Gambus Belitung, Warisan Budaya yang Dihidupkan di Museum

Gambus Belitung, Warisan Budaya yang Dihidupkan di Museum

TANJUNGPANDAN, 24 Juli 2026 — Gema dawai gambus seakan mengalun lembut di sudut-sudut ruang pameran UPT Museum Tanjungpandan selama dua hari terakhir. Tidak sekadar pajangan, alat musik tradisional khas Belitung itu benar-benar “hidup” melalui program edutainment bertajuk “Gambus Belitung: Menjaga Warisan, Menghidupkan Peradaban” yang digelar pada 22–23 Juli 2026. Sebanyak 80 siswa sekolah dasar diajak menyelami sejarah, teknik bermain, hingga nilai filosofis di balik senandung gambus yang selama ini menjadi denyut nadi budaya masyarakat Melayu Belitung.


Membuka Mata: Gambus Bukan Sekadar Benda

Pagi pertama, Senin (22/7), suasana museum terasa berbeda. Puluhan pasang mata polos siswa SD Negeri 1 Tanjungpandan tampak berbinar saat memasuki ruang auditorium yang dihiasi replika gambus dan foto-foto lawas para pemain gambus generasi terdahulu. Kegiatan resmi dibuka oleh perwakilan Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Kepulauan Bangka Belitung, Rofiqoh Naimatun, S.Si. Dalam sambutannya yang mengalir penuh makna, Rofiqoh menegaskan bahwa pelestarian kebudayaan tidak boleh berhenti pada pelestarian benda mati.

“Sesuatu yang lebih penting dari benda adalah budaya yang terkandung dalam koleksi museum. Melalui koleksi benda, kita mengetahui sejarah masa lampau. Namun tanpa pemahaman akan nilai dan praktik budaya, benda itu hanya menjadi artefak bisu,” ujarnya di hadapan para guru dan penggiat budaya yang hadir.

Rofiqoh juga menyatakan komitmen BPK untuk terus berkolaborasi dengan berbagai pihak dalam memajukan kebudayaan di Kabupaten Belitung. Menurutnya, inisiatif seperti ini menjadi jembatan antara generasi tua yang hafal dentingan gambus dan generasi muda yang baru pertama kali mengenalnya.


Tiga Narasumber, Satu Nafas: Menghidupkan Sejarah Lewat Dawai

Program edutainment ini menghadirkan tiga narasumber lokal yang tidak asing bagi pecinta seni tradisi Belitung. Mereka adalah Muchlis—Ketua KPSB Peta Belitung, serta dua praktisi gambus andal, Rendy Dwie Okatrinada, S.Sn dan Usni Mariosha. Dalam sesi yang dikemas secara interaktif selama dua hari, ketiganya bergantian membedah gambus dari berbagai sisi.

Muchlis: Tradisi Harus Diteruskan, Bukan Hanya Dikenang

Muchlis mengawali sesi dengan pemaparan sejarah panjang gambus di Belitung. Dengan gaya bercerita yang khas dan mengalir, ia membawa peserta menyusuri jejak gambus sejak masa Kesultanan Palembang hingga pengaruhnya dalam kesenian rakyat Belitung.

“Gambus di Belitung tidak lahir dalam ruang hampa. Ia tumbuh dari perpaduan budaya Melayu, Arab, dan pengaruh maritim Nusantara. Dulu, gambus mengiringi ritual laut, pesta panen, hingga perhelatan adat. Sekarang, kita perlu meneruskan tradisi ini agar identitas kultural Belitung tetap hidup dan dapat dinikmati generasi mendatang,” tegas Muchlis dengan suara lantang.

Ia juga mengungkapkan keprihatinannya atas mulai tergerusnya minat anak muda terhadap musik tradisional. Namun, antusiasme para siswa dalam sesi tanya jawab sedikit memberi harapan baru.

Rendy: Gambus Merekam Perjalanan Komunitas

Sementara itu, Rendy Dwie Okatrinada, yang juga dikenal sebagai pegiat seni muda, membawa pendekatan berbeda. Ia mengajak anak-anak melihat gambus tidak sekadar alat musik, tetapi juga dokumen hidup perjalanan sosial masyarakat Belitung.

“Gambus bukan hanya alat musik; ia merekam perjalanan komunitas kita, dari tarian hingga upacara tradisi. Setiap petikan senarnya memiliki cerita. Setiap irama yang dimainkan menyimpan nilai gotong royong dan kebersamaan,” jelas Rendy di hadapan siswa SD Regina Pacis pada hari kedua.

Ia memperagakan beberapa gaya permainan khas Belitung, yang berbeda dari teknik gambus di daerah lain. Paduan antara petikan melodi yang syahdu dan ritme yang menghentak khas Melayu berhasil memukau para peserta. Tidak sedikit yang terlihat ikut menggoyangkan kepala mengikuti irama.

Usni: Sentuhan Modern agar Tetap Relevan

Usni Mariosha, praktisi gambus yang juga aktif melakukan inovasi musikal, menyoroti teknik permainan serta adaptasi gambus di era modern. Ia menunjukkan bagaimana gambus dapat dikolaborasikan dengan alat musik lain tanpa menghilangkan ciri khasnya.

“Kami mencoba mengemas gambus agar tidak terkesan kuno. Beberapa anak muda sekarang tertarik karena gambus mulai dipadukan dengan instrumen modern. Yang penting esensi dan teknik dasarnya tetap dipertahankan,” papar Usni sembari memainkan petikan singkat yang diiringi dengan suara tepuk tangan anak-anak.

Usni juga memberikan kesempatan kepada para siswa untuk mencoba langsung memetik senar gambus sederhana. Momen itu menjadi salah satu yang paling dinanti; tawa dan pekik kagum memenuhi ruangan saat satu per satu anak berhasil mengeluarkan bunyi dari dawai gambus.


Belajar Sambil Bermain: Edukasi yang Menyentuh Hati

Program edutainment ini melibatkan 40 siswa SD Negeri 1 Tanjungpandan pada hari pertama, dan 40 siswa SD Regina Pacis pada hari kedua. Mereka tidak hanya duduk manis mendengarkan ceramah, melainkan aktif terlibat dalam demonstrasi, diskusi ringan, dan sesi mencoba alat musik.

Seorang guru pendamping dari SD Regina Pacis, Ibu Siti Rahmah, mencatat perubahan menarik pada anak-anak didiknya. Menurutnya, banyak siswa yang sebelumnya tidak tahu sama sekali tentang gambus kini pulang dengan semangat baru.

“Anak-anak pulang dengan semangat baru — banyak yang ingin belajar gambus di sekolah. Mereka bertanya apakah nanti bisa ada ekstrakurikuler gambus. Itu adalah dampak luar biasa dari kegiatan ini,” ujar Siti dengan senyum puas.

Hal senada disampaikan oleh salah satu siswa SD Negeri 1 Tanjungpandan, Arga (10 tahun). Ia mengaku pertama kali melihat gambus secara langsung dan sangat tertarik. “Ternyata seru, Pak! Suaranya bagus. Saya mau belajar supaya bisa mainin lagu-lagu Melayu,” katanya polos.


Kepala UPT Museum: Ini Awal dari Gerakan Berkelanjutan

Kepala UPT Museum, Revzan Maynovri, S.Sn, menyambut antusiasme publik terhadap penyelenggaraan edutainment kali ini. Ia menilai pendekatan yang menggabungkan edukasi dan hiburan terbukti efektif dalam menumbuhkan kecintaan budaya sejak usia dini.

“Edutainment ini bagian dari strategi kami untuk menghidupkan kembali tradisi lokal melalui pendidikan praktis. Kami berharap kolaborasi dengan sekolah, komunitas, dan Balai Pelestarian Kebudayaan dapat memperkuat pelestarian warisan budaya Belitung,” ungkap Revzan di sela-sela acara penutupan, Kamis (23/7).

Ia juga mengungkapkan rencana menjadikan kegiatan ini sebagai program berkala. Tidak hanya terbatas pada sekolah dasar, UPT Museum membuka peluang untuk melibatkan jenjang pendidikan lain serta komunitas seniman lokal. Revzan optimistis bahwa dengan sinergi yang solid, pelestarian gambus dapat bergulir lebih luas.

“Ini bukan sekadar acara seremonial. Kami ingin ada keberlanjutan. Ke depan, kami juga akan menghadirkan pelatihan rutin, pameran interaktif, dan kolaborasi dengan musisi gambus lintas generasi,” tambahnya.


Kolaborasi dan Harapan: Menuju Belitung yang Berbudaya

Keberhasilan program edutainment ini tidak terlepas dari dukungan berbagai pihak. Selain BPK Kepulauan Bangka Belitung dan komunitas seniman lokal, keterlibatan sekolah menjadi faktor penting dalam menjaring peserta dari kalangan pelajar. Rofiqoh Naimatun mengapresiasi langkah UPT Museum yang berani menghadirkan pendekatan baru.

“Kami di Balai Pelestarian Kebudayaan siap mendukung penuh inisiatif-inisiatif seperti ini. Karena pelestarian bukan hanya tugas pemerintah, tapi semua elemen masyarakat. Ketika anak-anak sudah dikenalkan pada akar budayanya, mereka akan tumbuh dengan rasa bangga dan memiliki,” ujar Rofiqoh.

Ia juga mengingatkan bahwa gambus memiliki nilai strategis sebagai identitas budaya Belitung di mata nasional maupun internasional. Potensi untuk dikembangkan sebagai daya tarik wisata edukasi pun terbuka lebar.

Sementara itu, Muchlis menyampaikan harapannya agar generasi muda Belitung tidak kehilangan pijakan budaya di tengah arus globalisasi.

“Jika gambus bisa bertahan ratusan tahun dan tetap relevan, maka anak-anak kita juga bisa. Mereka hanya perlu dibimbing, diberi ruang, dan tentunya diapresiasi,” tutup Muchlis penuh haru.


Pesan di Balik Petikan: Warisan yang Tak Boleh Padam

Program edutainment “Gambus Belitung: Menjaga Warisan, Menghidupkan Peradaban” menjadi bukti bahwa pelestarian budaya tidak harus kaku dan membosankan. Dengan pendekatan yang interaktif, melibatkan narasumber yang dekat dengan generasi muda, serta dikemas dalam suasana santai dan menyenangkan, museum bukan lagi tempat yang angker melainkan ruang belajar yang hidup.

Revzan Maynovri menutup rangkaian acara dengan harapan besar:

“Ketika anak-anak pulang dengan senyum dan menyebut nama ‘gambus’, itu artinya kita sudah menanam benih. Tugas kita sekarang adalah menyiramnya, merawatnya, hingga tumbuh menjadi pohon rindang yang memberi naungan bagi peradaban Belitung di masa depan.”

Di tengah gemuruh irama gambus yang sesekali terdengar dari ruangan, tampak jelas bahwa Belitung tengah bernapas kembali melalui dentingan dawai tradisinya. Sebuah warisan yang bukan hanya untuk dikenang, tapi untuk dihidupkan, dimainkan, dan disebarkan. (Red)


Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *