BELITUNG, 28 Mei 2026 – Di balik hiruk-pikuk Kalimantan masa kini, tersimpan sejarah panjang tentang perjalanan seorang ulama, naik turunnya sebuah kerajaan, dan pulau timah yang menjadi tempat persinggahan para bangsawan. Kisah ini mengajak kita menyusuri lorong waktu dari Blitoeng hingga Kotaringin—menyaksikan bagaimana tokoh-tokoh dari tanah Jawa dan Banjarmasin merantau, membangun, dan meninggalkan warisan yang hingga kini masih bernapas.
Memori yang Tersembunyi dalam Arus Waktu
Dua nama hadir sebagai pintu menuju masa lalu: Blitoeng (Belitung) dan Kotaringin. Bukan sekadar tempat, melainkan cermin peradaban yang membentuk wajah Nusantara. Jauh sebelum Belanda menginjakkan kaki di Kalimantan, wilayah-wilayah ini telah menjadi bagian dari rantai kekuasaan besar: Kesultanan Banjarmasin.
Lantas, bagaimana Kotaringin berdiri? Siapa tokoh di baliknya? Mengapa Blitoeng menjadi tempat persinggahan penting? Dan mengapa kerajaan di tepi sungai ini menyimpan pusaka dari Majapahit hingga Tiongkok?
BAGIAN SATU: Kyai Gede — Sang Penyebar Cahaya di Tanah Kotaringin
Apa itu Kyai Gede?
Kyai Gede bukanlah nama orang, melainkan gelar kehormatan dalam tradisi Jawa. Kyai merujuk pada ulama atau tokoh agama yang disegani, sementara Gede berarti “besar” atau “agung”. Di Kotaringin, Kalimantan Tengah, nama ini melekat pada sesosok tokoh yang menjadi cikal-bakal peradaban Islam di wilayah tersebut.
Siapa di Balik Nama Kyai Gede?
Kisah berawal sekitar tahun 1675. Seorang ulama dari Kesultanan Demak, Jawa Tengah—yang kelak dikenal sebagai Kiai Gede—memutuskan meninggalkan tanah kelahirannya. Bukan karena kalah, melainkan karena ketidaksepahaman dengan penguasa Demak saat itu.
Perjalanannya membawanya menyusuri aliran Sungai Lamandau yang tenunannya berliku di pedalaman Kalimantan. Di situlah ia bertemu dengan tujuh bersaudara, para pemimpin setempat yang dikenal sebagai Demang. Pertemuan ini bukan sekadar silaturahmi, melainkan titik balik peradaban Kotaringin.
Dengan kebijaksanaan dan ilmu agama yang mendalam, Kiai Gede berhasil memecahkan berbagai persoalan yang membelenggu masyarakat setempat. Kedatangannya disambut dengan tangan terbuka. Ia kemudian menetap, mengajarkan Islam, dan membangun fondasi spiritual yang kokoh.
Kerja Sama yang Melahirkan Kesultanan
Kiai Gede tidak bekerja sendiri. Ia bersinergi dengan Pangeran Antakusuma, tokoh yang kemudian menjadi penguasa pertama Kesultanan Kotaringin. Bersama-sama, mereka membangun kraton (istana) dan masjid. Tahun 1675 menjadi catatan penting, menandai berdirinya pemerintahan Kotaringin di bawah pengaruh Kesultanan Banjarmasin.
Atas jasanya, Sultan Mustain Billah dari Kesultanan Banjar memberikan gelar Adipati kepada Kiai Gede, dengan nama resmi Patih Hamengubumi dan Adipati Gede Ing Kotaringin. Ia tidak hanya dihormati sebagai ulama, tetapi juga sebagai pemimpin wilayah.
Masjid Kyai Gede: Warisan yang Tetap Berdiri Tegak
Hingga kini, Masjid Kyai Gede berdiri kokoh di tepian Sungai Lamandau. Bangunannya mencerminkan akulturasi arsitektur Jawa dan Banjar—atap tumpang yang menjulang, dinding kayu yang usianya hampir empat abad. Masjid ini bukan hanya tempat salat, melainkan pusat pengajian dan pembelajaran Islam bagi masyarakat sekitar.
Masjid ini telah mengalami beberapa kali pemugaran (1951, 1982-1983, 1985-1986), termasuk perbaikan atap sirap dan penambahan teras. Namun, esensinya tetap terjaga. Hingga hari ini, masjid masih digunakan untuk ibadah dan menjadi destinasi ziarah.
“Masjid ini bukan sekadar bangunan. Ini adalah monumen perjuangan seorang ulama yang menyeberangi lautan dan rimba hanya untuk menebar cahaya.”
Blitoeng — Pulau Timah yang Tak Pernah Sepi
Blitoeng kini lebih dikenal sebagai Belitung adalah pulau yang terletak di sebelah timur Sumatera, berhadapan langsung dengan Selat Karimata. Secara ad ministratif, pulau ini kini menjadi Kabupaten Belitung dan Belitung Timur dalam Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.
Mengapa Blitoeng Penting?
Pada abad ke-18 hingga 19, Blitoeng bukanlah daerah biasa. Pulau ini, bersama dengan Bangka, dikenal sebagai penghasil timah utama Nusantara. Komoditas strategis ini menjadi rebutan berbagai kekuatan asing Belanda dan Inggris yang berlomba menguasai jalur perdagangan.
Secara administratif, hingga tahun 1852, Blitoeng masih menjadi bagian dari Residensi Bangka. Baru setelahnya, ia berdiri sebagai wilayah otonom di bawah Hindia Belanda.
Hubungan Blitoeng dengan Kyai Gede
Yang lebih menarik adalah koneksi historis Blitoeng dengan gerakan para bangsawan dan ulama dari Jawa serta Banjarmasin.
Dalam dokumen kolonial Belanda berjudul “Beschrijving van het Westelijke Gedeelte van de Zuid- en Oosterafdeeling van Borneo” (1860), ditemukan fakta penting: Dua orang bersaudara utusan Kesultanan Banjarmasin, bernama Madjan Laut dan Tongara Mandi, sempat menetap di Koemei (Kalimantan). Setelah berselisih, Madjan Laut memutuskan pindah ke Blitoeng.
Di sinilah koneksi itu terajut. Kiai Gede—putra dari Madjan Laut—disebutkan pernah kembali dari pengasingannya di Blitoeng untuk bergabung dengan pamannya (Tongara Mandi) di Kotaringin sekitar 15 tahun kemudian.
Narasi ini membuka wawasan baru: Blitoeng bukanlah pulau yang terisolasi. Pada abad ke-17 hingga 18, pulau ini telah menjadi bagian dari jaringan migrasi dan perdagangan antarbangsa, menjadi tempat persinggalan sekaligus permukiman bagi para bangsawan dan saudagar dari berbagai penjuru Nusantara.
Kotaringin – Dari Takluk hingga Perang Saudara
Dua Bersaudara Pemantik Peradaban
Kisah Kotaringin berawal dari dua orang utusan Banjarmasin: Madjan Laut dan Tongara Mandi. Mereka datang dari Tabanio menuju Koemei. Setelah terlibat perselisihan, Madjan Laut pindah ke Blitoeng. Sementara itu, Tongara Mandi menyusuri Sungai Lamandau dan mendirikan Kotaringin Lama.
Menurut tradisi lisan Dayak di hulu Sungai Aruh, nenek moyang mereka pernah memberikan emas debu kepada Sultan Banjarmasin sebanyak yang diperlukan untuk membuat satu takhta. Ini menunjukkan bahwa Kotaringin telah menjadi daerah penghasil emas dan tunduk kepada Banjarmasin sejak lebih dari 200 tahun silam.
Sumber naskah: “Het schijnt dat Kotaringin reeds voor misschien meer dan 200 jaren schatpligtig geweest is aan het destijds groote en magtige rijk van Bandjermasin.”
Mimpi dan Pisang sebagai Penentu Lokasi
Tongara Mandi terusik oleh serangan bajak laut. Ia meninggalkan Kotaringin Lama dan membangun kampung baru di cabang kiri sungai bernama Sungai Basarah. Namun, titik penting terjadi ketika Kiai Gede kembali dari Blitoeng.
Paman dan keponakan ini melakukan perjalanan mistis. Mereka menyusuri Sungai Aruh hingga Pandau, lalu menjelajahi Sungai Lamandau sampai cabang Bulik. Dalam mimpi, mereka mendapat petunjuk aneh: “Berdirilah di tempat di mana perahu kalian akan menumbuk batang pisang.”
Tepat di lokasi yang kini menjadi Kotaringin, perahu mereka menumbuk batang pisang. Di sanalah mereka memutuskan menetap. Namun, tempat itu sudah dihuni oleh kampung Dayak besar bernama Bangkalang Batu.
Pertumpahan Darah dan Pusaka yang Tersisa
Penolakan dari warga Dayak berujung pada peperangan. Kiai Gede dan pasukannya berhasil mengusir mereka, lalu merampas beberapa senapan Tiongkok dan dua belanga besar (tempayan). Hingga naskah ini ditulis, kedua pusaka itu masih tersimpan sebagai simbol kemenangan.
Para Dayak yang terusir bersumpah tidak akan pernah membangun kampung besar lagi. Mereka kemudian dikenal sebagai Orang Darat atau Orang Rukuk, dan pindah ke barat, ke daerah Jeli di tepi Danau Balida.
Dari Pemberontakan hingga Sekutu Belanda
Kekuasaan Kotaringin tumbuh di bawah Kiai Gede, meskipun secara formal masih mengakui Banjarmasin. Titik balik terjadi ketika Pangeran Bagawan (putra Sultan Banjarmasin) datang ke Kotaringin bersama putrinya, Putri Gelang.
Pangeran Bagawan diterima sebagai raja (bergelar Ratu Bagawan), sementara Kiai Gede menjadi semacam perdana menteri (mangkubumi). Namun, konflik pun tak terhindarkan. Ratu Bagawan terlibat hubungan dengan kerajaan Matan (Kalimantan Barat), yang rajanya bernama Murung Giri Mustapa. Sang raja Matan mempersunting Putri Gelang, dan sebagai mahar, ia memperoleh Distrik Jeli—wilayah yang sebenarnya berada di bawah Kotaringin.
Setelah Putri Gelang meninggal, Ratu Bagawan yang sedih kembali ke Banjarmasin. Kekuasaan Kotaringin diwariskan kepada Ratu Emas (putranya), lalu ke Panembahan Kotaringin, hingga akhirnya ke Ratu Bagawan Muda.
Istana ala Jawa dan Meriam dari Batavia
Di bawah Ratu Bagawan Muda, Kotaringin mengalami masa kejayaan. Ia membangun dalem (keraton) dengan model arsitektur Jawa. Pangeran Prabu, mangkubuminya, berhasil memenangkan perang melawan Matan dan Pinoh, memperluas wilayah, meskipun kemudian sebagian besar hilang kembali.
Kotaringin juga terlibat dalam perang saudara Banjarmasin (Pangeran Amir) dan menjadi pendukung Sultan Batu. Bahkan, mereka ikut berperang melawan Sultan Sambas.
Puncak keterbukaan terhadap kekuatan asing terjadi pada masa Ratu Anum Kesuma Jaya (ayah dari raja yang berkuasa saat naskah ditulis). Untuk pertama kalinya, Kotaringin meminta bantuan senjata dari Pemerintah Hindia Belanda di Batavia dalam perang melawan Matan. Mereka mendapat meriam, senapan, dan amunisi.
Ketika akhirnya daerah-daerah pesisir Kalimantan diserahkan oleh Sultan Banjarmasin kepada Belanda, Ratu Anum Kesuma menyerahkan tampuk kekuasaan kepada putranya, Ratu Imanudin, yang digambarkan sebagai sosok:
“Seorang pria berperangai lembut, berkehendak baik terhadap orang Eropa, dan sangat setia kepada Pemerintah Belanda.”
Sayangnya, sifat ini tidak dimiliki putra mahkota, Pangeran Anum, apalagi adiknya, Pangeran Dipati.
Pusaka dan Sistem Sosial Kotaringin
Pusaka yang Tersisa
Hingga masa penulisan naskah (abad ke-19), Kotaringin masih menyimpan berbagai pusaka kerajaan, antara lain:
- Dua takhta dari kayu hitam (eboni)
- Kipas berbentuk buket bunga dari kayu, digenggam wanita yang berjalan di depan raja
- Pedang dan tombak bergaya Brunei
- Tombak tiga mata (Siram Pangan Kurung) dan tombak dua mata (Cangga)
- Tiga meriam besi yang diklaim dari Majapahit, tetapi berdasarkan ciri-cirinya, lebih mirip buatan Tiongkok (nama pusaka: Jimat Sarosa dan Tanda Jalaup)
- Dua tempayan besar dari Jepang atau Tiongkok (Belanga) – jangan tertukar dengan tempayan biasa!
Istana Kotaringin sendiri dikelilingi pagar kayu runcing tinggi, dilengkapi jembatan angkat dan empat pintu gerbang. Yang terbesar bernama Lawang Agung, pintu khusus untuk raja.
Sistem Sosial Masyarakat
Masyarakat Kotaringin terbagi dalam lima lapisan:
- Keluarga kerajaan: Pangeran (laki-laki), Putri (perempuan), Ratu (permaisuri), Raden (anak pangeran dari istri rendah), Gusti (anak selir), Audin (cucu dari kelas bawah).
- Kepala wilayah (Nanang/Mentri): Kiai, Demang, Juragan (kepala distrik), dan Pembekal (kepala kampung).
- Punggawa (pengikut raja dan pangeran)
- Merdeka (rakyat bebas)
- Budak: Orang berutang (utang budak) dan budak sejati hasil perang atau belian.
Menariknya, orang asing Muslim, Dayak, atau Tionghoa yang kaya dipanggil Incek. Istri sah disebut bini, selir disebut gundik.
Warisan yang Tak Terputus
Jika Anda berjalan di tepian Sungai Lamandau di Kotaringin (kini Kotawaringin Barat), atau menyusuri pantai berpasir putih di Belitung, ingatlah bahwa jejak kaki para perantau di masa lalu masih membekas.
Kotaringin bukanlah kerajaan besar dalam peta politik Nusantara. Namun, ia adalah titik temu antara pengaruh Banjarmasin, rivalitas dengan Matan, jejak perdagangan Tiongkok, dan kemudian intervensi Belanda. Kisah ini mengajarkan bahwa kekuasaan di perbatasan sering lahir dari mimpi, tumbuh di atas tanah orang lain, dan lestari—entah melalui pusaka, atau melalui ingatan yang terus diwariskan.
Masjid Kyai Gede masih berdiri. Tradisi keagamaan yang ia ajarkan masih lestari. Pulau Blitoeng yang dulu menjadi tempat persinggahan para bangsawan yang terusik, kini menjelma menjadi destinasi wisata biru yang memukau—namun sejarahnya tetap mengalir dalam darah masyarakatnya.
Memahami sejarah bukan berarti terjebak di masa lalu. Justru, dengan memahami asal-usul dan perjalanan para leluhur, kita mendapat kompas moral untuk melangkah ke masa depan.
Sumber: “Beschrijving van het Westelijke Gedeelte van de Zuid- en Oosterafdeeling van Borneo” (1860) oleh J. Pijnappel Gz.

