BELITUNG, 14 Mei 2026 — Di tengah hiruk-pikuk pemberitaan modern tentang geopolitik dan teknologi, ada lembaran-lembaran lama yang menyimpan kisah nyata tentang tokoh-tokoh pribumi Nusantara yang berinteraksi dengan kekuatan kolonial di abad ke-19. Salah satunya adalah sosok bernama Keopa—seorang kepala suku Melayu yang namanya nyaris hilang ditelan zaman.
Siapa Itu Keopa?
Dalam arsip surat kabar kuno Australia, Australian News for Home Readers edisi Jumat, 20 Juli 1866, terdapat sebuah ilustrasi dan potongan berita singkat yang menampilkan sosok “Malay Chief, Keopa” (Kepala Suku Melayu, Keopa)—atau dalam ejaan lain disebut Koepas.
Gambar yang dimuat menunjukkan seorang pria berpakaian tradisional Melayu dengan tatapan tegas, mencerminkan kewibawaan seorang pemimpin. Sayangnya, naskah berita utama yang menyertainya tidak lagi utuh—hanya potongan gambar dan judul yang tersisa dalam arsip digital yang tersimpan.
Di Mana Keopa Berasal?
Berdasarkan konteks geografis dan historis, nama “Koepas” atau “Keopa” sangat mungkin merujuk pada tokoh dari wilayah Kepulauan Bangka-Belitung—atau sekitarnya. Dalam dokumen Belanda seperti Gedenkboek Billiton 1852–1927, istilah “Koepas” disebut sebagai nama seorang pribumi yang disebut-sebut dalam catatan sejarah tambang timah Belanda.
Disebutkan dalam halaman 201 dari buku peringatan Billiton tersebut:
“Seorang moedige Inlander, Koepas heeft haar later met zeventien andere Billitonners voor ƒ 6000 losgekocht…”
Terjemahan bebasnya:
“Seorang pribumi yang berani, Koepas, kemudian membebaskannya bersama tujuh belas orang Billiton lainnya seharga 6.000 gulden…”
Kapan Keopa Hidup dan Beraksi?
Jika merujuk pada catatan Gedenkboek, peristiwa yang melibatkan Koepas terjadi sekitar tahun 1860-an. Ini sejalan dengan terbitnya surat kabar Australia pada 20 Juli 1866, yang mengindikasikan bahwa sosok ini sudah dikenal luas di kalangan pelaut dan pedagang Eropa di Asia Tenggara pada pertengahan abad ke-19.
Era kolonial Belanda di Nusantara, khususnya di wilayah timah seperti Billiton (sekarang Belitung) dan Bangka, sedang mencapai puncaknya. Perdagangan timah, konflik dengan perompak, serta hubungan antara penguasa kolonial dan kepala suku lokal menjadi latar utama kehidupan Keopa.
Mengapa Keopa Penting?
Keopa menarik perhatian bukan karena ia seorang bangsawan besar atau panglima perang yang termasyhur. Ia penting karena mewakili kelas pemimpin lokal yang berada di persimpangan antara dunia pribumi dan kekuatan kolonial.
Dalam Gedenkboek, nama Koepas muncul dalam konteks pembebasan sandera—sebuah tindakan berani yang menunjukkan keberanian, pengaruh, dan mungkin juga kekayaan. Ia membayar tebusan yang sangat besar pada zamannya (6.000 gulden) untuk menyelamatkan warga Billiton yang ditawan.
Ini menggambarkan bahwa meskipun catatan sejarah sering ditulis dari sudut pandang penjajah, tokoh-tokoh seperti Keopa tetap meninggalkan jejak sebagai agen moral dan keberanian di tengah tekanan zaman.
Bagaimana Kisah Ini Terungkap?
Kisah Keopa terungkap dari dua sumber utama:
- Dokumen kolonial Belanda – Gedenkboek Billiton 1852–1927 yang diterbitkan oleh Martinus Nijhoff di Den Haag. Buku setebal lebih dari 270 halaman ini memuat foto, peta, grafik, dan narasi panjang tentang operasi tambang timah, organisasi buruh, serta interaksi antara Belanda dan penduduk lokal.
- Surat kabar Australia – Australian News for Home Readers (1864–1867) yang memuat ilustrasi “Malay Chief, Keopa” sebagai bagian dari laporan untuk pembaca di “tanah air” (Inggris) tentang kehidupan di jajahan.
Dua sumber ini—dari dua kekuatan kolonial yang berbeda (Belanda dan Inggris)—secara tidak sengaja saling melengkapi: yang satu memberikan konteks naratif, yang lain memberikan wajah.
Keopa dan Koepas: Satu Tokoh?
Perbedaan ejaan (Keopa vs Koepas) sangat mungkin disebabkan oleh variasi transliterasi dari lidah Belanda, Inggris, atau Melayu lokal. Dalam dokumen-dokumen kolonial abad ke-19, ejaan nama pribumi sangat tidak konsisten. Namun, konteks waktu (1860-an) dan peran (kepala suku/pribumi berpengaruh) sangat mengarah pada sosok yang sama.
Warisan yang Terlupakan
Tidak banyak yang tahu tentang Keopa hari ini. Tidak ada monumen, tidak ada nama jalan, tidak ada buku pelajaran yang menyebutnya. Namun, potretnya yang tersimpan di arsip Australia dan catatan singkatnya dalam dokumen Belanda adalah saksi bisu bahwa sejarah Nusantara tidak hanya diisi oleh sultan, pangeran, atau kompeni.
Ada tokoh-tokoh seperti Keopa—kepala suku Melayu yang mungkin pernah berdagang, bernegosiasi, bahkan melawan atau bekerja sama dengan Belanda, namun tetap menjaga martabat bangsanya. (Red)
Sumber
- Australian News for Home Readers (Vic. : 1864–1867), Jumat, 20 Juli 1866, halaman 8.
Tersedia di Trove, National Library of Australia. - Gedenkboek Billiton 1852–1927, Tweede Deel.
‘s-Gravenhage: Martinus Nijhoff, 1927.
Khususnya halaman 201: kutipan tentang “Koepas” dan pembebasan sandera.

