Sejarah Belitung 1823, Saat Timah Masih Tidur dan Kehidupan Sederhana di Bawah Kolonial

Sejarah Belitung 1823, Saat Timah Masih Tidur dan Kehidupan Sederhana di Bawah Kolonial

BELITUNG, 10 Juli 2026 – Jika hari ini kita mengenal Belitung sebagai pulau penghasil timah dan destinasi wisata yang memukau, bayangkanlah dua abad silam. Pada tahun 1823, pulau ini masih berupa hamparan hutan lebat, dihuni oleh sekitar sembilan hingga sebelas ribu jiwa yang hidup sederhana dari ladang, hutan, dan laut. Mereka belum mengenal mesin uap, apalagi tambang raksasa.

Kisah tentang Belitung di masa itu tertuang dalam sebuah laporan langka yang ditulis oleh seorang komisaris pemerintah Hindia Belanda bernama Jan Isaäc van Sevenhoven. Naskah asli yang kini menjadi koleksi Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde (KITLV) ini baru diterbitkan ulang pada tahun 1867 dalam jurnal ilmiah Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde van Nederlandsch-Indië. Berkat arsip digital yang dibagikan oleh lembaga tersebut, kita bisa menyusuri kembali bagaimana Belitung dulu—sebuah negeri yang hampir terlupakan dalam peta kolonial.

Pertama Kali di Bawah Naungan Pemerintah Kolonial

Laporan Van Sevenhoven lahir dari sebuah misi penting. Pada 1821, pemerintah kolonial Belanda memutuskan untuk mengambil alih Belitung dari pengaruh Kesultanan Palembang dan ancaman perompak. Sejak 1812, pulau ini sempat menjadi rebutan antara Inggris dan Belanda, bahkan disebut-sebut dalam Perjanjian London 1814 dan akhirnya diserahkan secara resmi dalam Traktat 1824. Namun pada 1823, ketika Van Sevenhoven tiba, kekuasaan Belanda masih baru dan sangat rapuh.

Dengan perahu kecil bernama Eanore Trasait, ia berlayar dari Batavia (kini Jakarta) menuju Belitung pada 10 Juli 1823. Perjalanan yang penuh bahaya karena perairan sekitar pulau dipenuhi karang dan terumbu. “Men can zich geen aangenamer gezigt op zee voorstellen, dan deze straat oplevert,” tulisnya tentang pemandangan Selat Macclesfield sebuah keindahan yang kontras dengan kesulitan yang akan ditemuinya di darat.

Saat Belitung Masih Hutan dan Perompak

Di dalam laporannya, Van Sevenhoven menggambarkan Belitung sebagai pulau berbentuk segi empat dengan luas sekitar 120 mil geografis. Sebagian besar daratan masih tertutup hutan primer. Namun di balik pepohonan, tersimpan kekayaan alam yang luar biasa: emas, timah, bijih besi, kayu berkualitas tinggi seperti billian dan garoe, serta hasil laut seperti tripang, agar-agar, dan sisik penyu.

“De grond is zeer vruchtbaar; rijst en alle andere voedingsmiddelen groeijen welig,” tulisnya. Kopi, gula, dan kapas juga tumbuh subur—meski baru dalam tahap awal budidaya.

Sayangnya, semua potensi ini terhambat oleh dua masalah besar: perompak dan kekacauan pemerintahan. Teluk-teluk Belitung menjadi tempat persembunyian favorit bagi bajak laut dari Kerajaan Johor dan sekitarnya. Selain itu, benteng pertahanan Belanda yang dibangun di pedalaman sungai Tjoeroetjoep (kini Cerucup) ternyata salah lokasi. Van Sevenhoven mengkritik keras keputusan komandan setempat yang memilih membangun pos di Tandjong-Semba, tiga jam perjalanan dari muara sungai—sebuah tempat yang sempit, lembab, dan tak strategis.

“Aan dezen zotten eigenwaan wijt ik alleen al de verkeerdheden die hij gedaan heeft,” tulisnya merujuk pada komandan yang keras kepala. Ia merekomendasikan pemindahan benteng ke Tandjong-Goenong sebuah bukit kecil di muara sungai yang lebih aman dan sehat, dengan pemandangan laut yang indah serta tanah yang subur.

Kehidupan Penduduk: Dari Orang Darat hingga Orang Laut

Yang paling memikat dari laporan ini adalah potret masyarakat Belitung tempo dulu. Van Sevenhoven membagi mereka menjadi dua kelompok: penduduk darat (petani dan pengrajin besi) serta Orang Sekah atau Orang Laut—mereka yang tinggal di atas perahu, mengembara dari pulau ke pulau.

Penduduk darat digambarkan cerdas, bersih, dan berbicara bahasa Melayu dengan fasih. Rumah mereka dibangun dari kayu dan dinding daun kering, ditinggikan tiga sampai empat kaki di atas tanah untuk menghindari ular dan serangga. Mereka mengolah ladang dengan cara menebang hutan, membakar, lalu menanam padi.

Sementara itu, Orang Laut memiliki tubuh kekar dan kulit gelap, jarang memakai baju. Mereka hidup dari menangkap ikan, menyelam untuk tripang, dan mengumpulkan sarang burung walet. Pernikahan mereka bahkan unik: “Zij plaatsen bruid en bruidegom in kleine versierde kano’s en duwen die in zee; zoodra de ranke schuitjes bij elkander komen of tegen elkander stooten, stapt de bruidegom bij de bruid over.”—sebuah tradisi romantis yang mengingatkan kita pada kehidupan pelaut yang penuh takdir.

Van Sevenhoven juga mencatat bahwa mereka bukanlah Muslim—mereka makan babi, tidak disunat, dan memiliki kepercayaan alamiah. Dalam catatannya, mereka “tidak mengetahui apa pun tentang ajaran Islam selain sunat dan beberapa ritual lahiriah.”

Timah dan Bijih Besi: Kekayaan Terpendam

Meski belum ada tambang besar, penduduk Belitung sudah pandai mengolah bijih besi. Mereka menambang dari batu-batu berpori, meleburnya dengan tungku kayu arang, lalu mencetaknya menjadi batangan dan paku. Van Sevenhoven menulis dengan kagum tentang kualitas besi Belitung yang sangat keras dan tahan lama.

Ia juga melaporkan adanya timah dan emas, namun berhati-hati: “Omtrent de tin, die op Billiton nog in de aarde is, zoude ik van oordeel zijn, dat men het aan den tijd en de ontwikkeling der nijverheid moet overlaten.” Ia menyarankan agar Belitung tidak dieksploitasi terburu-buru—sebuah pemikiran yang jauh lebih maju dari zamannya.

Perdagangan dan Harapan

Van Sevenhoven melihat bahwa masa depan Belitung terletak pada perdagangan bebas. Ia mengusulkan agar pemerintah membuka pelabuhan, memberi insentif bagi pedagang Tiongkok dan pribumi, serta melindungi penduduk dari penindasan kepala desa.

“Zij zullen ons gehoorzamen en eerbiedigen,” tulisnya, “jika kita memberi mereka keadilan.” Ia yakin bahwa dengan perlindungan dan kepastian hukum, penduduk Belitung akan berbondong-bondong mendukung pemerintah kolonial.

Namun, kenyataan sejarah berkata lain. Meskipun beberapa rekomendasinya diikuti—seperti pemindahan benteng dan pembukaan kampung Tandjong Pandang—pemerintah kolonial justru menutup Belitung untuk perdagangan umum pada akhir 1820-an. Baru pada 1852, ketika tambang timah mulai digarap oleh swasta dan Belitung diangkat menjadi asisten-residensi sendiri, pulau ini mulai berkembang pesat.

Warisan yang Tersimpan

Laporan Van Sevenhoven bukan sekadar dokumen birokrasi. Ia adalah jendela menuju dunia yang telah hilang—ketika Belitung masih sunyi, sungai-sungainya masih jernih, dan orang-orangnya hidup dengan aturan leluhur. Kini, di balik kemegahan Pantai Tanjung Kelayang dan deru mesin tambang, tersimpan cerita tentang sebuah pulau yang pernah memulai segalanya dari nol.

Seperti kata Robidé van der Aa, yang menerbitkan ulang laporan ini lebih dari 40 tahun kemudian: “Al is sedert 1823 de toestand van Billiton aanmerkelijk veranderd, voor de geschiedenis behoudt dit stuk steeds zijne waarde.” (Meskipun keadaan Belitung telah banyak berubah sejak 1823, untuk sejarah, naskah ini tetap berharga.)

Kita boleh jadi tidak akan pernah mendengar suara Van Sevenhoven secara langsung, tetapi tulisannya telah menjadi saksi bisu dari sebuah perjalanan panjang—dari hutan belantara menjadi lumbung timah, dari negeri yang nyaris terlupakan menjadi bagian tak terpisahkan dari Indonesia.


Sumber:

  • Van Sevenhoven, J.I. (1823). Rapport over den toestand van Billiton. Diterbitkan ulang dalam Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde van Nederlandsch-Indië, Deel XIV (1867), hlm. 51–95.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *