Tradisi Berkapur Sirih Melayu, Warisan Budaya yang Mulai Tergerus Zaman

Tradisi Berkapur Sirih Melayu, Warisan Budaya yang Mulai Tergerus Zaman

BELITUNG, 23 Mei 2026 — Di balik hiruk-pikuk gawai dan media sosial, ada sebuah tradisi lama yang perlahan-lahan hanya tinggal nama. Ia bukan sekadar kebiasaan mengunyah. Ia adalah simbol keramahan, lambang adat, dan cermin jati diri masyarakat Melayu.

Namanya: tradisi berkapur sirih.

Mungkin generasi muda hanya mengenalnya dari buku pelajaran atau tayangan dokumenter. Namun bagi masyarakat Melayu Sumatera Utara, Riau, Jambi, Bangka Belitung, hingga Aceh, tradisi ini pernah menjadi bagian tak terpisahkan dari keseharian dan upacara adat.

Apa Itu Tradisi Berkapur Sirih?

Secara sederhana, berkapur sirih adalah kegiatan mengunyah campuran daun sirih, pinang, gambir, tembakau, kapur dari cangkang laut, dan bunga cengkeh. Di Aceh, tradisi ini disebut pajoh ranup, dengan tempat sirih bernama lampuan. Di Sumatera Utara, masyarakat Melayu menyebutnya sebagai berkapur sirih.

Namun, jangan keliru. Ini bukan sekadar “makan” seperti mengunyah permen. Setiap bahan memiliki makna dan fungsinya masing-masing.

Bahan dan Alat: Lebih dari Sekadar Konsumsi

Menurut data dari Balai Pelestarian Nilai Budaya Banda Aceh (2013), setidaknya ada enam bahan utama dalam tradisi ini:

  1. Daun sirih – bahan utama, rasa pedas, bentuknya menyerupai jantung.
  2. Pinang tua – rasanya kelat, dikupas sebelum dikunyah.
  3. Gambir – dihasilkan dari rebusan daun dan ranting gambir.
  4. Tembakau kering – menambah cita rasa.
  5. Kapur – terbuat dari cangkang laut yang dibakar, jenis yang bisa dimakan (bukan kapur bangunan).
  6. Bunga cengkeh – memberi aroma khas.

Sementara untuk perangkat lengkapnya, dikenal dengan nama Tepak Sirih. Terdiri dari:

  • Combul (lima wadah bertutup) untuk menyimpan kapur, pinang, gambir, tembakau, dan cengkeh.
  • Bekas sirih – tempat daun sirih yang disusun rapi.
  • Kacip – alat pembelah pinang.
  • Gobek – penumbuk bahan untuk lansia yang tak lagi kuat mengunyah.
  • Ketur – wadah meludah, karena mengunyah sirih menghasilkan air liur berwarna merah.

Tepak sirih ini bukan sekadar peralatan. Ia adalah benda seni. Biasanya terbuat dari kayu, logam, perak, kuningan, bahkan ada yang berlapis emas dengan ukiran motif tradisional.


Kapan dan Di Mana Tradisi Ini Dilakukan?

Dahulu, tradisi berkapur sirih hadir dalam keseharian masyarakat Melayu. Namun kini, pelaksanaannya lebih terbatas pada upacara adat tertentu, seperti:

  • Upacara perkawinan adat Melayu – sebagai simbol penghormatan dan kelengkapan adat.
  • Menyambut tamu kehormatan – termasuk tamu negara atau tokoh adat.
  • Persembahan dalam acara adat lainnya – sebagai bentuk tata krama dan keramahan.

Sayangnya, dalam perkembangannya, tradisi ini mulai kehilangan esensi. Banyak pihak menjadikannya sekadar simbol pelengkap tanpa memahami makna di balik setiap bahan dan gerakannya.

Mengapa Tradisi Ini Mulai Punah?

Beberapa faktor menjadi penyebab utama, antara lain:

  1. Minimalnya pemahaman generasi muda tentang nilai dan makna tradisi.
  2. Pengaruh budaya luar yang lebih dominan di kehidupan sehari-hari.
  3. Kurangnya pewarisan secara aktif dari orang tua kepada anak cucu.
  4. Anggapan bahwa bersirih adalah kebiasaan kuno atau tidak modern.

Seperti ditulis dalam dokumen Balai Pelestarian Nilai Budaya Banda Aceh (2013): “Kemungkinan besar tradisi bersirih akan tinggal nama kalau tidak kita lestarikan keberadaannya mulai dari generasi sekarang ini.”

Padahal, Ada Manfaat Kesehatan di Dalamnya

Tradisi berkapur sirih ternyata menyimpan manfaat kesehatan, terutama untuk gigi dan mulut. Daun sirih dikenal memiliki zat antiseptik. Pinang dan gambir dipercaya dapat memperkokoh gigi. Kapur dari cangkang laut membantu membersihkan rongga mulut.

Tentu saja, dengan catatan dikonsumsi secara wajar dan tidak berlebihan.

Menjaga Warisan, Bukan Menghidupkan Kembali Kebiasaan Lama

Melestarikan budaya bukan berarti memaksa generasi masa kini untuk mengunyah sirih setiap hari. Namun, setidaknya kita bisa:

  • Mengenalkan sejarah dan maknanya melalui pendidikan dan media.
  • Menampilkan Tepak Sirih sebagai bagian dari seni dan kerajinan budaya.
  • Mengintegrasikan nilai-nilai tradisi (seperti keramahan dan penghormatan) ke dalam kehidupan modern.

Tradisi berkapur sirih adalah warisan leluhur yang sarat akan nilai filosofis dan estetika. Jangan biarkan ia hanya menjadi koleksi museum atau sekadar gambar di laman pencarian. (Red)

Sumber:

  • Balai Pelestarian Nilai Budaya Banda Aceh, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Tradisi Berkapur Sirih Dalam Masyarakat Melayu. Seri Informasi Budaya No. 34/2013.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *