BELITUNG, 07 Juli 2026 – Belitung, sebuah pulau yang kini lebih dikenal dengan keindahan pantai dan batu granitnya, menyimpan sejarah naturalistik yang jarang diungkap. Salah satu kisah menarik yang terekam dalam manuskrip kolonial adalah tentang hubungan manusia dengan penghuni rawa-rawa: buaya. Dalam satu foto bersejarah dari arsip Koloniaal Instituut, terekam momen langka seorang “doekoen boeaja”—penjinak buaya—di Pulau Billiton (nama kolonial untuk Belitung).
Ketika Buaya dan Manusia Hidup Berdampingan
Pada masa kolonial, Belitung bukan hanya dikenal sebagai pulau timah. Keanekaragaman hayatinya juga menarik perhatian para naturalis Eropa. Khususnya ordo Crocodylia yang mendiami sungai-sungai dan rawa-rawa di pulau ini.
Masyarakat setempat memiliki hubungan yang unik dengan reptil purba ini. Keyakinan bahwa buaya bisa dijinakkan—atau setidaknya diajak berdamai—melahirkan profesi doekoen boeaja. Mereka adalah “dukun buaya” yang diyakini mampu mengendalikan buaya dan mencegah serangan terhadap manusia.
Seperti dikutip dari Koloniaal Instituut, foto seorang doekoen boeaja bersama buaya di Belitung menjadi bukti visual fenomena ini. Sementara itu, dalam artikel di majalah Nederlandsch-Indië tahun 1933, seorang naturalis menulis:
“De Inlanders der Molukken eeren Rumphius nog altijd om de verbeteringen, die hij gebracht heeft in de sago-bereiding… De vereering voor Rumphius is zeer groot.”
“Penduduk asli Maluku masih menghormati Rumphius karena perbaikannya dalam pengolahan sagu… Penghormatan terhadap Rumphius sangat besar.”
Meskipun fokus pada Rumphius dan Maluku, semangat penghormatan terhadap alam dan pengetahuan lokal ini juga tercermin dalam hubungan masyarakat Belitung dengan buaya.
Naturalis Buta dari Ambon dan Hubungannya dengan Belitung
Georg Everhard Rumphius (1627–1702), naturalis Jerman yang berkarier di VOC, meskipun lebih dikenal di Ambon, memiliki keterkaitan dengan tradisi naturalistik di Belitung. Karyanya tentang flora dan fauna Nusantara menjadi rujukan penting bagi para peneliti, termasuk yang berada di Belitung .
Rumphius, yang kehilangan penglihatan namun tetap produktif, mendokumentasikan berbagai aspek alam Nusantara. Karyanya yang monumental D’Amboinsche Rariteitkamer memuat deskripsi tentang kerang, batu, dan berbagai hewan . Karyanya tentang flora, Herbarium Amboinense, mendeskripsikan ribuan tumbuhan dengan ketelitian luar biasa meskipun ia buta .
Menurut H.N. Ridley dalam artikel di majalah yang sama, pengaruh Rumphius terhadap penelitian botani di Nusantara sangat besar, dan menginspirasi para peneliti untuk mendokumentasikan keanekaragaman hayati di berbagai pulau, termasuk Belitung.
Buaya Belitung dalam Catatan Kolonial
Pada abad ke-17 hingga 19, Belitung berada di bawah pengaruh Kesultanan Palembang dan kemudian menjadi wilayah kolonial Belanda yang penting karena timahnya . Kehadiran buaya di sungai-sungai Belitung tercatat dalam berbagai laporan perjalanan dan catatan administratif.
Meskipun tidak ada catatan spesifik tentang doekoen boeaja di Belitung dalam artikel yang dirujuk, praktik serupa ditemukan di berbagai wilayah Nusantara. Di Maluku dan daerah lain, buaya dihormati karena diyakini sebagai jelmaan arwah leluhur . Keyakinan ini mungkin juga mempengaruhi praktik di Belitung, mengingat migrasi dan interaksi antar budaya di Nusantara.
Kisah-kisah tentang doekoen boeaja di Belitung terekam dalam foto-foto kolonial. Ini menunjukkan betapa eratnya hubungan antara manusia dan predator puncak ini, sebelum aktivitas pertambangan mengubah lanskap Belitung secara drastis.
Warisan yang Terlupakan
Sejarah hubungan manusia dan buaya di Belitung adalah bagian dari warisan budaya dan naturalistik yang hampir terlupakan. Seperti yang terjadi pada Rumphius di Ambon, pengetahuan lokal tentang alam seringkali terpinggirkan oleh narasi besar kolonial dan modernisasi.
Doekoen boeaja mewakili kearifan lokal dalam berinteraksi dengan alam liar. Meskipun praktik ini mungkin tidak lagi dikenal di Belitung modern, ia mengingatkan kita pada masa ketika manusia dan buaya hidup berdampingan dengan saling menghormati—atau setidaknya dengan ketakutan yang terstruktur dalam ritual dan kepercayaan.
Seperti yang dituliskan dalam artikel “Krokodillen en Kaaimans”: “Mocht de Natuur bij het scheppen der dierenwereld zich tot taak hebben gesteld, een wezen het leven te geven, dat alles wat afstoot in zich vereenigt, dan is zij in die taak volkomen geslaagd” —”Jika Alam dalam menciptakan dunia hewan bertugas menciptakan makhluk yang menggabungkan segala hal yang menjijikkan, maka ia telah berhasil sepenuhnya.”
Buaya bagi masyarakat Belitung bukan sekadar hewan menjijikkan, tetapi bagian dari ekosistem spiritual yang dihormati melalui doekoen yang mampu “menjinakkan” mereka.
Sumber: Dokumen: Nederlandsch-Indië, Ve Jaargang, Afl. N° 20, 23 Januari 1933.

