Juara Lomba Baca Puisi Kedai Pak Itam, Bunda Literasi Belitung Beri Pesan Haru

Juara Lomba Baca Puisi Kedai Pak Itam, Bunda Literasi Belitung Beri Pesan Haru

TANJUNGPANDAN, ANOQNEWS – Gemuruh puisi menggema di malam yang syahdu. Di sudut Kota Tanjungpandan, di sebuah kedai kopi yang akrab disapa Kedai Pak Itam, semangat kemerdekaan dan kreativitas anak muda bersatu dalam gelaran Final Lomba Baca Puisi dalam rangka HUT ke-81 Republik Indonesia sekaligus memperingati Hari Jadi pertama Podcast Kedai Pak Itam, Jumat (21/8) malam.

Dengan dekorasi sederhana namun sarat makna, puluhan pasang mata tertuju pada panggung kecil. Di sanalah, perlahan tapi pasti, lahir bibit-bibit baru sastrawan Belitung yang siap mengguncang dunia dengan kata-kata.


Merdeka Bukan Hadiah, Tapi Amanah

Malam itu, Ibu Hastari Wardianti Djoni Alamsyah, yang akrab disapa Bunda Literasi Kabupaten Belitung, membuka acara dengan pantun khas Melayu yang langsung mencuri perhatian. Dalam sambutannya yang penuh haru dan semangat, ia mengingatkan bahwa kemerdekaan yang dinikmati hari ini bukanlah hadiah gratis.

“Bapak-bapak, ibu-ibu, dan anak-anak mudaku sekalian yang kami banggakan, kemerdekaan yang kita nikmati hari ini bukanlah hadiah. Kemerdekaan lahir dari perjuangan, pengorbanan, air mata, bahkan nyawa para pahlawan,” ujarnya

Bunda Literasi melempar pertanyaan retoris yang menggelitik: “Apa tantangan pemuda pada hari ini?”

Dengan tegas ia menjawab sendiri, “Tantangan kita hari ini adalah bagaimana menggunakan ilmu, kreativitas, teknologi, dan media sosial untuk sesuatu yang bermanfaat bagi bangsa dan negara. Jangan sampai kita menjadi generasi yang hanya pandai scroll, tetapi malas berpikir; pandai berkomentar, tapi tidak mau berkarya; pandai membuat konten, tetapi lupa membuat perubahan.”

Pesan itu menggema di antara deru tepuk tangan. Sorot mata para peserta pun membara.


Jadilah Generasi yang Melek Teknologi, Tetap Berakhlak

Di hadapan puluhan pelajar dari berbagai SMA dan SMK se-Kabupaten Belitung, Hastari menegaskan bahwa teknologi hanyalah alat. Yang membedakan adalah karakter.

“Jadilah generasi yang melek teknologi, tetapi tetap berakhlak. Jadilah generasi yang kreatif, tetapi tetap rendah hati. Jadilah generasi yang berani bermimpi, tetapi juga berani bekerja keras untuk mewujudkan mimpi itu,” pesannya menggema.

Ia juga mengingatkan bahwa puisi bukan sekadar rangkaian kata, melainkan suara hati. “Bawakan puisi dengan hati. Rasakan setiap katanya. Sampaikan pesannya. Tunjukkan bahwa anak muda Indonesia masih memiliki semangat, kreativitas, dan kepedulian kepada bangsa.”

Di akhir sambutannya, Bunda Literasi mengajak seluruh hadirin mengisi kemerdekaan dengan karya nyata. “Walau dulu pahlawan berjuang dengan tenaga dan jiwa, mari kita lanjutkan perjuangan itu dengan ilmu, karya, prestasi, dan karakter. Mari kita isi dengan karya anak muda. Dirgahayu Republik Indonesia ke-81!”


Podcast Kedai Pak Itam Suara Perubahan untuk Belitung

Di balik suksesnya acara, terdapat dedikasi luar biasa dari pemilik Kedai Pak Itam, Istanti Iswarin, yang akrab disapa Kak Tanti. Dalam keterangannya kepada ANOQNEWS, Sabtu (22/8), ia menyampaikan harapan besarnya terhadap keberlanjutan podcast yang ia rintis.

“Mohon dukungan agar podcast ini tetap konsisten. Siap menjadi pemantik untuk Belitung lebih baik, terutama literasi generasi emas 2045. Podcast Kedai Pak Itam hadir membawa suara perubahan,” ujarnya.

Ia menambahkan dengan semboyan yang menjadi moto podcast-nya: “Suara Perubahan, Dokumentasi Peradaban Belitung.”

Kak Tanti menjelaskan bahwa acara malam itu bukan sekadar lomba, melainkan ruang bagi anak muda mengekspresikan diri, menuangkan gagasan, dan membuktikan bahwa hiburan, kreativitas, dan teknologi bisa berjalan seiring dengan semangat kemerdekaan.


Deretan Juara: Wajah-wajah Muda Berbakat

Setelah melalui babak penyisihan yang sengit selama dua hari—Selasa (19/8) dan Rabu (20/8)—malam final akhirnya memutuskan para pemenang yang dinilai oleh dewan juri yang kompeten. Berikut daftar juara Final Lomba Baca Puisi HUT RI ke-81:

Juara 1

Annisa Fitri Ramadhani
(SMAN 1 Tanjungpandan)

Juara 2

Felicia Hidayah
(SMAN 1 Tanjungpandan)

Juara 3

Aqilah Faliha
(SMAN 2 Tanjungpandan)

Juara Harapan 1

Sintya Devi
(SMA Muhammadiyah Tanjungpandan)

Juara Harapan 2

Azzahra Putri Aulia
(SMAN 1 Gantung)

Juara Harapan 3

Malika Yarob
(SMA Muhammadiyah Tanjungpandan)


Babak Penyisihan yang Mencekam

Sebelum malam final, panitia telah menggelar dua sesi penyisihan yang diikuti oleh 35 peserta dari berbagai sekolah di Belitung.

Sesi I (Selasa, 19 Agustus 2026)
Menampilkan nama-nama seperti Yonatan Reynaldi Candra (SMKN 1 Tanjungpandan) dengan puisi “Kita adalah Pemilik Sah Republik Ini” karya Taufik Ismail, Gian Pratama Ramadhan (SMKN 2 Tanjungpandan) dengan “Karawang Bekasi” karya Chairil Anwar, serta Devitha Citra Chairunnisa dan Dave Revandrew Andreaz dari SMAN 1 Gantung yang sama-sama membawakan “Diponegoro”.

Suasana penyisihan terasa tegang, namun tetap diwarnai semangat persaudaraan. Setiap peserta berusaha menghayati setiap bait puisi, seolah ingin meneladani semangat kepahlawanan yang terkandung di dalamnya.

Sesi II (Rabu, 20 Agustus 2026)
Di hari kedua, giliran peserta dari MAN 1 Belitung, SMA PGRI, SMA Negeri 2 Tanjungpandan, dan SMA Muhammadiyah tampil. Nama-nama seperti Muhammad Gyrinops Zul Atthar dengan “Kuukir Namamu, Pahlawan”, Sheva Azzahra Chandra, dan Aisyah Syabrina turut meramaikan panggung.

Tak ketinggalan, Dinda Herliana, Duta Ramadan, dan Anisa Permana dari SMA PGRI turut memukau juri dengan penampilan yang penuh penghayatan. Malam itu, puisi-puisi perjuangan seolah hidup kembali di tengah-tengah generasi Z.


Antusiasme dan Harapan ke Depan

Pantauan di lapangan menunjukkan antusiasme luar biasa dari peserta maupun penonton. Tak hanya pelajar, masyarakat umum juga turut hadir menyaksikan. Kedai Pak Itam yang biasanya ramai dengan canda tawa malam itu berubah menjadi ruang apresiasi sastra yang khidmat.

Bunda Hastari dalam sambutannya sempat berpesan, “Semoga Kedai Pak Itam tidak hanya menjadi tempat hiburan dan canda tawa, tetapi juga menjadi ruang untuk menyampaikan gagasan, mengangkat potensi anak muda, mempererat silaturahmi, dan memberikan energi positif bagi masyarakat.”

Sementara itu, Kak Tanti berharap kegiatan semacam ini bisa terus berlanjut. “Indonesia tidak hanya membutuhkan generasi yang pintar menggunakan teknologi, tetapi juga generasi yang tahu untuk apa teknologi itu digunakan,” ulangnya menegaskan kembali pesan Bunda Literasi.


Makna di Balik Lomba Lebih dari Sekadar Juara

Yang menarik, malam final bukan sekadar ajang adu bakat. Ada nilai-nilai luhur yang ingin ditanamkan. Setiap peserta diajak untuk memahami bahwa puisi adalah cara anak muda menyampaikan pikiran, menafsirkan perjuangan para pahlawan, dan menerjemahkan makna kemerdekaan di zaman modern.

“Puisi ini adalah suara hati. Puisi adalah cara anak muda menyampaikan pikiran. Puisi adalah cara kita mengenang perjuangan para pahlawan dan menerjemahkan makna kemerdekaan di zaman sekarang,” kata Hastari.

Ia juga mengingatkan, “Kemerdekaan bukan berarti kita bebas melakukan apa saja. Kemerdekaan berarti kita memiliki kesempatan untuk belajar, berkarya, berprestasi, membantu sesama, menjaga persatuan, dan memberikan sesuatu yang terbaik untuk negeri.”

Dan pada malam itu, para peserta telah membuktikan bahwa mereka mengerti. Melalui lantunan kata, mereka menyampaikan bahwa generasi muda Belitung siap mengisi kemerdekaan dengan karya dan prestasi.

Menyalakan Api Literasi dari Belitung

Malam final Lomba Baca Puisi di Kedai Pak Itam menjadi bukti bahwa semangat literasi tidak pernah padam. Di tengah gempuran media sosial dan hiburan instan, anak-anak muda Belitung justru memilih untuk merayakan kemerdekaan dengan kata-kata yang bermakna. (Red)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *