Menelusuri Jejak Pasar Cina Pontianak dan Koneksinya dengan Belitung di Abad ke-19

Menelusuri Jejak Pasar Cina Pontianak dan Koneksinya dengan Belitung di Abad ke-19

BELITUNG, 4 Mei 2026 – Sebuah kajian sejarah lokal yang diterbitkan pada 2013 lalu kembali relevan untuk diangkat ke permukaan. Buku berjudul “Tumbuh Dan Berkembangnya Sebuah Pasar Kota: Pasar Cina Pontianak Abad Ke-19 Sampai Abad Ke-20” karya peneliti Dana Listiana dari Balai Pelestarian Nilai Budaya Pontianak, tak hanya membedah dinamika ekonomi di jantung Kalimantan Barat, tetapi juga secara tak langsung menyibak jaringan perdagangan maritim Nusantara yang turut melibatkan Pulau Belitung.

Lebih dari Sekadar Pasar

Buku ini mengisahkan tentang Pasar Cina Pontianak, yang merupakan pusat denyut nadi perekonomian kota yang didirikan oleh Sultan Syarif Abdurrahman Alkadrie pada 1771. Pasar ini unik karena tumbuh dari sebuah permukiman komunitas Tionghoa di lahan pemerintah kolonial Belanda yang disebut “Tanah Seribu”. Mereka diundang atau diberi ruang oleh penguasa, baik Sultan maupun Belanda, untuk menjadi motor penggerak ekonomi.

Bondan Kanumoyoso, editor buku ini, dalam kata pengantarnya menegaskan, “Pasar Cina Pontianak adalah pasar kota yang memenuhi kebutuhan seluruh penduduk Kota Pontianak dan wilayah-wilayah pedalaman yang ada di sekitarnya.” Meskipun bernama “Pasar Cina”, aktivitas di dalamnya melibatkan spektrum etnis yang luas: Melayu, Dayak, Bugis, Madura, hingga Arab dan Keling, menciptakan mosaik sosial yang dinamis.

Kronik Dua Abad di Persimpangan Sungai

Kajian ini mencakup periode abad ke-19 hingga awal abad ke-20, tepatnya sampai titik keruntuhan di tahun 1942. Lokasi Pasar Cina sangat strategis, berada di sisi selatan Sungai Kapuas Kecil, tak jauh dari Benteng Du Bus milik Belanda. Posisinya di persimpangan dua sungai besar, Kapuas dan Landak, menjadikannya titik temu yang sempurna—sebuah central market yang menjadi barometer pasang-surut ekonomi kota.

Secara kelembagaan, terjadi pergeseran besar. Pada 1919, pemerintah kolonial menghapus sistem pacht (hak sewa/pajak yang dikuasai tauke Tionghoa) dan menggantinya dengan Pasar Fonds, sebuah lembaga pengelola langsung di bawah pemerintah kota. Ini menandai babak baru modernisasi namun sekaligus mereduksi kuasa “empu” pasar dari tangan komunitas Tionghoa.

Jaringan Distribusi yang Menjawab Koneksi Belitung

Di sinilah letak relevansi paling menarik untuk konteks Belitung. Bagaimana sebuah pasar di pedalaman Kalimantan bisa bertahan dan berkembang? Jawabannya terletak pada jaringan distribusinya yang perkasa. Pasar Cina bukan entitas terisolasi; ia adalah simpul vital dalam jaringan perdagangan global dan Nusantara. Laporan resmi dari dokumen kolonial yang dikutip dalam buku ini menjadi bukti otentik koneksi tersebut.

Dalam laporan seperti Algemeen Verslag tahun 1824 dan catatan Veth (1854), disebutkan bahwa para pedagang yang hilir mudik ke Pontianak berasal dari berbagai penjuru, termasuk Belitung, Tambelan, dan Natuna. Ini bukan sekadar penyebutan nama, melainkan konfirmasi bahwa kapal-kapal layar yang mengangkut komoditas dari pulau penghasil timah ini telah berlabuh dan bertransaksi di Pasar Cina Pontianak sejak awal abad ke-19.

“Sejak awal perkembangannya, Pontianak telah menjadi kota multietnis dan terhubung dengan jaringan pelayaran Nusantara. Fakta bahwa pedagang dari Belitung telah berniaga di Pontianak pada 1824 menunjukkan bahwa Laut Jawa dan Selat Karimata bukanlah pemisah, melainkan jalan raya ekonomi yang ramai,”

Lalu, bagaimana mekanismenya? Pasar Cina Pontianak adalah pusat pengumpul hasil hutan dan bumi dari pedalaman Kalimantan (seperti rotan, lilin, getah, dan emas) untuk kemudian diekspor ke Singapura dan Batavia. Sebaliknya, pasar ini juga menjadi distributor barang-barang impor dan manufaktur (tekstil, beras, rokok) ke seluruh pelosok. Para pedagang dari Belitung kemungkinan besar memainkan peran sebagai pembawa hasil tambang atau komoditas lokal mereka untuk ditukar dengan barang-barang kebutuhan yang tidak tersedia di pulau, atau sekadar menjadi bagian dari rantai pasok regional yang lebih besar.

Buku ini mencatat, komoditas yang diperdagangkan sangat beragam: dari getah karet, kopra, lada, hingga ikan asin dan peralatan musik. Semua ini adalah bukti aktivitas ekonomi yang kompleks. Metode pembayaran pun beragam, dari sistem barter dengan penduduk pedalaman hingga mata uang cash Cina dan Gulden Belanda.

Reduksionisme Peran dan Akhir Sebuah Era

Yang juga kritis dari buku ini adalah narasi tentang reduksi peran. Sistem pacht yang memberi kekuatan ekonomi luar biasa kepada komunitas Tionghoa perlahan-lahan diambil alih oleh pemerintah kolonial. Kekhawatiran akan bangkitnya kekuatan politik di balik kekuatan ekonomi itu, diperkuat dengan ditemukannya organisasi rahasia Tionghoa, menjadi alasan intervensi langsung. Pasar Cina pun bertransformasi menjadi institusi yang lebih terkelola secara birokratis.

Puncaknya, aktivitas pasar yang sempat bertahan di era Malaise akhirnya benar-benar lumpuh oleh pendudukan Jepang pada 1942. Pengeboman, penjarahan, dan ekonomi perang mematikan fungsi pasar yang telah menjadi ikon selama lebih dari seabad.

Belajar dari Sejarah Konektivitas

Karya Dana Listiana ini adalah sebuah sumbangan berharga yang menerangi “ruang gelap” historiografi Kalimantan. Bagi publik di Belitung, buku ini secara spesifik menunjukkan bahwa pulau mereka bukanlah entitas sejarah yang berdiri sendiri. Nenek moyang dari Belitung adalah bagian dari diaspora niaga yang mengarungi lautan, menjalin hubungan dagang, dan berkontribusi pada dinamika pusat-pusat ekonomi seperti di Pontianak.

Di era digital yang serba cepat ini, memahami akar sejarah konektivitas maritim bukan hanya nostalgia, melainkan fondasi untuk membangun kembali kejayaan ekonomi antardaerah dan antarpulau yang lebih kuat dan inklusif. Kisah Pasar Cina Pontianak mengajarkan bahwa keberagaman etnis dan keterbukaan jaringan adalah formula klasik yang telah teruji untuk menciptakan kemakmuran sebuah kota. (Red)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *