.BELITUNG– Veriyadi, S.T., M.Sc., Ph.D., MAusIMM., memaparkan sebuah metodologi mutakhir dalam menilai potensi kawasan geowisata. Dalam keterangannya pada Kamis (9/4/2026), ia menjelaskan penerapan model Modified Geo Assessment Model (M-GAM) yang dinilainya lebih adaptif terhadap kebutuhan wisatawan modern.
Apa Itu Model M-GAM?
Veriyadi menjelaskan bahwa M-GAM merupakan pengembangan dari Geosite Assessment Model (GAM) yang diciptakan oleh Vujičić dkk. pada 2011. Model ini kemudian dimodifikasi oleh Tomić dan Božić pada 2014.
“Metodologi yang diterapkan dalam makalah ini didasarkan pada model M-GAM,” ujar Veriyadi. Model ini memiliki struktur indikator dan subindikator yang sama dengan GAM, namun dengan penekanan pada nilai tambah yang bersifat buatan manusia.
Dua Indikator Utama
Dalam paparannya, Veriyadi merinci bahwa M-GAM terdiri atas dua indikator kunci:
- Nilai Utama (Main Values) – Bersumber dari karakteristik alami suatu geosite. Kelompok ini terbagi menjadi tiga indikator: nilai ilmiah/pendidikan (VSE), nilai pemandangan/estetika (VSA), dan nilai perlindungan (VPr).
- Nilai Tambahan (Additional Values) – Bersifat hasil campur tangan manusia yang dapat diubah guna menyesuaikan dengan kebutuhan pengunjung. Kelompok ini terbagi menjadi nilai fungsional (VFn) dan nilai wisata (VTr).
Masing-masing indikator diberi skor dari 0,00 hingga 1,00.
Mengapa M-GAM Relevan?
Veriyadi, yang juga anggota Australasian Institute of Mining and Metallurgy (MAusIMM.) tersebut, menekankan keunggulan M-GAM dibanding model sebelumnya. “Dengan memisahkan nilai alami dan nilai buatan manusia, model ini memungkinkan pengelola destinasi untuk melakukan intervensi tepat sasaran tanpa merusak keaslian geosite,” jelasnya.
Pendekatan ini dinilai krusial di tengah tren pariwisata berkelanjutan yang mengedepankan edukasi, estetika, dan kenyamanan secara seimbang.
Paparan Veriyadi ini diharapkan menjadi rujukan bagi akademisi, pemerintah daerah, dan pengelola kawasan geowisata di Indonesia dalam menyusun strategi pengembangan destinasi yang berbasis data dan berkelanjutan. (Red)

