Sejarah kelam maritim Nusantara mengungkap keberadaan markas besar perompak yang ditakuti di Laut Cina Selatan pada abad ke-17 hingga ke-18.
BELITUNG, 15 Mei 2026 — Laut Cina Selatan pada masa lampau menyimpan kisah kelam tentang kejayaan perompak lanun yang ditakuti. Berdasarkan naskah klasik “Perompak Lanun” karya Ahmad yang diterbitkan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan pada 1978, terungkap fakta sejarah tentang eksistensi Maharaja Seri Wangsa, seorang raja perompak keturunan bangsawan Bugis yang menjadikan Teluk Datu, di kali Serawak, pulau Kalimantan (Borneo) sebagai markas utama angkatannya.
Sarang Perompak yang Terorganisir
Markas perompak lanun ini bukan sekadar kampung biasa, melainkan sebuah negeri bajak laut dengan struktur yang teratur. Di tengah kubu tanah yang tebal berdiri Istana Maharaja Seri Wangsa lengkap dengan rumah para menteri dan panglima. Terdapat pula sebuah balairung seri yang menjadi pusat pertemuan para anak buah dan tempat berunding.
Di luar kubu, berserak rumah para hamba rakyat dan anak buah yang kebanyakan berada di tepi batang air. Di muara sungai, berlabuh berbagai jenis perahu perompak seperti pencalang, lancang, dan perahu besar-kecil yang semuanya dilengkapi meriam dan lela yang tertata rapi.
Fakta menarik yang terungkap dari naskah ini adalah bahwa meskipun seorang perompak, Maharaja Seri Wangsa dikenal adil dalam memerintah. Ia sangat pengasih dan penyayang kepada anak buahnya serta kepada mereka yang mau tunduk. Mereka tidak dibiarkan hidup melarat atau ditimpa kesusahan.
Tokoh-Tokoh Penting di Sarang Perompak
Di bawah Maharaja Seri Wangsa, terdapat beberapa tokoh kunci:
- Datuk Seri Putih — Menteri besar, tangan kanan baginda, sekaligus sahabat karib yang tak pernah bercerai. Ia berperan sebagai menteri, hulubalang, dan penasihat utama.
- Datuk Jembalang dan Datuk Afrit — Dua panglima yang garang dan bengis, digambarkan memiliki sifat seperti jin afrit yang ganas. Mereka jarang dititahkan merompak karena kebuasannya yang sering membakar kampung halaman lawan.
- Indera Jaya — Seorang pahlawan muda berusia sekitar 20 tahun yang menjadi harapan utama Maharaja Seri Wangsa. Ia adalah panglima besar yang gagah perkasa, berperawakan tegap dengan mata jernih dan tajam. Ia kerap dititahkan berlayar berbulan-bulan dan selalu membawa pulang rampasan serta tawanan.
Era Kejayaan Perompak
Berdasarkan keterangan naskah, peristiwa ini terjadi dua tiga abad sebelum naskah ditulis (naskah diterbitkan 1978), yakni sekitar abad ke-17 hingga ke-18 Masehi. Pada masa itu, Laut Cina Selatan menjadi jalur perdagangan yang rawan karena ancaman perompak dari berbagai bangsa.
Lokasi Strategis Markas Perompak
Markas besar perompak ini berlokasi di Teluk Datu, di kali Serawak, pulau Kalimantan (Borneo). Lokasi ini dipilih secara strategis karena berada di jalur pelayaran utama yang menghubungkan berbagai kerajaan dan pusat perdagangan di Nusantara, Semenanjung Malaka, hingga daratan Asia Tenggara seperti Siam, Kamboja, Annam, dan Filipina.
Menguasai Jalur Perdagangan
Alasan utama kekuatan perompak ini begitu ditakuti karena mereka menguasai jalur perdagangan tersibuk di kawasan. Wilayah operasi mereka membentang dari seluruh pantai pulau Kalimantan, pesisir tanah Melaka, hingga ke benua Siam, Kamboja, Annam, dan Filipina.
Kapal dagang dan perahu layar yang lalu lintas di wilayah tersebut sering ditawan dan disamun. Barang dan orang dirampok, sementara tawanan yang mau tunduk dijadikan hamba sahaya atau anak buah. Yang melawan akan dihabisi di pulau Tambunan Tulang.
Strategi dan Organisasi
Yang membuat angkatan ini istimewa adalah organisasinya yang terstruktur. Indera Jaya, sang panglima muda, membawahi tiga orang hulubalang, dua belas nakhoda piawai, tujuh orang pertuanan, dan tiga ratus anak buah. Mereka mengoperasikan 24 buah lancang (kapal perang).
Naskah mencatat bahwa angkatan Maharaja Seri Wangsa yang dikepalai Indera Jaya-lah yang paling ditakuti. Merekalah penyebab utama laut di wilayah tersebut tidak aman. Setiap perahu atau kapal layar yang berlayar di sana harus waspada dan lengkap bersenjata.
Sumber:
Ahmad. (1978). Perompak Lanun. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Proyek Penerbitan Buku Bacaan dan Sastra Indonesia dan Daerah. (Diterbitkan kembali seizin PN Balai Pustaka BP No. 1664)

