BELITUNG, 23 Mei 2026 – Di balik gemuruh tambang timah dan dentang kapal-kapal nelayan di lepas pantai Belitung, tersimpanlah dunia gaib yang hidup dalam bisik-bisik mantra. Naskah kolonial Belanda tahun 1933 menemukan kembali satu tradisi lisan yang nyaris terlupakan: pêndinding—ilmu perlindungan diri dari serangan gaib, sihir, dan niat jahat orang lain.
Apa Itu Pendinding?
Dalam manuskrip yang dikutip dari jurnal bergengsi Bataviaasch Genootschap, dijelaskan bahwa “pendinding” adalah praktik penguatan badan dan spiritual. Tujuannya ganda: melindungi diri sendiri (pêndjagé badan séndiri) sekaligus menangkal serangan ilmu hitam dari pihak lain.
Teks itu menegaskan:
“Adé doewa’ matjam pendinding nê. Siko’ êngga oentoek pêndjagé badan séndiri, no’ siko’é sambil djadi pêndjagé badan soorang, poen koewang malikan pênakalan oorang.”
Artinya, ada dua jenis pendinding:
- Pelindung diri pribadi (pasif).
- Pelindung yang sekaligus bisa melumpuhkan serangan (reaktif).
Kapan Ritual Ini Dilakukan?
Sebelum seseorang mengamalkan pendinding, ada syarat mutlak: puasa. Bukan puasa biasa, melainkan puasa“toedjo Sênên kan toedjoo Kêmis doeloe’” —yakni puasa tujuh hari, dimulai hari Senin dan berakhir hari Kamis.
Setelah puasa tuntas, barulah seseorang dianggap layak “memakai” pendinding. Tubuh harus dibersihkan, mengenakan pakaian serba putih, memakai wewangian dari minyak-minyak harum, lalu membaca rangkaian doa dan mantera.
Siapa yang Mengamalkan?
Manuskrip ini menyebut praktisi pendinding adalah “oorang no’ béilmoe kébathinan”—orang yang memiliki ilmu kebatinan. Mereka tidak sembarangan. Ilmu ini bisa digunakan untuk kebaikan (kêbaiikan) maupun keburukan (kêdjahān), tergantung hati pengamalnya. Namun, tujuan asli pendinding adalah menjaga badan dari serangan.
“Koon ’ilmoewè too, patoot djoewa’ kité naewe’ pêndjagan badan séndiri.”
“Karena ilmu itu, sudah selayaknya kita naikkan penjagaan badan sendiri.”
Di Mana Mantra Ini Dibaca?
Tidak ada lokasi fisik khusus, tetapi ritual dilakukan setelah mandi bersih, memakai sêrêbê (kain putih), lalu melafalkan mantra dalam posisi tenang. Yang menarik, mantra-mantra ini bercampur antara bahasa Melayu kuno, pengaruh Islam (Bismillah, Allah, Muhammad, Rasulullah), dan simbol-simbol alam seperti gajah, macan hitam, serta bunga tujuh rupa.
Mengapa Ini Penting untuk Diketahui?
Naskah ini membuktikan bahwa Belitung pada awal abad ke-20 sudah memiliki sistem spiritual yang kompleks—sinkretik antara animisme, Hindu-Buddha, dan Islam. Kata “pêndinding” sendiri akrab dalam lidah orang Melayu sebagai “perisai tak kasat mata” melawan energi negatif.
Dalam akselerasi modernisasi saat ini, tradisi pendinding nyaris lenyap. Tapi dari teks Tijdschrift ini, kita bisa merasakan getar kekuatan kata-kata, seperti dalam satu penggalan manternya:
“Akoo ilang dêkandang Rasoelloelloh.”
(Aku hilang di kandang Rasulullah.)
Frasa itu menggambarkan konsep “menghilang” dari jangkauan musuh gaib—sebuah bentuk perlindungan total.
Kutipan Mantra Pendinding
Berikut mantra utama yang tercatat dalam naskah asli:
Bismillahumma hamdan ar-rahman
Gajah Linsing permanku;
Macan hitam dadaku;
Allah mengayunku;
Muhammad tongkatku;
Rasulullah melindungi aku;
Aku hilang di kandang Rasulullah.
Kerantjang, kerintjing;
Ranggas patah digunggung angse;
Indal kutu, kubyajal kutu;
Mengutuk hati kaum mukmin;
Pulang ke tempat istana Allah.
–
Lebih dari sekadar mantra, pendinding adalah cermin bagaimana manusia Melayu di Belitung memaknai ketidakberdayaannya—dan bagaimana kata-kata menjadi perisai. Di tengah gempita teknologi, mungkin kita lupa bahwa nenek moyang dulu punya “aplikasi keamanan” versi spiritual: bersihkan diri, puasa, lalu bisikkan nama Tuhan dan alam dalam harmoni. (Red)
*Sumber:
Sumber: Tijdschrift voor Indische Taal-, Land- en Volkenkunde, Deel LXXIII (1933)

