BELITUNG, 7 Mei 2026 – Di tengah pesatnya pembangunan dan modernisasi di Pulau Belitung, akar sejarah spiritual yang membentuk identitas masyarakatnya tetap menjadi fondasi yang tak tergoyahkan. Selama ini, narasi masuknya Islam ke negeri Laskar Pelangi itu lebih banyak dituturkan dari mulut ke mulut. Kini, sebuah manuskrip kuno berbahasa Melayu Billiton yang terdokumentasi dalam jurnal linguistik Belanda akhir abad ke-19, Tijdschrift voor Indische Taal-, Land- en Volkenkunde (1891), membuka tabir bagaimana ajaran Nabi Muhammad SAW pertama kali menjejakkan kaki di bumi Belitong.
Cerita ini bukanlah dongeng tanpa dasar. Naskah tersebut merupakan transkripsi dari tradisi lisan yang dihimpun oleh seorang peneliti dan naturalis Belanda, A.G. Vorderman, pada akhir tahun 1889. Dengan merujuk pada sumber primer ini, kita dapat menyelami kembali memori kolektif masyarakat Belitung tentang proses islamisasi yang damai.
Tujuh Datuk Pembawa Risalah
Menurut manuskrip beraksara Latin yang merupakan alih bahasa dari dialek Melayu Billiton ini, islamisasi Belitung tidak bisa dilepaskan dari peran tujuh orang Datuk Keramat yang berasal dari negeri Pasai (Atjeh). Mereka tiba dalam sebuah misi spiritual yang terorganisir. Kisah ini menegaskan bahwa Islam di Belitung tidak datang secara tiba-tiba, melainkan dibawa dengan perencanaan dan struktur dakwah yang matang.
Berikut adalah nama-nama tujuh Datuk Keramat beserta lokasi penyebaran dakwahnya berdasarkan manuskrip tersebut:
- Datuk Keramat Setampin, bermukim di Sungai Tjeroetjoek (kini wilayah Tanjung Pandan).
- Datuk Keramat Djemang, bermukim di Keleka Datuk, wilayah Ngabehi Badaoe.
- Datuk Keramat Goenoeng Tadjam, bermukim di Ai Batoe, hulu Sungai Boeding, di bawah otoritas Ngabehi Boeding.
- Datuk Keramat Simpang Tjengal, wilayah Ngabehi Sedjoek.
- Datuk Keramat Padang Lambajan, wilayah Ngabehi Goenoeng Sepang.
- Datuk Keramat Soewat Lais, di Sungai Linggang, wilayah Karija Linggang.
- Datuk Keramat Padang Lelangan, wilayah Ngabehi Badaoe.
Narasi ini menarik karena menggambarkan bahwa para penyebar agama ini tidak langsung menuju pusat kekuasaan, melainkan menyebar ke berbagai penjuru sungai dan hulu, menyasar komunitas-komunitas adat yang saat itu berada di bawah pimpinan para Ngabehi.
Pusat Syiar di Lereng Gunung Tajam
Dari ketujuh tokoh ini, Datuk Keramat Goenoeng Tadjam disebut sebagai figur yang paling menonjol. Ia tidak hanya berdiam di Ai Batoe, tetapi juga membuka sebuah pusat pendidikan (doedoek ngadjarkan). Ia mengajarkan ilmu agama secara sistematis, menerima banyak murid, dan secara spesifik memiliki seorang murid kesayangan yang bernama Datuk Koendoeh (meski naskah menyebutkan nama lain tidak tercatat secara spesifik).
Lereng Gunung Tajam, yang dalam manuskrip digambarkan sebagai bagian dari wilayah hukum Ngabehi Boeding, menjadi salah satu episentrum awal pendidikan Islam. Fakta ini memperkuat bukti bahwa peradaban Melayu-Islam di Belitung lahir dari pedalaman, dari dataran tinggi yang kini menjadi ikon alam Pulau Belitung.
Pergolakan Kekuasaan dan Pengorbanan Sang Guru
Perjalanan dakwah di Belitung tidak sepenuhnya mulus. Manuskrip ini mencatat sebuah konflik politik-keagamaan yang melibatkan seorang penguasa lokal. Seorang Raja dari Sungai Balok yang bergelar Kegedeh, yang sebelumnya independen, menerima kedatangan dua orang asing dari tanah Djawa. Kedua pendatang ini, berdasarkan catatan, memiliki pengaruh besar hingga akhirnya diambil menjadi menantu dan diberi gelar Dipati Galong, pemimpin yang lingkup kekuasaannya dicatat dalam manuskrip sebagai selingkoengan tana poêlon Belitoeng (selingkar tanah pulau Belitung).
Konflik terjadi karena kecemburuan dan politik praktis. Sang penguasa dari struktur baru ini melihat pengaruh spiritual Datuk Keramat Goenoeng Tadjam yang begitu besar di tengah rakyat sebagai ancaman. Tuduhan makar pun dilontarkan. Datuk dipanggil, dihadapkan pada tuduhan palsu (kesala-an), dan pada akhirnya dihukum mati (de boenoe).
Sebelum wafat, sang Datuk memberikan wasiat kepada para muridnya, termasuk Datuk Koendoeh yang saat itu sedang berdakwah ke kampung-kampung. Wasiat itu sangat simbolis: jenazahnya harus dimakamkan di entare boemi kaon langit (antara bumi dan langit) bersama kucing kesayangannya. Wasiat ini sempat menjadi kebingungan bagi para murid yang menunggui jenazahnya.
Sepulangnya dari perjalanan dakwah dan mendapati gurunya telah tiada, Datuk Koendoeh mengambil langkah, melakukan penggalian, dan membawa jenazah gurunya menuju puncak Gunung Tajam (loentjak Goenoeng itoe). Di sanalah sang guru dimakamkan, di antara bumi dan langit, sesuai wasiatnya. Hingga kini, makam keramat tersebut dipercaya menjadi titik ziarah penting, di mana banyak orang datang untuk berniat (bekaoel), meminta keberkahan, dan mencari keselamatan.
Warisan dan Pantangan Abadi
Kisah ini diakhiri dengan sebuah legenda kutukan (ketoerosnan). Manuskrip itu mencatat bahwa siapa pun keturunan dari Raja di Sungai Balok yang terlibat dalam pembunuhan sang Datuk, tidak diperkenankan untuk memanjatkan niat atau doa di makam Keramat Goenoeng Tadjam, karena diyakini permohonan tersebut tidak akan dikabulkan (enda kan de kaboèlkan).
Warisan keilmuannya pun dilanjutkan oleh Datuk Koendoeh, yang menerima seluruh kitab dan Al-Qur’an besar milik sang guru, dan kemudian diwariskan lagi kepada Katib Belang dan Ngabebi de Boeding. Para Datuk ini kemudian juga menjadi keramat yang diziarahi.
Ini adalah pintu masuk untuk memahami lapisan awal sejarah Islam di Belitung: dari dataran tinggi Gunung Tajam, dari tangan para pendatang dari Pasai, hingga berpadu dengan struktur politik lokal. Sebuah narasi tentang keteguhan iman, pengkhianatan kekuasaan, dan akhirnya, keabadian nilai spiritual yang masih terasa hingga detik ini. (Red)
Sumber:
Vorderman, A.G. (1889). “Billitonsch verhaal omtrent de invoering van den Islam op het eiland Billiton” dalam Tijdschrift voor Indische Taal-, Land- en Volkenkunde, Deel XXXIV, Batavia: Albrecht & Rusche / ‘s Hage: M. Nijhoff, 1891.
Baik, berikut adalah salinan persis dari teks Billiton-Maleisch yang Anda maksud, diambil dari file yang dilampirkan. Saya sajikan sesuai dengan ejaan dan struktur asli yang terdapat dalam dokumen Tijdschrift voor Indische Taal-, Land- en Volkenkunde (1891) karya A.G. Vorderman.
Billitonsch verhaal omtrent de invoering van den Islam op het eiland Billiton.
Adë lah teseboet tjeritaë oerang djeman bari njang moele2 masoekkan egamë Selam pade oerang2 de Blitoeng.
Mengke adê lah koenoean 7 oerang daë nenggeri Pasai [Atjeh] datang ke Blitoeng, njang endâ taoe dame-ë ngae de seboet oerang datoe2 keramat sadje ja itoe:
- Datoe keramat setampin diame di soengej Tjeroetjoek [Tandjong Pandan].
- Datoe keramat Djemang, diame de keleka datoe, Ngabehi Badaoe.
- Datoe keramat Goenoeng tadjam diamë de Ai Batoe oeloe soengej Boeding Ngabehi Boeding.
- Datoe keramat simpang tjengal Ngabebi Sedjoek.
- Datoe keramat de padang lambajan Ngabehi Goenoeng Sepang.
- Datoe keramat soewat lais, soengei Linggang, Karija Linggang.
- Datoe keramat de Padang lelangan Ngabehi Badaoe.
Itoe 7 oerang tjerita-ë besedare [beseperadean] dan itoe oerang njang manis dan ngendjalankan oekoem egama Nabi Mohamad masoekan egame serta ngadjarkan sekelian roekoen selam padë oerang3 de Blitoeng.
Mengke datoe keramat Goenoeng tadjam itoe diamë de kampoeng ai batoe bilangan Ngabehi Boeding, serte dia doedoek ngadjarkan ae lemoee dan berape-rape banjakanak moeridë, ain njang teseboet engga seoerang dameë datoe koendoh itoe lab moeridë njang kekasin, dan lain moerid2 itoe endâ ade teseboet dameë satoe2 oerangë. Dan lainë datoe-datoe keramat itoe basing2 tempat diamë seoerang satoe bilangan Ngabehi, dan dia ngadjarkan ai lemoe egame selam dan oerang2 poen noeroetlah sërete masoek egama selam, dan berapë-rape poelë moeridë.
Mengke itoe datoe2 ngendirikau seboewah Mensidjid dë Badaoe lebih doeloe sebab di sitoe nenggeri njang lebe toewa dan radje-e begelar Ngabehi njang ade dapat pesalin kebesaran dari radje Mentaram [Djawe] ja-toe satoe Mendire [oelar2] sebatang toembak beramboe, sepoetjoek keris pandak dan seboewah Perijoek tanâ itoe djadi pesake toeroen menoeroen pade anak tjoetjoee sape njang djadi Ngabehi, dia lah megang itoe pesake.
Mengke teseboet poelâ satoe tjeritâe radje njang ade bedoedoek diam de soengej Balok begelar Kegëdehsadje ain itoe radje endâ ade de lebah perinla-e Ngabehi de Badaoe, basing2 koewase e sendiri2. Mengke aleiah datang seboewah prahoe [peraoe] dai tana Djawe masoek de menggeri soengej Balok itoe, dan orang2 praoe itoe tinggallah diam de darat bedngang djoewalkan ape ape barang moewat-an peraoe-e. Mengke lama2 itoe radje Kegedeh dapat kabar ujang oedji oeraiig de bang praoe itoe ade anak3 banse radje doewâ besedare, radje Kegedeh soeroe panggil oerang doewâ beradi itoe, redje Kegedehpoen liat itoe orang baik roepe-ë dan orang be ae lemoe, djadi besabatlah itoe orang kaon radje Kegede. Lama2 laloe de ambi dai itoe radje Kegedeh benantoe, itoe njang toewë de nikahkan dai radje Kegedeh itoe kaon anak-ë dan njang moedâ de beri bebini kaon sanak-e dae radje Kegedeh itoe. Mengke lama2 itoe radjè Kegedeh ngeinberikan kekoewasaane kepade henantoe-e itoe, dan dialah djadi radje merintah de lingkaran soengej Balok, dan de gelar Depati di damekan Dipati Galong.
Mengke itoe Dipati njang koewase selingkoengan tana poêlon Belitoeng dan ja-lah ngatoerkan Ngabehi2 menteri de lebah perinta-e ij a itoe:
- Ngabehi de Badaoe.
- Sedjoek Ngabehi.
- Ngabehi de Boeding.
- Ngabehi di Goenoeng sepang.
- Ngabehi de Belantoe.
Itoe Ngabehi2 de koewasekan merintah bang basing2 bagine dia poenji lingkoengan, njang Dipati doenji perinta-an sendiri dan de beri pegawei2 mendjalankan dia poenji perinta itoe basing-bas.ing tempat bagine dan dame pangkatë ja-itoe:
- De soengej Tjeroetjoek dan soengej Lingge-Batin Lingge serta mandoor2 de bawa-ë.
- Tiang balai soengoei Doedat dan soengei Kembiri, ja-itoe Loerah.
- De Sengkoewang ja-itoe dari soengei Pesa sampei di soengei Samboeloê kepale-e gelaran Loerah.
- Soengei Linggang dan soegei Manggar, itoe kepale-e karija.
Dan Depati galong itoe doedoek moewat nenggeri di soengei Balok de oeloe nenggeri njang lama, dan adie itoe Dipati galang de djadikan pengoeloe egame serte ngendirikan seboewah Mensidjid, de nenggeri Balok.
Mengke itoe Dipati sentela ngendengar kabar njang itoe 7 oerang datoe2 dae nengeri Pasai datang de Belitoeng mengadjarkan egame selam dan berape-rape banjake oerang njang lah oeda masoek egame selam serete berape banjake oerang njang begoeroeroe pade itoe datoe-datoe, ainan Datoe keramat Goenoeng Tadjam njang beleben, alim banjak aelemoe-ë serete poelâ banjak anak moeride dan oerang2 poen oeda lah banjak masoek egame selam. Mengke itoe Depati datang la pikiran atie tjemboeroean takoet amoen itoe Datoe mengalakan dia poenji keradja-an sebabe orang banjak oeda noendâkan oedjie Datoe itoe. Ain Datoe itoe endâ ade niate endak ngalakan radje atau endak djadi radje, enggâe dia endak ngendjalaukan dan ugadjarkan aelemoe pekare egame selam kaon sebenar benare. Dan Depati itoe endâ djoewâ petjajâ melainkan de tjari djoewâ ilabe kaitoe kaini moeatkan kesala-an pade itoe Datoe, agar bole de boenoe.
Dan Datoe poen taoe la perasë-ane al radje ade mereke njang endak ngemboenoe itoe Datoe, ain endâ de kabari ket anak3 moeride al radje maoe moenoe dia itoe. Mengke dia bemanat ket anak2 moeride itoe, oedji datoe itoe ngaloekkan ket anak moeride kaini: “Hé! anak-anak akoe, amoen akoe lab sampai djadji tekale mane akoe mati, akoe minta de koeboerkan de entare boemi kaon langit dan akoe poenji koetjing kekasin akoe itoe kaoe oerang pijare kan, amoen dia mati minta tanam kan dekat koeboer akoe.” Mengke anak2 moerid itoe oedab ngendengar dan nerimâ manat goeroe-e kaitoe oedjie tadi, basing2 berati soegoel, sebab endâ dapat mikirkanë amoen goeroe mati kaimane ngoeboer kanë njang manate minta koeboerkan de entare boemi kaon langit.
Njang waktoe Datoe keramat bemanat, itoe seoerang moeride endâ ade ngabai ja-itoe dameë Datoe Koendoeh ade gie bedjalan ke kampoeng2 ngadjarkan egame selam pade oerang2 njang mane loem masoek selam dan njang mane loem ngeretie dae roekoen3 selam itoe. Mengke lama3 Datoe keramat Goenoeng tadjam itoe datang la bentjane banjak petena pade-e dae sebit Dipati de Balok itoe enda ingin kaon itoe Datoe keramat dan de tjarikane kesalan kaitoe kaini mengke do soeroe-ë boenoe, itoe Datoe poen matie Iah de boenoe.
Dan oeda matie itoe Datoe, mengke anak2 moeride sekoeliran bekoempoel Iah de sitoe dan tinggal Datoe Koendoeh njang gie bedjalan itoe loem datang. Mengke de soeroe seoerang moerid itoe gie noeloes Datoe Koedoeh itoe ngambëli-ë balik sehit Datoe goeroe-e itoe oeda matie de boenoe oerang radje Balok. Dan moerid2 ë njang tinggal noenggoeî majat goeroe ë itoe empakat lab kaimanë roendingan kita endak ngentjari tempate de mane bole dapat kaimane manat goeroeë minta koeboerkan de entarë boemie kaon langit, mengke basing-basing ngaloeq kan endâ dapat akal ngentjari timpate de entâre boenii kaon langit idang ngoeboerkan goeroe-e itoe, djadie de koeboerkaii dekat kampoeng-ë de Ai batoe.
Mengke sampai toedjoe ari lamâ-ë Datoe Koendoeh njang de ainbeli poen datang, itoe moerid2 bekabar lab pade Datoe Koendoeh dae al kematin goeroe-ë itoe, dan kaimane manat goeroe-ë itoe endâ dapat ngire kanë dan endâ taoe de mane adë tempat de entarë boemi kaon langit idang ugoeboerkan goeroe-ë itoe, djadi de koeboerkan dekat kampoeng-ë.
Mengke Datoe Koendoeh ngaloeq kan pade oerang2 itoe njang majat goeroe-ë itoe endak de kale kan, ke djoeq goenoeng njang tinggie de mane tempat njang tjoetji djan Bampai ade barang tjemar-tjemar djatoe de djoeq koeboer-ë, dan de kekat poelâ itoe koeboer piling itoe majat oeda antjoer seloeloes toebo ë. Mengke Datoe Koendoeh soeroe oeroeng ngapak lelah [koelit kajoe] kepang, oedah dapat itoe lelak baroe de angkat itoe majat dai bang loebang koeboer itoe masoekkan ke bang lelak kepang de goeloengkan itoe lelak dan de ikat baik2 laloe de bawa naik Goenoeng tadjam lelaki sampai de djoeq loentjak Goenoeng itoe de kekatkan lah loebangë laloe de koeboerkan majat Datoe itoe. Dan enda berape lamâ-ë njang koetjing kekasin Datoe keramat itoe poen matie poelâ, mengke de koeboerkan djoewâ de belakang koeboer Datoe keramat itoe de Goenoeng tadjam lelaki.
Dan itoe Datoe mendjadie keramat sampai matie ë, banjak lah oerang beniat [bekaoel] manë2 oerang njang ade ngendapat sakit penjakit atau ngeudapat kesakitan atau ngendapat kesoesa-an ataw minta endak ngendapat kekaja-an dan kesenangan, banjak lah djadi moestadjab dan mengkeboel niate kaon berekat keramat Datoe itoe, amoen kaon sebenar-ë kaimane dia poenji peminta an dan peniatane itoe gantjang de bajar, dan amoen endâ de bajar niate kaimane pedjandjine itoe kedoediane itoe oerang ade lab ngendapat baleë enta ape-ape datang kedjatanë pade njang beniat endâ de bajar kaimane djandjie ë.
Ain amoen oerang2 itoe ade ketoerosnan dae radja2 de Balok ape-ape niatë pade Datoe keramat de Goenoeng tadjam, itoe endâ ade mengkeboel peminta-ane sebit itoe Datoe matie de boenoe olè radjë Balok daé itoe tjeritaë de Soempai Datoe keramat itoe sipat anak tjoetjoe dae tosroenan radje Balok, itoe djan beniat padë Datoe keramat Goenoeng tadjam, itoe enda kan de kaboèlkan niatë itoe.
Mengke njang njerima peaakë ë daë segale kitab-kitab dan koeraän gedeb Datoe keramat Goenoeng tadjam ja-itoe Datoe Koendoeh dan toeroen poêla pade ketib Belang dame-ë njang koeraän gedeh itoe toeroen pade ngabebi de Boeding njang itoe Datoe koendoeb poen djadi keramat djoewa de koeboerkan de Boeding dau baujak oerang-oerang bekaoel pade itoe keramat njang dapat mengke moestadjapë berekat itoe keramat djoewa ade-ë.
Senggan itoeîah njang ade teseboet tjeritaë daë oerang toewa-toéwa djeman bari adë-ë.
BATAVIA, 1 December 1889.

