Lomba PRISMA SMA Negeri 2 Tanjungpandan Gandeng IPB

Lomba PRISMA SMA Negeri 2 Tanjungpandan Gandeng IPB

TANJUNGPANDAN, 10 Mei 2026 – Di tengah gempuran konten digital sekejap mata dan tren belajar yang serba instan, SMA Negeri 2 Tanjungpandan dengan berani mengambil langkah kontra-arus. Mereka tidak sekadar mengajak siswa berpikir, tetapi meneliti. Bekerja sama dengan Institut Pertanian Bogor (IPB) University, sekolah ini menggelar Lomba Penelitian Proposal Riset Ilmiah Siswa SMA (PRISMA) se-Pulau Belitung. Sebuah gerakan historis yang menandai babak baru dunia pendidikan di daerah bekas tambang timah itu.

Lomba yang berlangsung di kampus setempat pada 9 Mei 2026 ini bukanlah sekadar ajang adu gagasan. Lebih dari itu, ia menjadi pangkal awal penanaman budaya riset sejak dini. “Kami ingin siswa tidak hanya menghafal rumus, tetapi lahir sebagai pemecah masalah,” ujar panitia dalam laporan tertulisnya.

Apa, di mana, dan kapan PRISMA digelar?

PRISMA adalah kompetisi proposal riset ilmiah tingkat SMA. Apa? Kompetisi ini mewajibkan setiap tim (terdiri dari dua siswa) mengirimkan naskah penelitian orisinal. Di mana? Pusat kegiatan bertempat di SMA Negeri 2 Tanjungpandan, Pulau Belitung. Kapan? Puncak acara final dan pengumuman pemenang berlangsung pada 9 Mei 2026.

Siapa saja yang terlibat?

Dukungan terhadap PRISMA datang dari berbagai lapisan. Ketua DPRD Kabupaten Belitung, Ibu Vina Cristyn Ferani, S.E., secara resmi membuka acara. Ia didampingi jajaran penting lainnya: Bapak Gama Santosa, S.Pd., M.Pd. (Pengawas SMA/SMK), Bapak Haryadi (Kepala Baperinda), Bapak Deska Anandya Putra Gani, S.STP. (Kasi SMA Cabdin Wilayah V), serta para koordinator MGMP.

Namun, yang membuat PRISMA istimewa adalah kehadiran Prof. Dr. Akhiruddin, S.Si., M.Si., Guru Besar Departemen Fisika FMIPA IPB University. Beliau bertindak sebagai juri utama. “Saya melihat api semangat yang luar biasa dari adik-adik di Belitung. Ini potensi besar yang harus terus dipupuk,” ujar Prof. Akhiruddin usai menyimak presentasi para finalis.

Mengapa lomba ini penting?

Menurut catatan redaksi, selama ini kegiatan ekstrakurikuler di Belitung lebih didominasi olahraga dan seni. Riset ilmiah masih seperti tamu yang hanya datang setahun sekali. PRISMA hadir untuk mematahkan anggapan bahwa penelitian adalah momok menakutkan.

Ketua DPRD Belitung, Vina Cristyn Ferani, dengan tegas menyatakan: “Kegiatan ini jangan berhenti di sini. Harus dilanjutkan setiap tahun. Kami dari DPRD akan mendukung penuh karena ini melatih siswa berpikir kritis dan berkolaborasi.” Dukungan politis ini menjadi angin segar bagi keberlanjutan program.

Sementara itu, Deska Anandya Putra Gani, perwakilan Kacabdin Wilayah V, menambahkan bahwa lomba seperti PRISMA adalah jawaban atas tantangan abad ke-21. “Kompetensi peserta didik tidak cukup hanya dari buku. Mereka butuh pengalaman merumuskan masalah hingga mencari solusi,” tuturnya.

Bagaimana jalannya kompetisi?

Seleksi berlangsung sangat ketat. Panitia menerima 17 naskah penelitian dari berbagai sekolah di Pulau Belitung. Setelah melalui tahap penilaian akademis yang objektif, tersisa 10 finalis terbaik yang berhak memaparkan proposalnya secara langsung di hadapan dewan juri dan tamu undangan.

Para finalis tampil percaya diri. Mereka memaparkan ide-ide segar, mulai dari pemanfaatan limbah lokal hingga rekayasa sederhana untuk masalah lingkungan di Belitung. Prof. Akhiruddin yang duduk sebagai juri utama mengakui bahwa kualitas proposal siswa tahun ini melampaui ekspektasi.

Di akhir sesi, beliau memberikan evaluasi konstruktif: “Kedepannya, selain menulis proposal, perlu ada pelatihan lanjutan agar siswa mahir dalam melakukan eksperimen. Jangan sampai gagasan hebat hanya berhenti di atas kertas.”

Siapa pemenang PRISMA 2026?

Setelah melewati diskusi alot, dewan juri akhirnya mengumumkan tiga besar sebagai berikut:

  • Juara 1: SMA Negeri 1 Manggar
  • Juara 2: SMA Negeri 2 Tanjungpandan
  • Juara 3: SMA PGRI Tanjungpandan

Ketiganya berhak membawa pulang tropi, sertifikat, serta pengalaman berharga karena telah berkompetisi di level pulau dengan standar penilaian dari akademisi IPB University.

Harapan besar dari bumi Laskar Pelangi

Prof. Akhiruddin menutup kunjungannya dengan pesan yang menggema di aula sekolah. “Belitung memiliki potensi besar untuk menjadi pulau yang kreatif dan inspiratif. Tapi itu tidak akan terjadi jika SDM-nya tidak diasah melalui kompetisi riset, baik di tingkat nasional maupun internasional.”

SMA Negeri 2 Tanjungpandan sendiri mengusung semboyan: Unggul dalam Prestasi, Mandiri dalam Berkreasi. PRISMA 2026 bukan sekadar lomba. Ia adalah batu pertama fondasi generasi muda Belitung yang tidak lagi takut pada data, tidak gentar pada hipotesis, dan tidak ragu untuk meneliti dunianya sendiri.

Redaksi menilai: Jika setiap sekolah di Indonesia memiliki inisiatif seperti ini, maka riset bukan lagi monopoli kampus. Ia akan menjadi napas sehari-hari anak bangsa. Dan itu, tentu saja, kabar baik bagi masa depan. (Firstodia QA)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *