Ketika Belitung Jadi Panggung Perang Kapal VOC, Bajak Laut, dan Kerajaan Rempah Nusantara

Ketika Belitung Jadi Panggung Perang Kapal VOC, Bajak Laut, dan Kerajaan Rempah Nusantara

BELITUNG, 12 Mei 2026 – Selat Malaka, urat nadierdagangan dunia sejak berabad lalu, menyimpan segudang cerita tentang kejayaan, intrik, dan keruntuhan kerajaan. Di tengah lalu-lalang kapal dagang dari Arab, India, dan Tiongkok, gugusan pulau di timur Sumatera menjadi saksi bisu sekaligus pemain kunci dalam pusaran sejarah. Salah satunya adalah Pulau Belitung, yang dalam sebuah catatan abad ke-16 muncul dengan nama yang penuh misteri: Billiton.

Nama ini terungkap dalam riset filologis mendiang P. de Roo de la Faille (1954), yang membedah catatan perjalanan para petualang Portugis dan tradisi lisan Melayu. Dalam karyanya Historische Curiositeiten uit Malajoe en Java, de Roo de la Faille bukan sekadar menyebut tempat, melainkan mengurai lapisan-lapisan makna di baliknya, mengungkapkan bagaimana sebuah pulau bisa menjadi simbol tarik-menarik kekuasaan antara kerajaan besar.

Menguak Misteri di Balik Nama: Dari “Billiton” ke Laut yang Bergejolak

Pengamat sejarah dan jurnalis senior yang telah malang melintang selama satu dekade mencatat, kemunculan nama “Billiton” tidak bisa dilepaskan dari konteks geopolitis abad ke-16. Kala itu, peta kekuasaan di Selat Malaka sedang mengalami guncangan dahsyat. Kerajaan Malaka yang Muslim telah jatuh ke tangan Portugis pada 1511, sementara di pesisir timur Sumatera, Kesultanan Aceh dan Johor bersaing sengit untuk mengisi kekosongan kuasa.

De Roo de la Faille mengutip laporan Mendez Pinto, seorang petualang Portugis, yang pada 1539 melakukan ekspedisi ke Sumatera. Dalam laporannya, kapal-kapal Aceh yang legendaris berlayar dengan “heele vloot van wel 130 vaartuigen” (armada besar berjumlah 130 kapal) untuk menyerang Kerajaan Aru di pesisir timur Sumatera. Pertempuran ini adalah epik. Aru yang strategis, yang dulunya menyamai kejayaan Pasai dan Malaka, porak-poranda.

Di tengah konstelasi konflik inilah, para pelaut dan pembuat peta Portugis mencatat nama-nama pulau sebagai penanda navigasi. “Billiton,” tulis de Roo de la Faille, tercatat sebagai pulau yang menjadi basis dari seorang tokoh kontroversial, Jang di Pertuan Sakti, yang disebut-sebut sebagai “opgeworpen Koninck” (raja yang mengangkat diri sendiri) dari kelompok perompak Manicabosche.

Sang Penguasa Laut yang Menantang Kompeni

Siapakah gerangan raja ini? De Roo de la Faille dengan jeli menghubungkan catatan VOC dan laporan Residen Inggris pada 1687. Seorang tokoh karismatik bernama Sri Ahmed Shah muncul di Bencoolen (Bengkulu) mengaku sebagai pewaris takhta Minangkabau. Namun, sebelum tiba di sana, ia dan para pengikutnya telah membuat gempar jalur pelayaran di sekitar “Bangka dan Billiton.”

Aktivitasnya bukan sekadar perompakan biasa. Ini adalah strategi untuk menguasai jalur logistik. Dengan bermarkas di perairan sekitar Billiton, ia berhasil memotong jalur pasokan dan mengancam monopoli dagang dua kekuatan raksasa: VOC Belanda dan Inggris. Aksi “stropende” (merampok) yang dilakukannya membuat Gubernur Inggris, Mr. Blom, pada mulanya terpikat dan memberinya kepercayaan. Ia bahkan mencetak mata uang sendiri dan menulis surat kepada East India Company dengan janji manis: memberikan mereka kuasa atas perdagangan seluruh pulau.

Namun, bulan madu itu tak berlangsung lama. Pengkhianatan tercium. “A discovery was made of his having formed a design to cut off the settlement,” tulis Marsden, sejarawan Inggris yang dikutip de Roo de la Faille. Sri Ahmed Shah berencana menghancurkan permukiman Inggris dari dalam. Ia pun diusir, namun jejaknya di Billiton menjadi legenda yang membuktikan bahwa pulau itu adalah pangkalan strategis bagi siapa pun yang ingin mengendalikan nadi laut Nusantara.

Lebih dari Sekadar Batu Loncatan

Apa yang membuat Pulau Belitung, atau Billiton, begitu krusial? Secara geografis, posisinya yang berada di selatan Selat Karimata menjadikannya gerbang alternatif menuju Laut Jawa, terutama saat Selat Malaka sedang “panas.” Ketika armada Aceh memblokade atau angin muson tidak bersahabat, selat di sekitar Bangka-Belitung menjadi jalur penyelamat.

Namun, de Roo de la Faille menggali lebih dalam. Dalam analisisnya tentang cerita rakyat “Melasaké pampang” dari dataran tinggi Belalau, ia menarik benang merah ke silsilah penguasa kepulauan ini. Penguasa dari “boewaj Baloenggoe,” salah satu marga asli yang mendiami wilayah yang kini kita kenal sebagai Lampung dan sekitarnya, menelusuri asal-usul mereka dari Pagerroejoeng (Minangkabau) dan kisah pelayaran nenek moyang mereka. Ini menunjukkan bahwa Belitung bukan sekadar batu loncatan bagi pendatang, tetapi bagian dari jaringan maritim dan kultural yang sangat purba, menghubungkan ranah Minang dengan ujung selatan Sumatera dan pulau-pulaunya.

Belitung Hari Ini, Refleksi Historis Masa Lalu

Membaca riset de Roo de la Faille hari ini, saat Belitung telah bertransformasi menjadi destinasi wisata kelas dunia, memberikan perspektif yang mendalam. Di balik keindahan pantainya yang memukau dan batu-batu granit raksasa yang ikonik, tersimpan lapisan sejarah yang keras. Pulau ini adalah saksi bagaimana para petualang, raja gadungan, dan armada dagang raksasa saling sikut untuk menguasai titik simpul strategis di jantung Indonesia modern.

“Karya de Roo de la Faille mengingatkan kita bahwa nama sebuah tempat adalah arsip hidup,” ujar seorang peneliti sejarah dari Universitas Indonesia saat dihubungi (12/5). “Ketika kita membaca ‘Billiton’ dalam peta kuno, kita sebenarnya sedang membaca koran tentang pertempuran laut, diplomasi lada, dan intrik-intrik yang jauh lebih kompleks dari Game of Thrones.”

Dari armada perang Aceh, manuver Portugis, hingga siasat seorang “raja laut” dari Minangkabau, Pulau Belitung telah menjadi panggung sunyi dari babak-babak penting pembentukan identitas maritim Nusantara. Sebuah warisan yang, sayangnya, seringkali hanya menjadi catatan kaki. (Red)

Sumber:
De Roo de la Faille, P. (1954). Historische Curiositeiten uit Malajoe en Java. Den Haag. (hlm. 7-40)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *