Belitung , 6 Mei 2026 – Di tengah lebatnya hutan Belitung tempo dulu, tersirat kisah pilu sekaligus menegangkan tentang pengorbanan seorang ayah yang membalaskan kematian putri semata wayangnya. Cerita rakyat “Kik Cuan Melawan Limpai” menjadi salah satu warisan sastra lisan Melayu Belitung yang sarat akan nilai keberanian, sumpah setia, dan konsekuensi dari janji turun-temurun.
Berdasarkan naskah “Sastra Lisan Bahasa Melayu Belitung” yang diterbitkan oleh Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan pada tahun 1992, kisah ini bermula dari sebuah keluarga sederhana yang tinggal di sebuah ladang. Sang ayah, Kik Cuan, memiliki seorang putri cantik bernama Jerimai yang baru saja selesai melangsungkan pernikahannya.
Lomba Beripat Menjadi Awal Petaka
Suatu hari, terdengar kabar tentang diadakannya pesta besar di simpang tiga. Warga diundang untuk menyaksikan pertunjukan beripat, sebuah kesenian tradisional berupa saling pukul dengan rotan yang telah dimanterai. Kik Cuan yang ingin turut menyaksikan keramaian itu pun bergegas memboyong istri dan menantunya.
Namun, Jerimai yang masih sibuk berdandan memilih untuk menyusul kemudian. “Biarlah aku menyusul, saya cepat berjalan,” ucapnya kepada sang ayah, seperti dikutip dari naskah terjemahan cerita tersebut.
Pertemuan Maut di Tengah Rimba
Di tengah perjalanan menyusuri hutan belantara, Jerimai bertemu dengan Limpai, seekor babi hutan berukuran raksasa yang buas. Jerimai berusaha melarikan diri, tetapi tenaganya tak sebanding. Limpai pun menerkam dan melahap gadis malang itu hingga tak tersisa. Hanya secarik selendang dan sepotong jari yang tertinggal di tempat kejadian.
Kik Cuan yang menyusul dari belakang sontak terpana saat menemukan benda-benda tersebut. Perasaannya tak karuan. Ia segera menuju lokasi pesta dan memastikan bahwa Jerimai tak kunjung tiba. Keluarga yang semula riang berduka.
Penantian Tujuh Hari dan Perang Tanding
Keesokan harinya, Kik Cuan kembali ke lokasi dan bertemu langsung dengan Limpai. Sang babi raksasa meraung-raung seolah mengakui perbuatannya. Tanpa rasa takut, Kik Cuan menantang Limpai untuk bertanding tujuh hari kemudian.
“Hari ini kita berjanji, sampai ke anak cucuku nanti. Sekarang bapak lawan bapak, nanti anak lawan anak,” ucap Kik Cuan sebelum pertempuran puncak berlangsung.
Saat hari yang dijanjikan tiba, Kik Cuan datang dengan membawa berbagai senjata: parang, tombak, keris, dan perlengkapan lainnya. Limpai pun menepati janji. Pertarungan sengit terjadi. Serangan demi serangan dilancarkan, namun Limpai sulit ditaklukkan.
Gigi Urak Jadi Penentu Kemenangan
Di sela-sela pertempuran, Kik Cuan menyadari kelemahan Limpai. Saat ia menusuk dengan tombak, Limpai selalu menghindar ke sebelah kanan. Kik Cuan pun mengatur siasat. Dengan menggunakan gigi urak (alat penumbuk sirih), ia menusuk bagian kiri tubuh Limpai. Seketika Limpai menjerit kesakitan dan akhirnya roboh tak berdaya.
Namun, sebelum ajal menjemput, Limpai sempat mendengar sumpah Kik Cuan. Sebuah sumpah turun-temurun bahwa permusuhan mereka akan berlanjut dari generasi ke generasi.
Warisan Sumpah yang Melegenda
Hingga kini, masyarakat Belitung percaya bahwa setiap orang yang melewati tempat kejadian tersebut dan menyebut nama Kik Cuan, maka Limpai akan muncul kembali untuk menantang keturunannya. Cerita ini menjadi pelajaran berharga bahwa sumpah yang diucapkan dengan penuh dendam dapat membawa bahaya bagi anak cucu di kemudian hari.
Berikut adalah versi tulisan yang telah ditulis ulang dan dirapikan, dengan gaya bahasa naratif yang lebih halus tetapi tetap mempertahankan unsur cerita rakyat aslinya.
Kik Cuan Melawan Limpai
Kik Cuan adalah seorang ayah yang hidup bersama seorang istri dan seorang anak perempuan bernama Jerimai. Setelah Jerimai dewasa, ia dinikahkan dengan seorang laki-laki pilihannya.
Pada suatu hari, diadakan sebuah pesta di tempat yang jauh dari desa mereka. Kik Cuan pun ingin ikut meramaikannya. Ia menyuruh istri, anak, dan menantunya untuk segera berkemas-kemas agar bisa berangkat lebih sore. Sementara itu, Kik Cuan sendiri akan menyusul kemudian setelah memasukkan ayam-ayamnya ke dalam kandang.
Namun, Jerimai tidak dapat berangkat bersama suami dan ibunya karena ia belum selesai berhias. Ia berjanji akan menyusul dan berjalan cepat-cepat menyusul rombongan.
Di tengah perjalanan, Jerimai bertemu dengan Limpai, seekor babi hutan berukuran sangat besar dan buas. Meskipun Jerimai telah berusaha keras menyelamatkan diri, ia tetap tertangkap oleh Limpai. Jerimai mati dimakan Limpai. Hanya selendang dan sepotong jarinya yang tersisa.
Setelah memasukkan ayam-ayamnya, Kik Cuan berangkat menuju tempat pesta. Di tengah jalan, ia melihat selendang dan sepotong jari milik Jerimai. Dengan perasaan cemas dan tidak menentu, Kik Cuan segera bergegas ke tempat pertunjukan. Benar saja, anaknya tidak ada di sana. Kik Cuan, istrinya, dan menantunya akhirnya pulang dengan hati yang sedih dan gelisah. Kik Cuan hanya bisa menunjukkan tempat ditemukannya potongan jari dan selendang anaknya itu.
Keesokan harinya, Kik Cuan kembali mendatangi tempat tersebut dan bertemu dengan Limpai. Limpai meraung-raung dengan garang, sehingga yakinlah Kik Cuan bahwa anaknya telah dimakan oleh babi buas itu. Dengan hati yang berduka namun penasaran, Kik Cuan menantang Limpai untuk bertemu kembali tujuh hari kemudian guna mengadu kekuatan.
Pada hari yang telah dijanjikan, Kik Cuan datang lengkap dengan senjata: parang, tombak, keris, dan lainnya. Limpai pun menepati janjinya. Pertarungan sengit terjadi. Keduanya sama-sama tangguh, namun akhirnya Limpai dapat dikalahkan oleh Kik Cuan—hanya dengan tusukan gigi urak (sejenis taring atau benda tajam yang konon memiliki kekuatan magis).
Sebelum Limpai mati, Kik Cuan bersumpah bahwa permusuhan mereka tidak akan berakhir di sini, melainkan akan dilanjutkan oleh anak cucu mereka. Oleh sebab itulah, konon setiap orang yang lewat di tempat tersebut dan menyebut nama Kik Cuan akan didatangi oleh Limpai—bayang-bayang atau keturunan babi buas itu yang terus mewarisi dendam lama.
Sumber: Aliana, Zainal Arifin, dkk. Sastra Lisan Bahasa Melayu Belitung. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1992. (Lampiran 23 dan terjemahan Lampiran 23, hlm. 103-104 serta 175-176).

