BELITUNG – Di balik pesona batu granit raksasa dan pasir putih Pulau Belitung, tersimpan narasi masa lalu yang lebih dalam dari sekadar keindahan pantai. Tim arkeolog dan peneliti yang tergabung dalam Sekolah Lapangan Arkeologi Maritim Indonesia berhasil menguak bukti bahwa perairan Belitung bukan sekadar jalur lintas kapal dunia, melainkan “pasar raksasa” yang menyuplai kebutuhan dapur para penambang timah ratusan tahun silam.
Berdasarkan laporan dan dokumentasi eksklusif dari kegiatan yang digelar Direktorat Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman Kemdikbud pada akhir 2015 lalu, survei di dua situs kunci, Situs Karangkijang dan Karangpinang, menyajikan temuan yang menggeser perspektif lama. Jika selama ini Belitung dikenal dengan kargo keramik Dinasti Tang mewah dari Situs Batu Hitam, kali ini arkeolog justru dihadapkan pada tumpukan peralatan logam berat yang “bercerita” tentang riuhnya aktivitas ekonomi kelas pekerja.
Temuan Wajan dan Kowi: Bukan untuk Istana, tapi untuk Dapur Tambang
Menyelam di kedalaman 9 hingga 12 meter di Situs Karangpinang, para penyelam dari tim laut dikejutkan oleh gundukan besar yang nyaris tak dikenali. Tertutup terumbu karang lunak dan kerang, benda itu bukanlah guci keramik yang biasa ditemukan. Setelah proses pembersihan, terkuaklah identitasnya: tumpukan kowi (kuali besar berbahan besi) dan wajan yang tersusun rapi hingga tujuh lapis.
“Ini adalah bukti otentik bahwa Pulau Belitung pada abad ke-18 hingga ke-19 adalah pusat konsumsi besar,” ujar seorang arkeolog dalam laporannya. “Kowi dengan diameter 45 cm dan tebal 0,8 cm ini jelas bukan barang mewah. Ini peralatan dapur massal. Dan siapa yang butuh peralatan masak sebesar ini? Jawabannya adalah industri pertambangan timah yang mempekerjakan ribuan kuli.”
Temuan ini sinkron dengan jejak arkeologis di daratan Tanjung Pandan yang didominasi oleh bangunan kolonial dan perkampungan etnis Tionghoa seperti Kampung Pontianak dan kawasan Pecinan. Sejak NV Billiton Maatschappij mulai mengeksploitasi timah secara besar-besaran pada 1852, kebutuhan logistik untuk memberi makan para pekerja tambang melonjak drastis. Kapal-kapal yang tenggelam di Karangpinang diduga kuat merupakan kapal pengangkut komoditas penunjang tambang, bukan sekadar kapal dagang elit.
Dari Keramik Massal hingga Jejak Kuasa Kolonial
Sementara itu, di Situs Karangkijang yang lebih dangkal, tim menemukan sebaran keramik berglasir biru-putih dengan motif naga dan kura-kura dari masa Dinasti Qing. Uniknya, pengerjaan motif pada keramik ini terlihat tidak simetris dan cenderung kasar. “Ini adalah mass product, barang dagangan kelas menengah ke bawah,” ungkap analisis tim.
Temuan ini melengkapi potret segregasi sosial di Belitung tempo dulu. Di darat, tim survei yang dipimpin oleh para peneliti senior seperti Bambang Budi Utomo dan Aryandini Novita memetakan dengan rinci 46 situs kolonial. Mulai dari gedung Eks Landraad (Pengadilan), Eks Chinese Hospital, hingga kawasan permukiman Pintu 60 dan bekas kediaman pejabat tambang di Kampung Gunong.
Menariknya, riset ini mencatat bahwa segregasi pemukiman di Tanjung Pandan terlihat jelas: Kampung Raje untuk bangsawan Melayu, Kawasan Eropa di sekitar Taman Juliana, dan Kampung Pontianak untuk buruh Tionghoa. Hal ini menegaskan fungsi Tanjung Pandan sebagai colonial town yang tumbuh pesat berkat “darah” timah.
Mengapa Kapal Mudah Karam di Sini?
Pertanyaan yang paling krusial adalah Mengapa dan Bagaimana kapal bisa tenggelam. Jawabannya terletak pada geografi Belitung yang kejam. Laporan arkeologi mencatat, perairan dangkal Selat Gaspar dan Karimata dipenuhi batu granit raksasa yang menjorok ke laut. Ketika badai tropis datang tiba-tiba, kapal kayu yang sarat muatan kowi atau keramik tak berkutik menghantam karang-karang tajam ini. Bahkan, armada perang Mongol yang hendak menyerang Singhasari pada abad ke-13 pun tercatat sempat terdampar dan memperbaiki kapal di “Kau-lan” (sebutan kuno untuk Belitung).
“Kondisi kayu kapal yang ditemukan di Karangkijang masih menyisakan lubang pasak kayu. Ini mengindikasikan teknologi perkapalan tradisional Asia Tenggara yang rentan jika berbenturan dengan granit Belitung,” jelas Junus Satrio Atmodjo dalam salah satu bab buku.
Melindungi Narasi dari Dasar Laut
Kegiatan yang melibatkan 33 peserta dari seluruh Indonesia ini bukan sekadar ekspedisi pencarian harta karun. Ini adalah upaya serius negara untuk memetakan dan melindungi Cagar Budaya Bawah Air (BMKT) sesuai amanat UU No. 11 Tahun 2010. Tim penyelam tidak hanya mengambil sampel, tetapi juga melakukan pemasangan baseline, pemotretan bawah air, dan simulasi pelestarian in situ.
Meski situs-situs ini telah banyak dijarah oleh penyelam tradisional sejak tahun 80-an, tim optimis bahwa data yang tersisa masih bisa “berbicara” lantang. Apalagi, rencana eksplorasi lanjutan di Situs Batuitam (2016) dan Karangkapal (2017) diharapkan dapat mengungkap lebih dalam tabir peradaban maritim Nusantara yang pernah menjadi pusat perhatian dunia.
Kini, tumpukan wajan dan kowi berkarat di dasar laut itu telah menjadi saksi bisu: bahwa kemakmuran timah Belitung dibangun di atas dapur-dapur sederhana para pekerjanya. (Red)

