Kisah Indera Jaya Dari Pangeran Riau menjadi Bajak Laut Terkenal

Kisah Indera Jaya Dari Pangeran Riau menjadi Bajak Laut Terkenal

Dari Pangeran hingga Bajak Laut: Kisah Indera Jaya yang Terlupakan

Siapa sangka, seorang pangeran kerajaan Riau justru tumbuh besar sebagai panglima bajak laut yang ditakuti di perairan Asia Tenggara? Inilah kisah hidup Indera Jaya—seorang pemuda yang nasibnya diputar-balikkan oleh pengkhianatan, dendam, dan pencarian identitas.

Pada era itu, perairan Asia Tenggara, khususnya Laut Cina Selatan, merupakan wilayah yang rawan perompakan. Berbagai kelompok bajak laut—dari Bugis, Melayu, hingga Kamboja beroperasi di sana, mengganggu jalur perdagangan dan menebar teror. Salah satu markas bajak laut yang terkenal berada di Kuala Serawak, dipimpin oleh Maharaja Seri Wangsa, mantan bangsawan Bugis yang menjadi raja perompak.

Indera Jaya adalah seorang panglima muda yang cakap, gagah, dan disegani di bawah komando Maharaja Seri Wangsa. Meski hidup di dunia bajak laut, ia dikenal memiliki sifat adil, pemurah, dan sangat disayangi rakyat Serawak. Namun, di balik wajahnya yang tegas, tersimpan rahasia kelam tentang asal-usulnya yang sesungguhnya.

Setelah pulang dari pelayaran, Indera Jaya akhirnya mendengar pengakuan dari ibunya—seorang perempuan yang selama ini hidup sebagai tawanan di Kuala Serawak. Ternyata, Indera Jaya adalah putra kandung Sultan Mahmud al Muazzamsyah, penguasa sah Kerajaan Riau. Ia adalah pewaris takhta yang sah.

Ayahnya dibunuh secara keji oleh saudara tirinya sendiri, Tengku Kelana Putera, yang kemudian merebut takhta Riau. Ibunya dan Indera Jaya kecil diselamatkan oleh seorang hulubalang setia, Datuk Mahbut, lalu hidup dalam penyamaran di antara bajak laut Kuala Serawak.

Mengetahui kebenaran ini, Indera Jaya dilanda konflik batin yang mendalam. Di satu sisi, ia telah dibesarkan di lingkungan bajak laut dan diangkat sebagai anak oleh Maharaja Seri Wangsa. Di sisi lain, darah bangsawan dan tanggung jawab untuk menuntut balas atas kematian ayah dan kakaknya menggelora dalam dirinya.

Bersama Datuk Mahbut dan sekutu barunya, Datuk Tan Telani (mantan hulubalang Riau yang membelot), Indera Jaya mulai merencanakan misi untuk merebut kembali takhta Riau dan menghadapi Tengku Kelana Putera.

Sementara itu, di Kuala Serawak, dua panglima lain Datuk Jembalang dan Datuk Afritmerasa dengki dengan popularitas Indera Jaya. Mereka merencanakan skema jahat untuk menyingkirkannya dengan cara bekerja sama dengan bajak laut di Selat Singapura.

Namun, rencana itu berantakan. Indera Jaya justru bertemu dengan Datuk Tan Telani yang dikirim untuk menangkapnya, tetapi akhirnya bersekutu demi tujuan yang sama: mengembalikan keadilan di Riau.

Nasib malang terus mendera. Maharaja Seri Wangsa dan penasihatnya, Datuk Seri Putih, tewas dalam kecelakaan laut yang didalangi oleh Datuk Jembalang dan Datuk Afrit. Tak lama kemudian, ibu Indera Jaya meninggal dunia karena sakit dan kesedihan yang mendalam.

Dengan dukungan rakyat Serawak yang mencintainya, Indera Jaya akhirnya berhadapan dengan kedua pengkhianat tersebut dan berhasil mengalahkan mereka dalam pertarungan sengit.

Setelah membersihkan Kuala Serawak dari pengkhianat, Indera Jaya—dengan dukungan Datuk Mahbut dan Datuk Tan Telani—memutuskan untuk berlayar ke Riau. Misi utamanya bukan sekadar merebut takhta, tetapi menuntut balas atas kematian ayah dan saudaranya, serta mengembalikan keadilan yang telah dirampas.

Kisah Indera Jaya bukan sekadar cerita petualangan bajak laut, tetapi sebuah narasi tentang identitas, pengkhianatan, dan pencarian keadilan. Ia mewakili pergulatan manusia antara takdir dan pilihan, antara darah dan lingkungan, antara balas dendam dan rekonsiliasi.

Dalam versi yang lebih modern, cerita ini mengingatkan kita betapa kompleksnya sejarah Nusantara—sebuah mosaik dari kerajaan-kerajaan, perdagangan, konflik, dan manusia-manusia yang terjebak di antara gelombang perubahan.

Indera Jaya mungkin hanya salah satu nama dalam hikayat lama, tetapi pesannya tetap relevan: bahwa kebenaran dan keadilan seringkali harus diperjuangkan melawan arus, bahkan jika kita harus berlayar melintasi laut yang paling berbahaya sekalipun.

Tulisan ini diolah dari naskah “Perompak Lanun” yang diterbitkan oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan tahun 1978, sebagai bagian dari upaya melestarikan dan menyegarkan kembali khazanah sastra Melayu klasik.

(Red)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *