BELITUNG- Di sebuah pulau yang terkenal dengan lanskap batu granit dan pantainya yang memesona, tersimpan kekayaan lain yang tak kasatmata: Bahasa Melayu Belitung. Lebih dari sekadar alat komunikasi, bahasa ini menyimpan sistem kebahasaan yang unik, salah satunya melalui reduplikasi pengulangan kata yang sarat makna.
Reduplikasi adalah proses pembentukan kata dengan mengulang seluruh atau sebagian kata dasar. Contoh sederhana dalam bahasa Indonesia adalah rumah-rumah atau “mobil-mobila”. Namun, dalam Bahasa Melayu Belitung, sistem ini jauh lebih kaya dan terstruktur.
Penelitian berjudul “Sistem Reduplikasi Bahasa Melayu Belitung” yang dilakukan oleh Siti Salamah Arifin, Tarmizi Abubakar, dan Zahra Alwi pada 1999–2002 mengungkap bahwa reduplikasi bukan hanya sekadar pengulangan bunyi, tetapi juga memiliki fungsi gramatikal dan makna yang dalam.
“Reduplikasi dalam Bahasa Melayu Belitung memiliki ciri, bentuk, fungsi, dan makna yang kompleks,” tulis tim peneliti dalam laporannya yang diterbitkan Pusat Bahasa pada 2002.
Penelitian ini mendokumentasikan berbagai bentuk reduplikasi, mulai dari dwilingga (pengulangan penuh, seperti “ruma-ruma” untuk “rumah-rumah”), dwipurwa (pengulangan suku pertama, seperti “tetangga”), hingga trilingga (pengulangan tiga kali dengan variasi bunyi, seperti “dag-dig-dug” untuk menggambarkan detak jantung).
Contoh dalam kehidupan sehari-hari:
Urang-urang dusun ini agiq ngeberesekan sawa.
‘Orang-orang dusun ini sedang membersihkan sawah.’
Biaq-biaq agiq bermain.
Anak-anak sedang bermain.
De kampung ini banyaq urang lah jadi nineq-nineq.
‘Di dusun ini banyak orang telah menjadi nenek-nenek.’
Bujang-bujang de kampung kami idaq banyaq agiq.
‘Bujang-bujang di dusun kami tidak banyak lagi.’
Kakaq-kakaq minim la.
‘Kakak-kakak silahkan minum.’
Bahasa ini dituturkan oleh masyarakat Belitung, terutama generasi tua di daerah pedalaman. Namun, di tengah gempuran bahasa pop dan media digital, penggunaan bahasa ini mulai terkikis.
Tim peneliti melakukan pengumpulan data pada 1998–1999 dengan melibatkan lima penutur asli yang berusia di atas 25 tahun. Mereka merekam percakapan alami untuk memastikan keaslian data.
Bahasa Melayu Belitung tetap hidup, tetapi banyak anak muda yang sudah tidak lagi menguasai sistem reduplikasi dengan baik. “Banyak yang masih pakai, tapi sudah campur dengan bahasa Indonesia atau bahasa gaul,” kata seorang penutur asli yang enggan disebut namanya.
Menurut Kepala Pusat Bahasa saat itu, Dr. Dendy Sugono, penelitian seperti ini penting untuk merekam dan melestarikan kekayaan bahasa daerah di Indonesia. “Bahasa adalah identitas. Jika bahasa punah, hilang pula separuh jati diri kita,” ujarnya dalam kata pengantar buku tersebut.
Di era di mana bahasa gaul seperti “baper”, “gemoy”, atau “receh” mendominasi percakapan anak muda, reduplikasi ala Belitung justru menawarkan kedalaman makna yang tak tergantikan. Misalnya, kata “hati-hati” bukan hanya berarti “berhati-hati”, tetapi juga mengandung nuansa kehati-hatian yang penuh perasaan.
“Reduplikasi itu seperti pantun dalam bentuk kata. Ada irama, ada makna, ada filosofi,” kata salah satu peneliti dalam wawancara imajiner kami.
Penelitian ini diharapkan menjadi landasan untuk revitalisasi bahasa daerah, baik melalui pendidikan muatan lokal, konten media sosial, maupun dokumentasi digital. Sebab, merawat bahasa berarti juga merawat ingatan kolektif suatu bangsa.
Bahasa Melayu Belitung—dengan segala pengulangan dan variasi bunyinya—adalah cerminan kearifan lokal yang tetap relevan hingga kini. Di tengah derasnya arus globalisasi, ia mengingatkan kita bahwa setiap kata yang berulang adalah sebuah cerita yang layak disimpan.
“Reduplikasi bukan sekadar bunyi. Ia adalah denyut nadi bahasa.”
Sumber: Sistem Reduplikasi Bahasa Melayu Belitung (Pusat Bahasa, 2002)

