeskan,
Arah ketimoer kita hadapkan;
Doewa poeloeh delapan pal telah ditetapkan,
Sampai ke-Manggar dipekan.
Manggar lama moela bertemoe,
Berboekit kajoe tempat meramoe;
Indah pemandangan tidaklah djemoe,
‘Ibarat sekolah pentjahari ‘ilmoe.
Manggar baroe digoenoeng Samak,
Ditepi laoet tempat menjamak;
Banjak ikannja jang lemak-lemak,
Kenjanglah disitoe siapa jang tamak.
Manggar terseboet soeatoe negeri,
Makanan mahal tiada terperi;
Belandja hidoep sehari-hari,
Seroepiah ta’ sampai laki-isteri.
Sembilan poeloeh sén daging sekati,
Ikan dan sajoer semoea berkati;
Dari Tandjoeng Pandan „auto” mengangkati,
Sepikoel seringgit bajaran pesti.
Djika disitoe bergadji ketjil,
Soesahlah hidoep terpekil-pekil;
Badan jang gemoek mendjadi kerdil,
Biar berkeboen kelapa bertjangkir.
Di-Manggar ada sekolah Belanda,
Sekolah Melajoe bersama ada;
Tempat mentjahari ‘ilmoe tempat didada,
Ataupoen tempat bermain soeka.
Kepala afdeeling ada disitoe,
„Civielgezaghebber” pangkatnja tentoe;
Bersama „Districtshoofd” pembesar itoe,
Memerintah negeri satoe persatoe.
Manggar ternjata kota jang ramai,
Makin dipandang bertambah permai;
Segala bangsa mendjadi damai,
Biar Tjina, Keling dan Koemai.
Habis riwajat Manggar ternjata,
Kenegeri Gantoeng beralih warta;
Sebelas pal djaoehnja njata,
Boléh bermobil atau berkereta.
Gantoeng diseboet distrik Lenggang,
Parit timah tiadalah renggang;
Tjina bekerdja regang-meregang,
Mengambil timah didalam gang.
Pekannja bersih berlorong-lorong,
Sampai kelaboehan dipasar borong;
Boléh berkendaraan berkereta sorong,
Djalannja loeroes tiadalah serong.
Ditengah kota pekan soeatoe,
Panggoeng komidi terdiri tentoe;
Roemah jang tinggi bertangga batoe,
Djarang bandingannja dan oepama.
Ketepi negeri kita memandang,
Arah ketimoer pangkalan oedang;
Roemah Maatschappij ketjil dan gedang,
Bertambah permai mata memandang.
Disitoe ada djoega sekolah Melajoe,
Serta „Boschwachter” hoetan dan kajoe;
Menteri polisi serta opas berkajoe,
Mendjaga negeri bersajoe-sajoe.
Pemerintahan negeri diatoer benar,
Djangan ra’jat memboeat honar;
Memaling beras ataupoen dinar,
Didarat, diperahoe atau disekoenar.
Dipangkalaannja banjak perahoe berpaoet,
Perahoe berisi orangnja laoet;
Sebagai di-Tandjoeng Pandan soedah terseboet,
Koelitnja berkilat hitam berkaboet.
‘Adatnja poen hampir seroepa,
Bersoea didjalan haram menjapa;
Lenggangnja djadi beroepa-roepa,
Boedjang dan siti sama ta’ loepa.
Ramainja Gantoeng beloemlah lama,
Sekira lima tahoen baroe mendjelma;
Dahoeloe kampoeng berloema-loema,
Bertanam padi oebi dan poela.
Dari Gantoeng djalan diteroeskan,
Doewa poeloeh empat pal kita bilangkan;
Sampailah ke-Dendang ditengah pekan,
Negerinja soenji, indahpoen boekan.
Dahoeloe sepandjang keterangan orang,
Ramainja Dendang bandingan djarang;
Biar di-Belitoeng atau diseberang,
Perniagaan madjoe roeginja koerang.
Waktoe Maatschappij ada di-Dendang,
Mengambil timah berbendang-bendang;
Segala lorong dipandang sedang,
Berdjoeal beli ikan dan oedang.
Tetapi sekarang apa dikata,
Timah habis semata-mata;
Maatschappij roegi beriboe joeta,
Oentoeng ta’ dapat lagi dipinta.
Segala parit kering belaka,
Seboetir timah djangan disangka;
Djatoeh sebagai boemi terboeka,
Hilang lenjap tidak berdjangka.
Segala kantor goedang semata,
Beratap séng bertangga bata;
Bom diambatan ditongkota,
Kosong semoea teroeta.
Soesah hati kita memandang,
Tida teratoer roemah berbendang-bendang;
Boentoek bangoennja semata sedang,
Sekarang tempat tikoes meledjang.
Pekannjapoen demikian peri,
Dahoeloe teratoer berseri-seri;
Biar dikanan atau dikiri,
Djarang bandingnja dilain negeri.
Tetapi sekarang apa direka,
Negeri ibarat dimakan djangka;
Pekan soenji sebagai baka,
Disana sini roempoet belaka.
Sekolah Melajoe ada disitoe,
Dahoeloe ramai setiap waktoe;
Hampir toedjoeh poeloeh moerid tertentoe,
Didalam daftar namanja itoe.
Sekarang moerid berkoerang-koerang,
Masoek beladjar hati ta’ girang;
Baik kelaoet mentjahari karang,
Atau menangkap boeroeng bersarang.
Hampir ditoetoep sekolah itoe,
Djika tiada ra’jat meramékan waktoe;
Kompeni berpikir satoe persatoe,
Pengadjaran itoe bergoena tertib soedah tentoe.
Habis kesah Dendang negara,
Ditoekar chabar dalam tjeritera;
Kesoetaoe tempat sebelah oetara,
Ambaloeng konon nama tertera.
Ambaloeng dibawah koeasa Dendang,
Hanja mandoer koeasa terpandang;
Tetapi ramai pekannja sedang,
Roemah teratoer berbendang-bendang.
Semakin lama bertambah ramai,
Djalan terlihat roepanja permai;
Anak negerinja roekoen dan damai,
Biar dihoetan diladang tjiermai.
Dendang soenji dari Ambaloeng,
‘Ibarat perawan tidak berkalang;
Biar kelangit orang melolong,
Dendang tidak dapat ditolong.
Habis Ambaloeng habis tjerita,
Habis kesah semata-mata;
Habis désa kampoeng dan kota,
Poelau Belitoeng poenja warta.
(Red)

