Prasasti Pasir Cina – Bukti Ekspedisi Mongol di Karimata

Prasasti Pasir Cina – Bukti Ekspedisi Mongol di Karimata

BELITUNG, 14 Mei 2026 — Di tengah gugusan pulau terpencil di Kabupaten Kayong Utara, Kalimantan Barat, tersembunyi dua prasasti kuno yang menjadi saksi bisu salah satu peristiwa besar dalam sejarah Nusantara: invasi armada Mongol dari Dinasti Yuan ke Jawa pada abad ke-13.

Bukan di Belitung, melainkan di Pulau Serutu, Kecamatan Kepulauan Karimata, para arkeolog menemukan bukti otentik yang mengoreksi anggapan lama tentang lokasi persinggahan pasukan Kubilai Khan. Prasasti Pasir Cina dan Prasasti Pasir Kapal, demikian dua batu bertulis aksara Cina itu dinamai, menyimpan kisah yang selama ini hanya tersirat dalam lembaran sejarah Dinasti Yuan.

Mengoreksi Sejarah: Bukan Belitung, Tapi Karimata

Selama ini, para sejarawan meyakini bahwa pulau bernama “Gou-Lan” yang disebut dalam catatan Dinasti Yuan sebagai tempat persinggahan armada Mongol sebelum menyerang Jawa pada tahun 1293 adalah Pulau Belitung.

Namun, penelitian eksplorasi yang dilakukan Balai Arkeologi Kalimantan Selatan pada tahun 2010 dan dilanjutkan Kajian Pelindungan oleh Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Kalimantan Timur pada 2019 mengungkap fakta berbeda.

“Toponim Gou-Lan kemungkinan besar merujuk pada pulau di sekitar Kepulauan Karimata, bukan Belitung,” demikian tertulis dalam laporan kajian tersebut.

Prasasti-prasasti yang ditemukan di Pulau Serutu menjadi pangkal bukti utama asumsi ini.

Membaca Prasasti: Pesan dari Sang Khan

Prasasti Pasir Kapal: Catatan Perjalanan Armada

Terletak di sisi barat Pulau Serutu, pada ketinggian 13 meter di atas permukaan laut, Prasasti Pasir Kapal dipahat pada bongkahan batu pasir berukuran panjang 2,7 meter, lebar 1,2 meter, dan tinggi 1 meter.

Tim peneliti berhasil menerjemahkan sebagian aksara Cina kuno yang terpahat di permukaannya. Terjemahan itu mengungkap narasi yang mencengangkan:

  • “Da Yuan Guo” — “Negara Yuan yang besar” (merujuk pada Dinasti Yuan yang berkuasa 1271-1368 M)
  • “Shi Jun” — “Utusan militer” atau caraka
  • “Zhou Wu Bai Zhi” — “Kapal (kecil) sebanyak 500”
  • “Zhi Yuan San Shi Nian Zheng Yue” — “Tahun ke-30 kalender Yuan, bulan Januari”
  • “Shi Ba Ri” — “Tanggal 18”

Frasa-frasa ini merujuk pada ekspedisi besar Mongol yang berlayar dari Quanzhou, Cina, menuju Nusantara. Catatan sejarah Dinasti Yuan menyebutkan bahwa pasukan yang dipimpin tiga panglima perang—Shi Bi, Ike Mese, dan Gao Xing—berangkat pada bulan ke-11, memulai pelayaran pada bulan ke-12 tahun 1292, dan tiba di pulau persinggahan pada bulan pertama tahun 1293.

Prasasti Pasir Cina – “Bersih” dan “Air Mancur”

Tidak jauh dari lokasi pertama, di sisi timur Pulau Serutu pada ketinggian 16 meter dpl, Prasasti Pasir Cina menyimpan pahatan lain. Pada satu bongkahan batu pasir berukuran panjang 2,6 meter, lebar 1,7 meter, dan tinggi 1,1 meter, terukir aksara “Qing” yang berarti “bersih” atau “jernih”.

Di sampingnya, pada bongkahan lain berukuran 2,7 meter x 1,2 meter x 1 meter, terpahat frasa “Quan Shi” yang diterjemahkan sebagai “air mancur”.

Yang menarik, pada prasasti pertama juga ditemukan bidang persegi berukuran 25 x 25 sentimeter dengan garis-garis vertikal dan horizontal—diduga para peneliti sebagai representasi diagram arah mata angin, kemungkinan panduan navigasi bagi armada Mongol.


Mengapa Karimata Menjadi Titik Strategis?

Menurut catatan sejarawan Kenneth R. Hall, Nusantara memiliki tiga laut utama dengan lima zona komersial pada abad ke-14 hingga awal abad ke-15. Kepulauan Karimata berada di jalur strategis Selat Karimata yang menghubungkan Laut Cina Selatan dengan Laut Jawa.

Letak geografis Kepulauan Karimata—tepat pada koordinat 0°50′ LS hingga 1°17′ LS dan 109°44′ BT hingga 110°23′ BT—menjadikannya pos persinggahan ideal bagi armada yang hendak menuju Jawa.

Peneliti meyakini bahwa keberadaan dua prasasti ini, dengan jarak antarlokasi sekitar 7,1 kilometer, menunjukkan bahwa Pulau Serutu digunakan sebagai tempat persiapan akhir sebelum armada Mongol melancarkan serangan ke Kerajaan Singosari di Jawa.

Ancaman yang Mengintai

Meski memiliki nilai sejarah yang sangat tinggi, kedua prasasti ini berada dalam kondisi yang memprihatinkan. Laporan BPCB Kalimantan Timur tahun 2019 mencatat sejumlah ancaman serius:

Faktor AncamanDetail
Pelapukan kimiawiProses hidrolisis dan karbonasi pada batuan pasir akibat air hujan dan CO2
PenggaramanAngin laut membawa uap garam yang mengakibatkan kulit batuan mengelupas
Tumbuhan makroAkar pohon jambu mete (Anacardium occidentale) yang tumbuh di sekitar prasasti
Tumbuhan mikroJamur dan ganggang yang menutupi permukaan aksara
VandalismePrasasti Pasir Kapal diketahui telah dipindahkan warga sekitar 5 meter dari lokasi asli akibat pencarian harta karun

Bahkan, beberapa aksara pada Prasasti Pasir Kapal sudah tidak terbaca karena aus. Tim peneliti menduga ada tiga kolom aksara yang hilang—yang kemungkinan besar berisi inti cerita utama ekspedisi tersebut.

Jejak Diplomasi yang Gagal

Latar belakang ekspedisi militer ini bermula dari upaya diplomatik yang gagal. Kubilai Khan, penguasa Mongol yang telah mendirikan Dinasti Yuan, mengirim utusan bernama Meng Qi untuk menemui Maharaja Kertanegara dari Singosari. Tujuannya: meminta pengakuan kekuasaan Yuan atas Singosari.

Namun, Kertanegara menolak. Catatan sejarah menyebutkan bahwa Jawa—di bawah kepemimpinan Kertanegara—dianggap Kubilai Khan sebagai “kepala dari tubuh panjang negara-negara kawasan”. Jika Jawa takluk, maka negara-negara lain akan otomatis tunduk.

Penolakan itulah yang memicu pengiriman armada besar-besaran. Namun, sejarah mencatat bahwa pasukan Mongol pada akhirnya gagal menaklukkan Jawa—karena justru mendapati bahwa Kertanegara telah tewas dalam serangan Jayakatwang dari Kediri, dan Raden Wijaya (menantu Kertanegara) dengan cerdik menggunakan pasukan Mongol untuk membalas dendam sebelum akhirnya mengusir mereka.

Upaya Pelestarian yang Mendesak

BPCB Kalimantan Timur dalam laporannya merekomendasikan sejumlah tindakan penyelamatan mendesak:

  1. Pembersihan (absklat) pada kedua prasasti dari lumut dan tumbuhan pengganggu
  2. Pembuatan atap pelindung yang disesuaikan dengan kondisi topografi dan estetika lingkungan
  3. Pemasangan pagar dan papan larangan
  4. Penempatan juru pelihara yang bertugas merawat situs secara rutin
  5. Penanaman vegetasi windbreaker (pohon ketapang atau cemara udang) di bibir pantai untuk mengurangi kadar uap garam yang terbawa angin laut
  6. Pendaftaran ke Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) untuk dimasukkan dalam Sistem Registrasi Nasional

Selain itu, rekomendasi juga mencakup perlunya penelitian lintas sektoral terhadap tinggalan arkeologi bawah air di perairan Karimata, mengingat adanya informasi masyarakat tentang keberadaan kapal karam di barat daya Pulau Karimata pada kedalaman sekitar 20 meter.

Temuan ini memperkaya pemahaman kita tentang bagaimana Nusantara—khususnya Kalimantan—menjadi bagian tak terpisahkan dari jaringan maritim global sejak berabad-abad lalu. Kepulauan Karimata, yang kini hanya dikenal sebagai wilayah nelayan terpencil, menyimpan babak penting dalam sejarah benturan dua kekuatan besar Asia: Mongol dari utara dan Jawa dari timur.

Sayangnya, akses menuju lokasi yang sulit—hanya dapat ditempuh dengan speedboat 4-5 jam dari Pelabuhan Teluk Batang, dilanjutkan perjalanan kaki melewati medan berbatu—menyebabkan situs ini kurang mendapat perhatian.

Padahal, semakin lama prasasti ini dibiarkan tanpa perlindungan yang memadai, semakin cepat pula aksara-aksara kuno itu luluh diterpa waktu dan alam. (Red)

Sumber:

  • Balai Pelestarian Cagar Budaya Kalimantan Timur. (2019). Laporan Kegiatan: Kajian Pelindungan Objek Yang Diduga Cagar Budaya di Kecamatan Kepulauan Karimata Kabupaten Kayong Utara.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *