Nilai Budi Pekerti dalam Pantun Melayu, Pedoman Mendidik Anak Zaman Now

Nilai Budi Pekerti dalam Pantun Melayu, Pedoman Mendidik Anak Zaman Now

BELITUNG, ANOQNEWS – Di tengah gempuran budaya digital dan krisis karakter yang kerap dikeluhkan, sebuah penelitian klasik milik Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (kini Kemendikbudristek) pada 1993 silam kembali menemukan relevansinya. Tim peneliti yang diketuai oleh Sri Mintosih dengan konsultan S. Budhisantoso itu mengkaji naskah berjudul Nilai Budi Pekerti dalam Pantun Melayu. Hasilnya, terungkap bahwa pantun bukan sekadar sastra lisan hiburan, melainkan sebuah kurikulum kehidupan yang sarat akan pendidikan moral dan budi pekerti luhur.

Penelitian yang dilakukan oleh Bagian Proyek Penelitian dan Pengkajian Kebudayaan Nusantara ini menyasar dua jenis pantun utama, yaitu pantun anak-anak dan pantun orang tua. Melalui metode naratif-analisis kualitatif, para peneliti menyelami bagaimana masyarakat Melayu sejak dini menanamkan nilai-nilai seperti ketakwaan, kerendahan hati, kerja keras, tanggung jawab, dan kesetiakawanan sosial melalui bait-bait berima.

Laporan setebal 92 halaman itu mengungkap, pola pikir masyarakat Melayu dalam mendidik anak masih bertumpu pada tipe budaya postfigurative—sebuah pola di mana generasi muda belajar dari pengalaman dan kearifan generasi tua. Orang tua menjadi sumber teladan, dan pantun menjadi medium ampuh untuk menyampaikan petuah tanpa terkesan menggurui. Contohnya, pantun nasihat berikut:

Anak ayam turun sepuluh, mati satu tinggal sembilan.
Tuntut ilmu bersungguh-sungguh, suatu jangan ketinggalan.

Atau, pantun pengingat akan kefanaan dan pentingnya ilmu yang diamalkan:

Kemumu di dalam semak, jatuh melayang selaranya.
Meski ilmu setinggi tegak, tidak sembahyang apa gunanya.

Yang menarik, riset ini juga menyoroti peran sentral ibu sebagai tokoh utama penanam budi pekerti. Kehadiran ibu digambarkan sebagai sumber kebahagiaan dan rasa aman seorang anak. Pantun bersukacita merekamnya dengan jernih: “Elok rupanya kumbang janti, dibawa itik pulang petang. Tidak terkata besar hati, melihat ibu sudah datang.” Sebaliknya, pantun berdukacita merefleksikan betapa kehilangan sosok ibu atau kehadiran ibu tiri dapat mengguncang jiwa anak.

Tak hanya melalui pantun, penelitian ini juga mendokumentasikan “utang” orang tua kepada anak dalam empat bentuk: bela dengan pelihara (pemeliharaan), tunjuk dengan ajar (pendidikan), tuang dengan isi (penanaman nilai), dan bekal dengan pakaian (persiapan hidup). Gagal memenuhi empat “utang” ini, anak berisiko menjadi “anak terbuang” yang terlantar secara moral.

Direktur Jenderal Kebudayaan saat itu, Prof. Dr. Edi Sedyawati, dalam sambutannya menekankan pentingnya menggali nilai-nilai tradisional semacam ini untuk memperkuat kepribadian bangsa dan mempertebal rasa harga diri nasional. Kini, 30 tahun berselang, gaungnya kembali terasa. Di era Kurikulum Merdeka yang menekankan Profil Pelajar Pancasila, pantun-pantun Melayu ini bisa menjadi sumber inspirasi otentik untuk mengajarkan akhlak mulia dan kearifan lokal kepada generasi muda.

“Riset ini membuktikan bahwa nenek moyang kita telah memiliki sistem pendidikan karakter yang canggih melalui karya sastra. Tinggal bagaimana kita sebagai orang tua dan pendidik masa kini menyajikannya kembali secara kontekstual, tanpa kehilangan ruhnya,” ujar seorang pemerhati budaya yang enggan disebut namanya.

Dengan demikian, Nilai Budi Pekerti dalam Pantun Melayu bukan sekadar arsip usang. Ia adalah kompas moral yang menanti untuk dibaca ulang, dihayati, dan diamalkan. Sebab, sebagaimana pantun mengingatkan: “Pisang mas bawa di atas peti, masak sebiji di atas peti. Utang mas boleh dibayar, utang budi dibawa mati.” (Red)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *