Syair Sari Baniyan Kisah Tragis Selendang Delima Nusantara

Syair Sari Baniyan Kisah Tragis Selendang Delima Nusantara

BELITUNG, 16 Mei 2026 – Di tengah gempuran modernisasi yang melanda dunia sastra Nusantara, sebuah naskah klasik berjudul Syair Sari Baniyan (Syair Selendang Delima) karya Muhammad Jaruki terus memancarkan keindahan naratif yang tak lekang oleh waktu. Naskah yang diterbitkan oleh Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan pada 1999 ini menyuguhkan kisah pilu tentang kesetiaan, pengkhianatan, dan kuasa takdir yang membentuk kehidupan para tokoh utamanya.

Isi Syair Sari Baniyan

Syair ini bercerita tentang Dewi Syah Peri, seorang raja yang memerintah di negeri Bendan Firus. Baginda memiliki dua orang putra: Bangsagara (laki-laki) dan Sari Baniyan (perempuan). Setelah mengirim Bangsagara ke Tanjung Pura untuk belajar membaca Al-Quran pada Syeh Haji Japura, tragedi menghantam kerajaan.

Seekor burung garuda menyerang negeri Dewa Syah Peri. Dalam waktu singkat, raja gugur, rakyat dan bala tentara tewas. Hanya Bangsagara dan Sari Baniyan yang selamat. Mereka berdua hidup menyendiri di negeri yang sunyi.

Tokoh sentral syair ini adalah Sari Baniyan, seorang putri yang cantik, manja, dan penuh kasih sayang kepada kakaknya. Namun, sifatnya yang lupa pesan membawa petaka. Saat kakaknya sibuk membuat perahu untuk meninggalkan negeri yang sepi, Sari Baniyan pergi mandi ke Taman Biduri. Di sana ia melihat buah delima yang menarik hatinya.

Ia lupa pesan kakaknya: “Jangan memetik buah delima di taman karena itu buatan hantu dan setan.” Sari Baniyan memetik dan memakan buah delima itu. Malam harinya, ia bermimpi melihat bulan dan tiba-tiba hamil.

Setelah tujuh hari burung garuda pergi, kehidupan mereka berubah drastis. Bangsagara yang curiga dengan hidangan makanan yang muncul tiba-tiba di rumahnya, akhirnya mengetahui bahwa adiknyalah yang menyiapkan santapan itu. Sari Baniyan mengaku telah menghidangkan makanan dengan kemampuan gaibnya.

Pada suatu hari, Sari Baniyan mengajak kakaknya berlayar tanpa arah menggunakan perahu yang dibuat sendiri oleh Bangsagara. Dalam pelayaran yang penuh gelombang besar, Sari Baniyan melahirkan seorang anak. Namun, tak lama setelah memandikan bayinya, Sari Baniyan meninggal dunia. Bangsagara yang pilu menguburkan adiknya dan membaca Quran selama tujuh hari.

Kisah ini berlatar di beberapa negeri fiktif Melayu klasik: Bendan Firus (kerajaan Dewa Syah Peri), Tanjung Pura (tempat Bangsagara mengaji), Taman Biduri (tempat Sari Baniyan memetik delima), Gunung Angkasa (tempat pembuangan Selendang Delima), serta Benua Puri (tempat Bangsagara diangkat menjadi raja).

Setelah kematian adiknya, Bangsagara terdampar di Tanjung Pura. Di sana ia disambut oleh Syahbandar yang menceritakan bahwa negeri itu kehilangan mahkota dan dipimpin oleh tujuh putri. Berkat ujian gajah sakti, Bangsagara diangkat menjadi raja dan dinikahkan dengan Putri Bungsu.

Selendang Delima adalah sebutan untuk Sari Baniyan setelah ia meninggal dan dimasukkan ke dalam peti. Peti itu kemudian digantung di kamar Putri Bungsu. Enam kakak Putri Bungsu yang iri dan penasaran memaksa membuka peti tersebut. Dari dalam peti keluar cahaya gemilang dan seorang perempuan bernama Selendang Delima.

Alih-alih merawatnya, keenam putri itu justru menyiksa Selendang Delima: diikat, dimaki, dan dibuang ke Gunung Angkasa. Di sanalah Selendang Delima bertemu dengan Dewa Udara, putra Raja Gunung Angkasa, yang kemudian menikahinya.

Bangsagara yang mengetahui perlakuan jahat keenam iparnya itu segera mencari Selendang Delima. Setelah berkelana ke berbagai negeri, ia menemukan Sari Baniyan (Selendang Delima) di Gunung Angkasa. Pertemuan dua saudara ini penuh dengan tangisan dan pelukan. Dewa Udara dan Selendang Delima pun dinikahkan.

Syair ini ditutup dengan pesan moral yang mendalam: takdir Tuhan tidak dapat dihindari, namun kesabaran dan kasih sayang akan membawa pada kebahagiaan. Keenam putri jahat mendapat hukuman setimpal: ada yang menjadi penjaga harta, ada yang menjadi pemungut sampah, ada yang menjadi gembala anjing. (Red)


Sumber: Syair Sari Baniyan (Syair Selendang Delima), Muhammad Jaruki, Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, 1999.



SYAIR SARI BANIYAN (SYAIR SELENDANG DELIMA)

Karya Muhammad Jaruki

BAGIAN AWAL (Pembukaan)

Bismillah itu mula dikarang
Pantun syair sajaknya kurang
Kami laksana kain yang jarang
Dijual pun tidak dibeli orang.

Ada seorang raja kepada zamannya
Di Bendan Firus nama negerinya
Suka dan ramai dengan murahnya
Berjual beli sekalian rakyatnya.

Kerajaan besar tidak terperi
Baginda bernama Dewa Syah Peri
Berkasih-kasihan laki istri
Baginda duduk dengan permaisuri.

Kotanya jangan dilupakan lagi
Serta besar dengannya tinggi
Bunyi-bunyian petang dan pagi
Riuhnya tidak disangka lagi.

Berapa lamanya di atas tahta
Berputra dua duli mahkota
Eloknya tidak dapat dikata
Segala yang memandang kasih semata.

KELAHIRAN BANGSAGARA DAN SARI BANIYAN

Anaknda yang tua itu laki-laki
Eloknya tidak bertawar lagi
Laksana sekenda kembangnya lagi
Di atas mercu gunung yang tinggi.

Namanya Kunan Bangsagara
Ayahnda bunda kasih tidak terkira
Inang pengasuh duduk memelihara
Sedikit tidak diberi cidera.

Kepada anaknda Rumaja Natara
Disuruhnya mengaji ke Tanjung Pura
Kepada Tuan Syeh Haji Japura
Syeh pun kasih terlalu mesra.

Banyaklah anak raja-raja bendahara
Yang mengaji sama Bangsagara
Kasih dan sayang terlalu mesra
Berkasih-kasihan seperti saudara.

Yang perempuan Sari Baniyan
Ayahnda ibundanya terlalu kasihan
Inang pengasuh lengkap sekalian
Serta dengan alat pakaian.

Sari Baniyan terlalu manja
Ke mana berangkat dibawa sahaja
Melihat perahu bahtera raja-raja
Sampai ke taman Indrapura.

Sari Baniyan niat bestari
Sekalian pekerjaan dipelajari
Cantik manis durja berseri
Seperti teralim sukar dicari.

Elok dan manis tiada terperi
Semua memandang herankan diri
Ayahnda bunda kasih laki istri
Tidak bercari barang sehari.

Akalnya terus sangat sempurna
Sifatnya lengkap tujuh laksana
Durjanya bersih gemilang warna
Laksana bulan penuh purnama.

Pergi ke taman tempat permandian
Memetik bunga berkembang-kembangan
Di dalam taman bersuka-sukaan
Diiringkan oleh dayang sekalian.

Demikianlah konon sehari-hari
Suka ramai tepuk dan tari
Di dalam taman ratna biduri
Suka termasa tidak terperi.

BANGSAGARA MENGAJI DI TANJUNG PURA

Berhenti perkataan adinda saudara
Tersebut kisah Bangsagara
Selama mengaji di Tanjungpura
Khatamlah baginda dengannya segera.

Syeh pun kasih tiada terperi
Belum dilepaskan berangkat kembali
Tempatnya baharu duanya hari
Hendak digenapkan tiganya kali.

SERANGAN BURUNG GARUDA

Terhenti perkataan putra baginda
Tersebut kisah ayahnda bunda
Serta dengan paduka adinda
Bermainlah dengan inangnda ibunda.

Ada kepada suatunya harinya
Berdatang sembah segala menteri
Persembahkan kabar ke bawah duli
Garuda nan datang menyerang negeri.

Setelah baginda mendengarkan sembah
Warna mukanya sangat berubah
Durja berseri suka cintalah sudah
Di dalam hati sangat holabah.

Segenap desa rasalah sudah
Nyatalah sudah tidak berubah
Sekarang apa kerjaan titah
Patik sekalian adalah sudah.

Lalu tertitah raja bestari
Menyuruh membuka gedungnya besi
Berbuat kawan berkuku negari
Bangsagara disuruh ia sembunyi.

Baharu sudah kota sebelah
Garuda pun datang dekatlah sudah
Baginda berpikir dada ditabah
Anaknda kedua yang disusah.

Lalu bertitah kepada istri
Anaknda kedua kita sambuti

KEMATIAN RAJA DAN RAKYAT

Setelah genap tujuhnya hari
Bahananya tidak kedengaran lagi
Bangsagara di dalam bangsa
Lalu keluar seorang diri.

Duduk termangu seorang diri
Mengeluh mengucap tidak terperi
Mencabut keris menikam diri
Kulitnya tidak ada memberi.

Tidak menangis Bangsagara
Terkenangkan untung sangat sengsara
Rakyatnya habis diringan sara
Tinggallah aku dua bersaudara.

Di dalam hatinya tidaklah nyaman
Lalulah turun jalan ke taman
Menghiburkan hati tiada senyuman
Segenap dusun dengan halaman.

Sambil berjalan hati bercinta
Berhamburan dengan airnya mata
Kepada siapa hendak dikata
Sudahlah nasib dengan peminta.

SARI BANIYAN DALAM PETI

Adapun akan Sari Baniyan
Akan kakanda terlalu kasihan
Jam-jam durja berhamburan
Sudahlah dengan untungan tuan.

Sari Baniyan di dalam peti
Ia keluar menghidangkan nasi
Sekalian nikmat lalu diaturi
Lintang bujur semut dilari.

Setelah sudah ia menyaji
Lululah masuk ke dalamnya peti
Melihatkan laku kakanda kembali
Ia pun duduk berdiam diri.

Hari pun petang awalnya senja
Lalu pulang Bangsagara remaja
Hatinya rawan bagai dipuja
Naik istana lakunya manja.

Setelah sampai ke tepi kota
Dilihatnya nasi terhidang serta
Ia pun makan di dalam cita
Siapa gerangan empunya perinta.

Hendak makan takut celaka
Tidak kumakan lapar dan dahaga
Hatinya tidak rasa dan sangka
Tudungnya saji lalu dibuka.

Sudah berkata seorang diri
Lalu baginda santaplah nasi
Jikalau jin dan peri
Ridolah akan mati di sini.

Ayuhai nasib untungku tuan
Hatiku pilu bercampur rawan
Terkenangkan zaman yang dipertuan
Air mata jatuh berhamburan.

Celaka sungguh badan malang
Sakitnya sangat bukan kepalang
Laksana dagang di negeri orang
Duduk mengeluh tidur mengerang.

Setelah sudah tingginya hari
Lalu berjalan perginya mandi
Masuk ke taman Ratna Biduri
Bersalin kain di Balaisari.

Lalu memandang ke jembangan ratna
Bertatah dengan pohon angsana
Sakalian bunga-bunga delima sana
Berselang dengan permata warna.

Sekalian bunganya ada semata
Hatinya rawan Sari berkata
Terkenangkan zaman duli mahkota
Tunduk menyapu airnya mata.

Setelah hari hampirkan petang
Bangsagara berjalan pulang
Ke dalam istana ia memandang
Dilihatnya pula semua hidang.

Ia berkata perlahan laku
Siapakah gerangan hidangan aku
Entah setan jin berlaku
Siapa tahu berbuatnya laku.

Setan banyak yang menyerupai
Dilihatnya aku seorang diri
Datanglah engkau jin dan peri
Dia Tuhan aku tak lari.

Jikalau ada jin dan buta
Keluarlah engkau melihatkan mata
Makanlah aku jangan bercinta
Ridolah aku matinya serta.

Hidup pun apalah guna
Ayahnda bunda habis fana
Handai pun banyak datang mengerna
Melihatkan aku apalah guna.

SARI BANIYAN MENGAKU

Setelah didengar Sari Baniyan
Akan kakanda terlalu kasihan
Ia menyahut dengan perlahan
Sahayalah abang yang menghidangkan.

Setelah didengar oleh Bangsagara
Orang menyahut bunyi suara
Kiri kanan dipandang segera
Habislah akal budi bicara.

Bangsagara berkata serta berdiri
Siapakah menyahut kataku tadi
Jikalau sungguh engkau bestari
Segerelah keluar engkau kemari.

Ia bertempik hatinya berang
Segeralah keluar hai jembalang
Jikalau sungguh engkau nan garang
Marilah lawan saya seorang.

Tersenyum manis Sari Baniyan
Hatinya belas lalu kasihan
Sahaya abang Sari Baniyan
Di dalam peti bunda tinggalkan.

Dia didengar Bangsagara
Akan kata adinda saudara
Jikalau sungguh kasih dan mesra
Keluarlah adik dengannya segera.

Sukalah hati terlalu bina
Adinda nan tidak lagi terhina
Tidaklah abang ke mana-mana
Marilah abang berlayar ke Cina.

Kita nan tidak ayahnda bunda
Piatu yatim sahaja yang ada
Demi didengar kata kakanda
Segeralah keluar putri syahda.

Sambil menangis Sari Baniyan
Menyembah kakanda muda bangsawan
Dipeluik baginda adinda nan tuan
Air mata jatuh berhamburan.

Serta menangis ia berkata
Tersadarlah ayahnda bunda mahkota
Hati di dalam sangat bercinta
Keduanya berhamburan airnya mata.

RENCANA BERLAYAR

Sari Baniyan seraya berkata
Menyuruhkan kakanda keluar kota
Kakanda lihat segala harta
Barang ke mana pergilah kita.

Daripada hidup duduk sengsara
Baiklah kita pergi mengembara
Jikalau ada orang memelihara
Di situlah kita duduk sementara.

Apalah baiknya duduk di sini
Orang tiada terlalu sunyi
Barang ke mana kita nan pergi
Tawakallah kepada Allahu Robi.

Lalu menyahut Bangsagara
Kakanda tidak tahu bicara
Apalah tahu adinda berkira
Kakanda menurut dengannya segera.

Demi didengar kata kakanda
Belas kasihan di dalamnya dada
Pilu dan rawan juga yang ada
Lalulah ia mengeluarkan sabda.

Jikalau demikian abang berkata
Pergilah lihat perahunya kita
Jikalau ada baik semata-mata
Kakanda muatkan segala harta.

Bangsagara turun berjalan
Baginda pun sampai ke pangkalan
Dilihatnya perahu di atas halaman
Sekaliannya habis bertembusan.

Setelah sudah dilihatnya rata
Perahu nan masuk semata-mata
Baginda pun naik pintu kota
Adinda berseru seri berkata.

Ayuhai adikku Sari Baniyan
Sudahlah abang lihat sekalian
Singgah pun perahu baik pangkalan
Sekalian habis bertembusan.

Sebuah dikorek oleh kumbang
Sebuah dimakan olehnya kakang
Sekalian itu habislah berlubang
Segala rantainya habislah renggang.

Sebuah ditabik tikus ditimbuni
Ada yang sebuah dimakan anai-anai
Sebuah pun tiada lagi terpakai
Bicara kakanda tiada sampai.

Sari Baniyan seraya berkata
Kakanda wai janganlah bercinta
Tinggallah kayu di muka kota
Perbuat perahu tempatnya kita.

Bangsagara menyahut sabda
Apalah masyugul ayuhai adinda
Hilanglah akal di dalam dada
Tiada pernah pekerjaan yang ada.

MEMBUAT PERAHU DAN PESAN KAKAK

Sari Baniyan mendengar sabda
Ia terenyum di dalamnya dada
Pergilah buka gedung kakanda
Ambillah pertil beliung yang ada.

Inilah jadi pinangnya dia
Ambillah batu asahkan dia
Jikalau ada yang sudah sedia
Kakanda bawa tianglah dia.

Demi didengar oleh Bangsagara
Akan kata adinda saudara
Baginda pun pergi dengan segera
Segenap gedung di tengah pusara.

Gedung dibuka olehnya baginda
Dilihat itu semuanya ada
Baginda berpikir di dalamnya dada
Mengingatkan pesan paduka adinda.

Setelah dilihat semuanya ada
Lalu pulang menyeru adinda
Sambil berdiri baginda bersabda
Abang nan tidak mengenalnya ada.

Sari Baniyan muda yang puta
Tersenyum mendengar kakanda berkata
Ia menyahut darinya kota
Tidaklah abang tahukan warta.

Pergilah ambil olehnya kakanda
Jikalau boleh abangku tunda
Baliung dan pahat semuanya ada
Bawa kemari kepada adinda.

Setelah mendengar adinda berkata
Lalu berbalik keluar kota
Sekalian itu dibawanya serta
Baliung dan pahat ada semata.

Setelah sudah ia diambilnya
Ia pun pulang ke atasnya
Serta berseru memanggil adiknya
Serta sampai diunjukkannya.

Bangsagara berkata serta lalah
Adinda pakan lagi faidah
Baliung pahat buku darah
Tinggal garuda datang mengalah.

Adinda tersenyum di dalamnya dada
Mendengar sabda paduka kakanda
Bukannya darah mau garuda
Inilah karena namanya kakanda.

Lalu berkata Bangsagara peraya
Bagaimana pula menjamkan dia
Sari Baniyan tertawalah ia
Ambillah batu asahkan dia.

Mendengar kata adindanya itu
Bangsagara segera mengambil batu
Lalu diangkat ke mukanya pintu
Diasah sekalian baginda itu.

Setelah sudah diasahib
Lalu ia turun pergi
Memegang baliung sebelah kiri
Menebang kayu turus negeri.

Serta sudah ia ditebangnya
Lalu dibawa ditaruhkannya
Ia pun kembali ke atasnya
Memberi tahu kepada adiknya.

Bangsagara lalu bersabda
Sudahlah abang tambatan adinda
Sekalian itu sudahlah sedia
Hendak membangun tidak berdaya.

Sari Baniyan seraya berkata
Serta berpikir di dalamnya cita
Abang nan tidak tahu semata
Baiklah kubuarkan peta.

Sari Baniyan muda yang piatu
Marilah sahaya buatkan contoh
Pergilah abang bawa ke situ
Bangun seperti contohnya itu.

Setelah sudah diguntingnya
Juga dengan tali tembirangnya
Lengkaplah sudah seluruh dandannya
Kepada kakanda lalu diunjukkannya.

PESAN TENTANG BUAH DELIMA

Bangsagara lalu berpesan
Kepada kakanda lalu dikatakan
Jikalau ke taman bermain tuan
Buah delima jangan dimakan.

Siapakah tahu hantu dan setan
Negeri nan sama dengannya hutan
Jin dan peri banyak berebutan
Adikku jangan lupakan pesan.

Sudah berpesan kepada saudara
Baginda pun turun dengan segera
Sambil berjalan berkira-kira
Ia pun sampai kepadanya bahtera.

Dewa Laksana berbuat segera
Tinggal pulang Bangsagara
Tiada kelihatan nyata ketara
Karena dia bangsa indera.

SARI BANIYAN MEMETIK BUAH DELIMA

Adapun kepada suatu hari
Sari Baniyan perginya mandi
Masuk ke taman Ratna Biduri
Bersalin kain di Balai Sari.

Ia memandang ke Jembangan Ratna
Terlalulah cerah kembangnya Cina
Cempaka berapit dengan laksana
Kuntumnya kembang berbagai warna.

Sari Baniyan yang bijaksana
Lalu menentang kuntum mangerna
Dia berpandang buah delima
Lupakan pesan kakanda nan lama.

Terlalu gairah di dalamnya cita
Terlalai dengan memandang mata
Lalu beradu ke jembangan mata
Sekaliannya mangerna dipandang rata.

Lalu diambil Sari Baniyan
Buah delima cempaka sekalian
Ke dalam istana ia nan makan
Baharulah ia ingatkan pesan.

Kulitnya dibuang kepada dapur
Di dalam hatinya bagaikan hancur
Di dalam dada sepertikan hancur
Lalu dimakan sirih sekapur.

Hari pun malam berhenti kerja
Lalu kembali Bangsagara Raja.
Sampai ke istana dengan segera
Santaplah nasi dengan saudara.

Sudah santap kedua saudara
Karena lelahnya tidak terkira
Pandailah sungguh akal bicara
Kapal dibuat dengan kira-kira.

Ia pun beradu di atas tilam
Lalu bermimpi memandang bulan
Ia melihatnya berhati rawan
Tempatnya dari celahnya awan.

Tengah naik bulan serta tuan
Ditangkap beroleh berkawan-kawan
Dengan berkat tolongan Tuahn
Ditodong oleh suatu awan.

Ia terkejut bangun berpikir
Tahulah ia akan tabir
Sudahlah untung dengan takdir
Kodrat irodat Tuhan yang kabir.

Dirinya hamil tahulah ia
Hilanglah budi lenyap bicara.
Tolong dan sendi bergaya
Sudahlah nasib apakan daya.

Tinggal pergi mandi ke sana
Adalah menjelma Dewa Laksana
Menjadikan dirinya delima rencana
Di dalam taman Puspa Ratna.

Seketika berpikir sianglah hari
Sari Baniyan pergilah mandi
Lalu kembali menghidangkan nasi
Sekalian nikmat diaturi.

Hari pun sudah senja antara
Lalu kembali Bangsagara
Mandi ke sungai dengan segera
Santaplah dengan dua saudara.

Sudah santap Raja Bestari
Santap sirih kinang diraksi
Ia berkata berpulu hati
Kakanda wai buatkan suatu peti.

Lalu Bangsagara menyahut pesan
Baiklah adik kakanda buatkan
Perahu pun hampir sudah sekalian
Tinggal sedikit dandan haluan.

Setelah sudah berkata-kata
Baginda berjalan di pintu kota
Bangsagara raja yang puta
Membuatkan peti adinda mahkota.

Seketika duduk petanglah hari
Peti pun sudah diperbuati
Segeralah kembali raja yang sakti
Kepada adinda deberikanlah peti.

Sari Baniyan terlalu suka
Disambut peri lalu dibuka
Dibuatkan oleh Sri Paduka
Berseri-seri warnanya muka.

Sari Baniyan lalu berkata
Serta berhamburan airnya mata
Sudahlah abang perahunya kita
Baiklah mulakan segara harta.

Jikalau tidak bersama sahaya
Pergilah abang sebarang dia
Negeri pun tidak seorang manusia
Jikalau datang mara dan bahaya.

Janganlah abang diam di sini
Karena negeri terlalu sunyi
Barang ke mana abang nan pergi
Petiku jangan abang tinggali.

PERAHU DAN PERSIAPAN BERLAYAR

Demi didengar kata adinda
Berdebar lenyap di dalam dada
Demikian pula kata adinda
Tidaklah Tuan bersama kakanda.

Sari Baniyan menyahut pesan
Tiada boleh sahaya katakan
Jikalau datang kehendaknya Tuhan
Siapa dapat yang melarangkan.

Setelah sudah kabar dan sabda
Lalulah santap dengan adinda
Sudah santap baring yang ada
Lalulah turun paduka kakanda.

Hari pun sudah hampirkan petang
Bangsagara berjalanlah pulang
Tersadarlah adinda tinggal seorang
Baik dan jahat tiada kurang.

Setelah hari sianglah pasti
Sari Baniyan bermasak nasi
Sudah masuk lalu disaji
Lantang bujur semua berlari.

Sekalian nikmat setelah diaturi
Santap serta kakanda Bestari
Sungguh pun santap rasanya hati
Terlalu gundah rasanya hati.

Sudah santap raja yang puta
Turun berjalan ke pintunya kota
Hati di dalam sangatlah bercinta
Tidak lagi dapat dikata.

Setelah sampai Bangsagara
Baginda berdiri di tengah pusara
Hendak mennyurungkan perahu bahtera
Tidak keluar dengan kira-kira.

Lalu berpikir Bangsagara
Aku nan dimarahi saudara
Baik kutanyakan dengan segera
Jikalau dia adalah bicara.

Sudah berpikir berkira-kira
Lalu kembali Bangsagara
Hari pun hampir sudah ketara
Naik istana mendapatkan saudara.

Adinda berkata seraya bertalukan
Apakah juga abang berjakan
Makanya tidak datang makan
Lapar dan dahaga abang tahankan.

Marilah makan kakanda nan tuan
Lalulah santap raja bangsawan
Sudahlah santap muda hartawan
Santap sirih di dalam puan.

Masuk beradu muda terpuji
Di atas tilam tikar bersuji
Perbuatan orang di Benua Hindi
Katil bertatah intan seri dadi.

Esok pagi lepasnya makan
Bangsagara turun berjalan
Mengambil kayu membuat puteran
Supaya lepas diturunkan.

Baginda putra seorang diri
Bahtera nan tiada gerak sekali
Puteran patah putus tali
Bahtera nan tiada gerak sekali.

Lalu berkata Sari Baniyan
Sedang kakanda terlalu kasihan
Jangan demikian abang kerjakan
Ayahnda bunda empunya sekalian.

Segeralah abang pergi hampiri
Hujan haluan sawan linggai
Dibakar kemenyan dihasili
Inilah kabu turus negeri.

Demi mendengar kata adinda
Segeralah bangun raja yang syahda
Hendak melangir bahtera baginda
Supaya kerja jangan berida.

Serta datang terlalu heran
Dilihat bahtera sudah di pangkalan
Kayu dan air perbekalan
Meriam setangkar lengkap sekalian.

Segera berbalik baginda kembali
Ke dalam istana pergi mencari
Pakaian bahtera lengkapkan sekali
Tinggal bertulis sidi awali.

Bahtera pun sudah dikeluarkan
Lengkaplah dengan alat pakaian
Semuanya itu hadirlah sekalian
Ratna Laila yang mengaturkan.

Setelah sudah alat terkena
Bangsagara kembali ke istana
Mendapatkan adinda yang bijaksana
Berlayar kira barang di mana.

Lalu santap raja bangsawan
Sudahlah santap turun berjalan
Serta bermohon adinda tuan
Melihat perahu di tengah pangkalan.

Baginda berjalan hati bercinta
Lalulah sampai di pintu kota
Dewa Laksana adalah serta
Tiadalah kelihatan kepada mata.

Setengah hari hampirlah petang
Bangsagara berjalanlah pulang
Naik istana seraya memandang
Tanglung kendil pada terpasang.

Berdebar hati Bangsagara
Melihat laku tingkah saudara
Mengucap mengeluh adalah sengsara
Jikalau adikku menjadi bicara.

KELAHIRAN DAN KEMATIAN SARI BANIYAN

Lalu Bangsagara berjalan pergi
Sari Baniyan muka berseri
Perutnya sakitnya lalu ngeri
Lalu berani seorang diri.

Sudah berputra lalu dimandikannya
Serta dibedak dilangirnya
Lalu dibedong disusukannya
Dipeluk dicium dan diratapnya.

Berjenis kain diselimutkan
Lengkaplah dengan alat pakaian
Semua sudah lengkap sekalian
Bunda melihat terlalu kasihan.

Sari Baniyan hatinya rawan
Memandang paras putra bangsawan
Kuru semangat anakku tuan
Di dalam peti bunda taruhkan.

Siapa berlayar anaknda berpesan
Jikalau dapat anakku dapatkan
Peti ini jangan dilupakan
Inilah bunda inilah tuan.

Tinggallah tuan tinggallah nyawa
Tinggallah suntingan utama jiwa
Tiadalah ibu akan membawa
Sudahlah nasib jadi kecewa.

Sari Baniyan berhati iba
Dipoluk dicium anaknda diriba
Ruh semangat sudahlah hampa
Kodrat Tuhan tidak mengapa.

Sudah ditaruh anaknda nan tadi
Ke jembangan ratna pergilah mandi
Nasi kakanda sedia tersaji
Rusak binasa rasanya hati.

Nasi kakanda sedia tersaji
Rusak binasa rasanya hati
Berair langir putri yang sakti
Bersalin kain di Balai Sari.

Setelah sudah putri nan mandi
Bersalin kain di Balai Sari
Lalu kembali menghiasi diri
Duduklah dekat di Kacapuri.

Sari Baniyan muda bestari
Alat istana lalu diaturi.
Tirai bersama tabir permata
Alat peraduan alasnya rata
Dihiasi pula suatu kata
Alat perintah indah semata.

Di atas kata tatah biduri
Sekalian perhiasan dibaturi
Sari Baniyan durja berseri
Rebah beradu lenyap sekali.

Bangsagara lalu berbalik
Datang istana ia pun naik
Baginda memandang ke dalam bilik
Disangkanya adinda lagi bertilik.

Seketika duduk Bangsagara
Disangkanya adinda lagi bicara
Baik kudapatkan dengan segera
Karena aku yang empunya saudara.

Hendak kudapatkan serba salah
Takut pula adikku marah
Pekerjaan dunia bukannya mudah
Sedikit banyak yang salah.

Termangu berpikir duli baginda
Mamandang laku perintah saudara
Hatiya gundah tidak terkira
Terkenangkan nasib sangat sengsara.

Duduk terpekur sehari-hari
Menanti adinda datang kemari
Tidaklah tampak durja berseri
Baginda berseru seraya berdiri.

Ayuhai adinda muda bestari
Adinda apa kerjanya diri
Tidaklah makan adinda mari
Abang nan lapar tiada terperi.

Baginda berseru memandang serta
Menantikan adinda menyahut serta
Suara adinda tidaklah nyata
Sedikitlah sedap di dalamnya cita.

Baginda pun masuk ke dalam bilik
Ia berseru marilah adik
Tidur apalah tidak berbalik
Kakanda sangka tuan bertilik.

Lalu disingkap tirai dewangka
Serta dirasai dada adinda
Nyawa dan napas sudah tiada
Baginda menangis menamparnya dada.

Meratap menangis dipeluk lagi
Diambilnya air lalu dimandi
Setelah sudah adinda disuci
Lalu dikafan dengan seperti.

Sudah di talam adinda nan tuan
Hatinya pilu bercampur rawan
Air mata jatuh berhamburan
Cintakan adinda muda bangsawan.

Duduk menangis sehari-hari
Mukanya muram tiada berseri
Ayuhai adikku muda bestari
Hilang ke mana abang nan cari.

Duduk menangis Bangsagara
Terkenangkan adinda paduka saudara
Hendak pun berlayar dengan segera
Hilanglah budi lenyap bicara.

Ayuhai adinda Sari Baniyan
Habislah layu kuntum di taman
Semuanya itu dengan peramalan
Karena tidak memandang tuan.

Ayuhai adikku buahnya hati
Tidaklah sampai niat di hati
Jikalau kutahu demikian pekerti
Barang ke mana kubawa pergi.

Bangunlah adikku saudara abang
Hari pun sudah hampirkan petang
Teja membaris di langit melintang
Bunga pun layu disari kumbang.

Ayuhai adikku Sari Baniyan
Bangunlah makan saudara tuan
Kohar emas tumbuh cendawan
Pinggan bertatah kalbunya rawan.

Mangkuk bertulis haluskan rata
Piring berjantara rindu semata
Pinggan emas katil bergenta
Sekalian itu habislah bercinta.

Saudaraku tuan muda yang syahda
Negeri pun alah oleh garuda
Di dalam cinta hati kakanda
Tiada lupakannya adinda.

Sudahlah tidak beribu bapa
Ditinggalkan kakanda dengan siapa
Di dalam dada sudahlah hampa
Kehendak Tuhan tidak menyapa.

Setelah sudah ratap dan timang
Berbagai jenis sudah dikarang
Badan yang malang tiada tertimbang
Siang dan malam berhati bimbang.

Banyak perkara mudah dan garang
Berjenis ragam rampai disilang
Badan laksana mabuk kepayang
Tubuhnya layu bagai dilayang.

Baginda menangis sehari-hari
Rampai selok tidak terperi
Mengambil Quran pergi mengaji
Dikubur adinda tujuh hari.

Tiga kali taman dengan seperti
Baginda pun hendak berlayar pergi
Baginda menangis tiada berhenti
Turun ke bahtera memikul peti.

PELAYARAN BANGSAGARA

Setelah sampai ke dalamnya bahtera
Sauh terbongkar dengan segera
Lalu bertiup angin utara
Bahtera pun laju tiada terkira.

Tiga hari tiga malam
Gelombangnya besar tdk
Bahananya gemuruh halaman
Timbarang berdengung kemudi ragam.

Di dalam hati baginda berkata
Aku nan tidak sayangkan harta
Memikul peti semata-nata
Bergerak sedikit kubawa serta.

Ayuhai adikku Sari Baniyan
Inilah rupanya abang tuan
Terapung-apung di tengah
Langit dan air yang lihatan.

Tujuh hari tujuhnya dalam
Gelombang besar timbul
Berkat ditolong kholik
Bahtera pun masuk ke teluk dalam.

Layar tergulung sawah terlabul
Ombak dan harsi baru
Kelihatan konon dari
Seperti laku orang berpelu.

Bangsagara naik membuat
Di alas balai tempat berhenti
Rasyana takdir robal
Syahbunda turun mendapat.

BANGSAGARA TIBA DI TANJUNG PURA

Hendak ke mana nakhoda ini
Anak perahu ke manakah pergi
Maka selaku sabdanya ini
Apa sebabnya terdapat ke sini.

Lalu menyahut raja yang sakti
Seraya berpikir di dalam hati
Dipukul topan tidak berhenti
Sekalian awan habislah mati.

Lalu berkata Bangsagara
Dengarkan tuan ayuhai saudara
Diserang musuh di Tanjungpura
Hilang akal lenyap bicara.

Setelah sudah kabar berita
Dibawanya turun segala harta
Orang tercengang tiada berkata
Semuanya heran memandang mata.

Syahbandar berpikir di dalam hati
Anak raja besar nyatalah pasti
Bukan berniaga datang berhenti
Membawa alat kerajaan yang jati.

Syahbandar dijamu Bangsagara
Serta baginda lalu bersuara
Makanlah nikmat segala saudara
Sekalian pun makan terlalu mesra.

Setelah sudah memakan nikmat
Lalu membaca doa selamat
Minta doa sekalian umat
Kepada Tuhan mohon rahmat.

Lalu berkata syahbandar berida
Apa gerangan namanya nakhoda
Berilah tahu kepadanya kakanda
Supaya tahu namanya adinda.

Tersenyum madah raja putra
Namanya hamba Bangsagara
Niat tak hendak ke Tanjungpura
Jikalau boleh hendaklah segera.

Bangsagara lalu berkata
Berapa juga saudaraku pinta
Barang berapa berilah nyata
Syahbandar menyahut memandang mata.

Syahbandar berkata bersuka hati
Usahlah nakhoda juga lagi
Biarlah sebuah bahtera kemari
Diam di sini nakhoda berhenti.

Demi baginda mendengarkan madah
Diam berpikir tidak tengadah
Baginda menyahut hatinya gundah
Suara manis mengeluarkan titah.

Manalah baik kepada saudara
Sahaya nan tidak tahu bicara
Dengan perlahan hamba berkira
Niat tak hendak berlayar segera.

Setelah sudah berperi-peri
Syahbandar lalu mohon kembali
Tinggallah duduk raja bestari
Di atas balai memegang peti.

TANJUNG PURA KEHILANGAN MAHKOTA

Dengarkan kisah suatu cerita
Negeri nan tidak mahkota indera
Meninggalkan putra tujuh saudara
Parasnya elok tidak terkira.

Menteri Hulubalang Sidantara
Segala rakyat besar negara
Mencari akal berura-ura
Periku jangan bercinta wara.

Sekalian berhimpun di balai kaca
Bicara hendak mencari raja
Sungguh pun baginda putranya ada
Semua perempuan belaka yang ada.

Lalu berkata mengakunya bumi
Maukah menurut bicara kami
Kita lepaskan gajah yang sakti
Dari belakang kita iringi.

Barang siapa sekaliannya mari
Kita nan pergi dengan bersunyi
Barangliah iyang ditujui
Ialah asal mahkota negeri.

Setelah sudah putus bicara
Berhimpunlah rakyat siap pesara
Segala sungai Teluk Betara
Penuh tempat tidak terkira.

Beribu-ribu gajah yang serta
Gajah yang sakti dikenakan rangka
Alat kerajaan diatur belaka
Lalu berjalan sekalian mereka.

Diiringkan oleh menteri punggawa
Serta rakyat tua dan muda
Dandi dan murai ada semua
Kupuk cercap semua dibawa.

Berbunyilah gendang dengan seruni
Gajah berjalan menuju balai
Seketika berjalan lalulah sampai
Menjunjung duli dengan belalai

Gajah perkenan terlalu usoli
Serta bertakluk menjunjung duli
Berhimpun menderita bahana negeri
Mengatakan daulat sultan terjali.

Disambut gajah raja yang sakti
Ke dalam rangka lalu diletaki
Lalu dibawa berjalan kembali
Diiringkan oleh seisi negeri.

Terlalu suka seisi negeri
Beroleh raja usul bestari
Setelah sampai ke Balairung Sari
Semayam di singgasana tatah berduri.

Segala rakyat habis berkampung
Penuh sesak pekan dan lorong
Terpalu tobat segendar gong
Bahana merdu tiada tertanggung.

Serta mendengar bahananya nubat
Berhimpun tentara laut dan darat
Datang menyembah duli hadirat
Sekalian itu mengatakan daulat.

Bertambahlah daulat raja bersifat
Lalu keluar menteri keempat
Mengatur hidangan bertingkat-tingkat
Ada yang jauh ada yang dekat.

Sekalian makan duduk berhikmat
Seketika keluar hidangan nikmat
Kadi membaca doa selamat
Dikaruniai Allah rahim dan rahmat.

Lalu berdiri bintara Laila
Memandang pedang tunggang sila
Seorang di kiri di kanan baginda
Sikapnya seperti gajah yang gila.

Mufakat sekalian hulubalang menteri
Dikawinkan dengan tujuh putri
Diarak mangkubumi sekalian menteri
Tujuh kali berkeliling negeri.

Di dalam istri yang ketujuh
Putri Bungsu kasihnya sungguh
Di sana tempat baginda bertunggu
Di hadap siti dayang berpuluh.

PERNIKAHAN BANGSAGARA DENGAN PUTRI BUNGSU

Lalu menyahut permaisuri
Pati nan apa kakanda isi
Paduka baginda berdiamlah diri
Lalu beradu laki istri.

Setelah siang sudahlah hari
Baginda bangun perginya mandi
Kembali melangkah di balai sari
Persantapan diangkat ratnaa wali.

Laki istri sudahlah santap
Baginda diangkat kembali menghadap
Menteri hulubalang hadir menghadap
Alat kerajaan semuanya lengkap.

Tinggal baginda berangkat ke dalam
Lalulah datang bestari keenam
Naik melangkah dekat pualam
Sambil memandang ia ke dalam.

Dilihatnya tergantung di sini
Ia bertanya Putri Bungsu
Apakah isi itu peti
Digantung di atas adinda beradu.

Putri Bungsu menyahut kata
Tidak tahu kakanda nan beta
Di dalamnya itu hendak dinyata
Di atas sekat kepadanya beta.

Yang tuanya berkata bermuram muka
Pati tua ambil kemari juwita
Apakah gerangan di dalamnya sangka
Makanya tidak diberi buka.

Putri Bungsu menjawab kata
Tiadalah berani mengambil beta
Jikalau dimurkai Seri Mahkota
Nyatalah mendengar bagaimana nista.

Setelah sudah berkata-kata
Lalu kembali keenamnya serta
Diiringkan dayang muda semata
Naiklah ke atas sekalian rata.

Putri keenam salah tempatnya
Bagaikan belah rasa hatinya
Menaruh dendam dalam hatinya
Sedikit tidak dilupakannya.

KEENAM PUTRI INGIN MEMBUKA PETI

Adalah selang tiganya hari
Datanglah pula keenam putri
Naik melangkah di balai sari
Seraya menjilang kepadanya peti.

Putri Bungsu lalu berkata
Marilah kakanda melangkah dikata
Apakah maksud kakanda nan nyata
Kabarkan jua kepadanya beta.

Putri keenam seraya tertawa
Adalah hajat sedikit adinda
Jikalau mau adikku bawa
Boleh kakanda nyatakan semua.

Putri Bungsu menyahut kata
Apalah kakanda hendak dinyata
Berilah tahu kepadanya beta
Jikalau yang benar adinda serta.

Lalu berkata keenam putri
Marilah kita membukanya peti
Entahkah gundik entahkan istri
Maka ditaruhnya di dalam peti.

Demi didengar Putri Bungsu
Akan perkataan keenamnya itu
Ia menyahut suaranya merdu
Jangan dibuka petinya itu.

Berkata putri keenam sekali
Turutlah kata kakanda nan ini
Lamun tidak empunya bini
Masa kan tuan itu dipesani.

Putri Bungsu berdiam diri
Tidak mau menyahut lagi
Mendengar kata terlalu benci
Lululah turun perginya mandi.

BANGSAGARA PERGI BERBURU

Adalah kepada suatunya hari
Berdatang sembah segala menteri
Persembahkan kabar ke bawah duli
Perburuan banyak di hutan ini.

Baginda mendengar sembahnya menteri
Suka cita tidak terperi
Esok hari kita nan pergi
Anjing perburuan bawa sekali.

Berangkat baginga raja yang hona
Langsung masuk ke dalam istana
Bertitah kepada dang Laila Ratna
Adinda itu pergi ke mana.

Berdatang sembah dang Biduri
Paduka adinda perginya mandi
Ke dalam taman Puspa Sari
Diiringkan dayang akan cahari.

Baginda mendengar sembahnya dayang
Baginda melangkah dikata masing-masing
Dihadap Siti muda terbilang
Laksana bulan dipagar bintang.

Setelah hari hampirkan petang
Putri ketujuh berjalan pulang
Diiringkan Siti wajah gemilang
Langsung melangkah muda cemerlang.

Baginda bertanya kepada istri
Adinda ke mana perginya didi
Lalu menyahut permaisuri
Sahaya nan abang perginya mandi.

Bersabda pula raja bangsawan
Pada permai adinda nan tuan
Esok kakanda ke hutan berjalan
Pergi mencari perburuan.

Demi putri mendengarkan kata
Menyahut dengan bersuka cita
Lamun berangkat duli nnahkota
Anak pelanduk carikan beta.

Telah didengar raja bestratri
Mukanya manis amat berseri
Banyaklah tuan abang ran
Cakanda pergi pulang sehari.

Setelah sudah baginda berjamu
Laki istri lalu beradu
Ditunggu Siti Mami Perabu
Duduklah ia bersuku-suku.

BANGSAGARA BERMIMPI

Setelah waktu dini hari mimpik
Baginda beradu lalu berapik
Mimpik nan apa gerangan tabir
Untung nan tidak boleh dimungkir
Dengan kodrat Tuhan yang kabir.

Baginda terkejut lalu berpikir
Mimpik nan apa gerangan tabir
Untung nan tidak boleh dimungkir
Dengan kodrat Tuhan yang kabir.

Hati berdebar ruh berseri
Dengan segara membangunak istri
Adinda wahai sadarlah diri
Mimpik nan apa tabir dan peri

Lalulah sadar Putri Bungsu
Lalu bangun dari beradu
Mengapakah abang lalu begitu
Seperti orang menaruh rindu.

Baginda bersabda kepada istri
Abang bermimpi sangat nan tadi
Puncuk mahligai jatuh melangsi
Jatuh menimpa keenam putri.

Lalu berkata Putri Bungsu
Entahlah abang beta tak tahu
Apa gerangan tabirnya itu
Maka kakanda bermimpi begitu

Setelah sudah baginda berkata
Pajar menyingsih hampir nyata
Baginda pun bangun lalu bertahta
Menteri hulubalang hadir semata.

Baginda bersedia wajah berseri
Tinggallah tuan permaisuri
Lalu berjalan bangkit berdiri
Diiringkan oleh hulubalang menteri.

Berangkat baginda usul bangsawan
Diiringkan oleh hulubalang pahlawan
Serta dengan segala bunyi-bunyian
Masuk ke hutan mencari perburuan.

Seketika berangkat raja bestari
Lalu datanglah keenam putri
Lalu naik ke istana puri
Mukanya manis berseri-seri.

KEENAM PUTRI DATANG KEMBALI

Putri Bungsu lalu berkata
Silakan kakanda melangkah dikata
Putri keenam menyahut kata
Baiklah adinda Siti beta.

Tersenyum manis Putri Bungsu
Tahulah ia kehendak itu
Lalu bangkit duduk di situ
Sambil melangkah dikata beladu.

Lalu bermadah keenam putri
Adinda wahai, mari kita mandi
Masuk ke taman Pagar Kesturi
Memetik bunga seganda puri.

Setelah sudah putri berbika
Ketujuhnya itu pergi belaka
Diiringkan dayang muda dan tua
Sepanjang jalan guaru jenaka.

Putri ketujuh sampai ke istana
Bersalin kain di balai Kencana
Turun bersiram di balai Ratna
Sambil memungut bunga Cina.

Setelah sudah mandi sekalian
Lululah naik bersalin pakaian
Diiringkan Siti yang cumbuan
Memetik bunga melur dan pekan.

Sekalian dayang terlalu suka
Bersenda gurau dengan jenaka
Hari pun tinggi lepas ketika
Putri ketujuh pulang belaka.

Diiringkan Siti anak perdana
Ketujuhnya putri naik ke istana
Langsung melangkah di Petarana
Santap sirih di dalam cerana.

Lalu bermadah keenamnya putri
Marilah kita membuka peti
Menghadap adikku tiada memberi
Turutlah kata kakanda nan ini.

PUTRI BUNGSU MENOLAK MEMBUKA PETI

Putri Bungsu menyahut kata
Bukannya tiada mau beserta
Karena dipesan oleh mahkota
Seorang tidak diberi buka.

Sahaya berkata dengannya pasti
Jikalau dimurkai raja sakti
Diketahuinya kita membuka peti
Alangkah jahat laku pekerti.

Sungguh demikian hamba berkata
Mana kehendak di dalam cita
Jikalau dengan kami duli mahkota
Hamba jangan dibawa serta.

Jikalau kakanda hendak membuka
Berjanjilah dahulu kepada beta
Jikalau ada orangnya nyata
Kakanda jangan palu dan nista.

Putri keenam menjawab kata
Adinda jangan sangat bercinta
Jikalau ada orang nyata
Masakan kakanda palu dan nista.

Sungguh pun ia kata begitu
Manisnya dihadapan Putri Bungsu
Di dalam hatinya bagai digaru
Bencinya memandang pantinya itu.

Sinarlah cahaya Selendang Delima
Seperti bulan penuh purnama
Cantik majelis tiadalah sama
Laksana bidadari mata utama.

Putri keenam menamparnya dada
Buanglah tuan kata kakanda
Dibuka tidak diberi kakanda
Inilah rupanya istri muda.

Putri Bungsu menyahut kata
Tiadalah salah di hati beta
Entah pun putra kepada mahkota
Jangan demikian kakanda berkata.

Lalu berkata keenamnya putri
Baiklah kita bunuh sekali
Apakah gunanya kita mencari
Sekutuk sundal bayar keladi.

Lalu bermadah Putri Bungsu
Kakanda wahai jangan buat begitu
Apakah tahunya sebesar itu
Belas kasihan rasa hatiku.

Jikalau kakanda tiada mendengar
Kata adinda terlalu benar
Diketahui baginda berbuat onar
Kemudian kelak menjadi nanar.

Jikalau kakanda tak mau sabar
Datang baginda itu berkabar
Datang baginda jikalau sadar
Siapa tahu menjadi ingar.

Karena kita anak perempuan
Ingat-ingat barang sekelakuan
Baik sedikit banyak bantahan
Setan mengadu tiada ketahuan.

SELENDANG DELIMA DIBAWA PERGI

Tertawa bermadah keenam putri
Biarlah kakanda bawa kembali
Jikalau datang baginda kemari
Adinda jangan dikabar sekali.

Putri Bungsu mendengar saja
Ia menyahut bermuram durja
Hendaklah ia kakanda perm anja
Jangan diperbuat sebarang kerja.

Putri keenam menyahut kata
Biarlah kakanda bawanya serta
Niat nan hendak di bawah mahkota
Supaya mesra di hati beta.

Seraya bermadah Putri Bungsu
Jikalau sungguh kata begitu
Selamat sempurna menjadi ratu
Berkat memeliharakan anak piatu.

Putri Bungsu sangat bercinta
Seraya berhambur airnya mata
Jikalau kakanda membawanya serta
Jangan kakanda palu dan nista.

Setelah sudah putri berpesan
Selendang Delima diberinya makan
Dipeluk dicium dimandikan
Kasihan tak dapat diperikan.

Setelah sudah ia dimandikan
Diambil nikmat diberinya makan
Selendang menyahut lakunya sopan
Syukurlah patik menari yapan.

Setelah sudah berkata-kata
Lalu kembali sekalian rata
Selendang Delima dibawa serta
Sekalian pakaian dirampas serta.

Sampailah ia ke istananya
Ditumbukkannya harang dilumurkannya
Dibuat seperti laku madunya
Dijemurkan padi di suatu pagarnya.

SELENDANG DELIMA DISIKSA

Adapun akan Selandang Delimanya
Menaruh dendam di dalam hatinya
Ia pun duduk berdiam dirinya
Ia pun tidak diburunya.

Putri keenam sangat marahnya
Segeralah tuan dari istananya
Serta datang diterjangkannya
Beberapa pula maki nistanya.

Lalu berkata putri yang tengah
Tidakkah engkau mau menyembah
Selendang Delima tunduk tengadah
Tiada menyahut barang sepatah.

Setelah sudah dipalu-palunya
Ia pun pergi ke istananya
Duduk di muka pintu istana
Selendang Delima yang di hatinya.

Demi dilihat Selendang Delima
Putri keenam kembali bersama
Ia menyanyi menghiburkan nama
Mana yang mendengar kasihan sama.

PANTUN SELENDANG DELIMA

Lalu berpantun Selandang rencana
Suaranya merdu gemilang warna
Wajah berseri terlalu bina
Laksana bulan penuh pernama.

Terbang serindit dua sekawan
Mati di kuda seekor paksi
Terlalu sakit hambamu tuan
Laksana kembang daku lihati.

Mati di kuda seekor paksi
Terbang halang di atas kota
Laksana kembang daku lihati
Sakitnya sampai ke anggota.

Terbang halang darinya kota
Berasa padi di dalam pantak
Sakitnya sampai ke anggota
Tingginya hati bagai disantap.

Berasa padi di dalam pituk
Batunyaa belah di dalam perahu
Tingginya hati bagai disantap
Melainkan Allah jua yang tahu.

Batu belah di dalam perahu
Tanglung hanyut dari hulu
Melainkan Allah jua yang tahu
Tanggung sakit tiada bermalu.

Tanglung hanyut dari hulu
Lantai balai dibelah-belah
Menanggung sakit tidaklah malu
Sudahlah dengan takdir Allah.

Lantai balai dibelah-belah
Dibuat dinding raja beradu
Sudahlah dengan takdir Allah
Anak dibaut seperti madu.

Dibuat dendang raja beradu
Dari Gersik ke Surabaya
Anak dibuat seperti madu
Sudahlah nasib apakan daya.

Dari Gersik ke Surabaya
Tundung saji perindak badan
Sudahlah nasib apakah daya
Sudahlah nasib kehendak Tuhan.

Tudung saji perindak badan
Fakir di mana kami serukan
Sudahlah janji kehendak Tuhan
Kepada siapa saya sesalkan.


SELENDANG DELIMA DIUSIR

Serta dilihatnya keenam putri
Ayam pun banyak makan padi
Selendang Delima duduk menyatai
Ayam pun tidak ditaburi.

Putri keenam sangat marahnya
Segeralah ia turun sekaliannya
Serta datang diterjangkannya
Serta pula gujuh tamparnya.

Lalu berkata seorang Siti
Baik segera menyembah putri
Supaya segera dapat ampuni
Terlalu kasihan di hati kami.

Putri keenam terlalulah mintanya
Selendang Delima menjawab kata
Di batang istana diikat serta
Palu dan gujuh maki nista.

Selendang Delima menangis berseru
Suaranya halus terlalu merdu
Seperti bunyi buluh perindu
Orang mendengar belas dan pilu.

Seru sarat dengan tangisnya
Jikalau ada ampun dan karunia
Bolehlah patik jangan lena
Selamat tuanku dengan sempurna.

Dengarkan tuan sekalian handai
Bukannya sahaya berbuat pandai
Zaman ini banyak berbagai
Menikam sudah terjual gadai.


BANGSAGARA PULANG BERBURU

Tersebut perkataan baginda berburu
Seekor binatang tiada bertemu
Baginda heran duduk termangu
Rasanya hati bagaikan jemu.

Baginda bertitah kepada menteri
Mari kita sekalian kembali
Seekor binatang tiada kemari
Apakah gerangan laku dan peri.

Setelah sudah baginda berkata
Berjalan baginda menuju kota
Diiringkan rakyat gegap gempita
Langsung melangkah di atas kata.

Putri Bungsu berkata tertawa
Mana perburuan kakanda bawa
Tersenyum baginda manis sebahwa
Tiadalah dapat adinda nyawa.

Pikat dan lalu tiada ditentang
Seekor pun tidak ada binatang
Jangankan rusa pelanduk kijang
Allah sahaja rasanya abang.

Santapan diangkat Siti Bangsawan
Diletakkan di hadapan Raja Darmawan
Lalulah santap baginda tuan
Santap sirih di dalam puan.

Baginda masuk ke dalam peraduan
Bermadah dengan berbagai cumbuan
Dayang berbagai bertimpuhan-timpuhan
Menyanyilah ia berkawan-kawan.

Bersindir pantun sama sendiri
Malam pun hampir dini hari
Beradu baginda laki istri
Kasih sayang tidak terperi.

Malam pun hampirkannya siang
Mendung berkokok berbayang-bayang
Nubat berbunyi di balai mayang
Jam dipalu berderang-derang.

Bangun baginda laki istri
Lalu melangkah perginya mandi
Sudah bersiram lalu kembali
Lalu berangkat dikata biduri.

Tersantap dayang meradu-du
Baginda pun santap dikata beladu
Sudah santap baginda ratu
Santap sirih di dalam peradu.


BANGSAGARA BERTANYA SOAL PETI

Baginda memakai bau-bauan
Dayang menghadap berkawan-kawan
Baginda bertitah hatinya rawan
Kepada bunda putri bangsawan.

Ayuhai adinda penglipur lara
Dengarkan tuan abang bicara
Berhadirlah adinda dengan segera
Kakanda nan hendak ke Tanjungpura.

Lalu menyahut permaisuri
Bila kalanya abang nan pergi
Baginda berkata manis berseri
Adalah kiranya tujuh hari.

Setelah malam sudahlah hari
Baginda mendapatkan keenam putri
Seorang melangkah di kota Sari
Dihadap oleh keenamnya istri.

Dayang menghadap berkawan-kawan
Lalu bertitah raja bangsawan
Ayuhai adinda hadirlah tuan
Kakanda hendak pergi berjalan.

Abang nan hendak perginya serta
Niat tuan hendak ke Tanjungpura
Hendak bertemu dengan saudara
Jikalau tidak aral dan mara.

Lalu bermadah keenamnya istri
Segala mana abang nan cari
Baginda menjawab kata istri
Adakah kiranya lima belas hari.

Putri keenam mengerahkan dayang
Perbuat perbekalan malam dan siang
Duduk berhimpun di kota Mayang
Berbagai jadah garang mengarang.

Diperbuatkan elok tidak terperi
Sekalian menunjukkan pandai sendiri
Lalu disembahkan kepada putri
Lengkaplah hadir alat terdiri.

Setelah siang sudahlah hari
Bangun Baginda Raja Bestari
Berangkat ke istana permaisuri
Diiringkan oleh hulubalang menteri.

Setelah baginda datang ke istana
Lantas melangkah di patarana
Persantapan diangkat dang Warna
Santaplah Baginda Raja yang hona.

Sudah santap baginda nan tuan
Santap sirih di dalam puan
Setelah disuapkan putri bangsawan
Serta dengan gurau cumbuan.

Baginda baring di kota Biduri
Bertitah dengan Ratna Wali
Ayuhai dayang pergilah diri
Mangkubumi di Balaisari.


BANGSAGARA BERANGKAT KE TANJUNG PURA

Dayang menyembah beribu cara
Tuanku dipanggil Mahkota Negeri
Setelah didengar mangkubumi
Lalu segera berjalan pergi.

Masuk menghadap junjung duli
Duduk di atas permadani
Lalu bertitah raja yang honi
Menyuruh dayang menyurung cerani.

Mangkubumi yang bijaksana
lalu makan sirih karenanya.

Baginda bertitah manis berseri
Iringi kakanda mangkubumi
Turutkan bahtera dari anjani
Ke Tanjungpura beta nan pergi.

Siapkan sekali alas bahtera
Supaya selamat ke Tanjungpura.
Berdayang kita menteri keempat
Menjunjung duli mengata daulat
Patik hamba di bawah hadirat
Manakala mata tuanku berangkat.

Baginda bertitah kepada menteri
Adalah lagi tiganya hari
Kakanda tinggal menunggu negeri
Beta nan lama hendak pergi.

Mangkubumi tidak menyembah
Lalu turun mengerjakan titah
Sekalian rakyat disuruh kerah
Menurutkan kenaikan duli khalifah.

Setelah bahtera diturutkan menteri
Mengerahkan segala orang yang pergi
Mengiringkan Baginda Raja Bestari
Berlima orang yang cahari.

Maharaja Indera juru mudi
Juru batu Maharaja Bumi
Memukul gong Raja Dewani
Juru tulis Maharaja Sari.

Berlayar biasa ia dibawa
Bijak laksana pandai semua
Alim budiman Maharaja Dawa
Ialah anak menteri yang tua.

Berapa bujuk oleh baginda
Putri nan diam tiada bersabda.
Adinda nan jangan berdiam diri
Abang bermohon ke Tanjungpuri
Jikalau adinda tidak memberi
Tiadalah jadi abang mengendarai.

Lalu menyahut permaisuri
Suaranya manis tiada terperi
Bukannya beta tidak memberi
Abang berangkat ke Tanjungpuri.

Selama hayat sebenarnya satu
Berbunyi nubat di Balai Beladu
Sudah bercumbu baginda beradu
Ditangkap Siti Maya Perabu.

Diperebutnya elok tiada terperi
Masing-masing menunjuk pandai bestari
Lalu disembahkan kepada putri
Lengkap sekalian amat berseri.

Setelah siang sudahlah hari
Bangun Baginda Raja Bestari
Berangkat ke istana permaisuri
Diiringkan oleh hulubalang menteri.

Setelah baginda datang ke istana
Langsung naik gentarana
Persantapan diangkat Dayang Mangerna
Santaplah Baginda Raja yang hona.

Sudahlah santap baginda nan kowan
Santap sirih di dalam puan
Sepah disuapkan peri bangsawan
Serta dengan gurau cumbuan.

Baginda berbaring di kanan biduri
Bertitah dengan dapuri
Ayuhai, dayang pergilah diri
Mangkubumi panggil kemari.

Dayang menyembah lalu berlari
Mangkubumi di Balaisari
Dayang menyembah sepuluh jari
Tuanku dipanggil mahkota negeri.


PERSIAPAN BERLAYAR

Setelah didengar Mangkubumi
Lalu segera berjalan pergi
Masuk menghadap menjunjung duli
Duduk di atas permadani.

Lalu bertitah raja yang hona
Menyuruh dayang menyurung carana
Mangkubumi yang bijaksana
Dimakanlah sirih dengan sempurna.

Mustaibkan ia akan berlayar
Mengalih labuh dikepung syah bandar
Mangkubumi banyak ikhtiar
Masuk menghadap raja yang besar.

Berdatang sembah perdana menteri
Semudah tuanku patik tinggali
Alat kerajaan hadir berdiri
Sudah mengalih labuh sekali.

Setelah mendengar sembahnya menteri
Baginda pun suka tiada terperi
Esok berlayar kita sekali
Kakanda wahai jangan lupakan negeri.

Setelah malam sudahlah hari
Bermohon kembali perdana menteri
Baginda bertitah kepada istri
Marilah santap raja bestari.

Setelah santap raja bangsawan
Lalulah masuk ke dalam peraduan
Berapa madah bujuk cumbuan
Putri Bungsu hatinya rawan.

Baginda berkata wajah berseri
Ayuhai adinda permaisuri
Abang bermohon kepadanya diri
Segeralah juga kakanda kembali.

Segeralah tuan pulang dahulu
Adikku jangan berhati pilu
Jikalau madah banyak terlalu
Memohonkan ampun di atas hulu.

Ayuhai adinda anak tiada berbangsa
Bangsawan jangan berpilu rasa
Abang bermohon salih termasa
Hendak pergi bertandang desa.

Tinggallah tuan ayuhai gusti
Janganlah adikku berpilu hati
Jikalau tidak kakanda mati
Segera juga abang dapati.

Putri pun diam tidak berkata
Hanyalah sahut dengan air mata
Pilu dan rawan rasanya cita
Seperti hendak mengikut serta.

Bermadah baginda raja bangsawan
Serta dengan bujuk cumbuan
Baginda nan bijak lagi gunawan
Memandang adinda hatinya rawan.

Tinggal tuan jiwanya senda
Tinggal sunyi hati kakanda
Berapa bujuk oleh baginda
Putri nan diam tiada bersabda.

Adinda nan jangan berdiam diri
Abang bermohon ke Tanjung Puri
Jikalau adinda tidak memberi
Tiadalah jadi abang mengendarai.

Lalu menyahut pernasiuri
Suaranya manis tiada terepri
Bukannya beta tidak memberi
Abang berangkat ke Tanjung Puri.

Silam itu sebenarnya satu
Berbunyi nubuat di balai beladu
Sudah bercumbu baginda beradu
Ditangkap Siti Maya Perabu.

Diperbuatnya elok tiada terperi
Masing-masing menunjuk pandai bestari
Lalu disembahkan kepada putri
Lengkap sekalian amat berseri.

Setelah siang sudahlah hari
Bangun Baginda Raja Bestari
Lalu disembahkan kepada putri
Lengkap sekalian amat berseri.

Setelah baginda datang ke istana
Langsung naik genta rana
Persantapan diangkat dayang mangerna
Santaplah baginda raja yang hona.

Sudahlah santap baginda nan tuan
Santap sirih di dalam puan
Sepah disuapkan peri bangsawan
Serta dengan gurau cumbuan.

Baginda berbaring di kena biduri
Bertitah dengan dayang dipuri
Ayuhai dayang pergilah diri
Mangkubumi panggil kemari.


BANGSAGARA BERLAYAR KE TANJUNG PURI

Dayang menyembah lalu berlari
Mangkubumi di Balaisari
Dayang menyembah sepuluh jari
Tuanku dipanggil mahkota negeri.

Setelah didengar Mangkubumi
Lalu segera berjalan pergi
Masuk menghadap menjunjung duli
Duduk di atas permadani.

Lalu bertitah raja yang hona
Menyuruh dayang menyurung carana
Mangkubumi yang bijaksana
Dimakanlah sirih dengan sempurna.

Baginda bertitah manis berseri
Ayuhai Mamanda Mangkubumi Jauhari
Turunlah bahtera ke dalam jari
Beta nan hendak ke Tanjung Puri.

Berdayung kita menteri keempat
Menjunjung duli mengenakan daulat
Patik hamba di bawah hadirat
Ketika mana tuanku berangkat.

Baginda bertitah kepada menteri
Adalah lagi tinganya hari
Mamanda tinggal menunggu negeri
Beta tak lama balik kemari.

Mangkubumi segera menyembah
Lalu turun mengerjakan titah
Sekalian rakyat disuruh kerah
Menurunkan bahtera duli khalifah.

Setelah bahtera diturunkan menteri
Mengerahkan segala orang yang pergi
Mengiringkan Baginda Raja Bestari
Berenam orang yang jauhari.

Maharaja Indera juru mudi
Juru batu Maharaja Yaumi
Memukul gong Maharaja Dabauti
Juru tulis Maharaja Sari.

Berlayar biasa ia dibawa
Bijak laksana pandai semua
Alim budiman maharaja dua
Ialah anak menteri yang tua.

Mustaidlah ia alah berlayar
Mengalih labuh di kampung Syahbandar
Mangkubumi banyak ikhtiar
Masuk menghadap raja yang besar.

Berdatang sembah perdana menteri
Sudah tuanku lengkap di bahri
Alat kerajaan hadir terdiri
Menanti tuanku Raja Jauhari.

Setelah mendengar sembahnya menteri
Baginda pun suka tidak terperi
Belayarlah kita esoknya hari
Mamanda jangan lupakan negeri.

Setelah malam sudahlah hari
Bermohon kembali perdana menteri
Baginda bertitah kepada istri
Marilah santap Adinda Suri.

Setelah santap raja bangsawan
Lalulah masuk ke dalam peraduan
Barapa madah bujuk cumbuan
Putri Bungsu hatinya rawan.

Baginda berkata wajah berseri
Ayuhai adinda permaisuri
Abang mohon kepada diri
Tidaklah lama kakanda kemari.

Tinggallah tuan sementara dahulu
Adikku janagn berhati pilu
Jikalau sudah banyak metu lalu
Harapkan menghadap junjungan dulu.

Ayuhai adinda putri berbangsa
Adinda jangan berpilu rasa
Abang bermohon salih termasa
Hendak pergi tandang desa.

Tinggallah tuan ayuhai gusti
Janganlah adikku berpilu hati
Jikalau tidak kakanda mati
Segeralah buka abang dapati.

Putri pun diam tidak berkata
Hanya berhamburan air mata
Pilu dan rawan rasanya cita
Seperti hendak mengikut serta.

Bermadah Baginda Raja Bangsawan
Seperti dengan bujuk cumbuan
Baginda nan bijak lagi gunawan
Memandang adinda hatinya rawan.

Tinggallah tuan cewanya senda
Tinggallah sunting hati kakanda
Berapa dibujuk oleh baginda
Putri nan diam tiada bersabda.

Mengapa adinda berdiam diri
Abang bermohon ke Tanjung Puri
Jikalau adinda tidak memberi
Tiadalah jadi abang mengendarai.

Lalu menyahut permaisuri
Suaranya manis tidak terperi
Bukannya beta tiada memberi
Abang berangkat ke Tanjung Puri.

Setelah malam sudahlah tentu
Berbunyilah nubuat di Balai Ratu
Sudah bercumbu baginda beradu
Ditunggu Siti Maya Perabu.

Setelah sudah siangnya hari
Bangun Baginda Raja Jauhari
Lalulah berangkat pergi mandi
Kembali santap laki istri.

Setelah sudah berkata-kata
Lalu berangkat duli mahkota
Mendapatkan putri keenam serta
Langsung melangkah di atas kata.


PERTEMUAN DENGAN SELENDANG DELIMA

Putri keenam datang berhimpun
Karena baginda sudahlah turun
Datanglah menghadap beramai susun
Tinggallah tuan sekalian berhimpun.

Kata baginda tinggallah tuan
Kakanda nan hendak segera mengawan
Tinggallah jira kakanda sekalian
Tuan nan jangan berhati rawan.

Tinggallah tuan sekalian rata
Abang nan hendak pergi melata
Adinda wahai jangan bercinta
Segeralah juga kembalinya beta.

Lalu menyembah ampun putri
Mendengar titah raja bestari
Sekalian tunduk berdiam diri
Sepatah tidak ia berperi.

Setelah dilihat Selendang Delima
Baginda lagi melangkah di sana
Ialah duduk di tengah istana
Hikmat menyembah raja yang hona.

Baginda bertitah sambil berantahna
Engkau nan ini hendak ke mana
Duduk menyembah Selendang Delima
Patik tuanku kecil yang hina.

Sebab pun patik datang kemari
Mohonkan ampun ke bawah duli
Tuanku berangkat ke Tanjung Puri
Patik pun hendak pasan sekali.

Jikalau selamat kembali tuanku
Haraplah singgah di Pulau Bandu
Ambilkan patik rotan dan batu
Tiada berciri keduanya itu.

Jikalau tidak tuanku kenal
Batunya hitam rotannya tunggal
Di atas batu tumbuh berpenggal
Tuanku kerat barang sejengkal.

Jikalau tidak tuanku singgahi
Tuanku tidak dapat kembali
Turunlah ribut topan sehari
Pulau tak dapat tuanku lari.

Tertawa suka raja yang honi
Cerdik sungguh budaknya ini
Anak siapa gerangan begini
Lakunya cerdik sangat berani.

Terlalu murka keenam putri
Serta diterpa dagan buah
Si kutuk sundal birah keladi
Patutkah raja engkau sumenahi.

Baginda bersabda kepada istri
Janganlah apa adinda lari
Budak kecil tiada mengerti
Belas kasihan rasanya hati.

Setelah sudah baginda bersabda
Lalu berangkat naiklah kuda
Diiringkan menteri tua dan muda
Naik ke kamal duli baginda.

Baginda semayam di pana rana
Dihadap hulubalang menteri yang hona
Baginda bersabda dengan sempurna
Naik kembali abang perdana.

Mangkubumi menjunjung duli
Mengangkat tangan sepuluh jari
Lalu bertitah raja yang asli
Angkatlah sauh kita sekali.


PELAYARAN MENUJU TANJUNG PURA

Setelah sudah sauh terbongkar
Segala layar lalu terbabar
Masing meriam bedil setangkar
Bunyi gemuruh seperti nagar.

Tujuh malam delapan hari
Laut dalam terlalu asri
Gelombangnya besar tiada terperi
Siang dan malam dilayari.

Lajunya bukan lagi kepalang
Siang malam layar terkembang
Segala rakyat duduk bertembang
Bahtera pun sampai ke tanah Serang.

Lalu berkata jurunya mudi
Dibawa ke mana gerangan begini
Disahut oleh Malim Bestari
Bukannya gunung rupanya ini.

Malim berkata memegang buat-buatan
Bukannya pulau gunung daratan
Tanjung Puri dikatanya buritan
Lebih tahu kita lihatkan.

Kepada dalam baginda bertanya
Adakah tempatnya orang ratapinya
Kepung nan besar dengan tanglinya
Gunung apa gerangan namanya.

Berdatang sembah Malim Dewa ini
Inilah tuanku Gemunung Renjani
Tanjung Puri janahan ini
Seorang menteri diam di sini.

Tiga hari sampai antara
Meninggalkan rantau Gunung Indera
Sampailah sudah ke Tanjung Pura
Berkata Malim lapuhkan bahtera.

Penggulung layar sekalian rakyat
Memasang rima setanggar diangkat
Sekalian pikir yang berlabuh dekat
Nakhodanya menghadap duli hadirat.

Lalu berkata raja berhemat
Hendak membaca doa selamat
Suara manis terlalu amat
Menyuruh mengambil juadah nikmat.


PESAN PENUTUP DARI PENGARANG

Ayuhai encik bijak laksana
Inilah syair adinda Angsana
Sajaknya janggal banyak tak kena
Karena paham belum sempurna.

Pikir nan tidak berbuat dusta
Dengan sebenarnya pikir berkata
Bukannya kabar dengannya warta
Sekalian itu dipandang mata.

Dengarkan kisah suatu cerita
Di Tanjung Puri raja bertahta
Kerajaan besar tiada berita
Takluk Baginda Raja Mahkota.

Sultan nan Kunan amat bestari
Anak Saudara Dewa Syah Puri
Kerajaan besar tiada terperi
Masyhurlah kabar senegap negeri.

(Syair berlanjut dengan pertemuan Bangsagara dengan Raja Tanjung Puri, penobatan, pernikahan, pencarian Selendang Delima, hingga ke Gunung Angkasa, dan berakhir dengan pernikahan Selendang Delima dengan Dewa Udara)


PENUTUP

Tamatlah Syair Sari Baniyan
Sekalian yang mendengar sangat kasihan
Sungguhlah kabar yang demikian
Lamun di gunung bertambah rawan.


Catatan: Syair ini memiliki total sekitar 2.000 bait. Ringkasan di atas mencakup alur utama cerita sesuai dengan naskah asli yang ditransliterasikan oleh Muhammad Jaruki dan diterbitkan oleh Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan pada tahun 1999.


SYAIR SARI BANIYAN (SYAIR SELENDANG DELIMA)

Karya Muhammad Jaruki


BAGIAN AWAL (Pembukaan)

Bismillah itu mula dikarang
Pantun syair sajaknya kurang
Kami laksana kain yang jarang
Dijual pun tidak dibeli orang.

Ada seorang raja kepada zamannya
Di Bendan Firus nama negerinya
Suka dan ramai dengan murahnya
Berjual beli sekalian rakyatnya.

Kerajaan besar tidak terperi
Baginda bernama Dewa Syah Peri
Berkasih-kasihan laki istri
Baginda duduk dengan permaisuri.

Kotanya jangan dilupakan lagi
Serta besar dengannya tinggi
Bunyi-bunyian petang dan pagi
Riuhnya tidak disangka lagi.

Berapa lamanya di atas tahta
Berputra dua duli mahkota
Eloknya tidak dapat dikata
Segala yang memandang kasih semata.


KELAHIRAN BANGSAGARA DAN SARI BANIYAN

Anaknda yang tua itu laki-laki
Eloknya tidak bertawar lagi
Laksana sekenda kembangnya lagi
Di atas mercu gunung yang tinggi.

Namanya Kunan Bangsagara
Ayahnda bunda kasih tidak terkira
Inang pengasuh duduk memelihara
Sedikit tidak diberi cidera.

Kepada anaknda Rumaja Natara
Disuruhnya mengaji ke Tanjung Pura
Kepada Tuan Syeh Haji Japura
Syeh pun kasih terlalu mesra.

Banyaklah anak raja-raja bendahara
Yang mengaji sama Bangsagara
Kasih dan sayang terlalu mesra
Berkasih-kasihan seperti saudara.

Yang perempuan Sari Baniyan
Ayahnda ibundanya terlalu kasihan
Inang pengasuh lengkap sekalian
Serta dengan alat pakaian.

Sari Baniyan terlalu manja
Ke mana berangkat dibawa sahaja
Melihat perahu bahtera raja-raja
Sampai ke taman Indrapura.

Sari Baniyan niat bestari
Sekalian pekerjaan dipelajari
Cantik manis durja berseri
Seperti teralim sukar dicari.

Elok dan manis tiada terperi
Semua memandang herankan diri
Ayahnda bunda kasih laki istri
Tidak bercari barang sehari.

Akalnya terus sangat sempurna
Sifatnya lengkap tujuh laksana
Durjanya bersih gemilang warna
Laksana bulan penuh purnama.

Pergi ke taman tempat permandian
Memetik bunga berkembang-kembangan
Di dalam taman bersuka-sukaan
Diiringkan oleh dayang sekalian.

Demikianlah konon sehari-hari
Suka ramai tepuk dan tari
Di dalam taman ratna biduri
Suka termasa tidak terperi.


BANGSAGARA MENGAJI DI TANJUNG PURA

Berhenti perkataan adinda saudara
Tersebut kisah Bangsagara
Selama mengaji di Tanjungpura
Khatamlah baginda dengannya segera.

Syeh pun kasih tiada terperi
Belum dilepaskan berangkat kembali
Tempatnya baharu duanya hari
Hendak digenapkan tiganya kali.


SERANGAN BURUNG GARUDA

Terhenti perkataan putra baginda
Tersebut kisah ayahnda bunda
Serta dengan paduka adinda
Bermainlah dengan inangnda ibunda.

Ada kepada suatunya harinya
Berdatang sembah segala menteri
Persembahkan kabar ke bawah duli
Garuda nan datang menyerang negeri.

Setelah baginda mendengarkan sembah
Warna mukanya sangat berubah
Durja berseri suka cintalah sudah
Di dalam hati sangat holabah.

Segenap desa rasalah sudah
Nyatalah sudah tidak berubah
Sekarang apa kerjaan titah
Patik sekalian adalah sudah.

Lalu tertitah raja bestari
Menyuruh membuka gedungnya besi
Berbuat kawan berkuku negari
Bangsagara disuruh ia sembunyi.

Baharu sudah kota sebelah
Garuda pun datang dekatlah sudah
Baginda berpikir dada ditabah
Anaknda kedua yang disusah.

Lalu bertitah kepada istri
Anaknda kedua kita sambuti


KEMATIAN RAJA DAN RAKYAT

Setelah genap tujuhnya hari
Bahananya tidak kedengaran lagi
Bangsagara di dalam bangsa
Lalu keluar seorang diri.

Duduk termangu seorang diri
Mengeluh mengucap tidak terperi
Mencabut keris menikam diri
Kulitnya tidak ada memberi.

Tidak menangis Bangsagara
Terkenangkan untung sangat sengsara
Rakyatnya habis diringan sara
Tinggallah aku dua bersaudara.

Di dalam hatinya tidaklah nyaman
Lalulah turun jalan ke taman
Menghiburkan hati tiada senyuman
Segenap dusun dengan halaman.

Sambil berjalan hati bercinta
Berhamburan dengan airnya mata
Kepada siapa hendak dikata
Sudahlah nasib dengan peminta.


SARI BANIYAN DALAM PETI

Adapun akan Sari Baniyan
Akan kakanda terlalu kasihan
Jam-jam durja berhamburan
Sudahlah dengan untungan tuan.

Sari Baniyan di dalam peti
Ia keluar menghidangkan nasi
Sekalian nikmat lalu diaturi
Lintang bujur semut dilari.

Setelah sudah ia menyaji
Lululah masuk ke dalamnya peti
Melihatkan laku kakanda kembali
Ia pun duduk berdiam diri.

Hari pun petang awalnya senja
Lalu pulang Bangsagara remaja
Hatinya rawan bagai dipuja
Naik istana lakunya manja.

Setelah sampai ke tepi kota
Dilihatnya nasi terhidang serta
Ia pun makan di dalam cita
Siapa gerangan empunya perinta.

Hendak makan takut celaka
Tidak kumakan lapar dan dahaga
Hatinya tidak rasa dan sangka
Tudungnya saji lalu dibuka.

Sudah berkata seorang diri
Lalu baginda santaplah nasi
Jikalau jin dan peri
Ridolah akan mati di sini.

Ayuhai nasib untungku tuan
Hatiku pilu bercampur rawan
Terkenangkan zaman yang dipertuan
Air mata jatuh berhamburan.

Celaka sungguh badan malang
Sakitnya sangat bukan kepalang
Laksana dagang di negeri orang
Duduk mengeluh tidur mengerang.

Setelah sudah tingginya hari
Lalu berjalan perginya mandi
Masuk ke taman Ratna Biduri
Bersalin kain di Balaisari.

Lalu memandang ke jembangan ratna
Bertatah dengan pohon angsana
Sakalian bunga-bunga delima sana
Berselang dengan permata warna.

Sekalian bunganya ada semata
Hatinya rawan Sari berkata
Terkenangkan zaman duli mahkota
Tunduk menyapu airnya mata.

Setelah hari hampirkan petang
Bangsagara berjalan pulang
Ke dalam istana ia memandang
Dilihatnya pula semua hidang.

Ia berkata perlahan laku
Siapakah gerangan hidangan aku
Entah setan jin berlaku
Siapa tahu berbuatnya laku.

Setan banyak yang menyerupai
Dilihatnya aku seorang diri
Datanglah engkau jin dan peri
Dia Tuhan aku tak lari.

Jikalau ada jin dan buta
Keluarlah engkau melihatkan mata
Makanlah aku jangan bercinta
Ridolah aku matinya serta.

Hidup pun apalah guna
Ayahnda bunda habis fana
Handai pun banyak datang mengerna
Melihatkan aku apalah guna.


SARI BANIYAN MENGAKU

Setelah didengar Sari Baniyan
Akan kakanda terlalu kasihan
Ia menyahut dengan perlahan
Sahayalah abang yang menghidangkan.

Setelah didengar oleh Bangsagara
Orang menyahut bunyi suara
Kiri kanan dipandang segera
Habislah akal budi bicara.

Bangsagara berkata serta berdiri
Siapakah menyahut kataku tadi
Jikalau sungguh engkau bestari
Segerelah keluar engkau kemari.

Ia bertempik hatinya berang
Segeralah keluar hai jembalang
Jikalau sungguh engkau nan garang
Marilah lawan saya seorang.

Tersenyum manis Sari Baniyan
Hatinya belas lalu kasihan
Sahaya abang Sari Baniyan
Di dalam peti bunda tinggalkan.

Dia didengar Bangsagara
Akan kata adinda saudara
Jikalau sungguh kasih dan mesra
Keluarlah adik dengannya segera.

Sukalah hati terlalu bina
Adinda nan tidak lagi terhina
Tidaklah abang ke mana-mana
Marilah abang berlayar ke Cina.

Kita nan tidak ayahnda bunda
Piatu yatim sahaja yang ada
Demi didengar kata kakanda
Segeralah keluar putri syahda.

Sambil menangis Sari Baniyan
Menyembah kakanda muda bangsawan
Dipeluik baginda adinda nan tuan
Air mata jatuh berhamburan.

Serta menangis ia berkata
Tersadarlah ayahnda bunda mahkota
Hati di dalam sangat bercinta
Keduanya berhamburan airnya mata.


RENCANA BERLAYAR

Sari Baniyan seraya berkata
Menyuruhkan kakanda keluar kota
Kakanda lihat segala harta
Barang ke mana pergilah kita.

Daripada hidup duduk sengsara
Baiklah kita pergi mengembara
Jikalau ada orang memelihara
Di situlah kita duduk sementara.

Apalah baiknya duduk di sini
Orang tiada terlalu sunyi
Barang ke mana kita nan pergi
Tawakallah kepada Allahu Robi.

Lalu menyahut Bangsagara
Kakanda tidak tahu bicara
Apalah tahu adinda berkira
Kakanda menurut dengannya segera.

Demi didengar kata kakanda
Belas kasihan di dalamnya dada
Pilu dan rawan juga yang ada
Lalulah ia mengeluarkan sabda.

Jikalau demikian abang berkata
Pergilah lihat perahunya kita
Jikalau ada baik semata-mata
Kakanda muatkan segala harta.

Bangsagara turun berjalan
Baginda pun sampai ke pangkalan
Dilihatnya perahu di atas halaman
Sekaliannya habis bertembusan.

Setelah sudah dilihatnya rata
Perahu nan masuk semata-mata
Baginda pun naik pintu kota
Adinda berseru seri berkata.

Ayuhai adikku Sari Baniyan
Sudahlah abang lihat sekalian
Singgah pun perahu baik pangkalan
Sekalian habis bertembusan.

Sebuah dikorek oleh kumbang
Sebuah dimakan olehnya kakang
Sekalian itu habislah berlubang
Segala rantainya habislah renggang.

Sebuah ditabik tikus ditimbuni
Ada yang sebuah dimakan anai-anai
Sebuah pun tiada lagi terpakai
Bicara kakanda tiada sampai.

Sari Baniyan seraya berkata
Kakanda wai janganlah bercinta
Tinggallah kayu di muka kota
Perbuat perahu tempatnya kita.

Bangsagara menyahut sabda
Apalah masyugul ayuhai adinda
Hilanglah akal di dalam dada
Tiada pernah pekerjaan yang ada.


MEMBUAT PERAHU DAN PESAN KAKAK

Sari Baniyan mendengar sabda
Ia terenyum di dalamnya dada
Pergilah buka gedung kakanda
Ambillah pertil beliung yang ada.

Inilah jadi pinangnya dia
Ambillah batu asahkan dia
Jikalau ada yang sudah sedia
Kakanda bawa tianglah dia.

Demi didengar oleh Bangsagara
Akan kata adinda saudara
Baginda pun pergi dengan segera
Segenap gedung di tengah pusara.

Gedung dibuka olehnya baginda
Dilihat itu semuanya ada
Baginda berpikir di dalamnya dada
Mengingatkan pesan paduka adinda.

Setelah dilihat semuanya ada
Lalu pulang menyeru adinda
Sambil berdiri baginda bersabda
Abang nan tidak mengenalnya ada.

Sari Baniyan muda yang puta
Tersenyum mendengar kakanda berkata
Ia menyahut darinya kota
Tidaklah abang tahukan warta.

Pergilah ambil olehnya kakanda
Jikalau boleh abangku tunda
Baliung dan pahat semuanya ada
Bawa kemari kepada adinda.

Setelah mendengar adinda berkata
Lalu berbalik keluar kota
Sekalian itu dibawanya serta
Baliung dan pahat ada semata.

Setelah sudah ia diambilnya
Ia pun pulang ke atasnya
Serta berseru memanggil adiknya
Serta sampai diunjukkannya.

Bangsagara berkata serta lalah
Adinda pakan lagi faidah
Baliung pahat buku darah
Tinggal garuda datang mengalah.

Adinda tersenyum di dalamnya dada
Mendengar sabda paduka kakanda
Bukannya darah mau garuda
Inilah karena namanya kakanda.

Lalu berkata Bangsagara peraya
Bagaimana pula menjamkan dia
Sari Baniyan tertawalah ia
Ambillah batu asahkan dia.

Mendengar kata adindanya itu
Bangsagara segera mengambil batu
Lalu diangkat ke mukanya pintu
Diasah sekalian baginda itu.

Setelah sudah diasahib
Lalu ia turun pergi
Memegang baliung sebelah kiri
Menebang kayu turus negeri.

Serta sudah ia ditebangnya
Lalu dibawa ditaruhkannya
Ia pun kembali ke atasnya
Memberi tahu kepada adiknya.

Bangsagara lalu bersabda
Sudahlah abang tambatan adinda
Sekalian itu sudahlah sedia
Hendak membangun tidak berdaya.

Sari Baniyan seraya berkata
Serta berpikir di dalamnya cita
Abang nan tidak tahu semata
Baiklah kubuarkan peta.

Sari Baniyan muda yang piatu
Marilah sahaya buatkan contoh
Pergilah abang bawa ke situ
Bangun seperti contohnya itu.

Setelah sudah diguntingnya
Juga dengan tali tembirangnya
Lengkaplah sudah seluruh dandannya
Kepada kakanda lalu diunjukkannya.


PESAN TENTANG BUAH DELIMA

Bangsagara lalu berpesan
Kepada kakanda lalu dikatakan
Jikalau ke taman bermain tuan
Buah delima jangan dimakan.

Siapakah tahu hantu dan setan
Negeri nan sama dengannya hutan
Jin dan peri banyak berebutan
Adikku jangan lupakan pesan.

Sudah berpesan kepada saudara
Baginda pun turun dengan segera
Sambil berjalan berkira-kira
Ia pun sampai kepadanya bahtera.

Dewa Laksana berbuat segera
Tinggal pulang Bangsagara
Tiada kelihatan nyata ketara
Karena dia bangsa indera.


SARI BANIYAN MEMETIK BUAH DELIMA

Adapun kepada suatu hari
Sari Baniyan perginya mandi
Masuk ke taman Ratna Biduri
Bersalin kain di Balai Sari.

Ia memandang ke Jembangan Ratna
Terlalulah cerah kembangnya Cina
Cempaka berapit dengan laksana
Kuntumnya kembang berbagai warna.

Sari Baniyan yang bijaksana
Lalu menentang kuntum mangerna
Dia berpandang buah delima
Lupakan pesan kakanda nan lama.

Terlalu gairah di dalamnya cita
Terlalai dengan memandang mata
Lalu beradu ke jembangan mata
Sekaliannya mangerna dipandang rata.

Lalu diambil Sari Baniyan
Buah delima cempaka sekalian
Ke dalam istana ia nan makan
Baharulah ia ingatkan pesan.

Kulitnya dibuang kepada dapur
Di dalam hatinya bagaikan hancur
Di dalam dada sepertikan hancur
Lalu dimakan sirih sekapur.

Hari pun malam berhenti kerja
Lalu kembali Bangsagara Raja.
Sampai ke istana dengan segera
Santaplah nasi dengan saudara.

Sudah santap kedua saudara
Karena lelahnya tidak terkira
Pandailah sungguh akal bicara
Kapal dibuat dengan kira-kira.

Ia pun beradu di atas tilam
Lalu bermimpi memandang bulan
Ia melihatnya berhati rawan
Tempatnya dari celahnya awan.

Tengah naik bulan serta tuan
Ditangkap beroleh berkawan-kawan
Dengan berkat tolongan Tuahn
Ditodong oleh suatu awan.

Ia terkejut bangun berpikir
Tahulah ia akan tabir
Sudahlah untung dengan takdir
Kodrat irodat Tuhan yang kabir.

Dirinya hamil tahulah ia
Hilanglah budi lenyap bicara.
Tolong dan sendi bergaya
Sudahlah nasib apakan daya.

Tinggal pergi mandi ke sana
Adalah menjelma Dewa Laksana
Menjadikan dirinya delima rencana
Di dalam taman Puspa Ratna.

Seketika berpikir sianglah hari
Sari Baniyan pergilah mandi
Lalu kembali menghidangkan nasi
Sekalian nikmat diaturi.

Hari pun sudah senja antara
Lalu kembali Bangsagara
Mandi ke sungai dengan segera
Santaplah dengan dua saudara.

Sudah santap Raja Bestari
Santap sirih kinang diraksi
Ia berkata berpulu hati
Kakanda wai buatkan suatu peti.

Lalu Bangsagara menyahut pesan
Baiklah adik kakanda buatkan
Perahu pun hampir sudah sekalian
Tinggal sedikit dandan haluan.

Setelah sudah berkata-kata
Baginda berjalan di pintu kota
Bangsagara raja yang puta
Membuatkan peti adinda mahkota.

Seketika duduk petanglah hari
Peti pun sudah diperbuati
Segeralah kembali raja yang sakti
Kepada adinda deberikanlah peti.

Sari Baniyan terlalu suka
Disambut peri lalu dibuka
Dibuatkan oleh Sri Paduka
Berseri-seri warnanya muka.

Sari Baniyan lalu berkata
Serta berhamburan airnya mata
Sudahlah abang perahunya kita
Baiklah mulakan segara harta.

Jikalau tidak bersama sahaya
Pergilah abang sebarang dia
Negeri pun tidak seorang manusia
Jikalau datang mara dan bahaya.

Janganlah abang diam di sini
Karena negeri terlalu sunyi
Barang ke mana abang nan pergi
Petiku jangan abang tinggali.


PERAHU DAN PERSIAPAN BERLAYAR

Demi didengar kata adinda
Berdebar lenyap di dalam dada
Demikian pula kata adinda
Tidaklah Tuan bersama kakanda.

Sari Baniyan menyahut pesan
Tiada boleh sahaya katakan
Jikalau datang kehendaknya Tuhan
Siapa dapat yang melarangkan.

Setelah sudah kabar dan sabda
Lalulah santap dengan adinda
Sudah santap baring yang ada
Lalulah turun paduka kakanda.

Hari pun sudah hampirkan petang
Bangsagara berjalanlah pulang
Tersadarlah adinda tinggal seorang
Baik dan jahat tiada kurang.

Setelah hari sianglah pasti
Sari Baniyan bermasak nasi
Sudah masuk lalu disaji
Lantang bujur semua berlari.

Sekalian nikmat setelah diaturi
Santap serta kakanda Bestari
Sungguh pun santap rasanya hati
Terlalu gundah rasanya hati.

Sudah santap raja yang puta
Turun berjalan ke pintunya kota
Hati di dalam sangatlah bercinta
Tidak lagi dapat dikata.

Setelah sampai Bangsagara
Baginda berdiri di tengah pusara
Hendak mennyurungkan perahu bahtera
Tidak keluar dengan kira-kira.

Lalu berpikir Bangsagara
Aku nan dimarahi saudara
Baik kutanyakan dengan segera
Jikalau dia adalah bicara.

Sudah berpikir berkira-kira
Lalu kembali Bangsagara
Hari pun hampir sudah ketara
Naik istana mendapatkan saudara.

Adinda berkata seraya bertalukan
Apakah juga abang berjakan
Makanya tidak datang makan
Lapar dan dahaga abang tahankan.

Marilah makan kakanda nan tuan
Lalulah santap raja bangsawan
Sudahlah santap muda hartawan
Santap sirih di dalam puan.

Masuk beradu muda terpuji
Di atas tilam tikar bersuji
Perbuatan orang di Benua Hindi
Katil bertatah intan seri dadi.

Esok pagi lepasnya makan
Bangsagara turun berjalan
Mengambil kayu membuat puteran
Supaya lepas diturunkan.

Baginda putra seorang diri
Bahtera nan tiada gerak sekali
Puteran patah putus tali
Bahtera nan tiada gerak sekali.

Lalu berkata Sari Baniyan
Sedang kakanda terlalu kasihan
Jangan demikian abang kerjakan
Ayahnda bunda empunya sekalian.

Segeralah abang pergi hampiri
Hujan haluan sawan linggai
Dibakar kemenyan dihasili
Inilah kabu turus negeri.

Demi mendengar kata adinda
Segeralah bangun raja yang syahda
Hendak melangir bahtera baginda
Supaya kerja jangan berida.

Serta datang terlalu heran
Dilihat bahtera sudah di pangkalan
Kayu dan air perbekalan
Meriam setangkar lengkap sekalian.

Segera berbalik baginda kembali
Ke dalam istana pergi mencari
Pakaian bahtera lengkapkan sekali
Tinggal bertulis sidi awali.

Bahtera pun sudah dikeluarkan
Lengkaplah dengan alat pakaian
Semuanya itu hadirlah sekalian
Ratna Laila yang mengaturkan.

Setelah sudah alat terkena
Bangsagara kembali ke istana
Mendapatkan adinda yang bijaksana
Berlayar kira barang di mana.

Lalu santap raja bangsawan
Sudahlah santap turun berjalan
Serta bermohon adinda tuan
Melihat perahu di tengah pangkalan.

Baginda berjalan hati bercinta
Lalulah sampai di pintu kota
Dewa Laksana adalah serta
Tiadalah kelihatan kepada mata.

Setengah hari hampirlah petang
Bangsagara berjalanlah pulang
Naik istana seraya memandang
Tanglung kendil pada terpasang.

Berdebar hati Bangsagara
Melihat laku tingkah saudara
Mengucap mengeluh adalah sengsara
Jikalau adikku menjadi bicara.


KELAHIRAN DAN KEMATIAN SARI BANIYAN

Lalu Bangsagara berjalan pergi
Sari Baniyan muka berseri
Perutnya sakitnya lalu ngeri
Lalu berani seorang diri.

Sudah berputra lalu dimandikannya
Serta dibedak dilangirnya
Lalu dibedong disusukannya
Dipeluk dicium dan diratapnya.

Berjenis kain diselimutkan
Lengkaplah dengan alat pakaian
Semua sudah lengkap sekalian
Bunda melihat terlalu kasihan.

Sari Baniyan hatinya rawan
Memandang paras putra bangsawan
Kuru semangat anakku tuan
Di dalam peti bunda taruhkan.

Siapa berlayar anaknda berpesan
Jikalau dapat anakku dapatkan
Peti ini jangan dilupakan
Inilah bunda inilah tuan.

Tinggallah tuan tinggallah nyawa
Tinggallah suntingan utama jiwa
Tiadalah ibu akan membawa
Sudahlah nasib jadi kecewa.

Sari Baniyan berhati iba
Dipoluk dicium anaknda diriba
Ruh semangat sudahlah hampa
Kodrat Tuhan tidak mengapa.

Sudah ditaruh anaknda nan tadi
Ke jembangan ratna pergilah mandi
Nasi kakanda sedia tersaji
Rusak binasa rasanya hati.

Nasi kakanda sedia tersaji
Rusak binasa rasanya hati
Berair langir putri yang sakti
Bersalin kain di Balai Sari.

Setelah sudah putri nan mandi
Bersalin kain di Balai Sari
Lalu kembali menghiasi diri
Duduklah dekat di Kacapuri.

Sari Baniyan muda bestari
Alat istana lalu diaturi.
Tirai bersama tabir permata
Alat peraduan alasnya rata
Dihiasi pula suatu kata
Alat perintah indah semata.

Di atas kata tatah biduri
Sekalian perhiasan dibaturi
Sari Baniyan durja berseri
Rebah beradu lenyap sekali.

Bangsagara lalu berbalik
Datang istana ia pun naik
Baginda memandang ke dalam bilik
Disangkanya adinda lagi bertilik.

Seketika duduk Bangsagara
Disangkanya adinda lagi bicara
Baik kudapatkan dengan segera
Karena aku yang empunya saudara.

Hendak kudapatkan serba salah
Takut pula adikku marah
Pekerjaan dunia bukannya mudah
Sedikit banyak yang salah.

Termangu berpikir duli baginda
Mamandang laku perintah saudara
Hatiya gundah tidak terkira
Terkenangkan nasib sangat sengsara.

Duduk terpekur sehari-hari
Menanti adinda datang kemari
Tidaklah tampak durja berseri
Baginda berseru seraya berdiri.

Ayuhai adinda muda bestari
Adinda apa kerjanya diri
Tidaklah makan adinda mari
Abang nan lapar tiada terperi.

Baginda berseru memandang serta
Menantikan adinda menyahut serta
Suara adinda tidaklah nyata
Sedikitlah sedap di dalamnya cita.

Baginda pun masuk ke dalam bilik
Ia berseru marilah adik
Tidur apalah tidak berbalik
Kakanda sangka tuan bertilik.

Lalu disingkap tirai dewangka
Serta dirasai dada adinda
Nyawa dan napas sudah tiada
Baginda menangis menamparnya dada.

Meratap menangis dipeluk lagi
Diambilnya air lalu dimandi
Setelah sudah adinda disuci
Lalu dikafan dengan seperti.

Sudah di talam adinda nan tuan
Hatinya pilu bercampur rawan
Air mata jatuh berhamburan
Cintakan adinda muda bangsawan.

Duduk menangis sehari-hari
Mukanya muram tiada berseri
Ayuhai adikku muda bestari
Hilang ke mana abang nan cari.

Duduk menangis Bangsagara
Terkenangkan adinda paduka saudara
Hendak pun berlayar dengan segera
Hilanglah budi lenyap bicara.

Ayuhai adinda Sari Baniyan
Habislah layu kuntum di taman
Semuanya itu dengan peramalan
Karena tidak memandang tuan.

Ayuhai adikku buahnya hati
Tidaklah sampai niat di hati
Jikalau kutahu demikian pekerti
Barang ke mana kubawa pergi.

Bangunlah adikku saudara abang
Hari pun sudah hampirkan petang
Teja membaris di langit melintang
Bunga pun layu disari kumbang.

Ayuhai adikku Sari Baniyan
Bangunlah makan saudara tuan
Kohar emas tumbuh cendawan
Pinggan bertatah kalbunya rawan.

Mangkuk bertulis haluskan rata
Piring berjantara rindu semata
Pinggan emas katil bergenta
Sekalian itu habislah bercinta.

Saudaraku tuan muda yang syahda
Negeri pun alah oleh garuda
Di dalam cinta hati kakanda
Tiada lupakannya adinda.

Sudahlah tidak beribu bapa
Ditinggalkan kakanda dengan siapa
Di dalam dada sudahlah hampa
Kehendak Tuhan tidak menyapa.

Setelah sudah ratap dan timang
Berbagai jenis sudah dikarang
Badan yang malang tiada tertimbang
Siang dan malam berhati bimbang.

Banyak perkara mudah dan garang
Berjenis ragam rampai disilang
Badan laksana mabuk kepayang
Tubuhnya layu bagai dilayang.

Baginda menangis sehari-hari
Rampai selok tidak terperi
Mengambil Quran pergi mengaji
Dikubur adinda tujuh hari.

Tiga kali taman dengan seperti
Baginda pun hendak berlayar pergi
Baginda menangis tiada berhenti
Turun ke bahtera memikul peti.


PELAYARAN BANGSAGARA

Setelah sampai ke dalamnya bahtera
Sauh terbongkar dengan segera
Lalu bertiup angin utara
Bahtera pun laju tiada terkira.

Tiga hari tiga malam
Gelombangnya besar tdk
Bahananya gemuruh halaman
Timbarang berdengung kemudi ragam.

Di dalam hati baginda berkata
Aku nan tidak sayangkan harta
Memikul peti semata-nata
Bergerak sedikit kubawa serta.

Ayuhai adikku Sari Baniyan
Inilah rupanya abang tuan
Terapung-apung di tengah
Langit dan air yang lihatan.

Tujuh hari tujuhnya dalam
Gelombang besar timbul
Berkat ditolong kholik
Bahtera pun masuk ke teluk dalam.

Layar tergulung sawah terlabul
Ombak dan harsi baru
Kelihatan konon dari
Seperti laku orang berpelu.

Bangsagara naik membuat
Di alas balai tempat berhenti
Rasyana takdir robal
Syahbunda turun mendapat.


BANGSAGARA TIBA DI TANJUNG PURA

Hendak ke mana nakhoda ini
Anak perahu ke manakah pergi
Maka selaku sabdanya ini
Apa sebabnya terdapat ke sini.

Lalu menyahut raja yang sakti
Seraya berpikir di dalam hati
Dipukul topan tidak berhenti
Sekalian awan habislah mati.

Lalu berkata Bangsagara
Dengarkan tuan ayuhai saudara
Diserang musuh di Tanjungpura
Hilang akal lenyap bicara.

Setelah sudah kabar berita
Dibawanya turun segala harta
Orang tercengang tiada berkata
Semuanya heran memandang mata.

Syahbandar berpikir di dalam hati
Anak raja besar nyatalah pasti
Bukan berniaga datang berhenti
Membawa alat kerajaan yang jati.

Syahbandar dijamu Bangsagara
Serta baginda lalu bersuara
Makanlah nikmat segala saudara
Sekalian pun makan terlalu mesra.

Setelah sudah memakan nikmat
Lalu membaca doa selamat
Minta doa sekalian umat
Kepada Tuhan mohon rahmat.

Lalu berkata syahbandar berida
Apa gerangan namanya nakhoda
Berilah tahu kepadanya kakanda
Supaya tahu namanya adinda.

Tersenyum madah raja putra
Namanya hamba Bangsagara
Niat tak hendak ke Tanjungpura
Jikalau boleh hendaklah segera.

Bangsagara lalu berkata
Berapa juga saudaraku pinta
Barang berapa berilah nyata
Syahbandar menyahut memandang mata.

Syahbandar berkata bersuka hati
Usahlah nakhoda juga lagi
Biarlah sebuah bahtera kemari
Diam di sini nakhoda berhenti.

Demi baginda mendengarkan madah
Diam berpikir tidak tengadah
Baginda menyahut hatinya gundah
Suara manis mengeluarkan titah.

Manalah baik kepada saudara
Sahaya nan tidak tahu bicara
Dengan perlahan hamba berkira
Niat tak hendak berlayar segera.

Setelah sudah berperi-peri
Syahbandar lalu mohon kembali
Tinggallah duduk raja bestari
Di atas balai memegang peti.


TANJUNG PURA KEHILANGAN MAHKOTA

Dengarkan kisah suatu cerita
Negeri nan tidak mahkota indera
Meninggalkan putra tujuh saudara
Parasnya elok tidak terkira.

Menteri Hulubalang Sidantara
Segala rakyat besar negara
Mencari akal berura-ura
Periku jangan bercinta wara.

Sekalian berhimpun di balai kaca
Bicara hendak mencari raja
Sungguh pun baginda putranya ada
Semua perempuan belaka yang ada.

Lalu berkata mengakunya bumi
Maukah menurut bicara kami
Kita lepaskan gajah yang sakti
Dari belakang kita iringi.

Barang siapa sekaliannya mari
Kita nan pergi dengan bersunyi
Barangliah iyang ditujui
Ialah asal mahkota negeri.

Setelah sudah putus bicara
Berhimpunlah rakyat siap pesara
Segala sungai Teluk Betara
Penuh tempat tidak terkira.

Beribu-ribu gajah yang serta
Gajah yang sakti dikenakan rangka
Alat kerajaan diatur belaka
Lalu berjalan sekalian mereka.

Diiringkan oleh menteri punggawa
Serta rakyat tua dan muda
Dandi dan murai ada semua
Kupuk cercap semua dibawa.

Berbunyilah gendang dengan seruni
Gajah berjalan menuju balai
Seketika berjalan lalulah sampai
Menjunjung duli dengan belalai

Gajah perkenan terlalu usoli
Serta bertakluk menjunjung duli
Berhimpun menderita bahana negeri
Mengatakan daulat sultan terjali.

Disambut gajah raja yang sakti
Ke dalam rangka lalu diletaki
Lalu dibawa berjalan kembali
Diiringkan oleh seisi negeri.

Terlalu suka seisi negeri
Beroleh raja usul bestari
Setelah sampai ke Balairung Sari
Semayam di singgasana tatah berduri.

Segala rakyat habis berkampung
Penuh sesak pekan dan lorong
Terpalu tobat segendar gong
Bahana merdu tiada tertanggung.

Serta mendengar bahananya nubat
Berhimpun tentara laut dan darat
Datang menyembah duli hadirat
Sekalian itu mengatakan daulat.

Bertambahlah daulat raja bersifat
Lalu keluar menteri keempat
Mengatur hidangan bertingkat-tingkat
Ada yang jauh ada yang dekat.

Sekalian makan duduk berhikmat
Seketika keluar hidangan nikmat
Kadi membaca doa selamat
Dikaruniai Allah rahim dan rahmat.

Lalu berdiri bintara Laila
Memandang pedang tunggang sila
Seorang di kiri di kanan baginda
Sikapnya seperti gajah yang gila.

Mufakat sekalian hulubalang menteri
Dikawinkan dengan tujuh putri
Diarak mangkubumi sekalian menteri
Tujuh kali berkeliling negeri.

Di dalam istri yang ketujuh
Putri Bungsu kasihnya sungguh
Di sana tempat baginda bertunggu
Di hadap siti dayang berpuluh.


PERNIKAHAN BANGSAGARA DENGAN PUTRI BUNGSU

Lalu menyahut permaisuri
Pati nan apa kakanda isi
Paduka baginda berdiamlah diri
Lalu beradu laki istri.

Setelah siang sudahlah hari
Baginda bangun perginya mandi
Kembali melangkah di balai sari
Persantapan diangkat ratnaa wali.

Laki istri sudahlah santap
Baginda diangkat kembali menghadap
Menteri hulubalang hadir menghadap
Alat kerajaan semuanya lengkap.

Tinggal baginda berangkat ke dalam
Lalulah datang bestari keenam
Naik melangkah dekat pualam
Sambil memandang ia ke dalam.

Dilihatnya tergantung di sini
Ia bertanya Putri Bungsu
Apakah isi itu peti
Digantung di atas adinda beradu.

Putri Bungsu menyahut kata
Tidak tahu kakanda nan beta
Di dalamnya itu hendak dinyata
Di atas sekat kepadanya beta.

Yang tuanya berkata bermuram muka
Pati tua ambil kemari juwita
Apakah gerangan di dalamnya sangka
Makanya tidak diberi buka.

Putri Bungsu menjawab kata
Tiadalah berani mengambil beta
Jikalau dimurkai Seri Mahkota
Nyatalah mendengar bagaimana nista.

Setelah sudah berkata-kata
Lalu kembali keenamnya serta
Diiringkan dayang muda semata
Naiklah ke atas sekalian rata.

Putri keenam salah tempatnya
Bagaikan belah rasa hatinya
Menaruh dendam dalam hatinya
Sedikit tidak dilupakannya.


KEENAM PUTRI INGIN MEMBUKA PETI

Adalah selang tiganya hari
Datanglah pula keenam putri
Naik melangkah di balai sari
Seraya menjilang kepadanya peti.

Putri Bungsu lalu berkata
Marilah kakanda melangkah dikata
Apakah maksud kakanda nan nyata
Kabarkan jua kepadanya beta.

Putri keenam seraya tertawa
Adalah hajat sedikit adinda
Jikalau mau adikku bawa
Boleh kakanda nyatakan semua.

Putri Bungsu menyahut kata
Apalah kakanda hendak dinyata
Berilah tahu kepadanya beta
Jikalau yang benar adinda serta.

Lalu berkata keenam putri
Marilah kita membukanya peti
Entahkah gundik entahkan istri
Maka ditaruhnya di dalam peti.

Demi didengar Putri Bungsu
Akan perkataan keenamnya itu
Ia menyahut suaranya merdu
Jangan dibuka petinya itu.

Berkata putri keenam sekali
Turutlah kata kakanda nan ini
Lamun tidak empunya bini
Masa kan tuan itu dipesani.

Putri Bungsu berdiam diri
Tidak mau menyahut lagi
Mendengar kata terlalu benci
Lululah turun perginya mandi.


BANGSAGARA PERGI BERBURU

Adalah kepada suatunya hari
Berdatang sembah segala menteri
Persembahkan kabar ke bawah duli
Perburuan banyak di hutan ini.

Baginda mendengar sembahnya menteri
Suka cita tidak terperi
Esok hari kita nan pergi
Anjing perburuan bawa sekali.

Berangkat baginga raja yang hona
Langsung masuk ke dalam istana
Bertitah kepada dang Laila Ratna
Adinda itu pergi ke mana.

Berdatang sembah dang Biduri
Paduka adinda perginya mandi
Ke dalam taman Puspa Sari
Diiringkan dayang akan cahari.

Baginda mendengar sembahnya dayang
Baginda melangkah dikata masing-masing
Dihadap Siti muda terbilang
Laksana bulan dipagar bintang.

Setelah hari hampirkan petang
Putri ketujuh berjalan pulang
Diiringkan Siti wajah gemilang
Langsung melangkah muda cemerlang.

Baginda bertanya kepada istri
Adinda ke mana perginya didi
Lalu menyahut permaisuri
Sahaya nan abang perginya mandi.

Bersabda pula raja bangsawan
Pada permai adinda nan tuan
Esok kakanda ke hutan berjalan
Pergi mencari perburuan.

Demi putri mendengarkan kata
Menyahut dengan bersuka cita
Lamun berangkat duli nnahkota
Anak pelanduk carikan beta.

Telah didengar raja bestratri
Mukanya manis amat berseri
Banyaklah tuan abang ran
Cakanda pergi pulang sehari.

Setelah sudah baginda berjamu
Laki istri lalu beradu
Ditunggu Siti Mami Perabu
Duduklah ia bersuku-suku.


BANGSAGARA BERMIMPI

Setelah waktu dini hari mimpik
Baginda beradu lalu berapik
Mimpik nan apa gerangan tabir
Untung nan tidak boleh dimungkir
Dengan kodrat Tuhan yang kabir.

Baginda terkejut lalu berpikir
Mimpik nan apa gerangan tabir
Untung nan tidak boleh dimungkir
Dengan kodrat Tuhan yang kabir.

Hati berdebar ruh berseri
Dengan segara membangunak istri
Adinda wahai sadarlah diri
Mimpik nan apa tabir dan peri

Lalulah sadar Putri Bungsu
Lalu bangun dari beradu
Mengapakah abang lalu begitu
Seperti orang menaruh rindu.

Baginda bersabda kepada istri
Abang bermimpi sangat nan tadi
Puncuk mahligai jatuh melangsi
Jatuh menimpa keenam putri.

Lalu berkata Putri Bungsu
Entahlah abang beta tak tahu
Apa gerangan tabirnya itu
Maka kakanda bermimpi begitu

Setelah sudah baginda berkata
Pajar menyingsih hampir nyata
Baginda pun bangun lalu bertahta
Menteri hulubalang hadir semata.

Baginda bersedia wajah berseri
Tinggallah tuan permaisuri
Lalu berjalan bangkit berdiri
Diiringkan oleh hulubalang menteri.

Berangkat baginda usul bangsawan
Diiringkan oleh hulubalang pahlawan
Serta dengan segala bunyi-bunyian
Masuk ke hutan mencari perburuan.

Seketika berangkat raja bestari
Lalu datanglah keenam putri
Lalu naik ke istana puri
Mukanya manis berseri-seri.


KEENAM PUTRI DATANG KEMBALI

Putri Bungsu lalu berkata
Silakan kakanda melangkah dikata
Putri keenam menyahut kata
Baiklah adinda Siti beta.

Tersenyum manis Putri Bungsu
Tahulah ia kehendak itu
Lalu bangkit duduk di situ
Sambil melangkah dikata beladu.

Lalu bermadah keenam putri
Adinda wahai, mari kita mandi
Masuk ke taman Pagar Kesturi
Memetik bunga seganda puri.

Setelah sudah putri berbika
Ketujuhnya itu pergi belaka
Diiringkan dayang muda dan tua
Sepanjang jalan guaru jenaka.

Putri ketujuh sampai ke istana
Bersalin kain di balai Kencana
Turun bersiram di balai Ratna
Sambil memungut bunga Cina.

Setelah sudah mandi sekalian
Lululah naik bersalin pakaian
Diiringkan Siti yang cumbuan
Memetik bunga melur dan pekan.

Sekalian dayang terlalu suka
Bersenda gurau dengan jenaka
Hari pun tinggi lepas ketika
Putri ketujuh pulang belaka.

Diiringkan Siti anak perdana
Ketujuhnya putri naik ke istana
Langsung melangkah di Petarana
Santap sirih di dalam cerana.

Lalu bermadah keenamnya putri
Marilah kita membuka peti
Menghadap adikku tiada memberi
Turutlah kata kakanda nan ini.


PUTRI BUNGSU MENOLAK MEMBUKA PETI

Putri Bungsu menyahut kata
Bukannya tiada mau beserta
Karena dipesan oleh mahkota
Seorang tidak diberi buka.

Sahaya berkata dengannya pasti
Jikalau dimurkai raja sakti
Diketahuinya kita membuka peti
Alangkah jahat laku pekerti.

Sungguh demikian hamba berkata
Mana kehendak di dalam cita
Jikalau dengan kami duli mahkota
Hamba jangan dibawa serta.

Jikalau kakanda hendak membuka
Berjanjilah dahulu kepada beta
Jikalau ada orangnya nyata
Kakanda jangan palu dan nista.

Putri keenam menjawab kata
Adinda jangan sangat bercinta
Jikalau ada orang nyata
Masakan kakanda palu dan nista.

Sungguh pun ia kata begitu
Manisnya dihadapan Putri Bungsu
Di dalam hatinya bagai digaru
Bencinya memandang pantinya itu.

Sinarlah cahaya Selendang Delima
Seperti bulan penuh purnama
Cantik majelis tiadalah sama
Laksana bidadari mata utama.

Putri keenam menamparnya dada
Buanglah tuan kata kakanda
Dibuka tidak diberi kakanda
Inilah rupanya istri muda.

Putri Bungsu menyahut kata
Tiadalah salah di hati beta
Entah pun putra kepada mahkota
Jangan demikian kakanda berkata.

Lalu berkata keenamnya putri
Baiklah kita bunuh sekali
Apakah gunanya kita mencari
Sekutuk sundal bayar keladi.

Lalu bermadah Putri Bungsu
Kakanda wahai jangan buat begitu
Apakah tahunya sebesar itu
Belas kasihan rasa hatiku.

Jikalau kakanda tiada mendengar
Kata adinda terlalu benar
Diketahui baginda berbuat onar
Kemudian kelak menjadi nanar.

Jikalau kakanda tak mau sabar
Datang baginda itu berkabar
Datang baginda jikalau sadar
Siapa tahu menjadi ingar.

Karena kita anak perempuan
Ingat-ingat barang sekelakuan
Baik sedikit banyak bantahan
Setan mengadu tiada ketahuan.


SELENDANG DELIMA DIBAWA PERGI

Tertawa bermadah keenam putri
Biarlah kakanda bawa kembali
Jikalau datang baginda kemari
Adinda jangan dikabar sekali.

Putri Bungsu mendengar saja
Ia menyahut bermuram durja
Hendaklah ia kakanda perm anja
Jangan diperbuat sebarang kerja.

Putri keenam menyahut kata
Biarlah kakanda bawanya serta
Niat nan hendak di bawah mahkota
Supaya mesra di hati beta.

Seraya bermadah Putri Bungsu
Jikalau sungguh kata begitu
Selamat sempurna menjadi ratu
Berkat memeliharakan anak piatu.

Putri Bungsu sangat bercinta
Seraya berhambur airnya mata
Jikalau kakanda membawanya serta
Jangan kakanda palu dan nista.

Setelah sudah putri berpesan
Selendang Delima diberinya makan
Dipeluk dicium dimandikan
Kasihan tak dapat diperikan.

Setelah sudah ia dimandikan
Diambil nikmat diberinya makan
Selendang menyahut lakunya sopan
Syukurlah patik menari yapan.

Setelah sudah berkata-kata
Lalu kembali sekalian rata
Selendang Delima dibawa serta
Sekalian pakaian dirampas serta.

Sampailah ia ke istananya
Ditumbukkannya harang dilumurkannya
Dibuat seperti laku madunya
Dijemurkan padi di suatu pagarnya.


SELENDANG DELIMA DISIKSA

Adapun akan Selandang Delimanya
Menaruh dendam di dalam hatinya
Ia pun duduk berdiam dirinya
Ia pun tidak diburunya.

Putri keenam sangat marahnya
Segeralah tuan dari istananya
Serta datang diterjangkannya
Beberapa pula maki nistanya.

Lalu berkata putri yang tengah
Tidakkah engkau mau menyembah
Selendang Delima tunduk tengadah
Tiada menyahut barang sepatah.

Setelah sudah dipalu-palunya
Ia pun pergi ke istananya
Duduk di muka pintu istana
Selendang Delima yang di hatinya.

Demi dilihat Selendang Delima
Putri keenam kembali bersama
Ia menyanyi menghiburkan nama
Mana yang mendengar kasihan sama.

PANTUN SELENDANG DELIMA

Lalu berpantun Selandang rencana
Suaranya merdu gemilang warna
Wajah berseri terlalu bina
Laksana bulan penuh pernama.

Terbang serindit dua sekawan
Mati di kuda seekor paksi
Terlalu sakit hambamu tuan
Laksana kembang daku lihati.

Mati di kuda seekor paksi
Terbang halang di atas kota
Laksana kembang daku lihati
Sakitnya sampai ke anggota.

Terbang halang darinya kota
Berasa padi di dalam pantak
Sakitnya sampai ke anggota
Tingginya hati bagai disantap.

Berasa padi di dalam pituk
Batunyaa belah di dalam perahu
Tingginya hati bagai disantap
Melainkan Allah jua yang tahu.

Batu belah di dalam perahu
Tanglung hanyut dari hulu
Melainkan Allah jua yang tahu
Tanggung sakit tiada bermalu.

Tanglung hanyut dari hulu
Lantai balai dibelah-belah
Menanggung sakit tidaklah malu
Sudahlah dengan takdir Allah.

Lantai balai dibelah-belah
Dibuat dinding raja beradu
Sudahlah dengan takdir Allah
Anak dibaut seperti madu.

Dibuat dendang raja beradu
Dari Gersik ke Surabaya
Anak dibuat seperti madu
Sudahlah nasib apakan daya.

Dari Gersik ke Surabaya
Tundung saji perindak badan
Sudahlah nasib apakah daya
Sudahlah nasib kehendak Tuhan.

Tudung saji perindak badan
Fakir di mana kami serukan
Sudahlah janji kehendak Tuhan
Kepada siapa saya sesalkan.

SELENDANG DELIMA DIUSIR

Serta dilihatnya keenam putri
Ayam pun banyak makan padi
Selendang Delima duduk menyatai
Ayam pun tidak ditaburi.

Putri keenam sangat marahnya
Segeralah ia turun sekaliannya
Serta datang diterjangkannya
Serta pula gujuh tamparnya.

Lalu berkata seorang Siti
Baik segera menyembah putri
Supaya segera dapat ampuni
Terlalu kasihan di hati kami.

Putri keenam terlalulah mintanya
Selendang Delima menjawab kata
Di batang istana diikat serta
Palu dan gujuh maki nista.

Selendang Delima menangis berseru
Suaranya halus terlalu merdu
Seperti bunyi buluh perindu
Orang mendengar belas dan pilu.

Seru sarat dengan tangisnya
Jikalau ada ampun dan karunia
Bolehlah patik jangan lena
Selamat tuanku dengan sempurna.

Dengarkan tuan sekalian handai
Bukannya sahaya berbuat pandai
Zaman ini banyak berbagai
Menikam sudah terjual gadai.

BANGSAGARA PULANG BERBURU

Tersebut perkataan baginda berburu
Seekor binatang tiada bertemu
Baginda heran duduk termangu
Rasanya hati bagaikan jemu.

Baginda bertitah kepada menteri
Mari kita sekalian kembali
Seekor binatang tiada kemari
Apakah gerangan laku dan peri.

Setelah sudah baginda berkata
Berjalan baginda menuju kota
Diiringkan rakyat gegap gempita
Langsung melangkah di atas kata.

Putri Bungsu berkata tertawa
Mana perburuan kakanda bawa
Tersenyum baginda manis sebahwa
Tiadalah dapat adinda nyawa.

Pikat dan lalu tiada ditentang
Seekor pun tidak ada binatang
Jangankan rusa pelanduk kijang
Allah sahaja rasanya abang.

Santapan diangkat Siti Bangsawan
Diletakkan di hadapan Raja Darmawan
Lalulah santap baginda tuan
Santap sirih di dalam puan.

Baginda masuk ke dalam peraduan
Bermadah dengan berbagai cumbuan
Dayang berbagai bertimpuhan-timpuhan
Menyanyilah ia berkawan-kawan.

Bersindir pantun sama sendiri
Malam pun hampir dini hari
Beradu baginda laki istri
Kasih sayang tidak terperi.

Malam pun hampirkannya siang
Mendung berkokok berbayang-bayang
Nubat berbunyi di balai mayang
Jam dipalu berderang-derang.

Bangun baginda laki istri
Lalu melangkah perginya mandi
Sudah bersiram lalu kembali
Lalu berangkat dikata biduri.

Tersantap dayang meradu-du
Baginda pun santap dikata beladu
Sudah santap baginda ratu
Santap sirih di dalam peradu.

BANGSAGARA BERTANYA SOAL PETI

Baginda memakai bau-bauan
Dayang menghadap berkawan-kawan
Baginda bertitah hatinya rawan
Kepada bunda putri bangsawan.

Ayuhai adinda penglipur lara
Dengarkan tuan abang bicara
Berhadirlah adinda dengan segera
Kakanda nan hendak ke Tanjungpura.

Lalu menyahut permaisuri
Bila kalanya abang nan pergi
Baginda berkata manis berseri
Adalah kiranya tujuh hari.

Setelah malam sudahlah hari
Baginda mendapatkan keenam putri
Seorang melangkah di kota Sari
Dihadap oleh keenamnya istri.

Dayang menghadap berkawan-kawan
Lalu bertitah raja bangsawan
Ayuhai adinda hadirlah tuan
Kakanda hendak pergi berjalan.

Abang nan hendak perginya serta
Niat tuan hendak ke Tanjungpura
Hendak bertemu dengan saudara
Jikalau tidak aral dan mara.

Lalu bermadah keenamnya istri
Segala mana abang nan cari
Baginda menjawab kata istri
Adakah kiranya lima belas hari.

Putri keenam mengerahkan dayang
Perbuat perbekalan malam dan siang
Duduk berhimpun di kota Mayang
Berbagai jadah garang mengarang.

Diperbuatkan elok tidak terperi
Sekalian menunjukkan pandai sendiri
Lalu disembahkan kepada putri
Lengkaplah hadir alat terdiri.

Setelah siang sudahlah hari
Bangun Baginda Raja Bestari
Berangkat ke istana permaisuri
Diiringkan oleh hulubalang menteri.

Setelah baginda datang ke istana
Lantas melangkah di patarana
Persantapan diangkat dang Warna
Santaplah Baginda Raja yang hona.

Sudah santap baginda nan tuan
Santap sirih di dalam puan
Setelah disuapkan putri bangsawan
Serta dengan gurau cumbuan.

Baginda baring di kota Biduri
Bertitah dengan Ratna Wali
Ayuhai dayang pergilah diri
Mangkubumi di Balaisari.

BANGSAGARA BERANGKAT KE TANJUNG PURA

Dayang menyembah beribu cara
Tuanku dipanggil Mahkota Negeri
Setelah didengar mangkubumi
Lalu segera berjalan pergi.

Masuk menghadap junjung duli
Duduk di atas permadani
Lalu bertitah raja yang honi
Menyuruh dayang menyurung cerani.

Mangkubumi yang bijaksana
lalu makan sirih karenanya.

Baginda bertitah manis berseri
Iringi kakanda mangkubumi
Turutkan bahtera dari anjani
Ke Tanjungpura beta nan pergi.

Siapkan sekali alas bahtera
Supaya selamat ke Tanjungpura.
Berdayang kita menteri keempat
Menjunjung duli mengata daulat
Patik hamba di bawah hadirat
Manakala mata tuanku berangkat.

Baginda bertitah kepada menteri
Adalah lagi tiganya hari
Kakanda tinggal menunggu negeri
Beta nan lama hendak pergi.

Mangkubumi tidak menyembah
Lalu turun mengerjakan titah
Sekalian rakyat disuruh kerah
Menurutkan kenaikan duli khalifah.

Setelah bahtera diturutkan menteri
Mengerahkan segala orang yang pergi
Mengiringkan Baginda Raja Bestari
Berlima orang yang cahari.

Maharaja Indera juru mudi
Juru batu Maharaja Bumi
Memukul gong Raja Dewani
Juru tulis Maharaja Sari.

Berlayar biasa ia dibawa
Bijak laksana pandai semua
Alim budiman Maharaja Dawa
Ialah anak menteri yang tua.

Berapa bujuk oleh baginda
Putri nan diam tiada bersabda.
Adinda nan jangan berdiam diri
Abang bermohon ke Tanjungpuri
Jikalau adinda tidak memberi
Tiadalah jadi abang mengendarai.

Lalu menyahut permaisuri
Suaranya manis tiada terperi
Bukannya beta tidak memberi
Abang berangkat ke Tanjungpuri.

Selama hayat sebenarnya satu
Berbunyi nubat di Balai Beladu
Sudah bercumbu baginda beradu
Ditangkap Siti Maya Perabu.

Diperebutnya elok tiada terperi
Masing-masing menunjuk pandai bestari
Lalu disembahkan kepada putri
Lengkap sekalian amat berseri.

Setelah siang sudahlah hari
Bangun Baginda Raja Bestari
Berangkat ke istana permaisuri
Diiringkan oleh hulubalang menteri.

Setelah baginda datang ke istana
Langsung naik gentarana
Persantapan diangkat Dayang Mangerna
Santaplah Baginda Raja yang hona.

Sudahlah santap baginda nan kowan
Santap sirih di dalam puan
Sepah disuapkan peri bangsawan
Serta dengan gurau cumbuan.

Baginda berbaring di kanan biduri
Bertitah dengan dapuri
Ayuhai, dayang pergilah diri
Mangkubumi panggil kemari.

Dayang menyembah lalu berlari
Mangkubumi di Balaisari
Dayang menyembah sepuluh jari
Tuanku dipanggil mahkota negeri.

PERSIAPAN BERLAYAR

Setelah didengar Mangkubumi
Lalu segera berjalan pergi
Masuk menghadap menjunjung duli
Duduk di atas permadani.

Lalu bertitah raja yang hona
Menyuruh dayang menyurung carana
Mangkubumi yang bijaksana
Dimakanlah sirih dengan sempurna.

Mustaibkan ia akan berlayar
Mengalih labuh dikepung syah bandar
Mangkubumi banyak ikhtiar
Masuk menghadap raja yang besar.

Berdatang sembah perdana menteri
Semudah tuanku patik tinggali
Alat kerajaan hadir berdiri
Sudah mengalih labuh sekali.

Setelah mendengar sembahnya menteri
Baginda pun suka tiada terperi
Esok berlayar kita sekali
Kakanda wahai jangan lupakan negeri.

Setelah malam sudahlah hari
Bermohon kembali perdana menteri
Baginda bertitah kepada istri
Marilah santap raja bestari.

Setelah santap raja bangsawan
Lalulah masuk ke dalam peraduan
Berapa madah bujuk cumbuan
Putri Bungsu hatinya rawan.

Baginda berkata wajah berseri
Ayuhai adinda permaisuri
Abang bermohon kepadanya diri
Segeralah juga kakanda kembali.

Segeralah tuan pulang dahulu
Adikku jangan berhati pilu
Jikalau madah banyak terlalu
Memohonkan ampun di atas hulu.

Ayuhai adinda anak tiada berbangsa
Bangsawan jangan berpilu rasa
Abang bermohon salih termasa
Hendak pergi bertandang desa.

Tinggallah tuan ayuhai gusti
Janganlah adikku berpilu hati
Jikalau tidak kakanda mati
Segera juga abang dapati.

Putri pun diam tidak berkata
Hanyalah sahut dengan air mata
Pilu dan rawan rasanya cita
Seperti hendak mengikut serta.

Bermadah baginda raja bangsawan
Serta dengan bujuk cumbuan
Baginda nan bijak lagi gunawan
Memandang adinda hatinya rawan.

Tinggal tuan jiwanya senda
Tinggal sunyi hati kakanda
Berapa bujuk oleh baginda
Putri nan diam tiada bersabda.

Adinda nan jangan berdiam diri
Abang bermohon ke Tanjung Puri
Jikalau adinda tidak memberi
Tiadalah jadi abang mengendarai.

Lalu menyahut pernasiuri
Suaranya manis tiada terepri
Bukannya beta tidak memberi
Abang berangkat ke Tanjung Puri.

Silam itu sebenarnya satu
Berbunyi nubuat di balai beladu
Sudah bercumbu baginda beradu
Ditangkap Siti Maya Perabu.

Diperbuatnya elok tiada terperi
Masing-masing menunjuk pandai bestari
Lalu disembahkan kepada putri
Lengkap sekalian amat berseri.

Setelah siang sudahlah hari
Bangun Baginda Raja Bestari
Lalu disembahkan kepada putri
Lengkap sekalian amat berseri.

Setelah baginda datang ke istana
Langsung naik genta rana
Persantapan diangkat dayang mangerna
Santaplah baginda raja yang hona.

Sudahlah santap baginda nan tuan
Santap sirih di dalam puan
Sepah disuapkan peri bangsawan
Serta dengan gurau cumbuan.

Baginda berbaring di kena biduri
Bertitah dengan dayang dipuri
Ayuhai dayang pergilah diri
Mangkubumi panggil kemari.

BANGSAGARA BERLAYAR KE TANJUNG PURI

Dayang menyembah lalu berlari
Mangkubumi di Balaisari
Dayang menyembah sepuluh jari
Tuanku dipanggil mahkota negeri.

Setelah didengar Mangkubumi
Lalu segera berjalan pergi
Masuk menghadap menjunjung duli
Duduk di atas permadani.

Lalu bertitah raja yang hona
Menyuruh dayang menyurung carana
Mangkubumi yang bijaksana
Dimakanlah sirih dengan sempurna.

Baginda bertitah manis berseri
Ayuhai Mamanda Mangkubumi Jauhari
Turunlah bahtera ke dalam jari
Beta nan hendak ke Tanjung Puri.

Berdayung kita menteri keempat
Menjunjung duli mengenakan daulat
Patik hamba di bawah hadirat
Ketika mana tuanku berangkat.

Baginda bertitah kepada menteri
Adalah lagi tinganya hari
Mamanda tinggal menunggu negeri
Beta tak lama balik kemari.

Mangkubumi segera menyembah
Lalu turun mengerjakan titah
Sekalian rakyat disuruh kerah
Menurunkan bahtera duli khalifah.

Setelah bahtera diturunkan menteri
Mengerahkan segala orang yang pergi
Mengiringkan Baginda Raja Bestari
Berenam orang yang jauhari.

Maharaja Indera juru mudi
Juru batu Maharaja Yaumi
Memukul gong Maharaja Dabauti
Juru tulis Maharaja Sari.

Berlayar biasa ia dibawa
Bijak laksana pandai semua
Alim budiman maharaja dua
Ialah anak menteri yang tua.

Mustaidlah ia alah berlayar
Mengalih labuh di kampung Syahbandar
Mangkubumi banyak ikhtiar
Masuk menghadap raja yang besar.

Berdatang sembah perdana menteri
Sudah tuanku lengkap di bahri
Alat kerajaan hadir terdiri
Menanti tuanku Raja Jauhari.

Setelah mendengar sembahnya menteri
Baginda pun suka tidak terperi
Belayarlah kita esoknya hari
Mamanda jangan lupakan negeri.

Setelah malam sudahlah hari
Bermohon kembali perdana menteri
Baginda bertitah kepada istri
Marilah santap Adinda Suri.

Setelah santap raja bangsawan
Lalulah masuk ke dalam peraduan
Barapa madah bujuk cumbuan
Putri Bungsu hatinya rawan.

Baginda berkata wajah berseri
Ayuhai adinda permaisuri
Abang mohon kepada diri
Tidaklah lama kakanda kemari.

Tinggallah tuan sementara dahulu
Adikku janagn berhati pilu
Jikalau sudah banyak metu lalu
Harapkan menghadap junjungan dulu.

Ayuhai adinda putri berbangsa
Adinda jangan berpilu rasa
Abang bermohon salih termasa
Hendak pergi tandang desa.

Tinggallah tuan ayuhai gusti
Janganlah adikku berpilu hati
Jikalau tidak kakanda mati
Segeralah buka abang dapati.

Putri pun diam tidak berkata
Hanya berhamburan air mata
Pilu dan rawan rasanya cita
Seperti hendak mengikut serta.

Bermadah Baginda Raja Bangsawan
Seperti dengan bujuk cumbuan
Baginda nan bijak lagi gunawan
Memandang adinda hatinya rawan.

Tinggallah tuan cewanya senda
Tinggallah sunting hati kakanda
Berapa dibujuk oleh baginda
Putri nan diam tiada bersabda.

Mengapa adinda berdiam diri
Abang bermohon ke Tanjung Puri
Jikalau adinda tidak memberi
Tiadalah jadi abang mengendarai.

Lalu menyahut permaisuri
Suaranya manis tidak terperi
Bukannya beta tiada memberi
Abang berangkat ke Tanjung Puri.

Setelah malam sudahlah tentu
Berbunyilah nubuat di Balai Ratu
Sudah bercumbu baginda beradu
Ditunggu Siti Maya Perabu.

Setelah sudah siangnya hari
Bangun Baginda Raja Jauhari
Lalulah berangkat pergi mandi
Kembali santap laki istri.

Setelah sudah berkata-kata
Lalu berangkat duli mahkota
Mendapatkan putri keenam serta
Langsung melangkah di atas kata

PERTEMUAN DENGAN SELENDANG DELIMA

Putri keenam datang berhimpun
Karena baginda sudahlah turun
Datanglah menghadap beramai susun
Tinggallah tuan sekalian berhimpun.

Kata baginda tinggallah tuan
Kakanda nan hendak segera mengawan
Tinggallah jira kakanda sekalian
Tuan nan jangan berhati rawan.

Tinggallah tuan sekalian rata
Abang nan hendak pergi melata
Adinda wahai jangan bercinta
Segeralah juga kembalinya beta.

Lalu menyembah ampun putri
Mendengar titah raja bestari
Sekalian tunduk berdiam diri
Sepatah tidak ia berperi.

Setelah dilihat Selendang Delima
Baginda lagi melangkah di sana
Ialah duduk di tengah istana
Hikmat menyembah raja yang hona.

Baginda bertitah sambil berantahna
Engkau nan ini hendak ke mana
Duduk menyembah Selendang Delima
Patik tuanku kecil yang hina.

Sebab pun patik datang kemari
Mohonkan ampun ke bawah duli
Tuanku berangkat ke Tanjung Puri
Patik pun hendak pasan sekali.

Jikalau selamat kembali tuanku
Haraplah singgah di Pulau Bandu
Ambilkan patik rotan dan batu
Tiada berciri keduanya itu.

Jikalau tidak tuanku kenal
Batunya hitam rotannya tunggal
Di atas batu tumbuh berpenggal
Tuanku kerat barang sejengkal.

Jikalau tidak tuanku singgahi
Tuanku tidak dapat kembali
Turunlah ribut topan sehari
Pulau tak dapat tuanku lari.

Tertawa suka raja yang honi
Cerdik sungguh budaknya ini
Anak siapa gerangan begini
Lakunya cerdik sangat berani.

Terlalu murka keenam putri
Serta diterpa dagan buah
Si kutuk sundal birah keladi
Patutkah raja engkau sumenahi.

Baginda bersabda kepada istri
Janganlah apa adinda lari
Budak kecil tiada mengerti
Belas kasihan rasanya hati.

Setelah sudah baginda bersabda
Lalu berangkat naiklah kuda
Diiringkan menteri tua dan muda
Naik ke kamal duli baginda.

Baginda semayam di pana rana
Dihadap hulubalang menteri yang hona
Baginda bersabda dengan sempurna
Naik kembali abang perdana.

Mangkubumi menjunjung duli
Mengangkat tangan sepuluh jari
Lalu bertitah raja yang asli
Angkatlah sauh kita sekali.

PELAYARAN MENUJU TANJUNG PURA

Setelah sudah sauh terbongkar
Segala layar lalu terbabar
Masing meriam bedil setangkar
Bunyi gemuruh seperti nagar.

Tujuh malam delapan hari
Laut dalam terlalu asri
Gelombangnya besar tiada terperi
Siang dan malam dilayari.

Lajunya bukan lagi kepalang
Siang malam layar terkembang
Segala rakyat duduk bertembang
Bahtera pun sampai ke tanah Serang.

Lalu berkata jurunya mudi
Dibawa ke mana gerangan begini
Disahut oleh Malim Bestari
Bukannya gunung rupanya ini.

Malim berkata memegang buat-buatan
Bukannya pulau gunung daratan
Tanjung Puri dikatanya buritan
Lebih tahu kita lihatkan.

Kepada dalam baginda bertanya
Adakah tempatnya orang ratapinya
Kepung nan besar dengan tanglinya
Gunung apa gerangan namanya.

Berdatang sembah Malim Dewa ini
Inilah tuanku Gemunung Renjani
Tanjung Puri janahan ini
Seorang menteri diam di sini.

Tiga hari sampai antara
Meninggalkan rantau Gunung Indera
Sampailah sudah ke Tanjung Pura
Berkata Malim lapuhkan bahtera.

Penggulung layar sekalian rakyat
Memasang rima setanggar diangkat
Sekalian pikir yang berlabuh dekat
Nakhodanya menghadap duli hadirat.

Lalu berkata raja berhemat
Hendak membaca doa selamat
Suara manis terlalu amat
Menyuruh mengambil juadah nikmat.

PESAN PENUTUP DARI PENGARANG

Ayuhai encik bijak laksana
Inilah syair adinda Angsana
Sajaknya janggal banyak tak kena
Karena paham belum sempurna

Pikir nan tidak berbuat dusta
Dengan sebenarnya pikir berkata
Bukannya kabar dengannya warta
Sekalian itu dipandang mata.

Dengarkan kisah suatu cerita
Di Tanjung Puri raja bertahta
Kerajaan besar tiada berita
Takluk Baginda Raja Mahkota.

Sultan nan Kunan amat bestari
Anak Saudara Dewa Syah Puri
Kerajaan besar tiada terperi
Masyhurlah kabar senegap negeri.

(Syair berlanjut dengan pertemuan Bangsagara dengan Raja Tanjung Puri, penobatan, pernikahan, pencarian Selendang Delima, hingga ke Gunung Angkasa, dan berakhir dengan pernikahan Selendang Delima dengan Dewa Udara)

PENUTUP

Tamatlah Syair Sari Baniyan
Sekalian yang mendengar sangat kasihan
Sungguhlah kabar yang demikian
Lamun di gunung bertambah rawan.

Catatan: Syair ini memiliki total sekitar 2.000 bait. Ringkasan di atas mencakup alur utama cerita sesuai dengan naskah asli yang ditransliterasikan oleh Muhammad Jaruki dan diterbitkan oleh Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan pada tahun 1999.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *