BELITUNG, ANOQNEWS– Di tengah derasnya arus modernisasi dan kian minimnya minat generasi muda terhadap tradisi lisan, sebuah dokumentasi berharga berjudul Sastra Lisan Bahasa Melayu Belitung (1992) mengungkap kekayaan naratif masyarakat Pulau Belitung yang nyaris terlupakan. Tim peneliti yang diketuai oleh Zainal Arifin Aliana beserta anggota Siti Salamah Arifin, Tarmizi Mairu, Nurbaya As’ad, dan Maspriyadi, berhasil mengabadikan 28 cerita prosa rakyat serta puluhan puisi dan ungkapan tradisional dalam bahasa Melayu Belitung. Penelitian yang diinisiasi oleh Proyek Penelitian Bahasa dan Sastra Indonesia dan Daerah Sumatra Selatan pada tahun 1987 ini menjadi rekam jejak vital bagi identitas budaya lokal.
Berdasarkan laporan penelitian, pada akhir 1980-an saja, generasi muda Belitung hampir tidak ada lagi yang mampu menuturkan cerita-cerita rakyat. Para informan yang menjadi sumber data umumnya berusia antara 25 hingga 70 tahun, dengan berbagai profesi seperti petani, pedagang, hingga pegawai. Kondisi ini menunjukkan betapa gentingnya upaya penyelamatan sastra lisan agar tidak benar-benar lenyap ditelan zaman.
Penelitian ini secara komprehensif memetakan khazanah sastra lisan Belitung ke dalam berbagai jenis: 28 cerita prosa rakyat, ungkapan tradisional (pepatah, peribahasa, perumpamaan), pertanyaan tradisional (teka-teki), dan puisi rakyat (campak, pantun, mantera). Setiap jenis memiliki peran spesifik dalam kehidupan sosial, mulai dari media pendidikan moral, penghibur, alat komunikasi percintaan muda-mudi, hingga pelengkap upacara adat dan pengobatan tradisional.
Dari Legenda Pulau hingga Sindiran Jenaka
Cerita-cerita yang didokumentasikan tidak sekadar dongeng pengantar tidur, melainkan cerminan filosofi dan kearifan lokal masyarakat Belitung. Beberapa di antaranya memiliki ikatan kuat dengan asal-usul geografis dan identitas kolektif, seperti “Asal Mule Kejadian Pulau Belitong dan Riwayat Raje Beikor”. Legenda ini menuturkan kisah putri raja Bali yang diasingkan dan secara ajaib menyebabkan terbentuknya Pulau Belitung dari potongan tanah yang hanyut, lengkap dengan cerita turunan tentang Raja Berekor yang kejam.
Selain legenda, ditemukan pula beragam fabel yang sarat pesan moral. Cerita “Kucing Kan Harimau”, misalnya, mengisahkan mengapa harimau tidak bisa memanjat pohon—sebuah pelajaran tentang keserakahan murid yang hendak mencelakai gurunya. Ada pula cerita jenaka seperti “Cerite Maq Celinggis” yang mengisahkan kecerdikan seekor pelanduk menjebak hewan-hewan besar untuk dimakan manusia, hingga parabel mengharukan “Asal Usul Burong Punai” tentang dua anak yang berubah menjadi burung punai akibat kelalaian sang ibu.
Fungsi Sosial yang Multidimensi
Lebih jauh, penelitian ini memotret bagaimana sastra lisan tidak berdiri sendiri sebagai artefak budaya. Ia hidup dan berfungsi dalam keseharian. Dalam upacara Nirok Nanggok—sebuah tradisi penangkapan ikan massal—mantera dan tata tertib yang bersumber dari cerita rakyat masih dipegang teguh. Pantun digunakan dalam prosesi becampak dan ngemping padi sebagai sarana pergaulan muda-mudi. Bahkan, mantra pengobatan seperti jampi ketulangan dan kemat (mantra pengasih) menjadi bukti bahwa sastra lisan merasuk hingga ranah spiritual dan medis tradisional.
Kepala Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa saat itu, Lukman Ali, dalam kata pengantarnya menekankan pentingnya penyebarluasan hasil penelitian ini. “Penelitian ini bertujuan memperkaya bahan pengajaran sastra Indonesia dan menjadi acuan bagi mahasiswa, dosen, guru, peneliti, serta masyarakat umum,” tulisnya.
Relevansi di Era Digital
Meskipun telah lebih dari tiga dekade berlalu, isi dokumentasi ini tetap relevan, terutama di tengah upaya pemerintah daerah dan pegiat budaya untuk menghidupkan kembali pariwisata berbasis budaya di Belitung. Cerita-cerita seperti “Keramat Pinang Gading” atau “Datuk Letang” yang sarat dengan nilai sejarah penyebaran Islam di pulau tersebut, dapat dikemas ulang menjadi konten kreatif—film pendek, animasi, atau komik digital—agar lebih dekat dengan generasi milenial dan Gen Z. (Red)

