Kisah H. AS. Hanandjoeddin, Tokoh Pejuang Perintis Kedirgantaraan dan Pelopor TNI AU dari Belitung

Kisah H. AS. Hanandjoeddin, Tokoh Pejuang Perintis Kedirgantaraan dan Pelopor TNI AU dari Belitung

TANJUNGPANDAN, 4 Mei 2026 – Bagi masyarakat Belitung, nama H. AS. Hanandjoeddin sudah tidak asing lagi. Namanya melekat erat pada bandar udara kebanggaan mereka, Bandara H. AS. Hanandjoeddin di Tanjungpandan. Namun, tahukah Anda bahwa di balik nama besar itu tersimpan kisah perjalanan hidup seorang pemuda intelek, pejuang kemerdekaan yang gigih, sekaligus perintis TNI Angkatan Udara?

Siapakah sebenarnya sosok di balik nama besar itu? Berdasarkan penelusuran dari buku “Inventarisasi Tokoh Sejarah dan Budaya” yang diterbitkan Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Kepulauan Riau, terungkap rekam jejak heroik Haji Abdullah Sani Hanandjoeddin.

Lahir di Tanjungtikar, Belitung, pada 5 Agustus 1910, Hanandjoeddin kecil adalah anak dari pasangan Djoeddin dan Selamah yang diasuh oleh ayah angkatnya, H. Hasyim. Meski hanya menamatkan pendidikan di Volk School (Sekolah Rakyat), kecerdasannya mengantarkannya ke Ambacht School (AC) di Manggar, sekolah teknik terkenal kala itu. Bekal sebagai tamatan teknik mesin inilah yang kemudian membawanya bekerja di Gemeenschappelijke Mijnbouw Billiton (GMB) dan merantau ke Bandung.

Di Kota Kembang, tak hanya bekerja di perusahaan air minum Wolter & Co, Hanandjoeddin muda kerap terlibat diskusi politik dan tertarik dengan Partai Indonesia Raya (Parindra). Semangat kebangsaan “Indonesia Berparlemen” yang digaungkan tokoh Parindra, Muhammad Husni Thamrin, telah meresap dalam dirinya.

Aksi Intelijen dan Karier Militer
Semangat perjuangannya kian membara saat Jepang masuk ke Hindia Belanda. Intel Belanda (PID) bahkan beberapa kali mencoba menangkapnya karena aktivitas politiknya, namun selalu gagal. Ia kemudian hijrah ke Malang, dan di kota inilah babak baru karier militernya dimulai.

Ketika tentara Jepang membutuhkan tenaga teknik pribumi, keahlian Hanandjoeddin sebagai montir sangat berguna. Ia bekerja di Ozawa Butai, bengkel perawatan pesawat terbang Jepang.

Puncaknya, pada pekan keempat Agustus 1945, di masa-masa genting menjelang kemerdekaan, Hanandjoeddin mengumpulkan rekan-rekan montirnya. Mereka membentuk panitia persiapan pembentukan Badan Keamanan Rakyat Oedara (BKRO) di Malang. Langkah visioner ini menjadi cikal bakal TNI AU. Pada 10 Oktober 1945, BKRO resmi berdiri dengan 150 pemuda bergabung.

Berkat kerja kerasnya bersama tim di Pangkalan Udara Bugis, dalam waktu kurang dari seminggu, mereka berhasil memperbaiki empat pesawat Cukiu peninggalan Jepang yang diberi kode TK-001 hingga TK-004. Inilah aset pertama kekuatan udara Republik Indonesia.

Dari Pejuang Udara ke Birokrat Pembangunan
Karier militernya terus menanjak hingga ia menjabat sebagai Komandan Kompi Pasukan Gerak Tjepat (Pasgat) di Lanud Palembang. Setelah pensiun dari TNI AU, pengabdiannya untuk tanah kelahiran tidak berhenti. Hanandjoeddin kemudian dipercaya menjadi Bupati Belitung untuk periode 1967-1972.

Kepemimpinannya sebagai bupati dikenang sebagai era penuh kontribusi bagi kemajuan Belitung. Warisan dedikasinya yang abadi bagi dunia penerbangan dan perjuangan bangsa inilah yang membuat pemerintah mengabadikan namanya sebagai nama bandara utama di Pulau Laskar Pelangi itu, sebuah monumen pengingat abadi akan sosok montir pesawat yang berani bermimpi dan berjuang untuk republik. (Red)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *