BELITUNG, 26 Mei 2026 – Dalam kekayaan budaya Nusantara, nama “Balitung” mungkin lebih dulu dikenal sebagai sosok raja besar dari Kerajaan Mataram Kuno yang memerintah pada kisaran tahun 898-910 Masehi. Sri Maharaja Rakai Watukura Dyah Balitung Sri Dharmodaya Mahasambu, demikian gelar lengkapnya, tercatat dalam sejarah sebagai penguasa yang wilayah kekuasaannya membentang di Jawa Tengah dan Jawa Timur bagian timur .
Namun, sebuah temuan menarik menguak bahwa nama “Balitung” juga hadir dalam dimensi yang berbeda—yakni dalam naskah kuno Carita Pantun Gantangan Wangi, salah satu warisan sastra lisan Sunda yang sarat akan nilai-nilai budaya dan filosofi leluhur.
Kuta Nusa Balitung: Negeri dalam Kisah Pantun
Dalam ringkasan Carita Pantun Gantangan Wangi yang dituturkan oleh Ki Asom dari Pringkasap, Subang, pada tahun 1973, disebutkan sebuah negeri bernama Kuta Nusa Balitung. Negeri ini diperintah oleh seorang raja bernama Gempur Alam, yang memiliki tiga orang adik: Raden Rangga Sakti Mandraguna, Raden Rangga Kamasan, dan Andon Kancana .
Kisah ini menjadi bagian dari petualangan Raden Gantangan Wangi, putra Prabu Siliwangi dari Kerajaan Pakuan Pajajaran, yang berusaha mempersunting Enden Cintawati, adik dari Raden Patih Jayanegara dari Negeri Gunung Tilu Kuta Emas.
Konflik muncul ketika Prabu Gempur Alam dari Kuta Nusa Balitung menginginkan Cintawati untuk dijadikan tumbal atau “parepeh” demi keselamatan negerinya. Dua patih kepercayaannya, Rangga Sakti dan Rangga Kamasan, pun ditugaskan untuk menculik Cintawati dari Gunung Tilu.
Intrik Penculikan dan Pertempuran Dua Saudara
Rangga Kamasan menyamar menjadi kuda untuk mendekati Cintawati, sementara Rangga Sakti menyamar menjadi Gantang Pakuan (kakak kandung Gantangan Wangi) untuk mengelabui keluarga. Dalam penyamarannya, ia berhasil membawa Cintawati pergi ke Kuta Nusa Balitung dengan alasan akan dipertemukan dengan ibu mertuanya di Pajajaran .
Namun, tipu daya ini terbongkar. Raden Jayanegara, kakak Cintawati, bersama Gantang Pakuan yang asli, bergerak menuju Kuta Nusa Balitung untuk menyelamatkan sang putri. Dalam pertempuran sengit, Gempur Alam dan kedua patihnya berhasil ditaklukkan. Kuta Nusa Balitung akhirnya dipersatukan dengan wilayah Gunung Tilu Kuta Emas, menandai perluasan kekuasaan sekaligus kemenangan kebenaran atas ketidakadilan .
Makna Filosofis di Balik Narasi
Para peneliti sastra, seperti yang tertuang dalam buku Analisis Motif & Leitmotif Cerita Pantun Sunda (1998), menyebutkan bahwa struktur cerita pantun kerap dibangun oleh motif-motif tertentu, seperti motif perluasan kekuasaan dan motif mimpi.
Dalam kisah Gantangan Wangi, motif perluasan kekuasaan tersirat dari penggabungan wilayah Kuta Nusa Balitung ke dalam kekuasaan Gantangan Wangi. Sementara itu, konflik yang terjadi juga menyiratkan amanat penting: bahwa manusia hendaknya waspada dan tidak bertindak gegabah, serta pentingnya persatuan dalam menghadapi musuh .
Sayangnya, hingga saat ini, belum ditemukan bukti arkeologis atau historiografis yang secara langsung menghubungkan Kerajaan Kuta Nusa Balitung dalam pantun dengan Kerajaan Mataram Kuno pimpinan Raja Balitung. Namun, fakta bahwa nama “Balitung” hadir dalam narasi lisan Sunda menunjukkan adanya hubungan kultural atau ingatan kolektif yang mengakar di masyarakat.
Keberadaan nama “Kuta Nusa Balitung” dalam Carita Pantun Gantangan Wangi membuka mata kita bahwa sejarah Nusantara tidak hanya tersimpan dalam prasasti atau naskah keraton, tetapi juga hidup dalam tutur lisan dan sastra tradisional. Meskipun kisah ini dibalut dengan elemen magis dan kepahlawanan, ia merekam dinamika politik, persaingan antarkerajaan, serta nilai-nilai luhur yang dijunjung oleh masyarakat Sunda kuno.
Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk menguak apakah Kuta Nusa Balitung ini murni fiksi sastra, ataukah merujuk pada entitas politik tertentu yang pernah berdiri di Nusantara. (Red)
Sumber:
- Analisis Motif dan Leitmotif Cerita Pantun Sunda (Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1998)

